NovelToon NovelToon
TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.

Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.

Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.

Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.

Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resmi

Setelah kembali dari Desa X, Kaivan tidak menunda apa pun. Ia segera mengurus pendaftaran pernikahannya dengan Ravela ke pengadilan agama. Proses isbat nikah berjalan sebagaimana mestinya hingga putusan keluar dan buku nikah resmi diterbitkan.

Begitu seluruh dokumen lengkap, Ravela bergerak cepat. Dalam hitungan hari, ia menghadap Komandan Batalyon, membawa seluruh berkas yang diminta untuk melaporkan pernikahannya secara terbuka dan bertanggung jawab.

Ravela berdiri tegak di depan meja Letkol Infanteri Armand Wirasatya. Map cokelat berisi dokumen ia letakkan dengan kedua tangan, rapi dan teratur.

“Laporan saya lengkap, Komandan. Isbat nikah sudah diputuskan, buku nikah sudah terbit. Ini salinannya,” ucap Ravela.

Letkol Armand menerima map itu, membuka dan memeriksa isinya perlahan. Raut wajahnya tenang, namun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pemeriksaan berkas.

“Situasi pernikahanmu sudah saya ketahui. Saya memahami bahwa saat itu kamu langsung ditarik ke penugasan Lebanon. Bahkan penjelasan dari Letjen Dharma sudah saya terima,” jelas Letkol Armand.

Ravela menegakkan bahunya. “Siap, Komandan.”

“Tapi yang membuat saya kecewa adalah setelah kamu kembali dari Lebanon, kamu tidak segera melaporkan hal ini,” lanjut Letkol Armand, kini menatap Ravela lurus.

Ravela menunduk sedikit. “Itu kesalahan saya, Komandan.”

“Kamu perwira. Kamu tahu kapan harus menunda, dan kapan harus bertanggung jawab,” ucap Letkol Armand tegas.

“Siap. Saya mengakui kelalaian itu. Saya seharusnya melapor lebih awal. Saya minta maaf, Komandan,” balas Ravela jujur.

Ruangan kembali hening beberapa detik. Letkol Armand menghela napas pelan, lalu menutup map di hadapannya.

“Saya tidak mempertanyakan niatmu. Disiplin itu bukan hanya di lapangan, tapi juga dalam urusan administrasi.”

“Siap, Komandan. Saya memahami itu.”

“Sekarang, secara hukum dan kedinasan, semuanya sudah tertib. Saya hargai kamu datang sendiri, lengkap, dan tidak menghindar,” ujar Letkol Armand.

“Terima kasih, Komandan.”

“Lengkapi administrasi lanjutan di staf personel. Setelah itu, laporkan kembali ke saya,” perintah Letkol Armand.

“Siap, Komandan.”

Ravela memberi hormat, lalu berbalik meninggalkan ruangan. Langkahnya tetap tegap, namun perasaannya campur aduk. Ada rasa lega karena semuanya akhirnya terbuka, dan ada penyesalan karena seharusnya ia melapor lebih cepat.

Kaivan berdiri di koridor luar ruangan komandan Batalyon. Setelan jas gelap yang dikenakannya rapi dan berpotongan tegas, kontras dengan seragam loreng para prajurit yang lalu-lalang di sekitarnya.

Dasi terpasang rapi, sepatu kulitnya mengilap, seolah Kaivan baru keluar dari rapat penting, bukan menunggu di lingkungan militer.

Kaivan melirik jam di pergelangan tangan, lalu kembali menatap pintu kayu yang masih tertutup. Ravela sudah sejak pagi mengurus administrasi lanjutan di staf personel. Ini adalah laporan terakhirnya ke komandan batalyon.

Beberapa prajurit yang melintas sempat memperhatikannya. Sebagian mengenali Kaivan. Wajah itu tidak asing. Pernah mereka lihat di lokasi bencana, ikut berkoordinasi dengan relawan, membantu warga, dan beberapa kali berdiri di posko bersama para perwira.

“Siang, Pak Kaivan,” sapa Bagas sambil mengangguk hormat.

Kaivan menoleh dan membalas dengan anggukan singkat. “Siang Bagas.”

Bagas melirik sekilas ke pintu ruangan komandan, lalu kembali ke Kaivan. “Nunggu kapten Ravela ya, Pak? Tadi saya lihat Kapten masuk ke ruangan Letkol Armand.”

“Iya benar,” jawab Kaivan singkat.

Bagas tersenyum kecil. “Saya kira pak Kaivan kesini karena ada urusan proyek.”

Kaivan tidak langsung menjawab. “Bukan. Tapi urusan pribadi,” katanya tenang.

Bagas mengangguk pelan, “Oh begitu, Pak. Kalau begitu saya permisi.”

Bagas pun melanjutkan langkah, meski sesaat masih menoleh ke belakang, jelas menyimpan tanda tanya sendiri dan penasaran apa hubungan Ravela dengan Kaivan.

Kaivan kembali sendiri di koridor. Fokusnya tetap pada pintu di hadapannya. Tangannya sempat mengepal, lalu mengendur. Ia tahu pembicaraan di dalam ruangan itu bukan hal ringan.

Pintu ruangan akhirnya terbuka.

Ravela keluar dengan langkah tegap. Wajahnya tenang, namun Kaivan menangkap lelah halus di matanya.

“Gimana?” tanya Kaivan pelan.

“Udah selesai, Mas,” jawab Ravela.

Kaivan menatap istrinya beberapa detik, memastikan. “Kena marah?”

Ravela menggeleng kecil. “Ditegur dan itu wajar.”

Kaivan menghela napas panjang. “Maaf ya, Vel. Harusnya aku tadi nggak biarin kamu hadapi ini sendirian.”

Ravela menoleh dan menatap Kaivan sambil tersenyum. “Enggak apa-apa, Mas. Lagipula tadi kamu ada rapat penting dengan para pemegang saham di perusahaanmu, dan itu nggak mungkin dibatalkan.”

Kaivan terdiam sejenak, lalu berjalan di samping Ravela, menjaga jarak agar para prajurit tidak berspekulasi macam-macam.

“Sekali lagi aku minta maaf, aku merasa bersalah sama kamu.”

“Jangan pikirin itu, Mas. Yang penting sekarang semuanya sudah beres,” ujar Ravela menenangkan Kaivan.

Kaivan mengangguk dan tersenyum, “Iya sayang. Lega banget rasanya.”

Mereka melangkah keluar bersama dengan perasaan lega. Proses laporan tinggal menunggu penyelesaian administrasi di staf personel, yang diperkirakan rampung dalam satu hingga tiga hari ke depan. Setelah itu mereka tinggal menyiapkan pesta pernikahan agar semua orang tahu hubungan mereka.

Dalam perjalanan pulang dari Markas Militer, Kaivan memutuskan untuk berhenti sejenak. Ia ingin mengajak Ravela makan siang di tempat makan favoritnya semasa SMA dulu.

"Kita makan siang dulu ya," ujar Kaivan berhenti disalah satu tempat makan.

Ravela hanya mengangguk, karena kebetulan ia juga sudah lapar. Apalagi ini jam 2 siang lebih sudah telat dari jam makan siang. Setelah selesai melapor, Letkol Armand memberi Ravela izin pulang sementara.

Kaivan merangkul pundak Ravela posesif berjalan memasuki restoran langganannya yang lumayan ramai itu.

"Kamu mau makan apa, sayang?" Tanya Kaivan saat mereka duduk di salah satu kursi kosong disana.

“Apa saja, Mas. Aku nggak pilih-pilih makanan,” jawab Ravela santai. Kaivan tidak mempermasalahkan panggilan itu. Mas atau sayang, baginya tidak ada bedanya.

“Ini tempat makan favoritku sama teman-teman sejak masa SMA. Tapi semenjak kami sibuk, jadi jarang ke sini,” ujar Kaivan setelah memesan beberapa menu.

Ravela melirik Kaivan dengan tatapan menggoda. “Teman atau teman?”

Kaivan mengernyitkan dahi, lalu terkekeh pelan. “Jangan mikir ke mana-mana. Aku nggak pernah mengajak perempuan lain ke sini. Cuma kamu, sayang.”

Ravela tersenyum kecil, puas dengan jawaban Kaivan. “Iya juga, nggak apa-apa sih,” timpalnya santai, meski di dalam hati ia bersorak gembira mendengar Kaivan tak pernah pergi berdua dengan lawan jenis ke tempat ini.

Kaivan meliriknya sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. “Kalau aku pernah pergi berduaan sama lawan jenis, kamu cemburu nggak?” tanyanya, ingin tahu reaksi istrinya.

Ravela menggeleng pelan, membuat Kaivan menghela napas. Padahal ia berharap Ravela memiliki sedikit rasa cemburu terhadapnya.

Namun Kaivan sadar hubungan mereka baru saja terjalin, tentu tidak semudah itu Ravela akan merasakan perasaan yang sama seperti dirinya.

Begini saja Kaivan sudah sangat bersyukur, semoga seiring berjalannya waktu Ravela juga membalas perasaan cintanya.

“Kalau boleh tahu, teman dekatmu siapa saja selain Pak Raynand, Mas?” tanya Ravela.

“Selain Raynand, ada dua orang lagi, Alvaro dan Zidan. Dulu sering bareng, tapi sekarang masing-masing pada sibuk. Jadi sudah jarang ketemu,” jawab Kaivan.

Mendengar nama Zidan, pikiran Ravela seketika melayang pada sosok lain dengan nama yang sama, cinta pertamanya dulu. Ia terdiam sesaat, mencoba memastikan dalam hati apakah Zidan yang Kaivan maksud adalah orang yang sama dengan yang pernah ia kenal.

Ravela hampir saja bertanya, namun sebelum sempat mengatakannya, ponselnya berdering.

“Siapa?” tanya Kaivan.

1
Alessandro
kaivan jgn macam2 ya, ntar dibedil sm vela...
Alessandro
sweet bgt ini kaivan, suamiable bgt 🥰
Aruna02
blokir aja ngapain nyimpen nomer mantan🙄
Aruna02
wajar mecum sama istri mah 🤣
Icha sun
nah, ketakutan Kai jadi kenyataan. belum juga nikah udah ditinggalin 😅
Icha sun
hmmm... alasan Kai masuk akal juga ya. hmm, semoga Ravela gak begitu Kai, walopun tentara dia masih perempuan kok 🤭
GreenForest
gpp sih tanpa kehadiran mempelai wanitanya. tapi ... Kan kasihan atuh Vela. Kai bakal plonga plongo habis ijab
GreenForest
Siap-siap kalau debat nggak akan ada yang mau ngalah nih nanti.
Pengabdi Uji
bang kai ane ada ide krn ane honeymoon nya disana. tuh ada villa di puncak kolam berenang private indoor khusus utk pasutri baru loh🤭 hehe bisa nana nini di kolam loh🤭🤭 jus in po
Pengabdi Uji
🤣 blagak gila,lu jovan🤣 lu pkir laki cmn lu doang
Icha sun
Jovan emang redflag sih, 7 tahun putus gitu aja dengan alasan gak masuk akal. Untung ravela terselamatkan
Icha sun
Ravela pasti canti bgt ya Thor, aku plg suka dengan tentara perempuan. keliatan strong tapi sekaligus lembut
Aruna02
hempaskan yang ketauan selingkuh 😏
Aruna02
😭jangan banyak pemeran thor suka curigaan soal nya
Pengabdi Uji
Ada aja ya prempuan menggatal keknya kmaren habis tari terbitkah hana .. jodohin apaan orgnya dh kawin jir😌😌
Pengabdi Uji
Jelas lah vela bucin org kai nya jg sebaik itu 😌 worth it lah ya putus sma si jovan babik itu klo dptnya yg seperti kai🤭🤭
GreenForest
laki apaan kalau nggak mau berjuang kenapa harus pura-pura mau bertahan 😭😭😭
GreenForest
Baru pertama ketemu pak Kaivan udah jatuh cinta, mungkinkah bakal mengejar Komandan Ravela yang speknya bukan main2 ini.
Rivella
bgus tu, suka bnget gaya si vella. cowok kek Jovan memang pantas digituin 🤣
Rivella
jatuh cinta pada pandangan pertama ya kai🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!