Di bumbui Cerita 21++
Tak kusangka aku bisa mencintaimu.
Semenjak kejadian yang menimpanya malam itu. Arana harus kehilangan kesuciannya yang telah Ia jaga selama 23 tahun.
Karna kejadian yang meningpanya malam itu Arana harus menerima kenyaatan pahit. Kekasih yang sangat Ia cintai pergi meninggalkannya begitu saja.
Arana di perkosa oleh seorang
pemuda yang tidak Ia kenal.
Apakah Arana bisa menemukan pemuda yang telah merampas kesuciannya?...
Dan apakah Arana bisa membalas cinta orang yang telah merampas semuanya darinya? ketika pemuda itu mengatakan Aku Mencintaimu Arana.
Ikutin terus ya Cerita Cinta Manisku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.Solusi
Steven mengacak rambutnya ketika tak ada suara yang
menyahuti pangilannya, namun setelah melihat seorang wanita tua keluar dari
dalam ruangan, dengan segera Steven berjalan ke arah wanita tua itu lalu
berkata.
“Dimana Arana? Mbah.” Steven mengeluakan nada suara
kerasnya.
“Aku di sini Stev.” Arana menyahuti panggilan Steven ketika
mendengar suaranya yang sedikit membesar.
Tampa meminta izin kepada pemilik rumah yang tak lain adalah
mbah dukun, Steven berjalan masuk ke adalam kamar tersebut, lalu mendapati
Arana tengah terbaring di atas tempat tidur. Dengan langkah cepat Steven
berjalan ke arah dimana Arana tengah terbaring.
“Apa, Mbah dukunnya telah melakukannya?” itulah pertanyaan
pertama yang keluar dari dalam mulut Steven, ketika sampai di sampin tempat
tidur yang Arana tempati.
“Belum! Bahkan dukunnya belum menyentuhku sama sekali.” Arana
melihat ke arah Steven dengan rasa bingun.
“Syukurlah, kalau Mbah dukun itu belum menyentuhmu.” Steven
mengankat tubuh Arana keluar dari dalam ruangan tersebut, lalu berjalan keluar
menuju arah mobilnya.
“Apa yang kamu lakukan?” Arana nampak terkejut dengan apa
yang tengah Steven lakukan “Turunkan aku Stev.” Arana berusaha agar Steven mau
menurunkan tubuhnya dari gendongannya.
“Tidak! aku tidak akan menurunkanmu, kalau kita sampai di
dalam mobil.” Steven membuka pintu mobilnya lalu mendudukkan Arana di dalam
mobilnya.
Setelah Arana duduk di dalam mobilnya, Steven menutup pintu,
lalu menguncinya takut Arana akan keluar dan masuk lagi ke dalam rumah dukun
tersebut. Setelah itu, Steven mengitari, lalu ikut masuk ke dalam mobilnya.
Arana yang melihat Steven duduk di sampinnya berkata. “Apa
yang kamu lakukan Stev?” Arana kembali menangis “Sedikit lagi aku akan
melakukannya dan terbebas dari beban besarku ini. Hiks, hiks.” Arana menutup
wajahnya dengan kedua tangannya ketika mengatakan itu.
Steven melihat ke arah wajah Arana yang kini tengah tertutup
oleh tangannya, berkata. “Arana, kamu tenang kita akan mencari solusi untuk
masalahmu ini. Aku akan membantumu ok. Sekarang berhentilah menangis.”
Mendengar ucapan Steven yang ingin mencari solusi dari kehamilannya,
Arana terlihat sangat kesal karna menurutnya hanya satu solusi yang bisa di
lakukan hanya dengan cara menggugurkan kandungannya.
“Solusi apa! Ha.” Arana berteriak melihat ke arah wajah
Steven dengan nada suara bentakan “Aku tak memiliki solusi lain, kecuali
menggugurkannya kamu mengerti!” Arana terlihat begitu sangat kesal ketika
selesai mengatakan itu, bahkan matanya terlihat begitu menyala karna merasa
sangat marah dengan apa yang Steven lakukan.
Steven yang mendengar ucapan kesal Arana, ikut merasa kesal
karna Arana meneriakinya dengan cara yang kasar. Steven pun berbalik berteriak
melihat ke arah wajah Arana.
“Solusinya hanya menikahimu.” Kata menikahimu spontang
keluar dari dalam mulut Steven.
“Apa?” Arana terkejut mendengar kata yang baru saja keluar
dari mulut Steven “Kamu ingin menikahiku? hahaha” tertawa sinis “Kamu jangan
bercanda Stev.”
“Iya, Ara, aku akan menikahimu dan bertanggun jawab dengan
anak yang kamu kandung. Namun setelah anak itu lahir kita akan bercerai, karna
aku mempunyai tanggun jawab yang lain yang harus aku lakukan. Kamu mengertikan
Ara, dengan maksud aku? Setelah anak itu lahir aku tak akan berhenti bertanggun
jawab meskipun nantinya kita sudah berceri.” Steven terlihat bersungguh-sungguh
ketika mengatakan itu.
“Apa kamu yakin? Ingin menikahiku?” Arana melihat ke arah wajah
Steven meminta kepastian dengan apa yang baru saja Steven katakan.
“Iya, aku sangat yakin dengan apa yang aku katakan.” Steven
sendiri masih bingun dengan apa yang baru saja mulutnya katakan, namun untuk
membuat hati Arana tenang Steven mengatakan itu.
“Apa kamu benar-benar yakin? Ingin menikahiku Stev?” Arana
kembali mengulang kata-katanya. Melihat ke arah wajah Steven. “Dan bagaiman
dengan tanggun jawabmu yang lain itu? Apa tidak akan menjadi masalah nantinya?”
Arana mengira kalau Steven tengah menunggu seseorang yang sangat di cintainya
kembali dan menikahinya sehingga Steven mengatakan ada tanggun jawab lain
selain dirinya itulah yang terlintas dalam pikiran Arana saat ini.
“Aku yakin Ara, sekarang berhentilah menangis, wajahmu
telihat sangat jelek kalau kamu selalu menangis.” Steven tersenyum melihat ke
arah wajah Arana ketika mengatakan itu.
Setelah mengataan itu rasa resah, rasa gelisa, rasa sedih
semua hilang secara tiba-tiba di dalam hati Steven ketika mengatakan kalau
dirinya ingin menikahi Arana. Ada rasa senang tersirat secara tiba-tiba di dala
hatinya. Steven sendiri merasa sangat bingun dengan perasaan yang tengah di rasakan
saat ini.
“Dan sekarang kamu ikut aku.” Steven mulai menyalakan mesin
mobilnya lalu melajukannya.
“Kita mau kemana Stev?” Arana melihat ke arah Steven yang
kini tengah pokus melajukan mobilnya.
“Aku ingin menculikmu.” Tertawa melebar melihat ke arah
wajah Arana yang kini mulai menatap tajam ke arahnya.
“Stev.” Arana mencubit sampin perut Steven dan itu membuat
Steven salah tingkah melajukan mobilnya.
“Ao, Ara, hentikan ini geli.”
Arana menghentikan cubitannya, lalu kembali berkata. “Stev,
sebenarnya kita mau kemana?” berkata pelan.
“Kamu ikut saja, tidak perlu banyak bertanya oky. Bentar lagi
kita akan sampai.” Steven tersenyum, lalu kembali melihat ke arah jalanan.
Seteleh lima belas menit, Steven membunyikan kelakson
mobilnya di depan sebuah gerban rumah mewah, dan itu membuat Arana merasa
bingun dan juga penasaran. Dan juga keluarlah seorang pemuda berseragam lengkap
membuka pintu gerban yang tingginya sekitar dau meter lebih.
“Stev, ini rumah siapa?” Arana melihat ke arah rumah mewah
yang kini ada di depan matanya.
Tampa menjawab pertanyaan Arana, Steven kembali melajukan
mobilnya masuk ke dalam area rumah mewah tersebut, dan mematikan mobilnya
setelah sampai di depan pintu utama rumahnya.
“Ayo, kita turun.” Steven membuka pintu mobilnya lalu turun,
begitupun dengan Arana yang ikut turun karna melihat Steven turun dari
mobilnya.
Arana berjalan ke arah Steven, sambil melihat sekelilin
rumah yang tengah di tempatinya saat ini.
“Stev, ini rumah siapa?” Arana kembali bertanya, dan lagi
Steven tak mejawab pertanyannya.
Justru Steven memegan tangan Arana, berjalan ke arah pintu,
tampa memencet bel, pintu rumah terbuka, dan beberapa pelayan telah menyambut
kedatangan mereka berdua, karna sebelumnya Steven telah memberitahukan orang di
rumahnya kalau ia akan datang bersama seseorang.
Melihat perlakuan sopan para pelayan kepada Steven, Arana bertambah
bingun melihat itu semua.
“Steven siapa sebenarnya? Tidak mungkin ini rumah
keluarganya, atau ini rumah temannya? Atau ah, sudalah.” Arana beragrumen
dengan pemikirannya sendiri.
“Ara.” Panggilan Steven menyadarkan Arana dari lamunannya.
“I—iya, ada apa Stev?” Arana melihat ke arah wajah Steven
ketika mendengar panggilannya.
“Ayo.” Steven menarik tangan Arana menuju arah ruang
tamunya.
Di sana Arana mulai mengetahui kalau rumah yang di
tempatinya saat ini, adalah rumah orang tua Steven.
ika widya
alhasil skrg menderita hati dah 🤪🤪
aq dah baca sinopsis, MW mau ralat dikit ya Thor🤭
usia kuliah S1 itu kalo dari tamat SMA itu rata2 18-22 tahun. kl udah 23 berarti mahasiswa abadi 😂