Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semuanya Bubar!
Shinta benar-benar kehilangan akal sehatnya, teriakan Kanaya yang menantang justru menjadi pemantik api yang lebih besar. Dengan gerakan kasar, Shinta melompat maju dan mencengkeram rambut Kanaya dan menjambaknya hingga kepala Kanaya terdongak ke belakang.
"Aduh! Lepas, Mbak!" teriak Kanaya kesakitan.
"Nggak akan! Kamu harus ngerasain gimana rasanya dihina balik!" bentak Shinta lalu menarik rambut Kanaya dengan kuat dan menyeretnya hingga keluar dari ambang pintu kamar.
Kanaya merintih, rasa perih di kulit kepalanya terasa seperti dicabut paksa. Namun, Kanaya yang sekarang bukan lagi Kanaya yang pasrah, amarah yang sudah mencapai ubun-ubun membuatnya nekat. Kanaya tidak membalas menjambak, melainkan mencengkeram kedua pergelangan tangan Shinta dan menekannya dengan sekuat tenaga menggunakan kuku-kukunya.
"Lepasin atau aku patahin tangan Mbak!" ancam Kanaya dengan suara serak.
"Banyak gaya kamu!" Shinta justru mencoba membanting tubuh Kanaya ke arah tembok.
Perkelahian itu pecah, keduanya berkelahi di lorong sempit yang pengap. Kanaya berhasil melepaskan jambakan Shinta meski beberapa helai rambutnya tercabut dan ia segera mendorong bahu Shinta hingga wanita itu menabrak deretan botol galon kosong di depan kamar sebelah hingga suara gaduh plastik yang beradu menambah kericuhan sore itu.
Meskipun pertengkaran itu semakin parah, namun dari semua warga yang melihat. Tidak ada yang mau memisahkan keduanya, mereka justru hanya menyaksikannya seolah ini adalah pertunjukan yang sangat bagus.
###
Sementara itu, di balik tembok kaca rumah sakit, Narendra sama sekali tidak menyadari masalah yang tengah menimpa Kanaya. Selama tiga hari terakhir, dunianya hanya berputar di antara ruang operasi, ruang rapat direksi dan tumpukan dokumen audit medis yang nyaris tidak ada habisnya.
Atmaja Medical Center sedang berada dalam masa kritis peralihan kepemimpinan, Ayahnya baru saja menyerahkan tanggung jawab penuh padanya dan di saat yang sama, ada kasus malpraktik yang melibatkan salah satu Dokter senior dan sebagai pimpinan, Narendra tidak punya waktu bahkan untuk sekadar menarik napas panjang.
Ponselnya sendiri sudah tergeletak mati di atas meja kerja di ruangannya sejak kemarin lusa karena ia lupa mengisi daya dan ia terlalu lelah untuk mempedulikannya.
"Dokter Narendra, berkas audit dari unit farmasi sudah siap," ucap sekretarisnya sambil meletakkan map tebal.
Narendra mengusap wajahnya yang tampak lelah dengan lingkaran hitam di bawah mata, "Jam berapa sekarang?" tanya Narendra.
"Sudah jam lima sore, Dok," jawab sekretaris.
Narendra menyandarkan punggungnya lalu teringat sesuatu, ada rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya. Tiga hari sudah Narendra mengabaikan Kanaya, awalnya ia ingin memberi Kanaya waktu untuk tenang, tapi ia tidak menyangka urusan rumah sakit akan menyitanya begini lama.
Narendra segera meraih ponselnya dan menyambungkannya ke pengisi daya lalu menekan tombol power. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi masuk, namun matanya hanya mencari satu nama yaitu Kanaya, sayangnya tidak ada pesan masuk dari gadis itu.
"Jadwal saya setelah ini?" tanya Narendra singkat sambil merapikan jasnya.
"Kosong, Dok. Pertemuan dengan dewan pengawas diundur besok pagi," jawab sekretarisnya.
Tanpa menunggu kata-kata selanjutnya, Narendra menyambar kunci mobilnya dan melangkah lebar meninggalkan ruangan, ia mengemudikan mobilnya membelah kemacetan kota dengan kecepatan yang sedikit di atas rata-rata.
Narendra pun sampai di daerah kos Kanaya, namun ia heran saat melihat kerumunan orang di gang sempit menuju kos Kanaya, mereka tampak bersorak dan sibuk mengarahkan kamera ponsel mereka ke satu titik.
Narendra turun dari mobil, aura kepemimpinan yang biasanya tenang kini berubah menjadi ketegangan yang nyata dan ia mencoba menerobos barisan warga yang menghalangi jalan.
Begitu Narendra berhasil sampai di baris terdepan, jantung Narendra seolah berhenti berdetak. Pemandangan di depannya jauh lebih buruk dari apa yang bisa ia bayangkan, Kanaya tengah berkelahi dengan seorang perempuan, rambut Kanaya acak-acakan, kemejanya robek dan yang paling membuat d*r*h Narendra mendidih adalah melihat sudut bibir Kanaya yang berdarah serta pipinya yang membengkak merah.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Narendra melangkah maju dan menggunakan satu tangannya untuk mendorong bahu Shinta dengan tenaga yang cukup kuat hingga perempuan itu terlempar ke belakang dan jatuh terduduk di atas lantai semen yang kasar.
"Aakh!" jerit Shinta.
Narendra segera menarik tubuh Kanaya ke dalam dekapan dadanya yang bidang, melingkarkan lengan kokohnya di bahu Kanaya yang gemetar hebat. Narendra tidak peduli jika kemeja mahalnya terkena noda darah atau keringat, fokusnya hanya satu yaitu melindungi satu-satunya sumber ketenangannya yang kini hancur berantakan.
Kanaya yang berada di pelukan Narendra pun bingung, padahal ia berada di puncak adrenalin. Kanaya pun mendongak dan terkejut ketika melihat Narendra, hal pertama yang ia rasakan saat ini adalah malu.
Kanaya malu karena Narendra melihat dirinya yang seperti sekarang, rasa malu itu lebih besar daripada rasa sakit yang ia rasakan karena berkelahi dengan Shinta.
"Semuanya bubar!" teriak Narendra.
Melihat wajah Narendra yang tidak bersahabat itu, semua orang pun bubar termasuk Shinta.
Setelah semua orang pergi, suasana lorong kosan mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar suara napas Kanaya yang masih memburu dan detak jantung Narendra yang berdegup kencang di balik jasnya.
Kanaya yang baru saja menyadari posisi kepalanya bersandar di dada bidang Narendra, tiba-tiba mendorong tubuh Narendra agar menjauh. Kanaya melepaskan diri dari dekapan Narendra dengan gerakan canggung dan nyaris seperti orang yang tersengat listrik, ia mundur dua langkah agar menjaga jarak sejauh mungkin.
"Kanaya...," panggil Narendra pelan dan tangannya masih menggantung di udara untuk mencoba meraih gadis itu kembali.
Kanaya tidak menyahut, ia menunduk membiarkan rambutnya yang berantakan menutupi wajahnya yang membengkak. Tangannya yang gemetar sibuk merapikan kemejanya yang robek di bagian lengan, mencoba menutupi kulitnya yang terekspos.
"Jangan lihat, kamu lebih baik pergi," ucap Kanaya.
Narendra mengabaikan permintaan itu, ia melangkah maju dan memperpendek jarak yang dibuat Kanaya. "Kenapa aku harus pergi? Kamu terluka, Kanaya. Bibirmu berdarah, ayo aku obati," ucap Narendra.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," ucap Kanaya.
Saat ini, Kanaya hanya ingin Narendra pergi karena Kanaya terlalu malu untuk bertemu Narendra.
Kanaya segera berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar kosnya dengan terburu-buru, ia mencoba menutup pintu kayu yang sudah mulai lapuk itu, namun sebuah tangan yang kokoh lebih dulu menahan daun pintu, Narendra menggunakan berat tubuhnya untuk mendorong pintu agar tetap terbuka.
"Kanaya, jangan seperti ini," ucap Narendra.
"Narendra, aku mohon kamu pergi. Hari ini aku nggak mau diganggu, kita bicara minggu depan aja ya," mohon Kanaya.
Narendra yang melihat wajah Kanaya pun tidak tega, akhirnya ia pun mengangguk dan membiarkan Kanaya masuk kedalam kamarnya.
.
.
.
Bersambung.....