NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Jiwa, Dua Hati

Koridor luar Academy Magica lengang menjelang senja.

Reyd berjalan sendiri menyusuri jalur batu yang mengarah ke menara arsip. Langkahnya tenang, namun pikirannya tidak. Percakapan dengan Lein sore tadi terus terulang di benaknya, terutama soal tatapan para dosen.

Seseorang sedang menggerakkan sesuatu, pikirnya.

Udara tiba-tiba berubah.

Bukan dingin...

melainkan udara terpotong.

Reyd berhenti.

“Keluarlah, pengecut,” katanya datar.

Bayangan di sisi pilar batu bergerak.

Dua sosok muncul hampir bersamaan.

Siont Estesral melangkah ke depan, tangan kanannya sudah dipenuhi pola sihir geometris yang berdenyut samar.

Di sisi lain, Cys Deraxle tersenyum tipis, rambut peraknya berkilau dalam cahaya senja, namun matanya waspada dan tajam.

“Kau peka juga,” gumam Cys. “Sepertinya kau bukan murid biasa.”

Reyd mengamati mereka sekilas. “Aku tidak mencari masalah pada kalian.”

“Biasanya yang bilang begitu,” jawab Siont tenang, “sudah menjadi bagian dari masalah itu sendiri.”

Tanpa aba-aba.

Zona sihir tertutup terbentuk di sekitar mereka.

Cys menjentikkan jari.

Bayangan di tanah memanjang, berubah menjadi jerat mana yang mencoba menahan langkah Reyd. Hampir bersamaan, Siont mengangkat tangannya. Lapisan tekanan sihir menyapu udara seperti dinding tak terlihat.

Reyd bereaksi instan.

Angin berputar di sekelilingnya, memotong jerat bayangan sebelum menyentuh kakinya. Ia melompat mundur satu langkah, tatapannya kini tajam.

“Kalian menyerang murid kerajaan” katanya dingin. “Itu keputusan yang bodoh.”

“Jika kau bekerja untuk Karza,” balas Siont, “atau berada di sisi musuh, maka statusmu tidak berarti bagi kami.”

Angin di sekitar Reyd mengeras.

“Karza?” ulangnya. “Aku justru mencurigainya.”

Itu membuat Cys berhenti sejenak.

“Hmm,” gumamnya. “Nada itu, kurasa tidak palsu.”

Namun Siont tidak langsung menurunkan sihirnya. “Kau sangat dekat dengan gadis itu.”

Reyd menegang. “Apa maksudmu gadisku?Roselein?”

“Kami sudah mengamatinya lebih dulu,” kata Cys ringan, namun sorot matanya serius. “Orang-orang yang mendekatinya biasanya punya tujuan.”

Angin berhenti berputar.

Reyd menatap mereka berdua, perlahan menyadarinya.

“Kalian bukan pihak Academy,” katanya. “Tapi juga bukan musuhnya secara langsung.”

“Benar sekali, rambut acak-acakan” jawab Siont. “Kami berada di antara dua sisi.”

Keheningan menegang beberapa detik.

Kemudian Reyd menurunkan sihirnya.

“Aku melindunginya dengan jiwaku,” katanya singkat. “Bukan memanfaatkannya.”

Cys memiringkan kepala. “Menarik.”

Siont menghela napas kecil dan membatalkan tekanan sihirnya. Zona tertutup runtuh tanpa suara.

“Kalau begitu,” katanya, “ini kesalahan kami.”

Namun tatapannya tetap waspada.

“Kau bukan lawan kami,” lanjutnya. “Setidaknya masih belum.”

Reyd mengernyit. “Kalian masih menilai gadisku.”

Cys tersenyum samar. “Kami ingin tahu apakah dia akan berjalan sendiri atau memilih sisi.”

“Salah satu dari kalian?” tanya Reyd.

“Menolak semuanya,” jawab Cys. “Itu juga pilihan, bukan”

Mereka mundur perlahan ke bayangan pilar.

“Katakan pada gadismu itu,” ucap Siont sebelum menghilang, “kami tidak akan memaksanya. Tapi waktu akan memaksa pilihan itu muncul.”

Koridor kembali sunyi.

Reyd berdiri sendiri, napasnya stabil, namun pikirannya bergejolak tidak tenang.

***

Malam turun perlahan di Academy Magica.

Lampu kristal menyala satu per satu di sepanjang koridor, memantulkan cahaya lembut di dinding. Di balkon asrama barat, Lein berdiri bersandar pada pagar, memandangi langit malam yang terasa tenang.

Langkah kaki mendekat.

“Yang, eh Lein,” panggil Reyd pelan.

Ia menoleh.

Wajah Reyd tampak serius, lebih dari biasanya.

“Iya, Reyd. Apa ada sesuatu yang membuatmu kesini?” tanya Lein.

Reyd berhenti di hadapannya. “Aku ingin kamu mendengarkan penjelasanku dulu.”

Nada itu membuat Lein mengangguk.

Reyd menceritakan segalanya: serangan mendadak di koridor, dua murid senior yang salah mengira dirinya bagian dari pihak Karza, dan kata-kata mereka tentang gadisnya yang tengah dinilai.

Lein tidak menyela.

Namun setiap kalimat membuat dadanya terasa lebih berat.

“Mereka mungkin mengawasimu,” simpul Reyd. “Bukan hanya Karza dan bu dosen Bellyria.”

Ia menggenggam pagar balkon. “Ini terlalu berbahaya. Aku bisa membawamu pergi ke Kerajaanku. Bahkan untuk selamanya.”

Lein terdiam lama.

Angin malam berhembus lembut, menggerakkan rambutnya.

“Reyd... Aku, aku tidak mau,” katanya akhirnya.

Reyd menatapnya, terkejut. “Lein... ”

“Aku tahu ini berbahaya,” lanjut Lein tenang. “Tapi Academy ini bukan hanya tempat aku tinggal.”

Ia memandang langit. “Di sini, aku belajar. Tentang sihir yang tidak menghancurkan. Tentang hidup tanpa harus ditakuti.”

Raksha berbisik samar di dalam dirinya, tanpa kemarahan:

Dulu, kau menghancurkan karena itu satu-satunya jalan.

Kini, kau memilih bertahan.

“Aku hanya ingin berubah,” kata Lein pelan. “Jika aku pergi sekarang, aku hanya akan lari. Dan dia, dia akan tetap menjadi bayangan yang menungguku.”

Reyd terdiam.

“Aku tidak ingin dia terbangun lagi,” lanjut Lein. “Setidaknya, setidaknya tidak dengan cara yang sama.”

Ia menatap Reyd. “Aku sudah nyaman di sini.”

Reyd menghela napas panjang.

“Aku ingin melindungimu,” katanya jujur.

“Aku percaya padamu,” Lein tersenyum kecil. “Itu sudah lebih dari cukup.”

Keheningan di antara mereka bukan jarak, melainkan pemahaman yang perlahan tumbuh.

“Kalau begitu,” kata Reyd akhirnya, “aku akan tetap berada di sisimu. Di Academy ini.”

Lein mengangguk lemah.

Selama ia memilih berubah, Raksha akan tetap tidur... bukan karena disegel, melainkan karena tidak lagi dibutuhkan.

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!