Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diceraikan
Suara Kamila bergetar, menatap Danu, ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini di hadapannya.
"Mas... anak kita mana? Kenapa perutku... kenapa rata? Mas, jawab aku!"
Danu menatap Kamila dengan dingin, tanpa ada rasa kasihan sedikit pun.
"Anak itu sudah tidak ada, Mila. Dia mati karena kesalahanmu sendiri yang sok heroik lari-larian di tangga."
Akhirnya Kamila terisak histeris. "Apa? Meniggal? Ya Robb... Maafkan Ibu, Nak... Tapi Mas, ini semua karena kamu selingkuh! Dan kenapa wanita ini ada di sini?!"
Maya melangkah maju sambil tersenyum sinis.
"Tenanglah, Mila, jangan teriak-teriak, ini rumah sakit. Lagipula, bukan cuma anakmu yang hilang. Rahimmu juga sudah diangkat. Kamu sekarang sudah... apa ya istilahnya? Tidak berguna lagi sebagai wanita."
Kamila tercengang, napasnya tersengal. "Apa maksudmu, Maya? Mas... apa benar yang dia katakan?"
Danu melepaskan tangan Kamila yang mencoba meraihnya.
"Benar, kamu sudah tidak bisa punya anak lagi, dan aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku bersama dengan wanita cacat yang tidak bisa memberikan keturunan. Ibu juga tidak akan setuju mempunyai menantu sepertimu."
"Mas... aku begini karena menyelamatkan diri darimu! Aku istrimu, Mas...kau tega melakukan semua ini padaku, kesalahan apa yang sudah aku perbuat padamu, sehingga kamu tega melakukan semua ini?!"
Danu mengeluarkan selembar kertas dari saku jaketnya dan meletakkannya di atas meja pasien tanpa memperdulikan perkataan serta rasa sakit yang telah Kamila alami saat ini.
"Itu dulu, Mila, tapi sekarang, aku sudah memutuskan, Ini surat pernyataan cerai, Aku ingin kamu menandatanganinya segera setelah kamu bisa memegang pena. Aku dan Maya akan segera menikah dan kamu harus menerima semua kenyataan ini."
Maya mengusap bahu Danu dengan lembut. "Betul, Mila, Mas Danu butuh wanita yang sempurna untuk mendampinginya, bukan wanita malang yang bahkan tidak bisa menjaga rahimnya sendiri."
Kamila menatap mereka berdua dengan tatapan kosong, ia hancur berkeping-keping.
"Kalian... kalian bukan manusia. Di saat aku kehilangan anakku, di saat aku kehilangan masa depanku... kalian tega melakukan ini?"
"Sudahlah, jangan mendramatisir. Aku sudah mengurus biaya administrasinya sampai tiga hari ke depan, setelah itu, kamu bisa hubungi keluargamu untuk menjemput. Ayo, Maya, kita pergi. Hawanya sudah tidak enak di sini."
Danu dan Maya berbalik pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Kamila yang meraung dalam diam di atas tempat tidur rumah sakit. Kamila memeluk perutnya yang kosong, merasakan hampa yang luar biasa. Ia tidak hanya kehilangan buah hatinya, tapi juga harga dirinya sebagai seorang istri diinjak-injak oleh pria yang paling ia cintai. Di tengah kesunyian kamar itu, dendam dan luka mulai menyatu dalam darahnya yang masih lemah.
Sungguh kejam perlakuan Danu dan Maya terhadap Kamila yang sedang dalam kondisi paling rapuh.
.
.
Luka di hati Kamila mungkin tidak akan pernah benar-benar menutup, namun di antara isak tangis yang mulai mereda, ada sebuah kekuatan baru yang muncul dari dasar kehancurannya. Ia menyeka air matanya dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Ia tidak akan mati di sini. Ia akan bertahan, bukan untuk Danu, melainkan untuk dirinya sendiri dan memori tentang putranya.
Tiga hari kemudian, Kamila berdiri di depan cermin rumah sakit. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan ketegasan yang dingin. Saat perawat membantunya berjalan keluar, Kamila menoleh ke arah meja pasien tempat surat cerai itu berada. Dengan tangan gemetar namun mantap, ia menandatanganinya.
"Aku melepaskan kamu, Danu. Bukan karena aku kalah, tapi karena kamu tidak pantas memiliki wanita sepertiku," bisiknya lirih.
Ia tidak membawa apa pun dari rumah Danu. Dengan taksi, Kamila pergi menuju satu-satunya tempat yang tersisa baginya yakni rumah peninggalan almarhum ayahnya. Rumah yang menjadi saksi bisu kebahagiaan masa kecilnya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Gerbang tua itu berderit saat Kamila mendorongnya. Di teras rumah, tampak Bu Elma dan Mita, mereka sedang bersantai sambil menikmati teh. Ekspresi mereka seketika berubah saat melihat Kamila turun dari taksi dengan tubuh yang masih tampak lemas.
"Kamila? Kenapa kamu ke sini? Mana Danu?" tanya Bu Elma tanpa basa-basi, suaranya terdengar ketus.
Kamila menarik napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya. "Mas Danu menceraikan ku, Bu. Anakku... anakku sudah tidak ada. Aku keguguran karena kecerobohan Danu dan selingkuhannya."
Mita tertawa sinis, ia meletakkan cangkir tehnya dengan kasar. "Diceraikan? Jadi kamu sekarang janda tidak punya anak dan tidak punya tempat tinggal? Duh, Mila, kamu ini selalu saja membawa drama. Kamu pikir rumah ini panti asuhan?"
"Mita, jaga bicaramu!" Kamila mencoba membela diri. "Ini rumah Ayahku. Aku punya hak untuk tinggal di sini."
Bu Elma berdiri, melipat tangannya di atas dada. Matanya menatap Kamila dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
"Hanya karena ini rumah ayahmu, bukan berarti kamu bisa datang dan pergi sesukamu. Kamu itu sudah menikah, seharusnya kamu bisa mengurus suamimu dengan benar. Sekarang kamu kembali ke sini dengan kondisi 'cacat' dan tidak punya apa-apa? Kamu hanya akan jadi beban pengeluaran di rumah ini."
"Beban?" Kamila menatap ibu tirinya dengan tidak percaya. "Ayah memberikan rumah ini untuk kita tinggali bersama. Aku baru saja kehilangan anakku, Bu! Setidaknya, tunjukkan sedikit rasa empati."
"Empati tidak bisa membeli beras, Mila," sahut Mita ketus. "Ibu benar. Kalau kamu mau tinggal di sini, jangan harap kami akan melayani kamu seperti putri raja. Kamu harus cari cara untuk membiayai hidupmu sendiri. Kami tidak mau rugi."
Kamila terdiam. Ia melihat betapa dinginnya dunia saat ia berada di titik terendah. Ibu tiri dan saudara tirinya tidak lebih baik dari Danu dan Maya. Namun, alih-alih menangis histeris seperti di rumah sakit, Kamila hanya tersenyum tipis, senyum yang mengandung kepahitan sekaligus tekad.
"Baiklah, Aku tidak akan merepotkan kalian. Aku hanya butuh kamar lamaku," ucap Kamila dengan nada datar.
Ia berjalan melewati mereka, menyeret tas kecilnya menuju kamar di lantai dua yang berada di pojok rumah. Saat ia menutup pintu, ia menyandarkan tubuhnya ke kayu yang dingin. Ia membelai perutnya yang kini rata, membayangkan kehadiran kecil yang telah hilang.
"Nak, maafkan Ibu yang belum bisa memberikan keadilan untukmu sekarang. Tapi Ibu berjanji, setiap air mata yang jatuh, setiap hinaan yang mereka berikan, akan menjadi pondasi bagi Ibu untuk bangkit. Mereka pikir aku hancur, tapi mereka tidak tahu bahwa dari reruntuhan ini, aku akan membangun sesuatu yang tak bisa mereka robohkan lagi."
Di kamar yang berdebu itu, Kamila tidak lagi meratapi nasib, Ia mulai menyusun rencana. Ikhlas bukan berarti melupakan, tapi menerima kenyataan untuk bisa melangkah lebih jauh.
Bersambung...
kopi untuk mu👍