NovelToon NovelToon
Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Mengubah sejarah
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keamanan yang Retak

Wawan selalu percaya bahwa keamanan adalah sesuatu yang bisa dijaga.

Bukan dijaga dengan pagar tinggi atau kunci berlapis, tapi dengan keteraturan. Dengan niat baik. Dengan kepatuhan yang tenang. Selama ia melakukan hal yang benar, selama ia tidak melanggar apa pun, dunia… menurutnya… akan memberi ruang.

Pagi itu, keyakinan itu tidak runtuh.

Ia hanya berderak kecil.

Kafe kecilnya di Medan buka seperti biasa. Pintu kayu didorong perlahan, bel kecil di atasnya berbunyi nyaring, aroma kopi dan bawang goreng dari dapur menyambut siapa pun yang masuk. Wawan berdiri di balik meja kasir, mengenakan jaket kulit coklat yang sudah mulai aus di bagian siku. Tangannya cekatan, gerakannya hafal.

Semua tampak normal.

Ia menyalakan mesin kasir digital, menunggu layar menyala penuh. Lingkaran kecil berputar sebentar lebih lama dari biasanya.

Memuat…

Wawan mengernyit, tapi tidak panik. Ia sudah terbiasa dengan hal-hal kecil seperti ini. Teknologi memang begitu, katanya pada dirinya sendiri. Kadang lambat, kadang lancar.

Lingkaran itu berhenti. Layar menampilkan dashboard seperti biasa.

Aman.

Pelanggan pertama datang, seorang ibu yang hampir setiap pagi memesan kopi susu dan roti bakar. Mereka bertukar senyum singkat. Wawan menyiapkan pesanan, menyerahkannya, lalu menerima pembayaran.

Ia menekan tombol konfirmasi.

Layar membeku sesaat.

Memproses…

Detik berlalu. Dua. Tiga.

Ibu itu menunggu dengan sabar. Wawan tersenyum, sedikit kaku.

“Sebentar ya, Bu,” katanya. “Sistemnya lagi mikir.”

Ibu itu tertawa kecil. “Iya, sama kayak kita.”

Transaksi akhirnya berhasil. Struk keluar. Wawan menghela napas pelan. Hal sepele, katanya lagi pada dirinya sendiri. Jangan dibesar-besarkan.

Tapi tubuhnya mencatat jeda itu.

Sepanjang pagi, kejadian serupa terulang. Tidak selalu gagal. Tidak juga lancar sepenuhnya. Selalu ada jeda. Selalu ada momen menunggu yang tidak bisa ia jelaskan.

Pelanggan tidak marah. Belum.

Tapi Wawan mulai merasa seperti sedang berjalan di lantai yang retak halus… belum ambruk, tapi tidak lagi kokoh.

Menjelang siang, ponselnya bergetar. Notifikasi dari penyedia layanan pembayaran.

Pembaruan Sistem

Beberapa fitur mungkin mengalami penyesuaian sementara.

Kalimat itu terasa familiar. Terlalu familiar.

Wawan membaca ulang. Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada tautan bantuan yang jelas. Hanya kalimat yang terdengar sopan dan tidak bisa dibantah.

Ia mematikan layar ponsel, menyimpannya ke saku jaket.

Sore hari, kafe lebih ramai dari biasanya. Beberapa pelanggan berdiri karena kursi penuh. Wawan sibuk bolak-balik dari dapur ke kasir. Keringat mulai membasahi tengkuknya.

Seorang pria muda membayar dengan aplikasi, lalu menunggu. Dan menunggu.

“Mas, sudah masuk belum?” tanya pria itu, nadanya masih netral.

Wawan melirik layar. Masih memproses.

“Sebentar ya, Mas,” jawab Wawan. “Kayaknya lagi agak lambat.”

Pria itu mengangguk, tapi ekspresinya berubah. Ada ketidaksabaran kecil di matanya… bukan marah, tapi cukup untuk membuat Wawan merasa bersalah.

Transaksi akhirnya gagal.

Layar menampilkan pesan singkat:

Transaksi tidak dapat diproses. Silakan coba lagi.

Wawan meminta maaf, menawarkan pembayaran tunai. Pria itu menurut, tapi suasananya sudah berubah. Percakapan yang tadinya hangat menjadi singkat dan formal.

Setelah pria itu pergi, Wawan berdiri beberapa detik lebih lama dari yang semestinya di depan mesin kasir. Tangannya bertumpu di meja, jarinya menekan kayu pelan.

Ia teringat kalimat Ari beberapa hari lalu:

Yang paling berbahaya bukan sistem yang keras, tapi sistem yang membuat kita menyesuaikan diri tanpa sadar.

Wawan menggeleng kecil. Jangan mulai lagi, katanya dalam hati. Jangan cari-cari makna di mana-mana.

Ia mengambil wudu di kamar mandi kecil belakang kafe. Air dingin menyentuh wajahnya, menenangkan. Ia berdiri di sudut dapur, menunaikan salat dengan khusyuk. Gerakannya rapi, doanya teratur.

Biasanya, setelah itu, dadanya terasa lapang.

Hari ini, tidak sepenuhnya.

Usai salat, ia duduk sejenak, menatap lantai. Ada doa yang tertahan di tenggorokannya, bukan karena ia tidak percaya, tapi karena ia tidak tahu bagaimana merumuskannya.

Ia tidak meminta sistem diperbaiki.

Ia juga tidak meminta orang lain disalahkan.

Yang ia inginkan sederhana: kepastian.

Ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Random. Kali ini dari Kusuma.

Kusuma:

Wan,

hari ini gue dapet kerjaan,

tapi dibayar separuh dari yang dijanjikan.

Katanya “situasi lagi nggak stabil”.

Wawan membaca pesan itu lama. Kata tidak stabil menempel di pikirannya. Ia membalas cepat.

Wawan:

Lo gapapa, Sum?

Balasan datang tidak lama kemudian.

Kusuma:

Masih hidup.

Itu aja ukurannya sekarang.

Kalimat itu membuat Wawan menelan ludah. Ada rasa bersalah yang datang tiba-tiba, bukan karena ia lebih aman dari Kusuma, tapi karena ia masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja.

Sore beranjak ke malam. Lampu-lampu kafe menyala. Pelanggan mulai berkurang. Wawan merapikan meja, menyapu lantai, menutup kasir.

Ia menatap laporan harian di layar. Angkanya tidak buruk. Bahkan cenderung normal.

Tapi rasa aman itu tidak ikut muncul.

Karena untuk pertama kalinya, Wawan sadar:

…keamanan yang ia rasakan selama ini bukan berasal dari kepastian sistem, melainkan dari asumsi bahwa sistem tidak akan menyentuhnya.

Dan asumsi, jika diuji cukup lama,

selalu retak.

Ia mematikan lampu, mengunci pintu kafe, lalu berdiri sejenak di luar. Jalanan Medan malam itu ramai, suara kendaraan bercampur dengan tawa orang-orang di warung seberang.

Hidup tetap berjalan.

Namun Wawan pulang dengan perasaan yang berbeda dari biasanya… bukan takut, melainkan waspada.

Malam menyambut dalam kegelisahannya.

Dengan seorang lelaki yang mulai menyadari bahwa kepatuhan tidak selalu dibalas dengan perlindungan, dan bahwa keamanan yang tidak pernah dipertanyakan sering kali rapuh justru ketika kita paling bergantung padanya.

Kehilangan itu tidak datang dalam bentuk penutupan kafe.

Tidak ada segel. Tidak ada surat resmi. Tidak ada peringatan keras. Kafe Wawan tetap berdiri di tempatnya, pintu kayu tetap bisa dibuka, mesin kopi tetap menyala. Justru karena itulah, kehilangan itu terasa lebih membingungkan.

Ia datang keesokan paginya dengan rutinitas yang sama. Menyapu lantai. Menyeduh kopi pertama. Menyalakan mesin kasir. Semua gerakan dilakukan dengan tubuh yang hafal, tapi pikirannya tidak lagi sepenuhnya hadir. Ada sesuatu yang tertinggal dari hari sebelumnya, rasa waspada yang tidak kunjung turun.

Pelanggan pagi datang satu per satu. Tidak ramai, tapi cukup untuk membuat kafe terasa hidup. Wawan menyapa, tersenyum, mengangguk. Ia memperhatikan layar kasir lebih sering dari biasanya, seperti seseorang yang sedang menunggu tanda-tanda kecil dari sesuatu yang tak ia pahami.

Menjelang siang, seorang perempuan muda masuk. Rambutnya diikat sederhana, ransel kecil di punggungnya. Wawan mengenalnya. Pelanggan tetap. Biasanya datang dua atau tiga kali seminggu, duduk di pojok dekat jendela, memesan kopi hitam dan menulis di laptop.

“Kopi hitam, Mas,” katanya seperti biasa.

Wawan mengangguk, menyiapkan pesanan. Tidak ada yang berbeda sampai ia menekan tombol pembayaran.

Layar berhenti.

Memproses…

Perempuan itu menunggu. Tidak tergesa. Jarinya masih mengetik pelan di laptop.

Detik berlalu. Layar berkedip.

Akun dalam peninjauan.

Beberapa layanan sementara tidak tersedia.

Wawan membaca kalimat itu dua kali. Tenggorokannya terasa kering.

“Sebentar ya,” katanya pelan. “Kayaknya ada pembaruan sistem.”

Perempuan itu menoleh, mengangguk singkat. “Oke.”

Wawan mencoba ulang. Pesan yang sama muncul. Ia menelan ludah.

“Kalau boleh, Mbak, pembayarannya tunai dulu?” katanya, berusaha terdengar ringan.

Perempuan itu terdiam sejenak. Lalu menggeleng kecil. “Wah, saya nggak bawa uang tunai, Mas.”

“Oh…,” Wawan tersenyum kaku. “Kalau begitu, nanti aja nggak apa-apa.”

Perempuan itu mengangguk lagi, tapi kali ini wajahnya berubah. Bukan marah. Bukan kecewa. Hanya… ragu.

“Maaf ya,” katanya. “Saya lagi buru-buru.”

Ia menutup laptop, memasukkannya ke ransel, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Wawan berdiri di belakang meja kasir, menatap pintu yang tertutup perlahan. Tidak ada suara bel. Tidak ada drama. Hanya satu pelanggan yang tidak jadi duduk.

Dan entah kenapa, itu terasa seperti kehilangan yang nyata.

Ia menatap layar kasir lagi. Pesan itu masih ada. Akun dalam peninjauan. Tidak ada tombol bantuan. Tidak ada nomor yang bisa dihubungi secara langsung.

Wawan menarik napas panjang. Ia membuka aplikasi di ponsel, mencoba masuk ke akun usahanya. Halaman memuat lebih lama dari biasanya, lalu menampilkan notifikasi yang sama.

Beberapa fitur sementara dibatasi.

“Sementara.”

Kata itu kembali.

Ia menutup aplikasi, memasukkan ponsel ke saku. Tangannya sedikit gemetar. Ia tidak marah. Belum. Yang ia rasakan adalah sesuatu yang lebih sulit ditangani: rasa tidak dianggap.

Bukan karena ia melakukan kesalahan.

Bukan karena ia melanggar aturan.

Tapi karena ia berada di ruang tunggu tanpa kursi.

Siang itu berlalu dengan lebih sepi. Beberapa pelanggan tetap tidak datang. Beberapa yang datang memilih membayar tunai. Beberapa bertanya dengan nada bercanda, “Lagi error ya, Mas?”

Wawan tersenyum, mengangguk, menjawab singkat. Tapi setiap pertanyaan itu menambah lapisan tipis di dadanya, lapisan yang membuatnya sulit bernapas.

Sore hari, ia menutup kafe lebih awal. Bukan karena ingin menyerah, tapi karena merasa perlu diam. Ia duduk sendiri di kursi dekat jendela, menatap jalan. Orang-orang lewat dengan ritme masing-masing. Tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi di balik meja kasir kecil itu.

Ia membuka ponsel, masuk ke Random. Pesan terakhir dari Doli masih ada, tentang kalimat yang dihapus. Wawan membacanya ulang, kali ini dengan pemahaman baru.

Penghapusan tidak selalu terlihat seperti penghapusan, pikirnya. Kadang ia hanya berupa penundaan yang terlalu lama.

Ia mengetik pesan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu berhenti.

Akhirnya, ia menulis:

Wawan:

Hari ini satu pelanggan tetap pergi

karena gue nggak bisa nerima pembayaran.

Nggak ada yang salah, katanya.

Cuma “sementara”.

Pesan itu terkirim. Tidak ada balasan cepat.

Wawan meletakkan ponsel, lalu berdiri. Ia mengambil sajadah kecil dari laci, menggelarnya di sudut kafe. Ia berwudu dengan air seadanya, lalu berdiri menghadap kiblat.

Gerakannya sama seperti ribuan kali sebelumnya. Takbir. Ruku. Sujud. Semua dilakukan dengan khusyuk yang terlatih.

Tapi di antara doa-doa yang ia hafal, ada ruang kosong yang tidak terisi.

Ia tidak tahu apa yang harus diminta.

Ia tidak ingin meminta sistem dipercepat.

Ia juga tidak ingin meminta orang lain disalahkan.

Yang ia inginkan hanyalah satu hal yang selama ini ia anggap pasti: kepastian bahwa niat baik masih cukup.

Setelah shalat, Wawan duduk lama di atas sajadah. Tangannya terlipat di pangkuan. Matanya menatap lantai.

Ia teringat masa-masa awal membuka kafe ini. Bagaimana ia percaya bahwa usaha kecil, kejujuran, dan keramahan adalah bentuk ibadah. Bahwa rezeki datang lewat keteraturan dan kepatuhan.

Keyakinan itu belum hilang.

Tapi sekarang, ada retakan di dalamnya.

Ia pulang menjelang maghrib. Di rumah kecilnya, ia menyalakan lampu, duduk di sofa, menatap dinding kosong. Ponselnya bergetar.

Pesan dari Ari.

Ari:

Wan,

kalau lo mau,

gue bisa bantu nyari tahu soal peninjauan itu.

Bukan janji, tapi gue coba.

Wawan membaca pesan itu lama. Biasanya, ia akan menolak dengan halus. Biasanya, ia akan bilang semua baik-baik saja.

Kali ini, ia tidak langsung menjawab.

Ia membalas beberapa menit kemudian.

Wawan:

Bantu doain aja dulu, Ri.

Gue masih pengin percaya

ini cuma gangguan.

Pesan itu terkirim. Wawan menaruh ponsel di meja, lalu memijat wajahnya pelan. Ada rasa lelah yang berbeda malam itu… bukan lelah fisik, tapi lelah mempertahankan keyakinan tanpa pegangan yang jelas.

Ia tahu, besok kafe akan buka lagi. Mesin akan menyala lagi. Sistem mungkin akan pulih, atau mungkin tidak. Hidup akan tetap berjalan, apa pun yang terjadi.

Namun satu hal sudah berubah.

Untuk pertama kalinya, Wawan menyadari bahwa keamanan yang ia rasakan selama ini bukanlah janji, melainkan pinjaman. Dan seperti semua pinjaman, ia bisa ditarik kembali kapan saja, tanpa perlu alasan yang bisa ia bantah.

Malam kian larut.

Dengan seorang lelaki yang tidak kehilangan imannya, tetapi kehilangan kepastian bahwa iman itu selalu dilindungi oleh sistem.

Dan sejak hari itu, setiap kali Wawan berkata “insyaallah”, ada satu pertanyaan kecil yang ikut terucap dalam hatinya:

Apakah keyakinan masih cukup ketika rasa aman tidak lagi dijamin?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!