Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6: Batu Pengukur Langit
Alun-alun pusat Kota Awan Putih telah berubah menjadi lautan manusia.
Lebih dari sepuluh ribu pemuda berkumpul, wajah mereka campuran antara harapan dan ketakutan. Di tengah alun-alun, sebuah panggung batu raksasa telah didirikan. Di atasnya, berdiri sebuah pilar kristal setinggi tiga meter yang memancarkan cahaya pelangi redup—Batu Pengukur Roh.
Di langit di atas panggung, tiga sosok tua melayang duduk di atas bangau raksasa. Mereka adalah Tetua Sekte Langit Biru. Tatapan mereka menyapu kerumunan di bawah seperti elang mencari mangsa.
"Tahun ini ramai sekali," gumam Tetua berjubah abu-abu. "Tapi kuantitas bukan kualitas. Berapa banyak yang bisa membangkitkan Akar Roh tingkat tinggi?"
Di bawah, Li Wei dan Xiao Lan berdiri berhimpitan di tengah kerumunan.
"Aturannya sederhana," suara seorang diaken sekte bergema, diperkuat oleh Qi. "Maju satu per satu. Letakkan tangan di Batu Pengukur. Jika batu tidak bereaksi, pulanglah bertani. Jika batu bersinar, kalian lolos ke tahap berikutnya."
Kriteria bakat ditentukan oleh warna dan intensitas cahaya:
Akar Roh Semu: Cahaya redup/kotor. (Gagal/Jadi pelayan).
Tingkat Rendah: Satu warna redup.
Tingkat Menengah: Cahaya stabil.
Tingkat Tinggi: Cahaya terang menyilaukan.
Akar Roh Langit (Heavenly Root): Fenomena alam muncul.
Proses seleksi berlangsung brutal.
"Gagal."
"Gagal."
"Akar Roh Semu. Kau boleh jadi tukang sapu."
"Gagal."
Sembilan dari sepuluh orang ditolak mentah-mentah. Tangisan pecah di mana-mana. Mimpi menjadi abadi hancur dalam hitungan detik.
"Minggir!"
Barisan terbelah. Wang Jian, Tuan Muda yang arogan kemarin, melangkah naik ke panggung dengan dagu terangkat. Ia mengenakan jubah emas yang mencolok.
Ia meletakkan tangannya di batu kristal itu.
VWUOOM!
Seketika, pilar itu meledak dengan cahaya merah menyala. Udara di sekitar panggung menjadi panas. Api ilusi menari-nari di sekitar Wang Jian.
Para Tetua di atas bangau langsung membuka mata lebar.
"Api!" seru Tetua berjubah abu-abu. "Dan murni! Itu Akar Roh Api Tingkat Tinggi! Hanya selangkah lagi menuju Akar Roh Bumi!"
Kerumunan tersentak kagum. Wang Jian tersenyum puas, melirik ke arah kerumunan, matanya mencari Li Wei, lalu memberikan gestur memotong leher.
"Wang Jian, Lolos! Masuk ke barisan Murid Inti!" teriak diaken dengan hormat.
Selanjutnya, giliran Xiao Lan.
Gadis itu gemetar saat naik ke panggung. Dia menatap Li Wei, yang mengangguk memberinya semangat. Xiao Lan menyentuh batu itu.
Cahaya biru lembut dan hijau berpendar bergantian.
"Akar Roh Ganda: Air dan Kayu. Tingkat Menengah," umum diaken itu. "Bagus untuk penyembuhan dan alkimia. Lolos!"
Xiao Lan menghela napas lega, wajahnya berseri-seri. Dia berlari ke sisi panggung, menunggu Li Wei.
Akhirnya, nama itu dipanggil.
"Li Wei! Desa Sungai Jernih!"
Li Wei melangkah maju. Pakaiannya yang sederhana dan ditambal-sulam terlihat kontras dengan kemegahan panggung.
"Lihat, itu pengemis yang berani melawan Tuan Muda Wang," bisik seseorang. "Dia pasti akan mempermalukan dirinya sendiri."
Li Wei mengabaikan mereka. Ia berdiri di depan pilar kristal. Jantungnya berdetak kencang. Giok di dadanya terasa hangat, seolah berbisik padanya.
Bagaimana jika aku tidak punya bakat?
Keraguan itu wajar. Tapi Li Wei menepisnya. Ia mengulurkan tangan kanannya dan menempelkannya ke permukaan dingin kristal itu.
Wuuuu...
Batu itu bergetar.
Cahaya mulai muncul.
Merah. Biru. Hijau. Emas. Cokelat.
Lima warna muncul bersamaan, berputar-putar di dalam pilar. Namun, cahayanya tidak terang. Justru terlihat keruh, kacau, dan saling bertabrakan satu sama lain. Tidak ada satu elemen yang dominan.
Diaken yang memimpin ujian mengerutkan kening.
"Lima Elemen... Lengkap," gumam diaken itu dengan nada kecewa.
Kerumunan mulai tertawa. Bahkan Wang Jian di kejauhan tertawa terbahak-bahak.
Dalam dunia kultivasi umum, Akar Roh Lima Elemen sering dianggap sebagai "Akar Roh Sampah". Kenapa? Karena menyerap Qi membutuhkan waktu lima kali lebih lama untuk memurnikan kelima elemen tersebut. Seseorang dengan bakat ini biasanya butuh 60 tahun hanya untuk mencapai Foundation Establishment.
"Sampah," cibir Tetua di atas bangau. "Buang-buang waktu."
Namun, tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam tubuh Li Wei.
Saat kelima warna itu muncul, Giok Dao Abadi di dadanya bergetar hebat. Giok itu mengirimkan gelombang penekan yang menahan cahaya pilar itu agar tidak meledak.
Li Wei mendengar suara purba di kepalanya "Akar Roh Lima Elemen adalah sampah bagi manusia fana, tapi merupakan fondasi bagi Dao Asal (Origin Dao). Keseimbangan sempurna. Jangan biarkan mereka melihat potensi aslinya."
Li Wei menyadari sesuatu. Cahaya di pilar itu redup bukan karena bakatnya lemah, tapi karena Giok itu menyembunyikan kemurniannya. Jika Giok itu tidak menahannya, pilar ini mungkin sudah hancur.
"Li Wei," panggil diaken itu dengan nada bosan. "Akar Roh Lima Elemen Campuran. Kualifikasi: Rendah."
Diaken itu hendak mengatakan 'Gagal', tapi dia melihat Li Wei sudah berada di Qi Condensation Lapis 2 (berkat latihannya). Untuk seseorang dengan bakat sampah, mencapai Lapis 2 di usia muda adalah bukti kerja keras yang luar biasa.
"Tapi..." tambah diaken itu, "Karena kau sudah memiliki basis kultivasi, kau diizinkan masuk sebagai Murid Pelayan (Servant Disciple). Kau akan bekerja mengurus ladang sekte sambil berlatih. Jika kau gagal mencapai Lapis 6 sebelum usia 20 tahun, kau akan diusir."
Hinaan. Dari calon pahlawan menjadi tukang kebun.
Wang Jian berteriak dari barisan elit, "Lihat! Tempat yang pantas untuk tikus! Bersihkan sepatuku nanti, Pelayan Li!"
Li Wei menarik tangannya. Wajahnya tetap datar, tidak menunjukkan rasa malu sedikitpun.
Dia tahu kebenaran yang tidak mereka ketahui. Jalan kultivasi bukan tentang siapa yang tercepat di awal, tapi siapa yang bisa berjalan paling jauh.
"Murid menerima," kata Li Wei tenang.
Ia berjalan turun, bergabung dengan barisan "Murid Gagal" yang diterima karena belas kasihan. Xiao Lan menatapnya dengan khawatir dari barisan elit. Li Wei hanya tersenyum tipis dan mengedipkan mata padanya.
Biarkan mereka meremehkanku, pikir Li Wei. Akan lebih mudah bergerak dalam bayangan jika semua orang mengira aku sampah.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan jubah hitam seorang Instruktur Sekte melangkah ke panggung untuk pengumuman tahap kedua.
"Tes Bakat selesai! Bagi yang lolos, bersiaplah. Tahap kedua adalah Ujian Ketahanan Mental: Hutan Ilusi. Di sana, bakat akar roh tidak berguna. Yang diuji adalah tekad kalian."
Mata Li Wei menyala.
Jika tes pertama adalah tentang keberuntungan kelahiran, tes kedua adalah tentang kekuatan jiwa. Dan setelah semua yang ia lalui pembantaian desa, rasa sakit giok, dan bertahan hidup di hutan jiwanya sudah ditempa menjadi baja.
Li Wei menatap punggung Wang Jian.
"Di Hutan Ilusi nanti..." batin Li Wei, "Kita lihat siapa sampah sebenarnya."