NovelToon NovelToon
The Fault In Our Secrets

The Fault In Our Secrets

Status: tamat
Genre:Ketos / Duniahiburan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Wajah Jenny tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang karena emosi. Ia menatap Lisa dengan pandangan tajam namun tetap terlihat elegan, sangat kontras dengan Lisa yang tampak meledak-ledak.

"Lisa, stop! Gue nggak ada niat dan sama sekali nggak niat untuk deketin Romeo! Dan satu lagi, gue nggak manfaatin dia. Jadi stop teriak-teriak berisik! Lo nggak malu diliatin orang seangkatan?" ucap Jenny dengan nada rendah namun penuh otoritas.

Lisa mendengus, matanya melotot. "Halah, nggak usah sok polos! Gue dapet info kalau lo tadi pagi mojok sama Romeo di kelas 12 IPA 3. Lo mau godain dia biar dia mutusin gue, kan?"

"Gue ada urusan penting sama dia, dan itu bukan urusan lo. Mending lo urusin pacar lo sendiri daripada sibuk ngelabrak orang tanpa bukti," balas Jenny dingin. Ia melangkah pergi meninggalkan Lisa yang masih memaki di koridor.

Jenny tahu, emosi tidak akan menyelesaikannya. Ia harus bermain lebih cantik dari Claudia. Jika mereka ingin bermain di balik layar, maka Jenny akan menjadi sutradaranya.

Sore itu, sekolah sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa anak basket yang masih berlatih di lapangan dan suara musik sayup-sayup dari ruang band. Jenny berjalan menuju ruang OSIS di lantai dua. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak makan berisi brownies cokelat dengan topping almon—kesukaan Jonathan.

Jenny berhenti di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat. Ia mengatur napasnya, memoleskan sedikit lip tint agar wajahnya tampak segar, dan memasang senyum paling ramah yang ia miliki. Senyum "Golden Girl" yang selama ini menjadi senjatanya.

Tok! Tok!

Tanpa menunggu jawaban, Jenny membuka pintu itu perlahan. "Hai, sayang? Boleh masuk?"

Di dalam ruangan yang ber-AC dingin itu, suasana tampak sedikit tegang. Jonathan sedang duduk di kursi kebesarannya, sementara Claudia berdiri tepat di sampingnya sambil memegang beberapa lembar kertas. Jarak mereka... terasa sedikit terlalu dekat untuk sekadar hubungan Ketua dan Bendahara.

"Ehh, udah selesai rapatnya?" tanya Jenny ceria sambil melangkah masuk. Ia meletakkan kotak brownies itu di meja besar Jonathan.

Jonathan sedikit tersentak. Ia merapikan kacamatanya dan berdehem. "Sudah, Jen. Baru saja selesai lima menit yang lalu. Kamu kenapa ke sini? Katanya mau ke mal sendirian?"

"Nggak jadi, aku kepikiran kamu belum makan sore. Jadi aku mampir ke toko kue langganan kita," jawab Jenny manis. Ia berjalan mendekati Jonathan.

Mata Jenny yang tajam menangkap sesuatu yang janggal. Kemeja putih Jonathan yang biasanya sangat rapi, kini sedikit keluar dari ikat pinggang di bagian belakang. Dan yang paling mencolok...

"Rambut kamu kok berantakan kenapa, Jo?" tanya Jenny lembut. Ia mengulurkan tangannya, merapikan beberapa helai rambut Jonathan yang mencuat tidak beraturan di bagian belakang kepala—posisi yang hanya bisa terjadi jika seseorang baru saja bersandar atau... melakukan hal lain.

Jonathan membeku di bawah sentuhan Jenny. "Oh, itu... tadi aku sempat ketiduran sebentar setelah rapat karena pusing. Mungkin karena itu rambutku berantakan."

"Ketiduran ya?" Jenny beralih menatap Claudia yang sejak tadi hanya diam mematung. "Terus Claudia nggak pulang? Kok masih di sini nemenin Jonathan yang 'ketiduran'?"

Claudia tersenyum tipis, senyum yang mulai terlihat sedikit kaku. "Aku lagi beresin laporan keuangan, Jen. Kasihan Jonathan kalau harus ngerjain sendiri pas lagi pusing. Aku kan sahabat kamu, jadi aku harus jagain pacar kamu juga, kan?"

"Wah, kamu emang baik banget, Claud. Sahabat paling pengertian," ucap Jenny sambil memeluk pundak Claudia sekilas. Jenny bisa mencium bau parfum maskulin Jonathan yang sangat kuat melekat di baju Claudia. Sebuah bukti yang tidak bisa dibantah oleh indra penciumannya.

Jenny membuka kotak browniesnya. "Ayo dimakan. Claud, kamu juga ambil ya."

Saat Jonathan meraih sepotong kue, Jenny sengaja menyenggol tas Claudia yang diletakkan di atas meja. Tas itu terjatuh ke lantai, isinya berhamburan.

"Ups! Maaf, Claud! Aku ceroboh banget," Jenny segera berjongkok untuk memunguti isinya.

Di antara pouch kosmetik dan dompet, Jenny melihat sebuah botol kecil parfum pria—merek yang sama persis dengan yang dipakai Jonathan. Dan yang lebih mengejutkan, ada sebuah struk belanja dari sebuah butik perhiasan tertanggal kemarin sore.

Jenny memunguti struk itu dengan cepat sebelum Claudia sempat meraihnya. Ia membacanya sekilas: 1 Silver Heart Keychain.

Jantung Jenny serasa berhenti. Struk itu membuktikan bahwa Claudia membeli gantungan kunci hati perak itu kemarin sore. Bukan hilang seminggu yang lalu seperti yang dikatakan Claudia, dan bukan jatuh secara tidak sengaja di mobil Jonathan. Mereka merencanakan kebohongan ini bersama.

"Ini struk apa, Claud?" tanya Jenny sambil menyodorkannya dengan wajah polos tanpa dosa.

Wajah Claudia memucat. Ia menyambar struk itu dengan cepat. "Oh, itu... itu struk belanja Mama kemarin. Aku lupa buang."

"Oh, kirain struk beli gantungan kunci yang baru," ucap Jenny santai sambil berdiri kembali.

Jonathan memperhatikan interaksi itu dengan rahang yang mengeras. Ia merasa ada yang berbeda dari Jenny sore ini. Jenny tidak biasanya banyak tanya atau bersikap sedetail ini.

"Jen, aku harus segera pulang. Ada urusan keluarga," potong Jonathan tiba-tiba. Ia bangkit dan menyambar tasnya.

"Lho, bukannya tadi katanya pusing? Mau aku temenin?"

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Claudia, kamu juga sebaiknya pulang sekarang," ucap Jonathan dingin, mencoba mengendalikan situasi agar tidak semakin mencurigakan.

Jenny keluar dari ruang OSIS lebih dulu. Ia tidak langsung menuju gerbang, melainkan bersembunyi di balik pilar dekat tangga yang mengarah ke parkiran. Ia ingin melihat apakah mereka benar-benar pulang secara terpisah.

Lima menit kemudian, Jonathan keluar bersama Claudia. Mereka tidak berjalan ke arah yang berbeda. Mereka menuju mobil Jonathan.

Sebelum mereka masuk ke mobil, Jenny melihat sesuatu yang menghancurkan hatinya. Jonathan mengusap pipi Claudia dengan lembut, dan Claudia menyandarkan kepalanya di bahu Jonathan sejenak sebelum mereka berdua masuk ke dalam mobil yang sama.

Jenny mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Air mata hampir menetes, tapi ia menahannya. Ia tidak boleh lemah sekarang.

"Sakit, kan?"

Jenny tersentak. Ia menoleh dan menemukan Romeo berdiri di belakangnya, menyandar pada tembok sambil memainkan kunci motornya.

"Gue udah bilang, Little Miss Sunshine. Jangan terlalu percaya sama apa yang lo liat di permukaan," ucap Romeo datar. Tidak ada nada mengejek kali ini, hanya ada empati yang tersembunyi.

Jenny menghapus sudut matanya yang sedikit basah. Ia menatap Romeo dengan pandangan yang kini sudah berubah—tidak ada lagi keramahan, hanya ada kedinginan yang membeku.

"Lo bener, Romeo. Gue emang bego selama ini," ucap Jenny pelan.

"Jadi? Lo mau nangis di sini sampai satpam ngusir lo, atau lo mau ikut gue?" tanya Romeo sambil menyodorkan helm cadangannya.

Jenny menatap helm itu, lalu menatap mobil Jonathan yang mulai melaju keluar gerbang. "Lo mau bawa gue ke mana?"

"Ke tempat di mana lo bisa ngeliat pengkhianatan mereka lebih jelas lagi. Mereka nggak pulang ke rumah, Jen. Gue tahu mereka mau ke mana sore ini," Romeo menyeringai tipis. "Gimana? Berani keluar dari zona nyaman lo yang penuh kepalsuan?"

Jenny meraih helm itu tanpa ragu. "Ayo. Gue mau hancurin mereka dengan cara gue sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!