Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 24
Dengan berat hati, Anton akhirnya menekan tombol transfer itu. Angka lima puluh juta berpindah dari rekeningnya.
Tentu saja dia tidak rela. Semua di luar ekspektasinya. Menyingkirkan Miranda ternyata tak semudah yang dia kira. Tiga miliar sudah melayang dan sekarang 50 juta. Bukan uang yang besar, tapi dia merasa tak rela. tapi harapan yang tak sesuai kenyataan itu yang paling menyakitkan
Dengan tangan gemetar, dia menghubungi Baron.
“Uang sudah aku transfer. Kalau besok tidak ada kabar Miranda mati, kalian akan aku kejar sampai ke lubang tikus,” ancam Anton.
“Tenang saja, Bos Anton. Kami belum bisa bertemu dengan Bos karena di sini situasinya semakin rumit. Kami hampir ketahuan polisi. Pokoknya, Bos Anton besok lihat saja berita, pasti akan ada berita penemuan mayat tanpa identitas,” ucap Baron dengan nada tenang. Sebagai tukang tipu, tentu saja dia bisa berbohong dengan lancar.
“Jangan sampai kalian berbohong,” kata Anton tegas sebelum memutus sambungan.
Sementara itu, Luki dan Baron berada di kontrakan sempit di sekitar Waduk Melati. Baron duduk bersandar, memanggil tukang urut untuk membetulkan beberapa tulang yang patah akibat tindakan brutal yang dilakukan oleh Miranda, dan dia kapok bertemu lagi dengan Miranda.
“Kamu cerdas sekali, Bang,” ucap Luki dari teras. Dari sana terlihat waduk dipenuhi orang. Kerumunan warga berdesakan, suara sirene samar terdengar.
“Iya. Untung saja ada mayat perempuan di Waduk Melati,” jawab Baron pelan sambil memegang kepalanya.
Saat sampai kontrakannya dengan Waduk Kebun Melati, kebetulan warga menemukan mayat wanita tanpa identitas, dan setelah diselidiki Luki ternyata mayat itu wajahnya rusak. Tentu saja itu hal yang menguntungkan bagi Luki dan Baron. Dengan hal itu pula mereka menghubungi Anton untuk meminta bayaran.
Mereka tahu Anton adalah orang yang licik. Jika mereka melaporkan gagal membunuh Miranda, maka mereka tidak akan dibayar, bahkan mungkin akan diburu oleh orang suruhan Anton yang lainnya. Bagi mereka, yang penting dapat bayaran dulu.
“Tapi kalau mereka tahu nanti bagaimana, Bang?” tanya Luki, nada suaranya ragu.
Baron tersenyum kecil. Ia mengangkat sebuah ponsel. “Tenang. Kita punya ini.”
“Ponsel Miranda? Tapi dari tadi tidak bisa dibuka, Bang.”
Baron mendengus. “Lu memang bego. Kita tidak perlu tahu isinya. Yang jelas, Bos Anton sangat butuh ponsel ini. Ingat waktu Miranda kirim pesan, Bos langsung transfer uang. Artinya, di dalam sini ada sesuatu yang bisa menghancurkan dia.”
Tatapan Luki berubah kagum. “Bang Baron memang pintar.”
“Iya lah. Untung saja walau lu bego, lu setia,” balas Baron enteng.
Luki tidak tersinggung. Ia sudah terbiasa. Ponselnya berbunyi. Notifikasi bank masuk.
“Gua sudah transfer dua puluh lima juta,” ucap Anton lewat pesan singkat.
Luki membuka aplikasinya, tersenyum puas melihat saldo bertambah. Salah satu kelebihan Baron adalah soal uang. Ia penipu ulung, tapi selalu jujur dalam pembagian. Itu sebabnya Luki bertahan.
“Sekarang belikan anggur merah. Gua tidak bisa tidur,” perintah Baron.
Dengan gaya hormat ala tentara, Luki berdiri tegak. “Siap, Jenderal.”
Pintu kontrakan menutup. Baron sendirian. Ia membolak-balik ponsel Miranda, matanya menyipit, ingatannya berusaha bekerja. Wajah perempuan itu terus terlintas. Ada rasa asing yang aneh.
“Sial,” gumamnya sambil menghisap rokok. “Gua kayaknya pernah ketemu sama cewek ini.”
Hari terus berganti, kebetulan hari minggu.rizki, raka, saras dan anton ada di rumah nadia juga jadi menginap, yang paling duluan bangun tentu saja nadia,
Nadia melaksanakan shalat subuh lalu melihat amora, nadi begitu telaten mengurus amora
Ponsel Nadia bergetar pelan di genggamannya. Ia menoleh sekilas ke arah Amora yang sedang terlelap, lalu menjauh sedikit agar suaranya nyaris tak terdengar.
“Bagaimana perkembangannya?” tanya seseorang di seberang sana.
“Semalam Miranda sudah keluar dari rumah ini,” jawab Nadia lirih, memilih kata dengan hati-hati.
“Baik. Teruskan saja seperti rencana.”
“Baik,” sahut Nadia singkat. Sambungan terputus.
Belum sempat ia menurunkan ponsel, sebuah suara membuat tubuhnya tersentak.
“Siapa tadi, Nadia?”
Nadia terlonjak, jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh dan mendapati Raka berdiri di dekat pintu.
“Eh, Mas Raka. Bikin kaget saja,” ucap Nadia dengan nada lembut, mencoba tersenyum.
Raka menatapnya cukup lama. Dalam hati ia bergumam, kenapa nada bicara Nadia selalu berubah setiap berbicara dengannya, lebih halus, lebih tenang.
“Kok bengong, Mas?” tanya Nadia, justru membuat Raka yang tersentak.
“Enggak apa-apa,” jawab Raka cepat.
Ia terdiam sejenak, lalu bertanya, “Nadia, kamu benar-benar yakin dengan Rizki?”
Nadia menggeleng pelan.
“Kalau tidak yakin, kenapa kamu mau dijodohkan?” Raka bertanya lebih antusias.
“Saya butuh dana untuk kuliah, Mas. Pak Anton mau membiayai kuliah saya asal saya menikah dengan Mas Rizki.” Jawab Nadia sambil menimang-nimang Amora
“Hanya itu?” tanya Raka.
“Iya,” jawab Nadia jujur. “Saya orang kampung, Mas. Tidak muluk-muluk. Saya hanya ingin sukses dan membahagiakan orang tua saya.”
Raka mengangguk. “Kalau nanti nasib kamu seperti Miranda bagaimana?”
“Saya sudah siap,” kata Nadia tenang. “Kalau Mas Rizki menerima saya sebagai istri, alhamdulillah. Kalau tidak, ya sudah.”
“Kamu realistis,” gumam Raka.
“ya bisa dikatakan seperti itu mas” jawab nadia
Kemudian nadia memandang Raka lalu berkata “Mas apa boleh saya bertanya sama mas?”
“Tentu.”
“Istri Mas… saudara ya sama Mbak Saras?”
“Tidak.” Jawab Raka tegas dahinya mengerenyit lau bertanya “Kenapa kamu bertanya begitu?”
Nadia terdiam, menatap Amora, lalu menoleh kembali pada Raka. “Amora mirip Mbak Saras.”
Nadia memperhatikan raut muka raka, dan tidak tampak terkejut apalagi tersinggung
“saya juga sebenarnya heran” Ucap Raka sebenarnya heran tapi kalau membahas hal ini dia pasti akan di marahi oleh Anton.
Melihat wajah Raka berubah, Nadia buru-buru menimpali, “Jangan dipikirkan, Mas. Mas Raka dan Mbak Saras sepupu. Wajar kalau ada kemiripan.”
Raka mengangguk, meski pikirannya belum benar-benar tenang. “Iya, mungkin.”
“Kamu kenapa, Raka?”
Mereka menoleh bersamaan. Anton sudah berdiri di ambang pintu, sorot matanya tajam.
“Jangan pernah meragukan anak kamu,” ucap Anton tegas.
“Baik, Yah,” jawab Raka singkat, lalu melangkah keluar kamar Amora.
Anton memandang Nadia. “Setelah Amora tidur, ke ruang makan. Kita sarapan.”
Pagi ini Anton meminta steak untuk sarapan. Permintaan yang terasa aneh, sampai-sampai Bi Mirna sudah memesannya sejak semalam. Untuk urusan masakan tradisional, Bi Mirna juaranya, tetapi untuk masakan Barat, ia benar-benar buta rasa dan teknik.
“Ayah, kenapa makan ini?” tanya Rizki sambil memandangi daging di piring. “Apa Ayah tidak takut jantung Ayah kambuh?”
Anton melirik dengan wajah tak suka. “Diamlah,” ujarnya ketus. “Ini hari pertama tanpa Miranda. Kita harus merayakannya.”
Rizki mendengus. “Tapi untuk pertama kalinya juga kita keluar uang untuk Miranda, Yah.”
“Sudahlah,” balas Anton tenang, penuh keyakinan. “Sebentar lagi uang itu akan kembali padamu.”
Rizki menatap ayahnya curiga. “Maksud Ayah?”
Anton memotong dagingnya perlahan. “Makan saja dulu. Tidak lama lagi kabar kematian Miranda akan sampai.”
Rizki terdiam. Ada pertanyaan besar di kepalanya, tetapi melihat Anton yang sibuk menikmati steak, ia memilih diam. Tak ada lagi percakapan. Mereka makan dalam senyap.
Di ujung meja, Saras sesekali melirik Nadia. Tangannya mengepal di bawah meja. Dalam hati ia menggeram, mau menikah dengan Rizki? Mimpimu terlalu jauh.
Raka berbeda. Sejak tadi matanya memperhatikan cara makan Nadia. Gerakannya rapi, tenang, nyaris terlalu profesional untuk ukuran gadis kampung seperti yang selama ini ia bayangkan.
Dari dapur, Bi Mirna ikut mengamati. Alisnya berkerut, pikirannya tak tenang. Dalam hati ia bertanya-tanya, sebenarnya Mbak Yulianti itu sedang apa di rumah ini.