Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Kitab Warangka Jati
Suasana di bawah tanah istana sangat berbeda dengan kegaduhan kebersamaan di atas sana. Di sini, udara terasa pengap, berat oleh debu berabad-abad dan aroma kertas tua yang mulai melapuk.
Ruangan itu tidak diterangi oleh obor minyak yang berasap, melainkan oleh deretan batu ambar yang tertanam di langit-langit, dan memancarkan cahaya kuning pucat.
Putri Dyah Ayuwangi berjalan dengan langkah cepat nan anggun menuju sebuah altar yang terletak di tengah lingkaran rak buku melingkar. Di atas altar itu, sebuah kotak kayu jati hitam berukir naga dan burung berkilauan di bawah cahaya ambar.
“Mangkubumi mengira dia telah menghancurkan semua catatan tentang kadipaten ini, Subosito,” bisik Dyah Ayuwangi sambil meletakkan tangannya di atas penutup kotak. "Tapi dia lupa bahwa istana ini dibangun di atas fondasi yang lebih tua dari ambisinya. Buku ini tersembunyi, sebelum ia 'dilenyapkan'."
Subosito mendekat, rasa lemas akibat racun hitam tadi perlahan memudar, digantikan oleh rasa berdebar yang aneh. Tato emas dipunggungnya bergetar secara selaras dengan pendaran dari dalam kotak kayu tersebut.
Ketika sang Putri membuka tutupnya, sebuah kitab tebal dengan sampul kulit kerbau hitam muncul. Di tengah sampulnya, tertatah sebuah lempengan emas berbentuk sayap yang sangat dikenal Subosito.
Dyah Ayuwangi membuka lembaran pertama dengan hati-hati. Tulisan di dalamnya bukan menggunakan aksara Jawa biasa, melainkan aksara Kawi kuno yang tampak hidup, seolah-olah guratan tintanya mengalirkan energi.
"Baca ini, Subosito. Hanya kau yang bisa merasakan getaran dari kata-kata ini," pinta sang Putri.
Subosito menyentuh permukaan kertas itu, seketika pikirannya ditarik ke dalam sebuah gambaran yang luar biasa luas. Pemuda itu tak lagi melihat perpustakaan bawah tanah; tetapi melihat peta pulau Jawa yang membentang di bawah langit yang bergejolak. Empat pilar cahaya menjulang dari empat penjuru, menopang keseimbangan langit dan bumi.
"Garuda Paksi!" gumam Subosito, suaranya terdengar asing bagi telinganya sendiri. "Dia bukan satu-satunya!"
Dyah Ayuwangi mengangguk sedih. "Itu yang selama ini disembunyikan dari dunia. Garuda Paksi adalah penjaga mata angin Selatan, penguasa elemen api dan kemurnian jiwa. Namun, dia hanyalah bagian dari Papat Kiblat, empat pelindung legendaris tanah Jawa yang menjaga harmoni semesta!"
Jemari sang Putri menunjuk pada baris-baris aksara yang mulai bersinar keemasan. Di sana tertulis tentang keseimbangan yang sedang runtuh.
"Di timur, ada Macan Putih penguasa elemen tanah dan kekuatan fisik. Di barat, ada Naga Sisik Perak penguasa elemen air dan kebijakan. Dan di utara, di kedalaman laut utara, ada Kura-Kura Besi penguasa elemen angin dan ketahanan," Dyah Ayuwangi menjelaskan dengan suara yang mulai gemetar.
"Ramalan ini mengatakan bahwa jika keempatnya jatuh ke tangan satu penguasa yang tamak, maka seluruh tanah Jawa akan menjadi padang gersang di bawah pemerintahan kegelapan!"
Subosito menatap peta astral yang berputar di kepalanya. "Lalu di mana mereka sekarang?"
Wajah sang Putri memucat. "Itulah alasan mengapa Patih Mangkubumi begitu haus akan kekuatanmu. Menurut kitab ini, Macan Putih dari timur telah ditundukkan oleh sekutu Mangkubumi melalui ritual berdarah. Naga Sisik Perak dari barat juga telah jatuh ke tangan seorang pimpinan padepokan sesat yang kini bekerja di bawah perintah bayangan. Saat ini, hanya Kura-Kura Besi di Laut Utara yang masih terombang-ambing, terjebak dalam pusaran gaib yang diciptakan oleh para dukun Mangkubumi untuk menemukannya!"
Subosito merasa seolah seluruh beban pulau ini mendadak diletakkan di bahunya.
"Jadi, aku adalah satu-satunya pelindung yang masih 'bebas'?"
"Benar, dan kau adalah kunci untuk membebaskan saudara-saudaramu yang lain," Dyah Ayuwangi menutup kitab itu dengan napas sesak. "Garuda Paksi memiliki sifat memurnikan. Hanya apimu yang bisa menghapus segel kegelapan yang mengikat Macan Putih dan Naga Sisik Perak. Tanpamu, pilar-pilar pelindung itu akan selamanya menjadi alat pemusnah bagi mereka yang berkuasa!"
Subosito terdiam, menatap telapak tangannya, pemuda itu baru saja belajar menjinakkan api di dalam dirinya, tetapi kini, takdir menuntutnya untuk melakukan hal yang mustahil: melawan tiga kekuatan besar lainnya yang sudah berada di bawah kendali musuh.
Tiba-tiba, keheningan di perpustakaan itu pecah. Bukan oleh suara ledakan atau teriakan, melainkan oleh suara desiran angin yang sangat aneh—seolah udara di ruangan itu diisap keluar secara paksa.
Batu-batu ambar di langit-langit mulai berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total.
"Dyah, menunduk!" teriak Subosito tanpa menyebutkan gelar Raden Ayu lagi kepada Dyah, karena sekarang dia tahu, kalau mereka adalah saudara tua, dan saudara muda.
Tanpa cahaya, indra keenam Subosito harus bekerja dua kali lebih tajam. Tato emas di punggungnya mendadak berpijar terang, menerangi sekelilingnya dengan cahaya kuning yang tajam.
Di sana, diantara bayang-bayang rak buku, Subosito melihat gerakan udara yang aneh. Bayangan-bayangan yang tidak berbentuk manusia dan memiliki siluet pedang yang berkilauan.
Pasukan Panglimunan.
Ini adalah pasukan elit bayangan milik Patih Mangkubumi, para pembunuh yang telah menguasai ilmu panglimunan—kemampuan untuk menghilang dari pandangan mata manusia dan menyamarkan hawa keberadaan mereka. Mereka bergerak tanpa suara, bahkan gesekan kain mereka pun tidak terdengar.
"Mereka sudah di sini," bisik Subosito sambil menarik Dyah Ayuwangi ke belakang punggungnya. "Mangkubumi tidak akan membiarkan kita keluar dari sini dengan kitab itu!"
Sret!
Sebuah anak panah melesat dari kegelapan, mengincar leher sang Putri. Subosito bereaksi lebih cepat, tidak menggunakan senjata fisik; hanya mengibaskan tangannya ke udara, seketika sebuah perisai api emas tipis terbentuk, membakar anak panah itu menjadi abu sebelum sempat menyentuh targetnya.
"Keluar kalian semua!" teriak Subosito, suaranya bergema, mengandung wibawa Garuda Paksi yang membuat dinding-dinding batu di ruangan itu bergetar.
Udara di depan Subosito mendadak mendingin. Sosok-sosok berpakaian hitam ketat mulai muncul satu per satu, melepaskan ilmu menghilang mereka saat menyadari bahwa keberadaan mereka telah terdeteksi oleh aura panas Subosito.
Ada sekitar sepuluh orang, semuanya memegang keris panjang yang berlumuran racun hijau yang sama jahatnya dengan racun kalajengking hitam.
"Serahkan Kitab Warangka Jati, titisan burung api," salah satu dari mereka berbicara dengan suara yang datar tanpa emosi. "Atau sang Putri akan menjadi korban pertama dari kesombonganmu!"
Dyah Ayuwangi menggenggam erat lengan Subosito. "Jangan berikan pada mereka, Subosito. Jika kitab ini jatuh ke tangan Mangkubumi, habislah sudah harapan tanah ini!"
Subosito menatap para pembunuh bayangan itu, merasakan energi di dalam dirinya bergejolak, bukan karena takut, melainkan karena panggilan yang kini sudah jelas di depan matanya. Subosito bukan lagi seorang pelarian dari lereng Lawu, dia adalah pilar selatan yang telah bangkit.
"Jika kalian menginginkan kitab ini," Subosito mengangkat tangannya, dan kali ini, cahaya emas di nadinya merambat hingga ke ujung jari, menciptakan cakar-cakar cahaya yang indah nan mematikan. "Maka kalian harus melewati matahari terbit di tengah malam ini!"
Para Pasukan Panglimunan itu bergerak serentak. Mereka kembali menghilang menjadi aliran udara yang samar. Subosito memejamkan mata, membiarkan panas tubuhnya menjadi radar.
Dia tak akan membakar perpustakaan ini; dia harus bertarung dengan ketepatan yang sangat tinggi untuk melindungi ilmu pengetahuan yang tersimpan di dalam dekapannya.
Pertempuran di bawah tanah istana itu pun pecah. Desingan senjata rahasia, benturan energi, dan percikan api emas memenuhi ruangan yang dulunya sunyi tersebut.
Subosito bertarung dengan satu tangan mendekap kitab sekaligus tetap menjaga sang Putri, sementara tangan lainnya melepaskan gelombang panas yang memaksa para pembunuh bayangan itu menampakkan diri satu per satu.
Namun, di tengah keriuhan itu, Subosito menyadari sesuatu yang mengerikan. Getaran permukaan tanah di atas mereka semakin hebat. Suara derap kaki ribuan prajurit mulai terdengar.
Patih Mangkubumi tidak hanya mengirimkan pasukan rahasia; Patih itu sedang menggerakkan seluruh kekuatan militer Kadipaten untuk meratakan perpustakaan ini dengan tanah.
"Kita harus keluar dari sini, Dyah!" teriak Subosito di tengah desingan senjata lawan.
"Ada lorong pelarian di balik rak sejarah kuno!" Dyah menunjuk ke arah sudut ruangan yang gelap. "Tapi itu terkunci dengan segel yang hanya bisa dibuka oleh api murni!"
Subosito melihat ke arah lorong itu, lalu menatap kerumunan pembunuh bayangan yang kembali mengepung mereka.
Waktunya sempit, keseimbangan tanah Jawa kini bergantung pada seorang pemuda yang baru saja belajar mencintai kekuatannya, dan seorang putri yang harus mempertaruhkan takhtanya.