Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23 Renjana
Happy reading
Angin berembus pelan, mengusap lembut wajah cantik Hawa yang terbingkai senyum.
Mentari seakan tak mau kalah. Dia menyentuhkan sinarnya, menjadikan pahatan indah itu terlihat seperti kilau mutiara di mata Rama.
Sesaat, lelaki bermata teduh itu terpaku. Mengagumi keindahan Maha Karya Illahi yang tengah berjalan mendekat. Bibirnya dengan sangat fasih melafazkan kata pujian, "Masyaallah."
Ijah mendengarnya. Sangat jelas. Namun, wanita paruh baya itu hanya mengulum senyum. Memaksa bibirnya terkunci rapat. Membiarkan Rama dan Hawa saling mengagumi dalam senyap.
"Astaghfirullah," Rama bergumam lirih sembari memalingkan wajah ke sembarang arah. Memutus tatapan yang tanpa sengaja saling bertaut.
Sama seperti Rama, Hawa pun mengalihkan atensinya pada objek lain. Ia menghela napas, berusaha menekan debaran di dalam dada yang hadir karena kontak mata sepersekian detik tadi.
"Maaf, membuatmu menunggu lama," ucap Hawa begitu tiba di hadapan Rama. Wajahnya sedikit menunduk, menyembunyikan rona yang terlukis indah di pipinya.
"Nggak lama, cuma sepuluh menit." Rama tertawa kecil, mengusir kecanggungan dengan canda.
"Mmm... kita ngobrol di mana, Ram?" tanya Hawa, sekilas mencuri tatap.
"Gimana kalau di Kafe Renjana?"
Hawa mengernyitkan dahi, lalu menggeleng pelan.
"Di warung bakso aja, atau... di Sobo Ndeso," ujarnya memberi opsi tempat makan yang merakyat, sesuai dengan isi dompet Rama--pikirnya.
"Kamu nggak suka suasana di Kafe Renjana?"
"Nggak gitu juga, Ram. Aku cuma nggak mau isi dompetmu terkuras habis. Lagian, aku lebih suka di warung sederhana." Hawa merendahkan nada suara, memilih kata-kata yang sekiranya tidak membuat Rama tersinggung.
"Kamu udah pernah mencicipi menu di Kafe Renjana?" Rama kembali bertanya. Ia tersenyum penuh arti. Ada rahasia yang ingin diungkap sebagai kejutan. Namun, sisi hatinya meminta untuk bersabar, karena saat ini bukan waktu yang tepat untuk membuka tabir.
"Udah. Semuanya enak, sesuai harga. Suasana yang disuguhkan juga bikin betah," jawab Hawa jujur. Ia memang sudah beberapa kali berkunjung ke kafe itu. Dan seringnya bersama Damar. Dulu, sebelum hubungan persahabatan mereka renggang.
"Fix, kita ngobrol di sana. Bi Ijah sekalian ikut."
"Maaf, saya tidak bisa, Mas." Ijah buru-buru menolak. "Saya masuk dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan," ia sekadar beralasan.
"Bi Ijah di sini dulu. Jangan pergi sebelum Hawa memutuskan ingin berbincang di mana," ucap sekaligus pinta Rama dengan nada lembut.
"Njih, Mas," sahut Ijah sembari mengangguk kecil--mengabulkan permintaan pemuda yang digadang-gadangnya menjadi imam bagi Hawa.
"Jadi, kita ngobrol di mana, Hawa Salsabilla Ramadhani?" tanya Rama, menekankan nama lengkap sang pujaan hati.
Hawa mengendikkan bahu. "Terserah kamu, Ram. Di rumah juga nggak pa-pa," jawabnya.
"Rumah kita?"
"Maksud kamu?"
"Perlu diperjelas?" Rama mengembangkan senyum, menggoda Hawa yang akhir-akhir ini mudah sekali dibuat baper olehnya.
Hawa tersenyum simpul. Lagi-lagi pipinya terhias semburat merah.
Ah, Rama... dia pandai sekali membuat gadis yang dicinta tersipu.
"Kita ke Kafe Renjana saja, ya? Kebetulan, aku kenal owner-nya. Jadi, kita bisa dapat potongan harga. Gimana, Wa? Kamu mau kan?"
Hawa mengerutkan dahi, seolah tengah berpikir dan menimbang.
"Sama Bi Ijah, kan?" tanyanya.
"Ehhh, Mas Rama dan Non Hawa saja. Bi Ijah masih ada tugas. Jadi, tidak bisa ikut." Ijah menyela. Ia sengaja menolak untuk ikut agar Rama dan Hawa bisa leluasa berbincang.
"Nanti aku bantuin, Bi--"
Ijah menggeleng. "Saya bisa mengerjakannya sendiri, Non. Lebih baik, Mas Rama dan Non Hawa segera berangkat. Keburu Nyonya pulang dari butik langganan," tuturnya yang tak lagi bisa dibantah oleh Hawa.
Pada akhirnya, Hawa mengamini ajakan Rama. Mereka beranjak pergi setelah berpamitan dengan Ijah.
.
.
Pukul 10.30 WIB, cahaya matahari masih terasa lembut saat menerobos masuk melalui jendela kaca besar Kafe Renjana.
Aroma kopi yang baru digiling bercampur dengan wangi kayu manis, menciptakan atmosfer hangat yang seolah memeluk para pengunjung.
Rama mendorong pintu kayu kafe, lalu menahannya sejenak untuk membiarkan Hawa melangkah masuk lebih dulu.
Denting bel kecil di atas pintu menyambut kehadiran mereka, memecah kesunyian interior kafe yang baru saja memulai ritme harinya.
"Sesuai namanya," bisik Rama sambil menarik kursi untuk Hawa di sudut dekat jendela, "tempat ini punya cara sendiri untuk membuat orang merasakan apa itu renjana--hasrat atau keinginan yang tenang, tapi dalam."
Hawa mengedarkan pandangan, menatap tanaman hijau di sudut ruangan dan deretan buku tua di rak.
Pagi menjelang siang, kafe belum terlalu bising, hanya ada alunan musik instrumental pelan yang seolah menjadi latar belakang bagi percakapan penting yang mungkin akan dimulai.
"Selamat pagi, Mas Rama," sapa seorang waiter. Ia memperlihatkan senyuman ramah. Dari ucapan dan sikap yang ditunjukkan, seolah ia sangat mengenal Rama. Bahkan mungkin... akrab. Itu yang dirasa Hawa.
"Pagi. Tolong buatkan orange juice, vanilla latte, snowy cheese fries, dan dimsum mentai," sahut Rama--membalas sapaan sekaligus memesan beberapa menu spesial untuk Hawa.
"Siap, Mas," balas waiter itu dengan sedikit membungkuk. "Ada lagi yang bisa kami bantu?" tawarnya.
"Sementara itu dulu."
"Baik, Mas."
Waiter ber-name tag Arkan itu lantas berlalu pergi. Ia segera memberikan list pesanan pada barista dan koki kafe. Meminta mereka untuk tidak banyak bicara soal Rama dan bersikap biasa di depan tamu spesial, sesuai perintah pemilik Kafe Renjana.
Obrolan ringan mengalir, berteman segelas orange juice dan secangkir vanilla latte panas yang baru saja disajikan oleh Arkan.
Mata Hawa membulat sempurna ketika menyesap jusnya. Segar, kental, rasa manisnya pas, persis buatan Ijah.
"Seger, Wa?" tanya Rama, memecah suasana hening yang singgah sejenak di antara mereka.
"Seger banget, Ram. Persis bikinan Bi Ijah," jawab Hawa excited.
"Kalau kurang, nambah."
"Harganya mahal, Ram." Hawa berbisik, agar tak terdengar waiter kafe yang berdiri tidak jauh dari meja mereka.
"Tenang. Isi dompetku lebih dari cukup untuk mentraktir jus jeruk calon istriku." Rama tertawa kecil, meyakinkan Hawa dengan menepuk saku kemeja--tempat dompetnya tersimpan.
Hawa mendengus geli, sedikit menunduk--menyembunyikan rona merah yang kembali menghias pipi.
"Oya, Wa. Kamu mau bicara apa?" tanya Rama, mengalihkan obrolan.
Hawa terdiam sejenak, menghela napas sebelum mengutarakan jawaban.
"Ayah... memintamu untuk mengajarinya mengaji, Ram," katanya pelan. "Alhamdulillah, Allah memberikan ayah hidayah, sehingga beliau terpacu untuk berbenah dan membekali diri dengan ilmu agama, salah satunya membaca Al Qur'an."
Seperti biasa; Rama mendengarkan, menyimak, dan tidak menyela. Memberi ruang bagi Hawa untuk menyampaikan apa yang ingin ia utarakan.
"Aku bilang, kamu sangat fasih membaca Al Qur'an. Jadi, ayah memintaku memanggilmu untuk mengajari beliau mengaji," sambungnya. "Kamu mau kan, Ram?" Hawa mendongak perlahan, menatap Rama dan menuntut jawaban.
Rama mengulas senyum, sekilas membalas tatapan mata Hawa, lalu mengangguk. "Ya, aku mau," jawabnya mantap, mencipta rekahan senyum yang menghiasi wajah cantik Hawa.
"Makasih, Ram."
"Kembali kasih, Hawa," balas Rama. "Mau dimulai kapan belajar mengajinya?"
"Nanti, aku tanyakan ayah."
Rama menanggapi dengan mengejapkan mata, kemudian menyesap vanilla latte yang masih mengepulkan uap tipis.
Arkan kembali datang menghampiri dengan membawa nampan berisi snowy cheese fries dan dimsum mentai. Ia menyuguhkannya di atas meja, mempersilahkan Rama dan Hawa untuk menikmati selagi hangat.
Obrolan berlanjut diiringi musik yang mengalun pelan, berpadu dengan suara merdu vokalis Qhutbus Sakha--melantunkan lagu Sepertiga Malam.
🍁🍁🍁
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen