Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana Jika Riggs Tahu?
Dulu Stella hanya membayangkan bagaimana rasanya tidur bersama Kayson.
Panas.
Ganas.
Liar.
Setelah semalam, ia tahu persis seperti apa rasanya. Dan ya, memang panas, intens, dan benar-benar liar. Juga luar biasa. Membuat ujung jari kakinya menegang. Membuatnya mati rasa oleh kenikmatan.
Itu jenis hubungan terbaik. Sekaligus paling berbahaya. Karena bisa membuat ketagihan.
“Ini soal Riggs?” Kayson melangkah lagi mendekat. Kali ini langkahnya terasa sedikit mengancam.
Riggs?
Stella merinding saat nama itu disebut. Kalau Riggs tahu, kalau sampai Riggs tahu, dia pasti mengira Stella sudah tidak waras.
“Kita perlu bilang ke dia?” Kayson menutup jarak di antara mereka dan berdiri menjulang di depannya. Besar dan terlalu seksi. “Atau Lo mau gue jadi rahasia kotor lo?”
"Enggak."
“Riggs bakal tahu. Semua orang juga bakal tahu.” Kayson mencondongkan tubuh lebih dekat. “Karena gue nggak mau punya sesuatu sama lo tapi harus disembunyiin.”
“Kita … punya sesuatu? Gue kira ini cuma seks satu semalam.”
Kayson tidak tersenyum. Dan Stella tidak bermaksud bercanda. Ia benar-benar bingung. Sebenarnya pria itu menginginkan apa darinya?
Otot di rahangnya bergerak tegang.
“Lo nggak pernah punya hubungan,” bisik Stella. “Lo cuma punya perempuan yang datang dan pergi. Lo kan cuma fokus kerja. Lo nggak cari hubungan yang serius.”
“Dari mana lo tahu?”
Stella menjilat bibirnya tanpa sadar. Tatapan Kayson langsung jatuh ke mulutnya dan tertahan di sana. “Riggs.”
Kemarahan menyala di mata Kayson. “Dia cerita soal gue?”
“Dia cuma bilang lo bukan tipe cowok yang mau serius. Lo nggak pernah komitmen.” Stella menegakkan bahu. “Dan gue juga nggak. Jadi lo nggak perlu takut kalau gue bakal nempel kayak perangko pagi ini. Gue nggak mau komitmen. Komitmen itu bulshit.” Stella mempelajari kebenaran pahit itu sejak remaja. “Gue cuma mau senang-senang aja sekarang.”
Di situlah Stella merasa hidup. Kalau melihat ke masa lalu, rasanya terlalu sakit. Kalau menatap masa depan, semuanya terlalu tidak pasti.
Mamanya dulu berpikir hidupnya sudah tersusun rapi. Suami. Keluarga. Bahagia selamanya. Lalu semuanya berubah.
“Jangan pernah percaya komitmen untuk selamanya.” Itu kata-kata terakhir Mamanya malam sebelum meninggal.
Stella mencoba merebut kunci mobil dari tangan Mamanya. Ia mencoba menghentikan Mamanya pergi ke bar lagi. Tapi .…
Berhenti, Stella.
Jangan lihat ke belakang.
Stella memejamkan mata erat-erat.bLalu ia merasakan tangan menyentuh pipinya.
“Babby, lo nangis.”
Tidak.
Ia tidak boleh menangis di depan Kayson. Sudah cukup buruk ia tersandung dalam situasi pagi ini.
Stella menarik napas dalam dan memaksa dirinya menatap Kayson. “Lo nggak perlu takut gue bakal nuntut janji atau komitmen dari lo. Semalam kita sama-sama butuh. Apa yang terjadi di antara kita itu luar biasa. Dan gue nggak nyesel.”
Ya.
Stella sudah kembali mengendalikan diri.
Kayson menghapus air mata di pipinya. “Gue juga nggak nyesel.”
Bagus.
Stella mengangkat dagu.
“Cuma ada satu yang gue sesali.” Tangan Kayson naik, menahan dagunya.
“Apa itu?”
“Lo coba kabur. Lo nggak perlu begitu. Gue suka lo ada di ranjang gue. Gue suka lo dekat sama gue.” Kayson menunduk. Bibirnya menyentuh bibir Stella dengan lembut. “Dan gue mau lagi.”
Stella menelan ludah. “Lagi?”
“Lo pikir satu malam cukup buat gue?”
Tatapannya mencari jawaban di mata Kayson. Dan dengan jujur ia berkata, “Gue nggak tahu lo sebenarnya mau apa dari gue.”
Satu ciuman lembut lagi. “Nanti lo juga tahu.”
Sebelum Kayson sempat berkata apa-apa lagi, terdengar bunyi bip singkat yang menggema di ruangan.
Tubuh Kayson menegang, lalu ia mengumpat pelan.
“Ada apa?” kejut Stella.
“Ada yang datang.”
Kayson meraih HPnya. Jarinyya bergerak cepat di layar. Stella tahu semua kamera keamanan rumah itu terhubung ke HPnya.
“Riggs. Dia masuk ke gerbang.”
Saat Stella melihat layar HP Kayson, ia melihat mobil Riggs masuk ke halaman.
Sial.
Riggs menghentikan mobilnya, turun, lalu mengetik kode di gerbang. Tentu saja ia tahu kode rumah Kayson. Mereka kan bersaudara.
Dan Stella sudah tidur dengan kakak sahabatnya.
Stella mengalihkan pandangan dari layar. Kayson menatapnya lurus-lurus.
“Lo sebaiknya pakai baju,” katanya datar.
Ya, tentu saja ia ingin berpakaian. Ia tidak mungkin turun menemui Riggs hanya dengan mengenakan kemeja tipis.
“Gue bukain pintu buat dia,” lanjut Kayson. Tatapannya terlihat sedikit keras.
“Kenapa dia datang sepagi ini?”
“Gue masih punya pertanyaan buat dia. Gue yang suruh dia datang semalam.” Kayson menggeleng singkat. “Gue bahkan nggak tahu kita bakal mewe.”
Stella berbalik ke arah pintu. “Lo nggak perlu mikir macem-macem.”
Bahu Kayson menegang.
“Gue udah lama suka sama lo, Stella. Sekarang setelah gue dapetin lo ...” Stella melirik ke belakang. Kayson tersenyum padanya. Senyum lambat yang membuat ujung jari kaki Stella terasa menegang, memperlihatkan garis tegas di pipinya. “Sekarang gue tahu apa yang gue lewatin selama ini.”
Dan Stella juga tahu apa yang selama ini ia lewatkan.
“Stella.” Ada nada peringatan dalam suaranya saat senyum itu memudar. “Gue nggak bakal ngulang kesalahan yang sama.”
“Kesalahan?”
“Nggak akan ada lagi salah paham. Kalau Lo mau sama gue? Lo bisa dapetin gue.”