Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota yang Tak Terlihat
Seminggu telah berlalu sejak malam berdarah di mansion pegunungan. Bekas peluru di dinding kamar utama telah ditambal dan dicat ulang, namun atmosfer di dalamnya telah berubah selamanya. Mansion itu bukan lagi sekadar benteng bagi Maximilian; tempat itu kini menjadi saksi bisu transformasi Rebecca dari seorang pengabdi menjadi seorang pelindung.
Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di lembah saat Maximilian pertama kali berhasil duduk di tepi tempat tidur tanpa bantuan Vargo. Wajahnya masih sedikit pucat, dan setiap gerakannya masih menimbulkan ringisan kecil akibat jahitan di perutnya yang belum sepenuhnya kering. Namun, matanya—mata yang biasanya hanya memancarkan kegelapan—kini terpaku pada sosok Rebecca yang tertidur lelap di sofa panjang di samping ranjangnya.
Gadis itu tidak pernah meninggalkan kamarnya selama tujuh hari terakhir. Ia tertidur dengan gaun rumahan yang sederhana, rambutnya sedikit berantakan, dan sebuah buku catatan kecil tentang logistik pelabuhan masih berada di pangkuannya. Rebecca telah belajar. Saat Max tidak berdaya, ia tidak hanya menangis; ia duduk bersama Vargo, mempelajari rute kapal, daftar nama musuh, dan cara membaca laporan keuangan Moretti.
"Rebecca ..." suara Maximilian serak, namun hangat.
Rebecca tersentak bangun. Mata indahnya segera mencari sosok Maximilian. Saat ia melihat pria itu sudah duduk tegak, ia hampir melompat dari sofa.
"Om! Jangan banyak bergerak dulu! Dokter bilang jahitannya—"
"Kemari," potong Maximilian lembut. Ia menepuk sisi tempat tidur di sampingnya.
Rebecca mendekat dengan ragu, namun ia segera duduk di sisi Max, tangannya secara naluriah memeriksa suhu dahi pria itu. Maximilian menangkap tangan kecil Rebecca, menggenggamnya erat, dan membawanya ke bibirnya untuk sebuah kecupan lama yang penuh arti.
"Aku sudah jauh lebih baik karena perawatku sangat luar biasa," goda Maximilian dengan senyum tipis yang jarang terlihat.
"Om membuatku takut setengah mati," bisik Rebecca, matanya mulai berkaca-kaca. "Malam itu ... aku pikir aku akan kehilangan segalanya."
Maximilian menarik napas panjang, menahan rasa perih di perutnya saat ia merangkul bahu Rebecca dan membawanya ke dalam pelukan. "Malam itu, kau membuktikan bahwa aku tidak akan pernah kehilangan segalanya selama kau ada di sampingku. Vargo menceritakan semuanya. Bagaimana kau memegang senjata itu, bagaimana kau memerintah mereka ... kau menyelamatkan mansion ini, Rebecca. Kau menyelamatkanku."
Maximilian kemudian melepaskan pelukannya sebentar. Ia meraih sebuah kotak kayu hitam kecil dengan ukiran mawar perak dari laci meja di samping tempat tidurnya. Kotak itu tampak sangat tua, namun sangat terawat.
"Pin perak yang kuberikan kemarin adalah otoritas di mata anak buahku," Maximilian membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan liontin batu safir biru gelap yang dikelilingi oleh berlian kecil yang berkilau indah. "Tapi ini ... ini adalah sesuatu yang berbeda."
Rebecca menahan napas. "Indah sekali, Om ...."
"Ini milik ibuku," suara Maximilian merendah, menyimpan nada emosional yang jarang ia tunjukkan. "Satu-satunya benda yang tidak pernah kusentuh atau kuberikan pada siapa pun, bahkan di saat-saat tersulitku. Ayahku memberikannya pada ibu saat beliau setuju untuk memegang tangan ayahku melewati dunia gelap ini. Di keluarga Moretti, ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah janji."
Maximilian meminta Rebecca berbalik. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena sisa luka, ia melingkarkan kalung itu di leher jenjang Rebecca. Dinginnya logam dan beratnya batu safir itu terasa pas di kulit Rebecca, seolah memang diciptakan untuknya.
"Kalung ini berarti kau adalah bagian dari jiwaku. Jika pin kemarin membuat mereka patuh padamu, kalung ini membuat mereka tahu bahwa jika sehelai rambutmu saja terluka, aku akan membakar seluruh dunia ini tanpa ragu,"
Maximilian membalikkan tubuh Rebecca agar kembali menghadapnya.Ia menangkup wajah Rebecca, ibu jarinya mengusap air mata yang jatuh di pipi gadis itu. "Jangan pernah lagi menyebut dirimu pelayanku. Seorang pelayan tidak akan memiliki jantung Maximilian Moretti. Hanya kau, Rebecca. Hanya kau yang punya kunci untuk masuk ke dalam kegelapanku dan tetap membawa cahaya."
Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci. Rebecca bisa merasakan napas hangat Maximilian yang berbau mint. Rasa takut, rasa syukur, dan cinta yang tumbuh di tengah desingan peluru menyatu dalam satu momen yang sakral.
"Aku mencintai Om ..." bisik Rebecca, pengakuan yang pertama kali ia ucapkan dengan suara yang jelas dan mantap. "Bukan karena Om menyelamatkanku dari gang itu, tapi karena Om mengajariku bagaimana caranya menyelamatkan diriku sendiri."
"Sejak kapan kau mencintaiku?" tanya Max dengan nada menggoda.
Wajah Rebecca bersemu merah karena malu. "Sejak aku merasa tidak akan bisa kehilangan Om." Ia terdiam sejenak. "Apakah Om juga mencintaiku?"
Maximilian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mencondongkan tubuhnya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, lembut, namun posesif. Ciuman itu tidak seperti ciuman sebelumnya yang penuh dengan dominasi; kali ini ada rasa hormat, ada rasa syukur, dan ada janji masa depan yang panjang di dalamnya.
Di tengah ciuman itu, Maximilian mengerang kecil karena luka di perutnya sedikit tertarik, namun ia tidak melepaskan Rebecca. Ia justru menarik gadis itu lebih dekat ke dalam pelukannya, seolah ingin menyatukan detak jantung mereka.
"Mulai hari ini," gumam Maximilian di sela ciuman mereka, "tidak ada lagi rahasia. Kau akan duduk bersamaku di ruang kerja. Kau akan tahu setiap langkah bisnisku. Kita akan membalas dendam pada Valenti dan siapa pun yang berani menyerang pelabuhan, bukan sebagai tuan dan pelayan, tapi sebagai dua penguasa yang saling memiliki."
Rebecca mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada Maximilian, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini berdenyut kuat dan stabil. Ia merasa aman. Bukan karena dinding mansion yang tebal atau pengawal yang bersenjata, tapi karena ia tahu ia berada di tempat yang paling tepat di dunia ini: di dalam pelukan pria yang ia cintai.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah rencana besar sedang disusun. Maximilian tahu bahwa memberikan kalung ibunya berarti mengibarkan bendera perang yang lebih besar. Musuh-musuh Moretti di luar sana akan melihat Rebecca sebagai sasaran yang lebih menggiurkan. Tapi kali ini, Maximilian tidak khawatir.
Ia melirik ke arah SIG Sauer yang masih tergeletak di meja sudut, lalu menatap wanita di pelukannya.
"Kau siap untuk langkah selanjutnya, Tesoro?" tanya Maximilian dengan kilat berbahaya di matanya.
Rebecca menatap batu safir di lehernya, lalu menatap mata Maximilian dengan keberanian yang baru. "Kapan pun Om siap, aku akan berada di sana. Memastikan tidak ada yang bisa menyentuh apa yang menjadi milik kita."
Hari itu, fajar di pegunungan terasa lebih terang. Sebuah aliansi baru telah lahir—bukan berdasarkan kontrak atau hutang nyawa, melainkan berdasarkan darah yang tumpah dan cinta yang ditempa dalam api peperangan.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣