Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Aula Agung masih diselimuti sisa-sisa ketegangan setelah insiden lampu padam tadi. Para tamu mulai berpamitan, namun bisik-bisik mengenai "aksi heroik" calon tunangan Kaisar masih terdengar di setiap sudut. Freya, dengan napas yang masih sedikit memburu dan noda debu tipis di pipinya, tidak memedulikan tatapan kagum orang-orang. Matanya hanya tertuju pada satu titik: Pangeran Kholid.
Kholid berdiri di dekat pilar besar, menyesap sisa sampanye di gelasnya dengan ekspresi yang—menurut Freya—sangat menyebalkan. Senyum tipis yang meremehkan itu masih ada di sana.
"Ini pasti ulah lo, kan?!"
Suara cempreng namun tegas milik Freya membelah kesunyian pasca-jamuan. Ia melangkah lebar, menghampiri Kholid tanpa rasa takut sedikit pun.
Pangeran Danu dan Putri Sarah—paman dan tante Kaisar—langsung berdiri siaga satu. Mereka terkejut melihat seorang gadis rakyat jelata berani melabrak putra mereka di depan umum.
"Jaga bicaramu, Nona!" tegur Putri Sarah dengan nada tinggi. "Apa maksudmu menuduh putraku?"
Freya tidak mundur satu senti pun. Ia berkacak pinggang, menatap Kholid tepat di matanya. "Halah, Tante nggak usah belain deh. Dia dari tadi senyum sinis nggak jelas. Pas lampu mati, dia doang yang mukanya nggak panik, malah kayak lagi nonton film horor tapi dia sutradaranya! Pasti ulah dia, kan?!"
Kholid tertawa kecil, suara tawa yang dingin. "Kau punya bukti, Nona Pelukis? Atau imajinasimu terlalu liar karena terlalu banyak menghirup bau cat?"
"Pokoknya awas aja lo!" Freya menunjuk wajah Kholid dengan telunjuknya yang masih ada bekas cat biru tipis. "Selama gue di sini, mata gue ini tajem! Gue bakal pastiin kedok lo kebongkar! Gue nggak peduli lo pangeran atau apa, kalau lo main kotor, gue bakal bikin lo malu di depan seluruh rakyat! Bye!"
Freya berbalik dengan kibasan rambut yang dramatis, meninggalkan keluarga Kholid yang terpaku karena syok. Belum pernah ada orang di istana ini yang berani bicara se-frontal itu.
Perjalanan yang Berisik
Kaisar segera menyusul Freya, diikuti oleh Ethan dan Sherena di belakang. Mereka berjalan menuju sayap timur istana melewati taman kerajaan yang gelap namun diterangi lampu-lampu taman yang estetis.
Freya terus menggerutu tidak jelas. "Sumpah ya, Kai, sepupu lo itu bener-bener definisi ular berkepala manusia. Lo liat nggak tadi matanya? Kayak licik-licik gimana gitu. Gue benci banget sama tipe cowok kayak gitu, mending kayak lo, kaku tapi jujur daripada manis tapi racun—"
"Freya, pelankan suaramu," potong Kaisar, meski sebenarnya ia merasa geli mendengar Freya membelanya dengan cara yang begitu brutal.
"Nggak bisa pelan! Gue emosi! Dia itu mau jatuhin lo, Kai! Dia sengaja matiin lampu biar lo kelihatan nggak kompeten di depan tamu negara. Untung ada gue!" Freya terus mengoceh, tangannya bergerak-gerak di udara saat ia berjalan mundur untuk menatap Kaisar.
Di belakang mereka, Pangeran Ethan berusaha keras menahan tawa. "Gila, Kak Kaisar, lo dapet pelindung yang lebih galak dari pengawal pribadi lo sendiri."
Putri Sherena mendengus, meski kali ini ia tidak berkomentar pedas. Ia mulai merasa bahwa kehadiran Freya yang "barbar" ini setidaknya memberikan hiburan di istana yang membosankan ini.
Karena terlalu asyik menggerutu sambil berjalan mundur dan menunjuk-nunjuk ke arah aula, Freya tidak memperhatikan medan di belakangnya. Di tengah rumput taman yang rapi, terdapat sebuah lubang kecil yang sedang diperbaiki oleh tukang kebun dan belum sempat ditutup sempurna.
Tap.
Kaki kanan Freya masuk ke lubang itu. Keseimbangannya hilang seketika. Tubuhnya limbung ke belakang dengan cepat.
"Eh... eh... KAI! KOK—?!"
Freya memejamkan mata, sudah siap merasakan kerasnya tanah taman yang dingin. Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang. Sebagai gantinya, ia merasakan sepasang lengan yang kuat dan kokoh menangkap pinggangnya dengan sigap.
Dalam hitungan detik, tubuh Freya sudah berada dalam dekapan Kaisar. Kepala Freya bersandar di dada bidang sang Pangeran, dan ia bisa mendengar detak jantung Kaisar yang berdegup kencang—mungkin karena kaget, atau mungkin karena hal lain.
Hening.
Hanya ada suara angin malam yang meniup dedaunan. Aroma parfum sandalwood Kaisar yang maskulin meresap ke indra penciuman Freya, membuatnya seketika lupa pada amarahnya kepada Kholid.
Kaisar menunduk, menatap Freya yang masih berada di pelukannya. Jarak wajah mereka sangat dekat, sampai-sampai Freya bisa merasakan hembusan napas Kaisar di keningnya.
"Sudah kubilang, jangan berjalan mundur. Kamu terlalu ceroboh, Freya," suara Kaisar rendah, terdengar seperti bisikan yang hangat di telinga Freya.
Freya mengerjapkan mata, wajahnya seketika memerah lebih merah dari warna katering ibunya. "Gue... gue nggak ceroboh, lubangnya aja yang nggak ada adab!"
"Ehem!" Ethan berdeham keras-keras dari belakang. "Waduh, ini taman kerajaan atau lokasi syuting drama Korea ya? Kok romantis banget?"
Sherena memutar bola matanya, tapi ada senyum kecil yang ia sembunyikan di balik tangannya. "Kaisar, lepaskan dia sebelum Buyut melihat dari jendela atas."
Kaisar segera melepaskan dekapannya, membantu Freya berdiri tegak kembali dengan canggung. Ia merapikan kemejanya, berusaha kembali ke setelan 'Pangeran Kaku', padahal telinganya sedikit memerah.
"Masuklah ke dalam. Sudah malam," perintah Kaisar, suaranya kembali datar meski matanya sempat melirik kaki Freya untuk memastikan gadis itu tidak terkilir.
Freya berdeham, mencoba mengembalikan harga dirinya sebagai gadis rebel. "Iya, iya! Lagian lo meluknya kenceng banget, sesek tahu!"
"Aku menyelamatkanmu, Freya."
"Ya... ya makasih! Dasar Robot!" Freya berjalan cepat mendahului mereka semua, jantungnya masih berdebaran tidak karuan.
Dari jendela balkon lantai dua, sosok Buyut berdiri diam melihat kejadian di bawah sana. Beliau memegang tongkatnya dengan erat, namun senyum di wajahnya sangat lebar.
"Begitu kuat energinya," gumam Buyut pada dirinya sendiri. "Kaisar yang dingin mulai mencair, dan si api kecil itu mulai menemukan tempat untuk menyala."
Namun, di kegelapan koridor yang lain, Kholid juga memperhatikan. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. "Nikmatilah saat-saat ini, Kaisar. Karena saat aku menemukan cara untuk menyingkirkan gadis itu, aku akan pastikan kau hancur bersamanya."
Malam itu, di Istana Welas, sebuah rahasia besar mulai tercium, dan Freya Aurelia, dengan segala kenekatannya, baru saja mendeklarasikan perang terbuka dengan musuh di dalam selimut.