Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan
Setelah puas berbagi cerita dengan Vinna, Shafira pun segera pulang karena sudah siang. Ia pulang dengan memesan ojek online. Ia tak ingin diamuk sang mertua karena pulang terlalu lama. Bukan ia takut, tapi ia hanya sedang malas adu mulut dengan ibu mertuanya itu.
Saat diperjalanan, Shafira tak sengaja melihat Tia adik iparnya berboncengan dengan memeluk seorang pria. Terlihat pria tersebut memakai pakaian kantoran dan Tia sendiri menggunakan dres yang ketat, walau masih memakai blazer panjang sebagai luarannya. Padahal tadi pagi keluar mengenakan pakaian sekolah, dan sekarang belum waktunya untuk pulang sekolah.
'Eh, itu beneran si Tia! Tapi kenapa sama laki-laki, apa itu gurunya ya?' pikir Shafira karna melihat adik iparnya berboncengan dengan seorang bapak-bapak.
'Tapi masak gurunya. Nggak ah. Orang pelukan gitu, mana bajunya seksi lagi.' celotehnya sendiri dalam hati yang melihat dua orang itu saling berpegangan tangan, karena masih lampu merah.
"Pak, ikuti motor hitam yang ceweknya pake baju coklat itu ya, tapi jangan terlalu dekat biar gak ketahuan, nanti saya tambahin." seru Shafira pada tukang ojek karena jalurnya tak sesuai dengan aplikasi.
"Ok, siap neng." balas si tukang ojek tak dengan senang hati.
Tak lama motor yang membonceng adik iparnya tiba di sebuah restauran. Mata Shafira melotot melihat Tia bergelayut manja dan dibalas dengan rangkulan oleh bapak-bapak tersebut.
"Astaga... Gak adik gak kakak sama aja". gumam Shafira tidak menyangka melihat adik iparnya berpacaran dengan seorang bapak-bapak yang kelihatan tak jauh berbeda dengan bapak mertuanya.
Setelah membayar ongkos ojeknya, Shafira pun memutuskan untuk masuk kedalam restauran mengikuti sekaligus makan siang.
"Mas, habis ini kamu jadi kan mau beliin aku handphone baru. Kamu kemarin udah janji lho." ujar Tia dengan nada manja.
Membuat Shafira merinding mendengarnya, apalagi dengan panggilan yang diberikan Tia pada bapak-bapak tersebut.
"Kamu tenang aja sayang, mas gak bakal ingkar janji, asal bayarannya sesuai." jawab si bapak-bapak yang tak menghiraukan pandangan aneh pengunjung lain pada mereka.
"Asikk... terima kasih Mas Bram. Mas tinggal telpon aja kapan pun mas mau." balas Tia tak tahu malu.
Shafira yang duduk tepat dibelakang Tia, sudah tidak tahan mendengar pembicaraan keduanya. Ia yang sudah dewasa tentu mengerti kemana arah pembicaraan keduanya.
Yang membuat Shafira semakin heran, kenapa adik iparnya itu mau-mau saja di ajak berhubungan dengan seseorang yang seumuran dengan bapaknya.
Diam-diam Shafira merekam pembicaraan keduanya, dan akan ia jadikan sebagai senjata nanti kalau adik iparnya mencari gara-gara dengannya.
Setelah menghabiskan makanannya, Shafira segera membayar dan keluar dari restauran. Ia tak ingin berlama-lama disana membuat kupingnya terasa panas mendengar obrolan yang menjurus ke arah ranjang.
Sementara ditempat lain..
Aris dan Fela tengah membahas pernikahan mereka yang tinggal dua Minggu lagi.
"Beneran mas kita nikahnya dua minggu lagi?" seru Fela kegirangan, karna mereka sudah cukup lama berpacaran.
"Hus... Jangan kenceng-kenceng kamu ngomongnya, biar gimana pun semua orang tahu kalau mas sudah menikah, emangnya kamu mau orang-orang tahu kalau kita punya hubungan. Apalagi kalau sampai terdengar sampai ke telinga bos, kita berdua bisa dipecat karna ketahuan selingkuh." ucap Aris separuh berbisik sambil memperhatikan sekitar.
"Iya deh maaf, abisnya aku kelewat senang, Sayang. Aku dari dulu lho pengen banget jadi istri kamu. Terus gimana sama istri kamu itu, kamu gak mau gitu ikutin saran aku untuk cerai dari istri kamu itu. Aku gak mau lho selamanya cuma jadi siri. Gimana nanti kalau kita udah punya anak." ujar Fela mulai gelunjak.
Membuat Aris mendengus, ia tak suka kalau sudah bawa-bawa soal cerai. Aris tidak akan mau menceraikan Shafira, karena ia masih sayang dengan istrinya itu. Walaupun selamanya Aris tidak bisa memiliki anak dengan Shafira, itu tidak masalah menurutnya. Toh nanti ia bisa punya anak dengan Fela.
Karena sering kali mendengar ibunya mengatakan kalau Shafira mandul, membuat Aris lama-lama percaya dengan ucapan ibunya. Ia percaya feeling ibunya pasti benar.
"Kamu jangan ungkit soal cerai dong!" ujar Aris mulai sewot.
"Kamu tenang aja, kalau Shafira sudah tahu kita nikah. Shafira juga pasti lama-lama akan setuju dengan pernikahan kita."
"Kalau nanti si Shafira sendiri yang minta cerai, gimana?" diam-diam Fela sudah punya rencana sendiri. Setelah menikah nanti, ia akan memberi tahu Shafira soal pernikahannya dengan Aris. Supaya Shafira sendiri yang menggugat cerai Aris.
Ia mana sudi berbagi suami, apalagi nanti gaji suaminya harus dibagi dua. karena setelah menikah ia berencana akan resign dari pekerjaannya. Toh ia sudah mempunyai suami yang akan menafkahinya. Dengan gaji Aris yang besar, ia tidak perlu bekerja lagi. Pikirnya.
"Nggak lah, Shafira itu dulunya hidup sebatang kara. Mau pergi kemana dia kalau sampai minta cerai, hidupnya aja bergantung pada Mas." cap Aris sombong dengan penuh percaya diri.
Tak tahu saja kalau Shafira lebih kaya dan sukses darinya.
Tak jauh dari meja tempat mereka berada, rupanya seseorang sedari tadi merekam semua pembicaraan keduanya sambil menahan emosi. Ia paling tidak suka dengan yang namanya perselingkuhan. Ia juga tidak suka dengan sifat Fela yang mentang-mentang dekat dengan atasan, membuat Fela jadi sombong, padahal ia cuma karyawan biasa.
Ia berencana akan menyerahkan rekaman tersebut pada pemilik pabrik. Selain tak suka dengan keduanya, mereka juga sudah melanggar peraturan perusahaan yang tidak memperbolehkan semua karyawan memiliki hubungan gelap sesama karyawan, yang akan mencoreng nama baik perusahaannya.
"Assalamu'alaikum..." ucap Aris sembari mencium punggung tangan kedua orang tuanya yang sedang santai menonton acara televisi.
"Wa'alaikumsalam... kenapa hampir magrib gini kamu baru pulang Ris? lembur?" tanya Bu Ratna.
"Nggak kok, Bu. Aris habis antar Fela pulang dulu, Shafira mana bu?" tanya Aris.
"Ada tuh dikamar, istri kamu mana mau duduk-duduk kumpul sama yang lain disini. Istri kamu lebih suka ngedekem dikamar." ujar Bu Ratna yang selalu sewot jika sudah ada pembicaraan tentang menantunya itu.
"Ris, kamu jangan sampai kebablasan dulu, jangan main-main dulu ke kontrakan Fela, nanti orang-orang bisa salah paham sama kalian berdua. Ibu juga gak mau ya, kamu sampai berzina dengan Fela. Ibu emang dukung kamu kalau mau nikah lagi, tapi kalau kamu sampai berhubungan diluar nikah. Ibu kutuk kamu jadi kodok!" ujar Bu Ratna dengan mata melotot, ia masih sedikit memiliki pikiran benar, meskipun kadang lebih banyak tidak benarnya!
Glekk..
Mendengar ucapan ibunya, sukses membuat Aris dan Tia yang duduk disebelah Bu Ratna menelan ludah, wajah keduanya langsung memucat.
"Gak kok Bu, Aris cuma antar Fela doang, udah itu langsung pulang." jawab Aris, sambil menelan ludah.
'Aduh.. kenapa ibu harus ngomong gitu sih. Aku harus berhati-hati lagi, bahaya kalau sampai ada yang lihat aku jalan sama om Bram trus lapor sama ibu.' batin Tia berusaha mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya, takut ibunya melihat wajahnya yang sudah pucat karena tersindir dengan ucapan ibunya.
"Udah sana kamu siap-siap, udah mau magrib tuh." ucap Bu Ratna lagi.
Aris dan Tia pun segera masuk ke kamar masing-masing.
Hhuff!
"Kamu kenapa mas?"
Deg!