"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Radar Cemburu dan Sidak Sang CEO
Pagi itu, Calvin sedang memimpin rapat dewan direksi yang sangat krusial. Wajahnya sedingin es, matanya tajam menatap presentasi tentang ekspansi perusahaan. Namun, semua wibawa itu runtuh dalam satu detik saat ponsel di atas meja bergetar.
Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Navarro (Si Utang Banyak).
Tanpa sadar, Calvin membukanya. Sebuah foto muncul di layar: Nirbita sedang duduk di meja perpustakaan yang remang-remang, tertawa sangat lebar hingga matanya menyipit. Di depannya, Arga sedang bersandar sambil memegang buku, menatap Nirbi dengan tatapan yang sangat memuja.
Pesan di bawahnya tertulis: "Wah, Vin. Kayaknya Raja Minyak Dubai kalah cepet sama Pangeran Perpustakaan nih. Liat tuh, serasi banget kan? Adek gue kayaknya lebih nyaman sama yang sebaya."
KRAK!
Pulpen mahal di tangan Calvin patah menjadi dua. Seluruh direktur di ruangan itu terdiam, menatap bos mereka dengan ngeri.
"Rapat hari ini selesai," ujar Calvin dengan suara rendah yang mengandung ledakan.
"Tapi Pak, kita baru jalan sepuluh menit—"
"SAYA BILANG SELESAI!" bentak Calvin sambil berdiri. "Tutup kantor hari ini. Semua karyawan boleh pulang. Saya ada urusan darurat nasional."
Invasi di Perpustakaan
Tiga puluh menit kemudian, Rolls-Royce Calvin berhenti dengan decitan ban yang kasar di depan gedung perpustakaan pusat kampus. Calvin turun dengan langkah lebar, membawa botol hand sanitizer di kantong jasnya, tapi kali ini kuman adalah hal terakhir di pikirannya.
Ia masuk ke perpustakaan yang harusnya tenang. Beberapa mahasiswa langsung berbisik melihat pria berjas mewah itu masuk ke area rak buku dengan aura membunuh.
Calvin menemukan mereka. Di pojok ruangan, dekat jendela.
"Nirbita Luminara Rein," suara Calvin memecah kesunyian perpustakaan.
Nirbi dan Arga tersentak. Nirbi hampir jatuh dari kursinya melihat Calvin berdiri di sana dengan napas yang sedikit memburu dan kemeja yang sedikit berantakan.
"K-Kak Calvin?! Ngapain di sini?!" bisik Nirbi kaget.
"Waktu kuliahmu sudah habis. Kamu harus kembali ke kantor," ujar Calvin sambil meraih pergelangan tangan Nirbi.
Arga berdiri, menatap Calvin dengan marah. "Apa-apaan Anda, Calvin? Nirbi masih ada jadwal belajar. Anda tidak bisa seenaknya mengatur hidupnya di luar jam kerja!"
Calvin menatap Arga dengan tatapan yang sangat merendahkan. Ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, lalu membersihkan meja di depan Nirbi yang sebenarnya sudah bersih, seolah meja itu baru saja dihinggapi virus mematikan.
"Belajar? Dengan Anda?" Calvin tersenyum sinis. "Saya tidak melihat buku yang terbuka di sini. Saya hanya melihat kontaminasi emosional yang tidak berguna."
"Calvin, Anda gila!" seru Arga.
"Mungkin," jawab Calvin pendek. Ia menoleh ke Nirbi. "Nirbita, ikut saya sekarang. Atau saya akan membeli perpustakaan ini dan menutupnya selamanya agar kamu tidak punya alasan untuk bertemu pria ini lagi."
Kepemilikan Mutlak
Nirbi melongo. "Kak, jangan konyol! Ini fasilitas kampus!"
"Saya tidak bercanda," desis Calvin. Ia menarik Nirbi ke dalam dekapannya, melingkarkan tangannya di pinggang Nirbi dengan sangat protektif di depan Arga. "Ponselmu mati, kamu tidak membalas pesanku, dan kamu malah tertawa dengan orang yang jelas-jelas ingin mencurimu dari saya."
Arga mengepalkan tangan. "Dia bukan milikmu!"
Calvin mengangkat tangan kiri Nirbi, memamerkan cincin berlian yang berkilau di bawah lampu perpustakaan. "Selama benda ini ada di jarinya, dia adalah tanggung jawab saya. Secara hukum, secara finansial, dan secara... personal."
Calvin tidak memberi kesempatan Arga membalas. Ia setengah menyeret Nirbi keluar dari perpustakaan. Begitu sampai di mobil, Calvin mengunci pintunya.
"Kak! Kakak kenapa sih?! Malu tau dilihatin temen-temen!" protes Nirbi sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Calvin tidak menjawab. Ia justru mendekatkan wajahnya ke leher Nirbi, menghirup aroma stroberi yang sangat ia rindukan sejak pagi. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar liar karena cemburu.
"Jangan pernah tertawa seperti itu lagi dengan dia," bisik Calvin di telinga Nirbi. "Suara tawamu itu... hanya boleh saya yang dengar. Mengerti?"
Nirbi terdiam, ia bisa merasakan tubuh Calvin yang sedikit gemetar. Ia baru sadar, pria sekuat dan seangkuh Calvin ternyata bisa merasa sangat rapuh hanya karena sebuah foto dari kakaknya yang jahil.
"Iya, iya, Pak Bos Posesif," gumam Nirbi sambil mengelus lengan jas Calvin. "Lagian siapa juga yang mau sama Kak Arga kalau udah ada Kakak yang hobi nyemprot disinfektan tiap detik?"
Calvin menatap Nirbi dalam-dalam, lalu tanpa aba-aba, ia mencium kening Nirbi dengan lembut dan lama. "Ayo pulang. Saya harus mensterilkan pikiran saya dari bayangan pria tadi."
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka