NovelToon NovelToon
Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Beda Usia / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
​Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
​Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

"Kamu bohong," ucap Rengganis

Ia mencoba membuang muka, tak sanggup menatap binar mata Permadi yang terlalu jujur, seolah mata itu sedang membedah seluruh keraguan di hatinya.

Permadi menarik napas panjang dan meraih kedua tangan Rengganis, menggenggamnya erat di depan dadanya yang bidang.

Ia ingin Rengganis merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.

"Sumpah demi Allah, sayang. Aku tidak berbohong. Kalau aku melakukan hal menjijikkan seperti itu di belakangmu, aku rela mati sekarang juga," ucap Permadi dengan nada yang sangat serius, tanpa ada jejak gurauan sedikit pun.

Rengganis membelalakkan matanya saat mendengar perkataan dari suaminya.

Ia segera melepaskan satu tangannya dan menutup mulut Permadi dengan telapak tangannya.

Matanya yang sembab menatap Permadi dengan kilat amarah sekaligus kekhawatiran yang nyata.

"Jangan bicara seperti itu! Aku tidak suka!" tegur Rengganis ketus.

"Kamu pikir nyawa itu mainan? Jangan sembarangan membawa nama Tuhan untuk urusan seperti ini."

Permadi tersenyum tipis di balik telapak tangan Rengganis.

Ia mengecup telapak tangan itu lembut, membuat Rengganis buru-buru menarik tangannya kembali dengan wajah yang mendadak panas.

"Habisnya Tante keras kepala sekali," ujar Permadi, suaranya kembali melembut.

"Aku rela melakukan apa pun supaya kamu percaya. Aku bahkan siap memecat sekretarisku kalau dia membiarkan wanita itu masuk lagi ke ruanganku. Aku hanya ingin kamu, Ganis. Hanya dokter spesialis yang galak dan jago masak ayam kecap ini."

Rengganis terdiam saat mendengar perkataan Permadi yang perlahan meresap ke dalam hatinya, mencairkan bongkahan es kecurigaan yang tadi sempat membeku.

Ia melihat kemeja Permadi yang berantakan, dan memang benar, noda itu berada di posisi yang menunjukkan pelukan paksa, bukan ciuman yang disengaja.

"Tapi, dia lebih muda dariku, kan?" tanya Rengganis pelan, sisa-sisa rasa minder itu masih mencoba mencuat.

Permadi terkekeh, kali ini tawa baritonnya terdengar renyah.

Ia merangkul bahu Rengganis dan menariknya ke dalam pelukan yang hangat dan protektif.

"Muda itu cuma soal angka, Sayang. Tapi matang itu soal rasa. Dan aku sudah bilang, aku lebih suka yang sudah 'matang' seperti kamu. Lebih berwibawa, lebih cerdas, dan yang pasti lebih menantang untuk ditaklukkan."

Permadi mencium puncak kepala Rengganis dengan lama.

"Sekarang, ayo turun. Kasihan ayam kecap dan cap jay yang sudah kamu masak susah payah. Kalau dingin, nanti rasanya kurang mantap. Kita makan dulu, baru setelah itu..."

Permadi menggantung kalimatnya, matanya melirik ke arah tempat sampah tempat lingerie merah itu berada.

"Setelah itu baru, Tante harus ambil kembali 'hadiah' dari tempat sampah itu dan memakainya untukku. Sebagai denda karena sudah menuduh suamimu yang setia ini."

Rengganis mencubit pinggang Permadi dengan gemas.

"Permadi! Masih sempat-sempatnya ya!"

"Aduh! Ampun, Dokter!" seru Permadi sambil tertawa, menarik Rengganis keluar kamar menuju ruang makan.

Malam yang tadinya terasa seperti badai, perlahan berubah menjadi senja yang tenang.

Di meja makan, lilin-lilin kecil itu masih menyala, siap menjadi saksi bahwa meski ada noda di kemeja, cinta yang tulus tidak akan mudah luntur hanya karena bayangan dari masa lalu.

Rengganis menarik napas panjang, mencoba menenangkan sisa-sisa badai emosi di dadanya.

Setelah menghapus jejak air mata di pipinya dengan tisu, ia merapikan kembali gaun hitamnya yang sedikit kusut.

Ia memutuskan untuk turun lebih dulu, membiarkan Permadi membersihkan diri dan menghilangkan aroma masa lalu yang sempat menempel di tubuhnya.

Di ruang makan, Rengganis menyalakan kembali pemanas di bawah piring saji agar masakan tetap hangat.

Tak berselang lama, terdengar langkah kaki menuruni tangga.

Permadi muncul dengan penampilan yang jauh lebih segar.

Ia hanya mengenakan kaos santai berwarna abu-abu dan celana kain hitam.

Rambutnya yang masih basah tampak sedikit acak-acakan, tetesan air sesekali jatuh ke dahinya, memberikan kesan maskulin yang alami.

"Hmm, aromanya benar-benar juara, Sayang. Sampai ke kamar mandi baunya bikin lapar," puji Permadi sambil menarik kursi di hadapan Rengganis.

Matanya berbinar melihat deretan makanan yang tertata cantik.

Rengganis tidak menjawab dengan kata-kata, namun tangannya bergerak dengan telaten.

Ia mengambil piring porselen, mengisinya dengan nasi putih yang mengepul, lalu menyendokkan ayam kecap dengan kuah kental yang mengkilap, serta capjay yang sayurannya masih terlihat hijau segar.

"Makanlah. Tadi katanya lapar," ucap Rengganis pelan sambil meletakkan piring itu di depan Permadi.

Permadi menyuapkan sendokan pertama. Matanya seketika terpejam, menikmati perpaduan rasa manis, gurih, dan rempah yang pas di lidahnya.

"Ini enak sekali, Ganis. Benar-benar enak," ucap Permadi tulus.

Ia menatap istrinya dengan tatapan yang dalam. "Aku tahu ada bumbu rahasia di sini. Ada bumbu cinta di dalamnya, kan?"

Rengganis merasakan pipinya memanas. "Itu cuma bumbu dapur biasa, Permadi. Jangan berlebihan."

Bukannya berhenti, Permadi justru meletakkan sendoknya sejenak.

Ia menegakkan punggung, menatap Rengganis dengan ekspresi serius namun jenaka di saat yang bersamaan. Tiba-tiba, ia berdehem keras seolah sedang mempersiapkan pengumuman penting.

"Dokter Rengganis, tolong dengarkan ini baik-baik," ujar Permadi dengan suara lantang yang bergema di ruang makan yang sunyi.

"Aku mencintaimu, Ganis! Aku mencintaimu, Ganis! Aku mencintaimu, Dokter Istriku!"

Permadi mengulanginya berkali-kali dengan nada yang penuh semangat, seolah sedang melakukan proklamasi.

Ia bahkan sedikit berdiri dari kursinya, membuat suasana makan malam yang tadinya tegang menjadi sangat absurd dan penuh tawa tertahan.

Rengganis hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku suaminya yang terkadang lebih mirip remaja yang baru pertama kali jatuh cinta daripada seorang CEO muda yang disegani banyak orang.

"Permadi, diam! Tetangga bisa dengar!" bisik Rengganis sambil menahan senyum yang akhirnya pecah juga.

"Biar saja mereka dengar! Biar seluruh dunia tahu kalau 'berondong' ini sudah bertekuk lutut sama istrinya yang paling hebat sejagat raya," sahut Permadi sambil kembali duduk dan melahap ayam kecapnya dengan lahap.

Melihat Permadi makan dengan penuh semangat, rasa sesak di hati Rengganis benar-benar hilang.

Ia menyadari bahwa cinta memang tidak selalu datang dengan cara yang tenang dan sempurna.

Terkadang, cinta datang dengan noda lipstik yang salah paham, sumpah mati yang konyol, dan teriakan pengakuan di tengah makan malam.

"Sudah, habiskan makananmu. Setelah ini jangan lupa minum vitaminnya," ucap Rengganis lembut.

Permadi mengerling nakal.

"Vitamin yang mana? Vitamin dari apotek, atau vitamin 'merah' yang tadi dibuang ke tempat sampah?"

Rengganis hanya bisa menghela napas pasrah. Ternyata, memiliki suami seperti Permadi memang butuh stok kesabaran seluas samudera.

Permadi menyuapkan sesendok penuh salad buah ke mulutnya.

Matanya kembali membelalak, kali ini bukan karena terkejut, melainkan karena sensasi segar yang meledak di lidahnya.

Ia mengunyah perlahan, mencoba membedah rasa yang belum pernah ia temui di restoran bintang lima mana pun.

"Ganis, saus apa ini? Rasanya beda," tanya Permadi sambil menatap mangkuk saladnya dengan penuh selidik.

"Bukan mayones biasa, kan? Ada rasa dingin, manis, tapi juga ada aroma yang menenangkan."

Rengganis yang sedang menyesap teh hangatnya hanya tersenyum simpul, sebuah senyum penuh rahasia yang jarang ia perlihatkan.

"Itu saus racikan sendiri. Aku pakai Greek yogurt, madu murni, sedikit perasan lemon, dan cincangan daun mint segar dari kebun kecil di belakang," jawab Rengganis tenang.

"Lebih sehat untuk jantungmu daripada mayones botolan yang penuh lemak jenuh."

Permadi menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.

Ia kembali menyendok salad buah itu seolah tak mau menyisakan setetes saus pun.

"Luar biasa. Dokter, koki, dan sekarang ahli nutrisi pribadi," puji Permadi tulus.

Ia meletakkan sendoknya, lalu mencondongkan tubuh ke arah Rengganis, menatap istrinya dengan tatapan yang mulai berubah menjadi lebih intens.

"Kamu benar-benar penuh kejutan, Ganis. Setiap jam bersamamu, aku merasa seperti sedang membuka hadiah yang tidak ada habisnya. Dan saus ini,.rasanya seperti kamu."

Rengganis mengangkat sebelah alisnya. "Seperti aku? Masam?"

"Bukan," Permadi terkekeh pelan.

"Dingin di awal, segar, tapi meninggalkan rasa manis yang bikin ketagihan di akhir."

Wajah Rengganis kembali merona. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah piring buah yang sudah kosong.

"Sudah, berhenti merayuku. Habiskan saladmu."

"Sudah habis, Sayang," sahut Permadi sambil menggeser mangkuknya yang bersih.

Ia berdiri, lalu berjalan memutari meja dan berhenti tepat di belakang kursi Rengganis.

Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Rengganis yang membuat wanita itu merinding seketika.

"Menu utamanya enak, pencuci mulutnya luar biasa. Sekarang, bagaimana kalau kita bahas 'bonus' untuk malam ini? Aku belum lupa soal point nomor lima dan kain merah itu, sayang."

Rengganis menggelengkan kepalanya saat mendengar perkataan dari suaminya.

1
falea sezi
hyper ne bahaya bgt lo klo dia g puas biasa sih selingkuh
Ita Putri
hyoer seksual dapat nya Tante" umur 40 th
falea sezi
lanjut
Rais Raisya
lanjut ka
falea sezi
Permadi jaga nafsu deh istrimu bukan gadis abg di ajak. gaya gaya demi nafsu egois gk sih
Ita Putri
ya jelas la wong masih 25 th
Endang Sulistia
asem si Permadi 🤭
Endang Sulistia
modus 🤦🤦
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Fitra Sari
lanjut KK
awesome moment
👍😄👍😄
Fitra Sari
lanjut donk KK doubel
Ita Putri
seru banget thor😄😄
Fitra Sari
makasihh Thor ...update selalu ..pkoknya lope2 seneng banget 🤣🤣😍
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 🤣😍😍😍😍
my name is pho: ok kak
sabar 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel2 up donk ..syuka banget sama karya2 KK ...seru banget pkok ya greget banget 🤣😍😍
my name is pho: ok kak
🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut lagi kk 😍😍😍
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
Sherin Loren
lanjut thor😎
Fitra Sari
lanjut KK ...serius bagus banget ..doubel2 pkoknya 🙏🙏😘
Fitra Sari
lanjut doubel donk KK
my name is pho: sudah kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!