(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Semu
Gemerlap lampu lampion di jalanan Kota Jinling tidak mampu menembus ruang bawah tanah rahasia tempat Su Qingxue membawa Han Luo.
Ruangan itu tersembunyi di bawah sebuah rumah bordil kelas atas. Dindingnya dilapisi formasi peredam suara tingkat tinggi, dan udaranya dipenuhi wangi dupa cendana yang gagal menutupi bau anyir darah yang samar.
Su Qingxue duduk di balik meja kayu mahoni, menyilangkan kakinya dengan anggun. Di depannya, Han Luo—dalam wujud Kakek Tua bungkuk sang Tabib Tangan Hantu—berdiri menatap sekeliling dengan mata abu-abu matinya.
Tangan kiri Han Luo (lengan boneka sutranya) terselip diam di dalam lengan jubah, sementara tangan kanannya bertumpu pada tongkat kayu murahan.
"Duduklah, Tuan Tabib," Su Qingxue menuangkan teh ke dalam cangkir giok kecil. "Kau sudah melihat rahasiaku, dan aku telah melihat kemampuanmu. Kurasa kita bisa melupakan basa-basi."
Han Luo menarik kursi dan duduk dengan gerakan lambat, khas orang tua yang sendi-sendinya mulai mengeropos. Dia sengaja batuk dua kali sebelum bicara.
"Nona, di duniaku, basa-basi adalah cara untuk memastikan pisau lawan tidak sudah berada di bawah meja," suara Han Luo serak dan bergetar. "Katakan apa maumu. Aku seorang tabib. Tugasku menyembuhkan yang sakit, bukan ikut campur urusan internal Sekte Iblis."
"Kadang, menyembuhkan satu penyakit mengharuskan kita memotong anggota tubuh yang terinfeksi," Su Qingxue tersenyum tipis, matanya memancarkan kekejaman. "Di Sekte Iblis Langit, penyakit itu bernama Xue Mochen."
Han Luo mengorek ingatannya tentang novel asli. Xue Mochen. Putra Suci Sekte Iblis Langit. Saingan utama Su Qingxue dalam perebutan takhta Ketua Sekte.
"Putra Suci?" Han Luo mendengus, memainkan cangkir tehnya tanpa meminumnya. "Membunuh calon pewaris sekte raksasa? Kau menyuruh kakek tua ini bunuh diri."
"Aku tidak menyuruhmu membunuhnya secara langsung," Su Qingxue mencondongkan tubuhnya ke depan. "Xue Mochen baru saja mengalami Penyimpangan Qi saat mencoba menerobos ke Ranah Jiwa Baru Lahir. Meridian utamanya retak. Dia sedang mencari tabib terbaik di seluruh Benua Tengah untuk menyembuhkannya secara rahasia agar faksi lain tidak tahu kelemahannya."
Su Qingxue menunjuk Han Luo.
"Dan kau... setelah apa yang kau lakukan pada Tuan Muda Klan Ye hari ini, namamu akan segera sampai ke telinganya. Dia akan memanggilmu."
"Lalu? Kau ingin aku meracuninya saat pengobatan?"
"Terlalu kentara," Su Qingxue menggeleng. "Dia dilindungi oleh dua Tetua Pelindung yang merupakan ahli racun. Jika kau memberinya racun, kau tidak akan keluar hidup-hidup dari ruangannya. Aku ingin kau... menyembuhkannya."
Han Luo mengangkat sebelah alisnya yang berkerut. "Menyembuhkannya?"
"Ya. Sembuhkan dia dengan sempurna. Buat dia merasa kembali ke puncak kekuatannya. Tapi... tinggalkan sebuah 'cacat tersembunyi' di dasar dantian-nya. Sebuah bom waktu yang tidak bisa dideteksi oleh siapa pun. Sesuatu yang hanya akan meledak saat dia mencoba menggunakan kekuatan penuhnya dalam turnamen perebutan takhta."
Han Luo terdiam. Di balik topeng keriputnya, dia tersenyum lebar.
Rencana ini brilian. Su Qingxue ingin saingannya mati karena "kecelakaan latihan" di depan umum, tanpa ada setitik pun bukti yang mengarah padanya. Ini adalah gaya intrik tingkat tinggi yang sangat disukai Han Luo.
"Kau ingin aku menjahit bom di dalam jantung naga tanpa membangunkan naganya," Han Luo mengangguk pelan. "Tugas yang sangat halus. Tingkat kesulitan absolut. Lalu, apa bayarannya?"
"Lima ratus ribu Batu Roh Murni. Dan jabatan sebagai Kepala Balai Pengobatan Sekte Iblis Langit saat aku naik takhta."
Han Luo tertawa. Tawa yang kering dan meremehkan.
"Nona Suci, simpan janji jabatan itu untuk anak-anak muda yang gila hormat. Aku sudah terlalu tua untuk melayani seorang Ratu." Han Luo menatap mata Su Qingxue. "Aku ingin tiga hal. Pertama, 100.000 Batu Roh Murni di muka. Kedua, akses tanpa batas ke Gudang Buku Kuno Sektemu selama aku berada di sana. Dan ketiga..."
Han Luo memelankan suaranya.
"Aku menginginkan Teratai Es Tulang Iblis yang tumbuh di kolam suci sektemu."
Mata Su Qingxue membelalak. Aura membunuhnya langsung meledak, menekan Han Luo.
"Kau terlalu serakah, Pak Tua! Teratai itu adalah harta pusaka sekte kami!"
"Harta pusaka untuk sekte, tapi obat penyambung nyawa untukku," Han Luo tidak goyah sedikitpun oleh tekanan itu. "Pilih, Nona. Kehilangan satu bunga, atau kehilangan takhta Sekte Iblis Langit?"
Su Qingxue menggertakkan giginya. Dia menimbang untung rugi dengan cepat. Pada akhirnya, ambisinya mengalahkan ego-nya.
"Baik. Tapi aku butuh bukti bahwa kau benar-benar punya kemampuan sehalus itu. Aku tahu kau bisa membekukan racun, tapi bisakah kau membunuh tanpa jejak?"
Su Qingxue menepuk tangannya dua kali.
Pintu batu di belakang mereka terbuka. Dua penjaga menyeret seorang pria yang terikat rantai dan melemparkannya ke lantai. Pria itu babak belur, tubuhnya dipenuhi luka siksaan.
"Ini adalah mata-mata dari Sekte Langit Suci yang berhasil kutangkap," kata Su Qingxue dingin. "Para tetua pelindung Xue Mochen bisa melacak jejak racun spiritual, luka Qi, atau manipulasi meridian paling kecil sekalipun. Bunuh orang ini sekarang. Jika aku bisa menemukan penyebab kematiannya dengan pemeriksaanku, kau gagal, dan kau tidak akan keluar dari ruangan ini."
Mata-mata itu mendongak, menatap Han Luo dengan putus asa. "Bunuh aku... kumohon, bunuh aku dengan cepat..."
Han Luo berdiri dengan perlahan. Dia berjalan mendekati mata-mata itu.
Membunuh tanpa jejak racun atau Qi. Bagi kultivator dunia ini, itu nyaris mustahil. Setiap serangan pasti meninggalkan residu energi.
Tapi Han Luo memiliki pengetahuan anatomi modern dari dunianya sebelumnya, dipadukan dengan kontrol presisi Sutra Hati Es Abadi.
Han Luo mengeluarkan sebatang jarum perak biasa. Tidak ada Qi yang mengalir di jarum itu. Tidak ada racun. Hanya jarum perak murni.
"Jangan takut," bisik Han Luo pada mata-mata itu. "Ini hanya akan terasa seperti gigitan nyamuk."
Han Luo menempelkan jarum itu ke leher belakang pria tersebut, tepat di pangkal tulang tengkorak.
Dengan presisi mikroskopis, Han Luo mengalirkan setetes—hanya satu tetes—hawa dingin absolut ke ujung jarum, langsung menembus ke dalam pembuluh darah kecil yang menuju ke otak. Tetesan hawa dingin itu secara instan membekukan darah di pembuluh tersebut, menciptakan penyumbatan (aneurisma buatan).
Han Luo segera menarik jarumnya dan menghapus sisa hawa dinginnya ke udara.
Pria itu terbelalak. Dia membuka mulutnya untuk bernapas, tapi tubuhnya tiba-tiba menegang kaku. Matanya melotot, dan tanpa suara, dia jatuh ke lantai. Mati.
Kematian karena pecah pembuluh darah otak akut.
Han Luo mundur, membersihkan jarumnya dengan saputangan.
"Silakan periksa, Nona."
Su Qingxue mengerutkan kening. Dia melesat maju, memeriksa nadi pria itu. Dia menyalurkan Qi Iblisnya ke dalam tubuh mayat itu untuk mencari jejak racun, luka bakar, atau energi es.
Kosong.
Organ dalamnya utuh. Tidak ada racun di darahnya. Tidak ada kerusakan pada Dantian-nya.
Satu-satunya anomali adalah pecahnya pembuluh darah di otak, yang sering terjadi secara alami pada kultivator yang mengalami kelelahan ekstrem atau stres mental berat—sesuatu yang sangat masuk akal bagi seorang tahanan yang baru disiksa.
"Ini..." Su Qingxue menatap Han Luo dengan campuran ngeri dan takjub. "Ini terlihat seperti kematian alami. Kematian mendadak."
"Kematian selalu alami jika kau tahu cara menyapanya," Han Luo duduk kembali. "Apakah aku lulus, Putri Iblis?"
Su Qingxue perlahan tersenyum. Senyum yang penuh kepuasan mematikan.
"Sangat lulus. Siapkan dirimu, Tabib Hantu. Besok, aku akan mengatur 'pertemuan kebetulan' antara kau dan utusan Xue Mochen."
Sementara kesepakatan iblis terbentuk di ruang bawah tanah, di pinggiran benua, angin laut yang ganas menghantam pelabuhan Kota Karang Hitam.
Sebuah kapal dagang usang merapat di dermaga. Penumpang berbondong-bondong turun, kelelahan setelah berminggu-minggu di laut.
Di antara mereka, sesosok pemuda tegap turun dengan langkah berat.
Dia mengenakan jubah hitam sederhana yang menyembunyikan otot-ototnya yang terbentuk sempurna. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tertutup oleh topi caping bambu. Di punggungnya, sebuah pedang raksasa terbungkus kain tebal.
Long Tian.
Dia telah tiba di Benua Tengah.
Long Tian tidak melihat ke arah keramaian pasar pelabuhan. Matanya menatap jauh ke utara, ke arah di mana puncak gunung-gunung besar menembus awan. Ke arah Sekte Langit Suci.
Tap. Tap.
Langkahnya mantap, setiap pijakannya meninggalkan jejak yang sedikit lebih dalam di tanah berbatu.
Dia teringat malam di mana Tuan Mo (Han Luo) hancur berkeping-keping di depan matanya demi menyelamatkannya. Dia teringat bagaimana Sekte Langit Suci merendahkan kematian itu.
“Mo mati karena dia memilih menjadi tameng. Dan kau, Long Tian... kau masih terlalu lemah untuk menjadi pedangnya.”
Kata-kata Tuan Gerhana malam itu terngiang kembali di telinganya, bukan lagi sebagai hinaan, tapi sebagai cambuk.
"Saudara Han..." gumam Long Tian pelan, suaranya sedingin angin utara. "Kau tidak akan mati sia-sia. Aku akan menghancurkan kesombongan sekte yang membunuhmu. Aku akan mencari kebenaran tentang darah ibuku."
Tangan Long Tian mencengkeram erat gagang pedang di balik punggungnya.
Bocah naif dari desa kecil itu telah lama mati di laut selatan. Yang kini berdiri di tanah Benua Tengah adalah naga yang siap membakar langit.
"Sekte Langit Suci... hitung hari-hari kalian."
Long Tian menarik napas dalam, lalu melangkah maju, menghilang ke dalam hiruk pikuk Benua Tengah.
Dua benih badai kini telah tertanam di tanah benua utama. Dan Han Luo, dari balik layar, tersenyum menyambut datangnya kekacauan.
tpi gw demen....