"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab1. Ulang tahun ibu mertua
Sejak subuh, Ribka sudah berkutat di dapur. Menyiapkan segala sesuatunya untuk hidangan makan sekeluarga. Karena hari ini ibu mertuanya ulang tahun.
Sejak kemarin Ribka memang sudah sibuk. Belanja kebutuhan masak untuk hari ini. Menyiapkan bumbu. Bahkan memasak bolu tart untuk kue ulang tahun. Semuanya disiapkannya sendiri. Tanpa keluh kesah. Walau capek dan lelah. Karena memang tidak bisa mengharapkan siapapun di rumah ini. Selain dirinya sendiri. Adik iparnya tiga orang. Dua orang sudah menikah dan tinggal di luar kota.
Sedang si bungsu, Alisya masih kuliah di semester akhir. Jadi dia sangat sibuk dan memang tidak pernah bisa diharapkan.
"Ribka!" terdengar teriakan dari kamar ibu mertuanya. Ribka mengecilkan api kompor. Sepertinya ibu mertuanya butuh sesuatu. Sejak sakit lima tahun yang lalu karena stroke, tugas Ribka memang bertambah, mengurus ibu mertua yang sakit.
"Ada apa Bu? Ibu butuh sesuatu?" Ribka bertanya saat melihat ibu mertuanya berusaha duduk.
"Kamu lambat sekali. Ngapain saja kamu, hah!" sentak Bu Nora sengit.
"Ribka memasak di dapur, Bu." Ribka membantu mertuanya duduk.
"Kamu belum siap masak ya? Ini sudah jam berapa? Sebentar lagi adik iparmu datang. Mereka pasti sudah lapar!" repet Bu Nora seperti biasanya.
"Kan acara makannya siang, Bu. Nanti selesai juga. Ibu mau sarapan sekarang ya? Biar Ribka siapkan." sahut Ribka sabar. Mengabaikan ucapan ibu mertuanya.
"Baru juga bangun sudah kamu suruh makan. Ibu mau mandi. Siapkan air panas untuk mandi Ibu!" bentak Bu Nora.
"Sudah Ribka siapkan kok, Bu. Tapi yang mandikan Ibu, untuk kali ini Alisya saja ya, Bu. Ribka mau masak. Biar cepat selesai, Bu." pinta Ribka sopan.
"Apa! Kamu suruh Alisya mandikan Ibu? Itu tugas kamu di rumah ini sebagai menantu!" ucap Bu Nora sewot.
"Cuma kali ini lo, Bu. Karena saya repot di dapur, menyiapkan hidangan untuk sajian ulang tahun Ibu." Ribka memohon pengertian ibu mertuanya.
"Alasan! Raymond ...!" teriak Bu Nora memanggil putranya, suami Ribka.
"Aduh, Bu. Ngapain ngadu sama Bang Ray." yang dipanggil sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Ada apa, Bu. Pagi-pagi sudah teriak!"
"Istrimu ini loh. Sudah kurang ajar sama Ibu. Tidak mau mengurus Ibu."
Raymond menatap istrinya tajam. "Benar, kamu tidak mau mengurus Ibu?" hardik Raymond tanpa bertanya lebih dulu.
"Bukan begitu Bang. Aku hanya minta, Ibu dimandikan Alisya kali ini saja. Soalnya aku repot di dapur, menyiapkan hidangan untuk ulang tahun Ibu." Ribka berusaha menjelaskan dan berharap suaminya mau mengerti.
"Alasan saja. Kan bisa kau mandikan ibu lebih dulu. Baru lanjut masak lagi." Raymond malah membela ibunya
"Bang, aku tidak masak biasa lo. Ini masak untuk keluarga besar kita. Aku hanya mohon dibantu. Alisya kan gak ada kerjaan. Apa salahnya dia bantu memandikan Ibu." protes Ribka. Karena memandikan ibu mertuanya tidak cukup hanya satu jam. Banyak kali drama Ibu mertuanya setiap kali mau mandi.
"Makanya kamu bergerak cepat. Jangan malas." sentak Ibu Nora.
"Bu, aku manusia bukan Robot! Kalau bisa memandikan Ibu dalam sepuluh menit saja beres, aku masih sanggup. Tapi Ibu selalu banyak drama setiap kali mau mandi!" balas Ribka setengah berteriak. Entah kekuatan darimana dia mampu melakukan itu. Mungkin karena kesal dan efek lelah juga.
Bu Nora dan Raymond tersentak. Belum pernah sekalipun menantunya bicara keras seperti itu. Apalagi Raymond! Istrinya selama ini selalu mengalah dan diam. Menurut apa saja yang dia katakan.
"Plak! Beraninya kamu membentak Ibu. Dasar menantu tak punya adab!" Raymond menampar pipi istrinya. Ribka tersentak. Tidak menyangka suaminya setega itu menamparnya.
"Ada apa sih, berisik sekali! Aku tidak bisa tidur!" tiba-tiba Alisya muncul dengan mata masih mengantuk. Karena kamarnya bersebelahan dengan kamar ibunya.
"Kakak iparmu ini, berani membentak Ibu. Hanya perkara memandikan Ibu." adu Bu Nora meminta dukungan. Biasanya putri bungsunya lebih cerewet lagi.
"Kakak ipar kan lagi sibuk di dapur, Bu. Sudah gak ada yang bantu, apa salahnya abang yang handel. Gitu aja dibuat masalah." ucap Alisya. "Aku juga kan bisa gantikan kakak kali ini." Alisya malah membela kakak iparnya. Membuat Ibu Nora dan Raymond terdiam.
Ribka buru-buru berlalu ke dapur. Menahan tangisnya sekuat hati.
"Abang kenapa sih? Ibu juga! Ini kan hari ulang Ibu. Kakak ipar sudah repot sejak kemarin. Gimana kalau kakak ipar ngambek dan tidak mau masak. Yang repot siapa?" sentak Alisya.
"Emang dia berani?" seru Raymond enteng. Sama sekali tidak merasa bersalah telah menyakiti hati istrinya.
"Tumben kamu membela kakak iparmu. Biasanya kamu juga yang ngegas Ibu." ucap Bu Nora.
"Ya, gak gitu juga lo, Bu. Kasihan Kak Ribka. Sudah, sini biar aku mandikan Ibu."
Raymond jadi serba salah. Dia keluar dari kamar. Hatinya bimbang antara menyusul istrinya ke dapur atau lanjut membaca koran sambil ngopi. Hari ini memang tanggal merah. Jadi dia bisa lebih santai di rumah dan tidak masuk kantor.
Akhirnya Raymond melangkah ke arah ruang tamu. Melanjutkan membaca tabloid dan minum kopi. Mengabaikan perasaan istrinya yang memasak sambil menangis.
Ribka mengusap pipinya yang masih terasa panas. Semudah itu suaminya melayangkan tangannya. Tanpa ragu dan tanpa penyesalan. Ini bukan yang pertama kali. Sudah sering dan berulang terus. Sakit di pipinya tidak sesakit yang dia rasakan di hatinya.
Sakit yang tidak bedarah. Namun, meluluh lantakan pelataran sukmanya!
Menjelang siang hari, Ribka akhirnya selesai memasak. Rendang daging ayam. Ikan mas masak arsik. Ikan nila goreng plus sambal mata. Sayur urap bunga dan daun kates. Tidak lupa puding coklat dan chiffon tart. Semua tersaji di atas meja makan. Semua adalah hasil olahan tangan Ribka.
♡♡♡
Tepat pukul 11;30, Dito dan istrinya Jenny datang. Menyusul Angel dan Zidan suaminya. Berikut ke empat cucu Bu Nora. Masing-masing dua anak Dito dan Angel.
Sedangkan cucu Bu Nora anak Raymond dan Ribka, Mirza tidak bisa hadir karena sedang kuliah di lain kota.
Keluarga besar sudah bekumpul semua di ruang tamu. Ribka hilir mudik menyediakan minuman serta camilan. Angel dan Alisya sama sekali tidak tergerak hatinya membantu.
"Ma, kamu bantuin tuh kakak ipar. Kasihan dari tadi gak ada diamnya," bisik Zidan pada istrinya.
"Ih, Papa, biarin saja. Kita kan tamu disini." protes Angel. Kembali asyik berbincang dengan ibunya.
Karena semua sudah berkumpul, Ribka mengusulkan supaya acara dimulai saja. "Bang, sepertinya semua sudah berkumpul. Acaranya kita mulai saja yuk?" usul Ribka.
"Tunggu sebentar lagi. Kita sedang menunggu kedatangan tamu istimewa," ucap Raymond seraya memamerkan senyumnya lebar-lebar.
"Tamu istimewa? Bukannya ini acara untuk keluarga kita saja, Bang?" sela Ribka heran.
"Iya, tapi apa salahnya aku mengundangnya. Dia bukan orang lain kok," sahut Raymond datar.
"Dia siapa Bang?" celetuk Angel. ***