persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Tentang Gerimis di Jendela dan Jarak yang Bernama Tugas Kelompok
Kamis pagi adalah hari di mana semesta biasanya sedang tidak ingin bercanda. Langit Bandung warnanya abu-abu, seperti kertas gambar yang kena tumpahan air kopi. Dinginnya menusuk, membuat saya harus memakai jaket kebanggaan yang warnanya sudah memudar tapi tetap terasa hangat karena bau parfum Ibu yang sering meminjamnya kalau sedang belanja ke pasar.
Saya sampai di kelas tepat saat bel berbunyi. Nafas saya terengah-engah, bukan karena lari dari kejaran satpam, tapi karena Si Kumbang tadi mogok lagi di tanjakan depan sekolah. Saya harus menuntunnya sambil komat-kamit berdoa agar motor tua itu tidak benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya hari ini.
Di dalam kelas, suasana sudah riuh. Bukan riuh karena pelajaran, tapi karena Bu Ratna, guru Bahasa Indonesia yang paling disegani, baru saja memberikan pengumuman yang bagi saya terdengar seperti vonis hukuman mati.
"Anak-anak, untuk tugas analisis novel bulan ini, kalian akan bekerja secara berpasangan. Ibu sudah menentukan kelompoknya berdasarkan nomor absen," kata Bu Ratna sambil merapikan kacamatanya.
Saya langsung menghitung di dalam kepala. Absen saya nomor tujuh. Dan nomor delapan adalah...
"Bumi dengan Kayla," lanjut Bu Ratna.
Hati saya meloncat. Rasanya seperti baru saja menang undian berhadiah tiket liburan ke bulan. Saya menoleh ke arah Kayla yang duduk di barisan depan. Dia juga menoleh ke arah saya, lalu memberikan jempolnya sambil tersenyum lebar. Senyum yang membuat mendung di luar jendela rasanya langsung menghilang.
Tapi kebahagiaan itu cuma bertahan lima detik.
"Dan Arkan dengan Dara," sambung Bu Ratna.
Arkan mengangkat tangannya. "Bu, maaf. Apa boleh saya bertukar kelompok? Saya rasa saya lebih cocok membahas novel realisme dengan Kayla karena kami sudah sering diskusi di mading."
Kelas mendadak hening. Saya menahan nafas. Saya menatap punggung Arkan dengan tatapan yang kalau bisa mengeluarkan api, mungkin seragamnya sudah bolong-bolong sekarang.
Bu Ratna menatap Arkan dengan tajam. "Arkan, tugas ini dibuat agar kalian bisa berinteraksi dengan teman yang berbeda. Tidak ada acara tukar-menukar. Keputusan Ibu sudah final."
Saya ingin berdiri dan memberikan tepuk tangan berdiri untuk Bu Ratna. Beliau adalah pahlawan saya hari ini. Saya melihat Arkan menghela nafas panjang, wajahnya tampak kecewa. Sementara itu, Dara, rekan kelompoknya yang baru, tetap diam membeku sambil membaca buku tentang hukum fisika kuantum.
Saat jam istirahat, Kayla menghampiri meja saya. Dia membawa dua bungkus roti sobek dan dua kotak susu cokelat.
"Asik ya, kita sekelompok lagi, Mi! Kayak zaman SD dulu pas kita disuruh bikin prakarya dari sabun batang," kata Kayla sambil duduk di depan saya.
"Iya, Kay. Bedanya dulu saya yang kerjain semuanya, kamu cuma bagian kasih nama di kertasnya," jawab saya sambil membuka bungkus roti.
Kayla tertawa. "Kan aku bagian manajemen strategis, Bumi. Itu tugas paling berat lho!"
Kami mulai merencanakan tugas itu. Kami harus membaca satu novel sastra klasik dan membuat analisis mendalam. Kami sepakat untuk mengerjakannya sore ini di rumah Kayla. Rumah Kayla adalah tempat yang paling aman bagi saya. Di sana ada pohon mangga yang dahan-dahannya rendah, tempat kami sering duduk sambil makan rujak kalau hari sedang panas.
Tapi, saat kami sedang asyik bicara, Arkan datang mendekat.
"Kay, sori ganggu sebentar," kata Arkan. Dia tidak melihat ke arah saya sama sekali. "Nanti sore ada rapat mading mendadak. Kita harus fix-in desain yang kemarin karena percetakan minta file-nya lebih cepat."
Kayla menghentikan kunyahannya. "Aduh, gimana ya, Kan? Aku sore ini mau ngerjain tugas kelompok sama Bumi. Kan tadi Bu Ratna bilang deadline-nya cuma seminggu."
Arkan mengerutkan kening. "Rapatnya tidak lama kok, paling cuma sejam. Setelah itu kamu bisa lanjut ngerjain tugas sama Bumi. Lagian, mading ini kan buat kepentingan sekolah, Kay."
Kayla menatap saya dengan tatapan bimbang. Saya tahu tatapan itu. Itu adalah tatapan 'Bumi-boleh-ya-aku-rapat-dulu?'.
Saya menghela nafas. Menjadi Bumi itu memang harus lapang dada, tapi lama-lama dada saya ini bisa seluas lapangan Gasibu kalau harus terus-menerus menampung sabar.
"Ya sudah, Kay. Rapat saja dulu. Nanti saya tunggu di perpustakaan," kata saya akhirnya.
"Beneran tidak apa-apa, Mi?" tanya Kayla memastikan.
"Iya. Lagian saya juga mau baca buku astronomi yang dikasih Dara kemarin. Biar saya makin sadar kalau saya ini cuma titik kecil yang sering banget diabaikan," kata saya sambil mencoba tersenyum, meski rasanya hambar.
"Bumi! Jangan mulai deh," Kayla mencubit lengan saya, tapi kali ini cubitannya terasa lembut.
Arkan tersenyum puas. "Oke, thanks ya, Bumi. Kita ke ruang mading ya, Kay?"
Saya melihat mereka pergi. Lagi-lagi mereka berdua. Saya kembali ke barisan belakang, sendirian lagi, ditemani sisa roti sobek yang rasanya jadi seperti kertas kardus.
Sore harinya, perpustakaan sudah sepi. Hanya ada petugas perpustakaan yang sedang tertidur di balik meja sirkulasi dan saya yang duduk di pojokan. Saya mencoba membaca buku pemberian Dara. Buku itu bercerita tentang jarak antara bintang-bintang yang jutaan tahun cahaya jauhnya. Penulisnya bilang, apa yang kita lihat di langit malam sebenarnya adalah masa lalu. Cahaya bintang yang sampai ke mata kita adalah cahaya dari jutaan tahun yang lalu.
Saya berpikir, mungkin hubungan saya dan Kayla juga seperti itu. Mungkin apa yang saya rasakan sekarang adalah sisa-sisa cahaya dari masa kecil kami yang indah. Sementara di masa sekarang, bintang kami sudah saling menjauh, bergerak menuju galaksi yang berbeda.
Tiba-tiba, ada yang menarik kursi di depan saya. Itu Dara.
"Belum ke rumah Kayla?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Lagi nunggu, Dara. Ada rapat mading katanya," jawab saya.
Dara menatap saya dengan matanya yang datar namun tajam. "Kamu tahu tidak, Bumi? Di dalam astronomi, ada yang disebut dengan Bintang Ganda. Dua bintang yang saling mengorbit satu sama lain. Mereka terlihat sangat dekat, tapi sebenarnya mereka tidak pernah benar-benar bersentuhan. Kalau salah satu massanya menjadi terlalu besar, dia akan menghisap massa bintang yang satunya sampai bintang itu hilang."
Saya menutup buku saya. "Maksud kamu, Arkan itu bintang yang massanya besar dan saya bintang yang sedang dihisap?"
"Saya tidak bilang begitu. Saya cuma bilang, jangan biarkan dirimu habis hanya untuk menjaga orbit orang lain yang bahkan tidak sadar kalau kamu ada di sana," kata Dara, lalu dia membuka bukunya sendiri dan mulai membaca.
Saya terdiam. Dara ini kalau bicara suka sekali pakai metafora yang bikin kepala saya pusing. Tapi ada benarnya juga.
Sudah satu jam berlalu. Kayla belum juga datang. Saya mengecek ponsel saya. Tidak ada pesan sama sekali. Saya memutuskan untuk naik ke lantai dua, menuju ruang mading.
Koridor lantai dua sudah gelap. Hanya lampu di ruang mading yang menyala. Saya berjalan mendekat secara perlahan. Lewat celah pintu, saya melihat mereka. Mereka tidak sedang rapat. Arkan sedang mengajarkan Kayla cara menggunakan software desain di laptop. Tangan Arkan berada di atas tangan Kayla yang sedang memegang mouse, membimbingnya menggerakkan kursor.
Mereka tertawa bersama. Dekat sekali. Terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang sedang mengerjakan proyek sekolah.
Saya tidak mengetuk pintu. Saya tidak marah-marah. Saya cuma berdiri di sana, di kegelapan koridor, merasakan suhu tubuh saya mendingin lebih cepat daripada suhu udara di luar.
Saya berbalik dan berjalan menuruni tangga. Saya keluar menuju parkiran, menyalakan Si Kumbang yang untungnya kali ini langsung hidup, dan memacunya keluar dari sekolah. Saya tidak pergi ke rumah Kayla. Saya pulang ke rumah saya sendiri.
Malam itu, gerimis turun lagi. Saya duduk di ambang jendela kamar, melihat tetesan air yang menempel di kaca. Ponsel saya bergetar. Sebuah pesan dari Kayla.
"Bumi! Maaf banget ya, tadi rapatnya kebablasan. Kamu masih di perpustakaan? Aku baru mau ke sana."
Saya mengetik balasan dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Saya sudah di rumah, Kay. Tiba-tiba sakit perut tadi. Kita kerjain tugasnya besok saja di sekolah."
"Ya ampun, sakit apa? Mau aku anterin obat ke rumah?" balasnya cepat.
"Tidak usah. Cuma butuh istirahat saja. Tidur ya, Kay. Besok kita ketemu."
Saya melempar ponsel ke atas kasur. Saya tidak sakit perut. Yang sakit adalah sesuatu yang lebih dalam dari itu, sesuatu yang tidak bisa disembuhkan dengan obat maag atau air hangat.
Saya menyadari bahwa jarak terjauh antara dua orang bukanlah ribuan kilometer, melainkan saat kita duduk di meja yang sama tapi pikiran kita sudah berada di pelukan orang lain.
Nama saya Bumi. Dan malam ini, saya belajar bahwa terkadang, menjauh adalah satu-satunya cara untuk tetap utuh. Karena kalau saya terus mendekat, saya takut saya akan hancur menabrak kenyataan bahwa saya bukan lagi pusat dunia bagi Kayla.