Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran
Najma dan Bhagawad (I)
Sudah hampir dua tahun aku tak bertemu dengan Aga, lelaki yang pernah kusayang sampai mati. Lelaki yang membuat usia dua puluh satu tahunku begitu klimaks dan penuh emosi.
Apa kabarkah ia?
Apa yang sedang ia lakukan sekarang?
Ketika aku melihat bintang terang di langit Jakarta, apakah ia melihat bintang yang sama di tempatnya kini?
Apakah ia selalu mengingatku ketika melihat langit malam yang terkadang gelap atau bahkan terang benderang?
Kini ia menikah, pasti ia sudah bahagia.
Aku tahu bahwa pernikahan antara Aga dan pacarnya pasti terjadi. Bagaimanapun keadaannya, ia pasti akan menikahi perempuan itu. Perempuan yang pernah mengataiku jalang dan mengumpulkan teman-temannya yang tidak tahu apa-apa untuk membenciku.
Aga, apakah engkau pernah memikirkanku setelah bersamanya?
**
Najma umur dua satu, ketika pulang kuliah sore hari
Pukul 4 sore di hari Jumat adalah saat yang paling buruk berada di kampus. Suasana yang sudah sepi dan kantin yang sudah tutup membuatku ingin cepat-cepat pulang ke kosan dan bertemu teman-teman di tempat makan langganan. Aku yang berjalan malas mencoba menerima kenyataan bahwa harus berjalan kaki satu kilometer jauhnya menuju tempatku tidur selama menjadi mahasiswa.
“Naaajma…”
Aku menoleh kearah suara, ternyata si Mas manis berkacamata. Perasaanku langsung senang bukan kepalang.
Loh? Kok aku senang ya?
“Hai, Aga. Kok masih di kampus?”
“Iya. Baru selesai kelas marketing. Lo juga tuh, abis nongkrong, ya?”
“Idih.” Aku tersenyum simpul, begitupun Aga. Aku mencuri pandang kearahnya, tak mau melewatkan kesempatan melihat senyumannya dari jarak tiga puluh senti meter ini.
“Balik yuk, bareng.”
Perasaan senangku naik level dua.
Aku berjalan melambat di belakang Aga agar bisa melihat punggungnya yang sangat bidang itu. Lelaki yang begitu sempurna tampak belakang, membuat pemandangan di hari Jumatku seperti musim semi dengan bunga sakura yang menghambur di setiap kami melangkah.
“Jarang ya orang ngambil kelas di hari Jumat?”
“Yap!” Aku menjawab semangat. Ia menoleh ke arahku dan tertawa. Aku berusaha keras untuk menahan betapa aku begitu ingin loncat kegirangan bisa berjalan pulang bersamanya.
“Setiap Jumat sore, gue selalu jalan sendirian ke kosan seperti ini, dan gue nggak pernah lihat lo sebelumnya.”
Aga menoleh dan memperlambat langkahnya untuk menyamaiku. “Karena biasanya gue nebeng mobil temen.” Sembari memperbaiki posisi tas punggungnya ia berujar, “Tapi ketika gue lihat lo tadi gue memutuskan ikut jalan kaki aja. Sepertinya lebih menyenangkan.”
Aku diam sejenak menatapnya, lalu tersenyum simpul. “Walau sendiri, tetap menyenangkan kok. Kadang gue mengisi waktu gue berjalan kaki dengan banyak bertanya sama diri gue sendiri. Seperti kenapa daun di pepohonan yang kita lewati nggak pernah mengering, kenapa manusia nggak berlari ketika merasa santai untuk mencapai tujuannya, apa nada spesial yang dipakai sama musisi ketika ingin menciptakan perasaan sedih, dan lain-lain.”
Aga tiba-tiba berhenti melangkah, lalu aku menoleh kepadanya.
“Kenapa?”
“Kok lo kepikiran sih, Najma?”
Aku diam berfikir untuk menemukan jawabannya, tapi ternyata tidak ada. Aku tersenyum dan mengangkat bahu saja.
Aga mempercepat langkahnya menuju aku dan menatapku tidak seperti biasanya.
“Kenapa?” pertanyaanku yang kedua kepada Aga.
“Terus lo nemu jawabannya?”
“Secara harfiah, iya. Tapi secara emosi, belum. Hehe.”
Aku kembali melangkah ke depan yang juga diikuti Aga, seakan ia menunggu jawabanku berikutnya.
“Tentang daun yang mengering, sebenarnya pasti akan terjadi di setiap pohon yang masih hidup. Daun-daun di pepohonan akan beradaptasi sesuai perubahan musim. Di Indonesia, pohon akan menggugurkan daunnya yang sudah mengering di musim kemarau, apalagi ketika sama sekali nggak turun hujan. Jadi intinya, dedaunan pasti mengering pada waktunya.”
“Terus kenapa lo bilang daun di pohon-pohon ini nggak mengering?”
“Karena setiap gue lihat, mereka tetap hijau dan asri. Mereka tetap bikin sejuk perjalanan gue setiap gue pulang kuliah. Mungkin karena kota ini nggak pernah panas dan selalu sejuk, jadi mereka pun senang dan nggak pernah kekeringan.”
“Gue tahu sih jawaban yang lo inginkan.”
“Apa?” Aku menoleh cepat padanya.
“Karena lo hanya satu semester untuk berjalan kaki di jalanan ini, selebihnya kan lo nggak tahu kapan mereka kering dan gugur.”
Kamu tahu, Aga?
Mungkin alasan dedaunan ini tak pernah mengering karena adanya manusia seperti dirimu yang selalu menyejukkan cuaca sehingga dedaunan pun akan selalu subur setiap waktu.
Terima kasih, Aga, untuk selalu tersenyum semanis itu.
**
Sejak saat itu, aku selalu pulang berdua dengan Aga setiap Jumat sore. Lalu berlanjut pulang setiap saat kami memiliki jadwal pulang kuliah yang sama. Kemudian tanpa disadari, ia menungguku untuk selalu pulang bersama meskipun selang waktu pulang adalah satu jam lamanya.
“Bhaaaa…gawad.” Panggilku lirih menuju telinga kanannya.
“Hih, geli.” Sambutnya tertawa. Aku duduk di sampingnya dan menaruh tas tanganku dengan buku-buku besar yang tak bisa kumasukkan ke dalam tas yang lusuh itu.
“Mau makan? Suasana hati gue saat ini sedang membara. Jadi, mari kita makan bakso!”
“Kenapa membara?”
“Besok presentasi individu. One step closer ahead to graduation!”
“Selamat, ya! Gue baru ketemu anak kuliahan yang seneng banget mau presentasi. Saran gue sih, Najma, jangan terlalu rajin. Nggak baik untuk kesehatan.”
“Hahaha! Baik Mas Aga. Akan aku pertimbangkan.”
Aga turun dari tempat duduknya, lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku turun. Aku bertanya dengan mataku apa yang ia lakukan walau sebenarnya aku sudah tahu dan ia mampu membacaku.
“Aku bantuin kamu turun, cepetan.”
“Terima kasih.”
“Kamu kurus tapi berat ya ternyata.”
“Badanku isinya tulang beton. Jadi maklum aja.”
Aku sedikit penasaran, apakah ini waktunya untuk mengganti kosakata dialog antara aku dengannya? Level gue-elo kini berubah aku-kamu yang biasanya adalah suatu perubahan status. Mengapa begini, Tuhan? Aku tak sanggup.
Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku menyukainya sejak ia nyata di depan wajahku.
**
Najma dan Bhagawad di kedai bakso.
“Najma.”
“Iya?” sahutku sambil terus menyendok sambal.
“Jangan banyak-banyak nanti sakit.”
“Idih, perhatian banget.”
“Bukan gitu, aku cuma nggak mau kamu sakit.”
Hatiku rasanya seperti penuh dengan air soda, meletup-letup dan menimbulkan sensasi balon yang terbuat dari busa sabun.
“Iya, udah kok. Nggak akan nambah lagi.”
Lagu yang tak aku kenali berbunyi dari ponsel Aga yang tersimpan di meja. Aku sempat melihat nama sang penelepon yang terasa asing bagiku dan cukup membuatku berdegup kencang.
Rosie.
Aga pun terbangun dari duduknya dan bergegas keluar. Gestur seperti itu cukup menunjukkan siapa Rosie untuknya. Aku harus bersiap untuk yang terburuk.
Lima menit kemudian Aga kembali dan tersenyum manis kepadaku. Ia kembali melanjutkan sesi makannya dan sempat melirikku kilat dan kembali menatap baksonya. Gestur yang makin membuatku yakin Rosie bukan sekadar penelepon biasa untuknya.
“Pacar?” tanyaku sambil memotong bakso ukuran bola tennis di mangkok kecil ini.
“Kenapa?” tanyanya balik seperti tidak mendengarku.
Aku tersenyum, “Itu pacar kamu?”
Aga menunduk, “Iya.”
“Namanya siapa?”
“Rosie. Pacarku dari SMA.”
“Wah, lama juga ya. Udah enam tahun, dong?”
“Empat tahun.”
Nafsu makanku hilang begitu saja. Aku tak ingin lagi melihatnya. Aku ingin segera pergi dan menumpahkan semua isi mangkok bakso yang dimakan di kedai ini ke kepadanya, seluruhnya. Termasuk bakso yang dimakan oleh bapak-bapak pojok sana yang terus mencampur baksonya dengan kecap manis hingga habis di botol.
Tapi aku tidak seimpulsif itu. Aku masih bersabar dan menahan semua perasaanku dalam-dalam. Menguburnya hingga tak tercium baunya lagi. Menghilangkannya sekuat tenaga hingga aku bisa kembali berjalan seperti biasa lagi.
“Dia kuliah dimana? Satu kota? Kayak gimana orangnya?”
Aga sempat menatapku sejenak, seperti meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak apa-apakah jika ia memberitahu semuanya kepadaku. Aku tahu benar Aga tidak akan berbohong kepadaku karena itu bukan sifatnya. Aku cukup tahu bahwa Aga sangat menghargaiku sebagai manusia. Aku bersiap untuk yang terburuk, jika memang apa yang kudengar kini bukan puncak kesedihan yang akan kurasakan nanti.
**
Najma dan Bhagawad saat hari libur
Lampu menyala menerangi satu studio dan perlahan seluruh orang yang duduk menikmati film fantasi dengan durasi tayang hampir tiga jam itu pun berhamburan keluar. Aga menahanku untuk pergi setelah keramaian sedikit menghilang, lalu menarik lenganku pelan untuk mengikuti langkahnya keluar. Malam ini Aga mengajakku nonton bioskop di dekat kampus. Aku mengiyakan ajakannya yang cukup mendadak dan tidak memberitahunya bahwa aku sudah menonton film ini sebelumnya, kemarin bersama teman-teman satu kelas.
Percayalah, aku punya alasannya.
“Aku antar kamu pulang aja, ya? Udah malem.” Ujar Aga.
“Boleh,”
Lalu aku diam dan menyibukkan diri menghitung langkah kami berdua. Ia menoleh ke arahku dan memperhatikan apa yang sedang aku lakukan.
Sampailah aku dan Aga di depan pagar kosanku dengan pagar warna hitam. Karena pagar kosan cukup tinggi dengan konsep pagar geser, aku harus memanggil Mbak Kosan untuk membukakan pagar yang sudah dikunci karena sudah lewat dari jam sepuluh malam.
“Oke, terima kasih sudah menemani nonton.” Sahutnya sambil melambaikan tangan kepadaku. Aga hendak pergi namun kutahan tangannya. Aku tidak ingin Aga pergi begitu saja.
“Kenapa?”
“Aga.”
“Iya?”
“Sebenernya aku udah nonton film ini kemarin. Tapi aku nggak bilang kamu.”
“Loh! Kenapa?”
Aku diam saja. Aku merasa jawabanku tidak akan membantu untuk mengungkapkan apa yang sedang bergumul di pikiranku.
“Aga.”
“Kenapa, Najma? Kalau kamu bilang kita kan bisa nonton yang lain.”
Aku mendongak menatapnya. Bertanya padanya tentang maksud pernyataan barusan.
“Apa yang kita lakukan ini, bukan berteman. Kamu merasakan hal yang sama juga, kan?”
Aga diam. Ia tersenyum kepadaku.
“Aku punya perasaan yang cukup rumit buat kamu, Ga. Jadi, lebih baik aku nggak ketemu kamu lagi.”
“Kenapa?”
“Karena kamu punya pacar.”
Aga tiba-tiba menggenggam kedua tanganku. Ia menyatukan seluruh jemarinya dan merekatkannya hingga berdesir seluruh darahku di dalam badan.
“Aku yang suka sama kamu, Najma.”
Aku kembali menatap matanya dalam kegelapan temaram malam, mengecek apakah dalam kalimat tersebut menyimpan kebohongan. Apakah yang ia ucapkan jujur dan benar-benar nyata. Aku tak percaya lelaki yang begitu kusukai dari awal malahan mengungkapkan perasaannya padaku.
“Aku mencoba untuk nggak menghubungi kamu, tapi nggak bisa. Aku mencoba untuk nggak menunggu kamu di kampus, tapi nggak bisa. Setiap ke perpus atau ke kantin, aku selalu mencari kamu. Aku benar-benar pengen ketemu kamu setiap hari.”
“Kamu punya pacar.”
“Aku tahu harusnya kita nggak bisa gini, tapi apa yang aku rasakan buat kamu ini beda, baru untuk aku. Aku nggak bisa kehilangan kamu.”
“Tapi kamu punya pacar.”
Aga diam, ia seperti mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengatakan sesuatu yang sejujurnya aku tak ingin mendengarnya. Aku ingin mendorongnya jauh hingga seluruh tembok rumah seberang kami runtuh karena tenaga super yang aku keluarkan untuk menyingkirkan Aga.
“Aku sama dia udah lama, tapi aku nggak pernah merasakan apa yang aku rasakan sama kamu, Najma. Perasaanku untuk kamu, aku nggak menyangka akan sedalam ini.”
“Aku nggak bisa ketemu kamu lagi, Aga. Kamu punya pacar. “
“Aku akan milih kamu.”
“Apa?”
“Aku akan milih kamu.” Ujarnya lagi, begitu mantap hingga aku tak bisa membuka mulutku.
**