NovelToon NovelToon
Dark Crown: Devil'S Bride

Dark Crown: Devil'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Coldmaniac

‎"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."

‎Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
‎Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
‎Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.

‎Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.

‎Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.

‎Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Perjamuan Para Pendosa

HUJAN di Roma telah berhenti, meninggalkan udara yang tajam, dingin, dan berbau tanah basah yang terperangkap di celah-celah batu kuno. Istana Kardinal Moretti, sebuah bangunan Barok yang megah di dekat bayang-bayang Kastil Sant'Angelo, tampak seperti mercusuar cahaya di tengah kegelapan malam. Lampu-lampu obor di sepanjang gerbang masuk menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding batu, sementara barisan mobil mewah—limusin hitam dan SUV berlapis baja—mengular di sepanjang jalan menuju alun-alun pribadi.

Di dalam mobil Alfa Romeo yang tersembunyi di balik barisan kendaraan tamu, Aria menatap pantulan dirinya di kaca spion kecil. Ia mengenakan gaun malam berwarna putih mutiara yang sangat kontras dengan tema kegelapan yang biasanya ia pakai. Gaun itu memiliki siluet yang tajam, elegan, namun menyembunyikan sesuatu di balik lipatan kain di pahanya: pistol Beretta kecil dan sebuah alat pemancar data satelit.

"Kau siap?" suara Dante terdengar rendah, sebuah getaran bariton yang selalu berhasil menenangkan badai di dalam diri Aria.

Aria menoleh. Dante mengenakan tuksedo hitam dengan kemeja putih tanpa dasi, memberikan kesan pemberontak namun sangat berwibawa. Di matanya tidak ada keraguan, hanya fokus yang mematikan. "Aku tidak pernah merasa seberani ini seumur hidupku, Dante. Jika kita akan jatuh, pastikan kita membuat suara yang akan diingat sejarah."

Dante menggenggam tangan Aria, meremasnya kuat. "Kita tidak akan jatuh. Kita akan membakar tempat ini dari dalam. Ingat instruksiku: kau tetap di dekat Kardinal. Begitu lampu berkedip dua kali, itu tandanya Marco telah memutus jaringan transmisi internal mereka dan menggantinya dengan frekuensi kita."

Aria mengangguk. Mereka keluar dari mobil, melangkah menuju pintu masuk istana dengan kepala tegak. Di gerbang, puluhan pengawal Scorpion XIII berdiri dengan senjata yang disembunyikan di balik jas mereka. Mereka memeriksa Dante dan Aria dengan detektor logam, namun Dante memiliki cara-cara tersendiri untuk menyelundupkan pisau keramik yang tidak terdeteksi mesin.

Aula utama istana Kardinal adalah perpaduan antara kemegahan religius dan kekayaan haram. Langit-langitnya dihiasi dengan lukisan fresco tentang penghakiman terakhir, sementara meja-meja panjang di bawahnya dipenuhi dengan makanan paling mahal dari seluruh penjuru Eropa. Sekitar tiga puluh orang berada di sana—para anggota elit The Circle, politisi tingkat tinggi, dan beberapa wajah yang Aria kenali dari daftar Project Phoenix.

Kardinal Moretti berdiri di tengah ruangan, memegang tongkat emasnya, tersenyum menyambut tamu-tamunya seolah-olah ia adalah gembala bagi domba-domba yang taat, bukan serigala yang sedang memimpin kawanan.

"Ah, keponakanku tercinta dan istrinya yang luar biasa," sapa Kardinal saat Dante dan Aria mendekat. "Kalian datang. Itu adalah tanda bahwa kalian telah membuat keputusan yang bijaksana."

"Keputusan untuk mengakhiri drama ini, Paman," sahut Dante dengan nada yang ambigu.

Lord Sterling dan Count Volkov berdiri di samping Kardinal, menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan rasa superioritas. "Kami harap kalian membawa hadiah yang kami minta," ucap Sterling sambil menyesap sampanyenya.

"Kami membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kepatuhan, Lord Sterling," jawab Aria, suaranya jernih dan terdengar ke seluruh penjuru ruangan yang mulai sunyi. "Kami membawa kejujuran."

Kardinal sedikit mengernyit. "Kejujuran adalah konsep yang berbahaya di ruangan ini, Aria. Mari kita bicara di balkon pribadi, jauh dari telinga-telinga yang terlalu ingin tahu."

Mereka berjalan menuju balkon besar yang menghadap ke Basilika Santo Petrus. Angin malam yang dingin menyapu wajah Aria, namun ia tidak bergidik. Di bawah sana, di kegelapan Roma, ia tahu Marco dan timnya sedang berjuang untuk menyusup ke ruang server bawah tanah istana ini.

"Berikan catatannya, Dante," perintah Kardinal, suaranya tidak lagi tenang. Ada nada ancaman yang nyata di sana. "Atau aku pastikan malam ini akan berakhir dengan tragedi yang menyedihkan bagi klan Moretti."

Dante melangkah maju, tangannya masuk ke saku celananya. "Catatan itu? Catatan itu adalah milik keluarga Moretti, Paman. Kakekku menyimpannya agar klan ini tetap memiliki taring. Kau ingin mengambilnya hanya untuk menyelamatkan kursimu di Vatikan."

"Aku melakukannya untuk 'The Circle'!" teriak Kardinal. "Tanpa organisasi ini, klanmu hanyalah sekelompok preman jalanan di Sisilia! Kami adalah otak yang menggerakkan tubuhmu!"

"Kalau begitu," Aria menyela, ia mengeluarkan alat pemancar kecil dari saku gaunnya. "Mari kita lihat apa yang terjadi jika tubuh ini memutuskan untuk berhenti mengikuti otak yang busuk."

Tepat saat itu, lampu-lampu di seluruh istana berkedip dua kali.

Tiba-tiba, monitor-monitor besar yang dipasang di aula utama untuk menampilkan karya seni religius berubah menjadi hitam. Suara denging statis terdengar, lalu sebuah file raksasa mulai terunggah ke layar, serta ke setiap ponsel tamu yang hadir di sana.

Itu adalah isi dari Project Phoenix.

Nama-nama hakim, nomor rekening rahasia, foto-foto pertemuan gelap di Sisilia, dan yang paling mematikan: rekaman audio Kardinal Moretti yang sedang memerintahkan pembunuhan terhadap seorang jaksa anti-mafia lima tahun lalu.

Kekacauan pecah di aula bawah. Teriakan panik dan suara gelas pecah terdengar hingga ke balkon. Para politisi yang namanya muncul di layar mulai berebut mencari jalan keluar, sementara para anggota The Circle saling menatap dengan penuh kecurigaan.

"Apa yang kau lakukan?!" wajah Kardinal Moretti berubah menjadi merah padam karena murka. Ia mengangkat tongkat emasnya, hendak memukul Dante.

Dante menangkap tongkat itu dengan satu tangan dan mematahkannya seolah-olah itu hanyalah kayu lapuk. "Aku memberikan dunia apa yang mereka butuhkan, Paman. Sebuah cermin untuk melihat betapa buruknya kalian."

Count Volkov mengeluarkan pistolnya, namun sebelum ia sempat membidik, sebuah peluru dari penembak jitu Marco di kejauhan menghantam tangannya, membuat senjatanya terlempar.

"Scorpion XIII! Bunuh mereka sekarang!" teriak Lord Sterling sambil berlari menuju pintu keluar.

"Aria, lewat sini!" Dante menarik Aria menuju tangga layanan di sisi balkon.

Mereka berlari menuruni tangga yang sempit saat suara tembakan mulai mengguncang istana. Para pengawal Scorpion XIII mulai merangsek masuk, membalas tembakan dari tim Marco yang kini sudah berada di dalam halaman istana.

Istana yang megah itu dalam sekejap berubah menjadi zona perang. Debu marmer berterbangan, lukisan-lukisan tak ternilai harganya hancur dihujam peluru, dan teriakan orang-orang yang terluka memenuhi udara.

Dante melepaskan tembakan dengan pistol di kedua tangannya, melindungi Aria yang terus bergerak di belakangnya. "Kita harus sampai ke gerbang belakang! Ada mobil yang menunggu!"

Saat mereka sampai di aula utama yang kini sudah hancur, mereka dihadang oleh sekelompok pengawal elit yang dipimpin oleh pria dengan tato kalajengking yang sama dengan yang di perpustakaan.

"Moretti! Kau tidak akan keluar hidup-hidup dari sini!" teriak pemimpin pengawal itu sambil mengokang senapan serbunya.

Aria menarik napas panjang. Ia teringat pistol di pahanya. Dengan gerakan yang lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan, ia menarik Beretta-nya dan menembak lampu gantung raksasa di atas para pengawal itu.

CRAAAKKK!

Lampu gantung kristal seberat dua ton itu jatuh menghantam lantai, menghancurkan para pengawal di bawahnya dalam tumpukan kaca dan logam. Suasana menjadi gelap total seketika.

"Bagus, Aria! Lari!" Dante menarik tangannya.

Mereka menembus kepulan debu dan asap, keluar melalui gerbang belakang menuju jalanan Trastevere yang sunyi. Sebuah mobil SUV hitam sudah menunggu dengan mesin yang menderu. Marco ada di sana, wajahnya berlumuran darah namun ia masih tersenyum.

"Masuk! Cepat!" teriak Marco.

Mobil itu melesat menjauhi istana tepat saat suara sirine polisi dan helikopter mulai mengepung area tersebut. Dante menoleh ke belakang, melihat istana Kardinal yang kini diselimuti asap hitam.

Empat Jam Kemudian: Perbatasan Italia-Swiss

Mereka duduk di dalam sebuah van logistik yang sudah dimodifikasi, sedang menuju jalur pegunungan yang aman. Aria bersandar di bahu Dante, tubuhnya gemetar hebat karena guncangan adrenalin yang mulai surut. Gaun putihnya kini tercoreng debu dan noda darah, namun matanya memancarkan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Kita melakukannya," bisik Aria. "Daftar itu sudah menyebar ke setiap kantor berita utama di dunia. The Circle tidak akan bisa menutupinya kali ini."

Dante mencium kening Aria, tangannya membelai rambut istrinya yang berantakan. "Kau baru saja meruntuhkan kekaisaran yang sudah berdiri selama ratusan tahun, Aria. Mulai besok, dunia mafia tidak akan pernah sama lagi."

"Apa yang akan terjadi pada Kardinal?"

"Dia sudah selesai. Vatikan tidak akan mau berhubungan dengan pria yang rekamannya memerintahkan pembunuhan tersebar luas. Jika dia beruntung, dia akan dipenjara. Jika tidak... rekan-rekannya di The Circle yang belum tertangkap akan memastikan dia tidak bicara lebih banyak lagi," jawab Dante dingin.

Dante menatap ke luar jendela, ke arah puncak-puncak gunung Alpen yang mulai terlihat di bawah sinar rembulan. "Tapi kita juga harus menghilang, Aria. Moretti bukan lagi sekadar klan mafia. Kita adalah target nomor satu bagi sisa-sisa The Circle di seluruh dunia."

Aria mengambil tangan Dante, menatap cincin zamrud hitam di jarinya. "Selama kita bersama, aku tidak peduli ke mana kita pergi. Kita sudah tidak punya rumah lagi, Dante. Tapi kita punya satu sama lain."

Dante menarik Aria ke dalam pelukannya yang hangat. "Aku sudah menyiapkan sebuah tempat. Sebuah pulau kecil di lepas pantai Yunani yang tidak terdaftar di peta mana pun. Di sana, tidak akan ada Kardinal, tidak ada Scorpion XIII, dan tidak ada Vane. Hanya ada kita."

Aria tersenyum, menutup matanya dan membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan pria yang awalnya ia anggap sebagai monster, namun ternyata adalah penyelamat jiwanya.

Satu Tahun Kemudian

Suara ombak yang lembut menghantam bebatuan di bawah balkon sebuah vila putih kecil di pulau terpencil. Langit Yunani berwarna biru cerah, tanpa setitik awan pun. Aria berdiri di sana, mengenakan gaun katun putih yang sederhana, sedang menyesap kopi sambil menatap cakrawala.

Ia tidak lagi memegang pistol. Di meja di sampingnya, terdapat sebuah buku hukum internasional dan beberapa dokumen tentang yayasan sosial yang ia kelola secara anonim untuk membantu korban perdagangan manusia di Eropa Timur.

Langkah kaki yang lembut terdengar dari belakang. Dante muncul, mengenakan kemeja linen tipis dan celana pendek. Rambutnya sedikit lebih panjang, dan wajahnya tampak jauh lebih rileks, meskipun matanya masih memiliki ketajaman yang sama.

Ia memeluk Aria dari belakang, menaruh tangannya di perut Aria yang mulai membuncit sedikit—sebuah rahasia kecil yang baru mereka ketahui sebulan lalu.

"Kau memikirkan Roma lagi?" tanya Dante pelan.

Aria menyandarkan kepalanya di dada Dante. "Terkadang. Tapi rasanya seperti mimpi buruk dari kehidupan orang lain. Sekarang, ini adalah kenyataanku."

"Berita pagi ini mengatakan sisa-sisa keluarga Lucchese di New York telah menyatakan bangkrut secara total," Dante berbisik. "Kemenanganmu di istana itu masih terus bergema."

Aria tersenyum. Ia menoleh dan mencium bibir suaminya. "Kita menang, Dante. Bukan hanya perang itu, tapi hidup kita."

Dante menarik Aria lebih dekat, menatap laut Mediterania yang luas. Ia menyadari bahwa kekuasaan yang sesungguhnya bukan terletak pada berapa banyak peluru yang ia miliki atau berapa banyak orang yang takut padanya. Kekuasaan yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk melindungi kehidupan kecil yang kini sedang tumbuh di dalam rahim istrinya.

Sumpah berdarah itu memang telah berakhir. Namun, sumpah cinta mereka baru saja dimulai setiap harinya, di bawah sinar matahari yang tidak pernah mengenal kegelapan mafia.

END SEASON 1

1
Nida Saefullah
kerenn....
awesome moment
tekad yg 👍👍👍
awesome moment
👍👍👍
Nida Saefullah
👍💪
fitri ani
luar biasa
Coldmaniac: terima kasihhh
total 1 replies
awesome moment
blm slesekan? kpn lanjutnya?
Coldmaniac: ditunggu yaaaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!