Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: JEJAK MASA LALU
Ha-neul berlari sepanjang malam.
Kakinya terasa seperti dipukul palu, dadanya terbakar, tapi ia tidak berhenti. Ketakutan yang memancar dari suara gurunya membuatnya terus bergerak, menjauhi Lembah Bayangan, menjauhi lelaki tua berjubah hitam dengan mata elang itu.
Fajar mulai merekah saat ia akhirnya tiba di lereng gunung di belakang gudangnya. Ia jatuh berlutut di rerumputan basah embun, terengah-engah. Tangannya gemetar.
"Guru... siapa sebenarnya orang itu?"
Hyeol-geon melayang keluar dari cincin. Sosoknya tampak lebih pucat dari biasanya—jika arwah bisa pucat. Matanya yang merah meredup, seperti bara yang hampir padam.
"Jang Cheon-soo. Seratus dua puluh tahun lalu, kami bertiga dikenal sebagai Tiga Iblis Besar Murim. Aku, Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah. Dia, Jang Cheon-soo, Iblis Bayangan. Dan satu lagi, yang paling tua dan paling kuat, Maeng Ho-ryeon, Iblis Naga Hitam."
Ha-neul duduk di tanah, berusaha mengatur napas sambil mendengarkan.
"Kami bertiga bukan sekutu. Lebih tepatnya... tiga puncak yang saling menjaga jarak. Masing-masing punya wilayah dan murid. Sesekali bertarung, sesekali bekerja sama jika ada ancaman bersama. Tapi persahabatan? Tidak."
"Lalu kenapa Guru takut padanya?"
Hyeol-geon tersenyum getir. "Takut? Mungkin. Tapi lebih tepatnya waspada. Jang Cheon-soo adalah ahli dalam ilmu bayangan dan ilusi. Ia bisa menyembunyikan keberadaannya, membaca pikiran lawan, dan yang paling berbahaya—ia bisa melihat energi. Ia punya mata ketiga yang terbuka secara alami."
"Mata ketiga?"
"Semacam kemampuan bawaan. Ia bisa melihat aliran Qi, termasuk energi makhluk halus. Seperti aku. Jika kita terlalu dekat, ia bisa mendeteksi keberadaanku meski aku di dalam cincin."
Ha-neul merinding. "Tadi aku hanya beberapa langkah darinya."
"Itu sebabnya kau harus pergi cepat. Siapa tahu ia sudah mencium sesuatu." Hyeol-geon menghela napas panjang. "Tapi ada yang aneh. Mengapa ia ada di Lembah Bayangan? Tempat itu terlalu rendah untuk seseorang sepertinya. Ia pasti punya tujuan."
"Apa mungkin... mencari sesuatu?"
"Atau seseorang." Hyeol-geon menatap Ha-neul tajam. "Mungkin ia mencari murid. Atau mencari... aku."
Ha-neul terdiam. Bayangan masa lalu gurunya ternyata masih hidup, dan mungkin sedang merangkak mendekat.
---
Di Lembah Bayangan, saat matahari mulai naik, Jang Cheon-soo masih duduk di sudut kamp. Di hadapannya, Goo Dae-chul—algojo yang dikalahkan Ha-neul—berlutut dengan kepala tertunduk.
"Jelaskan sekali lagi," kata Jang Cheon-soo dengan suara pelan tapi berwibawa. "Gerakan terakhirnya."
Dae-chul menggigil. "Ia menusuk di sini, Tuan." Ia menunjuk titik di antara tulang rusuknya. "Seketika napas saya hilang, lutut lemas. Saya tidak bisa bergerak."
Jang Cheon-soo mengangguk pelan. "Titik akupuntur Qi-men. Sangat akurat. Bocah itu tahu persis di mana harus menusuk. Dan dengan pedang kayu pula."
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir. Pikirannya bekerja cepat.
"Teknik menusuk titik vital seperti itu... itu ciri khas Iblis Pedang. Hyeol-geon. Tapi Hyeol-geon sudah mati seratus tahun lalu." Ia mengerutkan kening. "Atau jangan-jangan..."
Ia menatap Dae-chul lagi. "Kau bilang bocah itu kurus, pakaian tambalan, tapi matanya tajam?"
"Benar, Tuan."
"Dan ia pergi ke arah utara?"
"Lari cepat sekali, Tuan. Seperti dikejar setan."
Jang Cheon-soo tersenyum tipis. Senyum yang tidak nyaman dilihat. "Menarik. Sungguh menarik."
Ia melambaikan tangan. "Kau boleh pergi."
Dae-chul bangkit dan pergi dengan lega. Jang Cheon-soo kembali duduk, matanya menerawang.
"Hyeol-geon... jika kau masih hidup dalam bentuk arwah... di mana kau bersembunyi? Dan bocah itu... murid barumu?"
Ia mengambil segenggam tanah, membiarkannya mengalir di sela jari.
"Aku punya waktu. Aku bisa menunggu. Dan jika kau benar-benar ada..." Matanya berkilat. "Mungkin kita bisa menyelesaikan urusan lama."
---
Dua hari berlalu. Ha-neul kembali ke rutinitasnya: lari pagi, latihan fisik, tusukan malam. Tapi Hyeol-geon melarangnya kembali ke Lembah Bayangan.
"Kita cari tempat lain untuk ujian. Yang lebih aman."
Ha-neul mengangguk, meski sedikit kecewa. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya setelah pertarungan dengan Dae-chul. Rasa percaya diri mulai tumbuh. Ia tahu, meski masih lemah, ia punya senjata rahasia: pengetahuan Hyeol-geon tentang titik-titik vital manusia.
Namun, di klan, masalah lain mulai bergulir.
---
Kang Dae-ho duduk di kamarnya, membaca laporan dari Sung-min. Alisnya naik saat membaca bagian tertentu.
"Dia pergi semalam suntuk?" tanyanya.
Sung-min mengangguk. "Iya, Tuan Muda. Saya pantau, ia pergi sekitar jam sembilan malam, baru kembali jam lima pagi. Badannya kotor, seperti habis berguling di tanah."
Dae-ho mengerutkan kening. "Ke mana?"
"Saya tidak bisa mengikuti terlalu dekat. Tapi arahnya ke pegunungan belakang. Mungkin ke Lembah Bayangan."
Dae-ho terkejut. "Lembah Bayangan? Tempat kumuh para kriminal itu?"
"Benar. Saya dengar dari beberapa orang, di sana sering ada pertarungan liar. Orang-orang bertaruh."
Dae-ho diam, merenung. Lalu ia tersenyum. Senyum jahat.
"Sampah itu ternyata punya nyali juga. Pergi ke sarang singa." Ia mengetuk-ngetuk meja. "Tapi kenapa? Apa yang ia cari di sana?"
"Apa perlu saya selidiki lebih lanjut, Tuan Muda?"
"Tentu." Dae-ho menyandarkan tubuh. "Tapi hati-hati. Jangan sampai ketahuan. Dan kalau bisa... cari tahu apa yang ia lakukan di sana. Lawan siapa. Menang atau kalah."
Sung-min mengangguk dan pergi.
Dae-ho menatap langit-langit, pikirannya berputar.
"Kang Ha-neul... kau menyembunyikan sesuatu. Dan aku akan mencari tahu, apa pun itu."
---
Malam harinya, Ha-neul sedang berlatih tusukan di tempat rahasianya. Tiba-tiba Hyeol-geon berkata, "Kau sedang diawasi."
Ha-neul berhenti, tapi tidak menoleh. "Dari mana?"
"Balik semak, sekitar seratus langkah di kirimu. Satu orang. Napasnya pelan, tapi aku bisa mendengar detak jantungnya."
"Pengawas Dae-ho?"
"Mungkin. Atau mungkin kiriman orang lain."
Ha-neul berpikir cepat. Jika ia pura-pura tidak tahu, mereka akan terus mengawasi. Jika ia menghadapi, ia akan membuka diri.
"Jangan lakukan apa pun. Lanjutkan latihan seolah kau tidak tahu. Biarkan mereka melihat kau hanya berlatih dasar."
Ha-neul mengangguk dalam hati. Ia melanjutkan tusukannya, kali dengan gerakan yang lebih lambat dan kaku—seperti pemula sungguhan.
Di balik semak, Kang Sung-min mencatat: "Berlatih tusukan dasar. Gerakan kaku, tidak seperti ahli. Mungkin hanya anak kecil yang bermain-main."
Ia mengawasi selama satu jam lagi, lalu pergi.
Setelah ia pergi, Ha-neul menghela napas lega.
"Untuk sementara, mereka akan berpikir kau tidak berbahaya. Tapi kau harus lebih hati-hati. Mulai sekarang, kita ganti tempat latihan setiap beberapa hari."
Ha-neul mengangguk. "Guru... apakah kita akan baik-baik saja?"
Hyeol-geon diam sejenak. "Kita akan baik-baik saja selama kita tetap cerdik. Muridku dulu bilang: 'Di dunia persilatan, yang bertahan bukan yang terkuat, tapi yang paling waspada.'"
"Apa itu murid pertamamu? Baek Ah-jin?"
"...Iya."
Ha-neul tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menggenggam pedang kayunya dan kembali berlatih.
Di langit, awan hitam mulai berkumpul. Badai akan datang.