Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Rahasia di Balik Pagar Dharmawangsa
Suasana di ruang tamu keluarga Danola mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding kayu yang berdetak ritmis. Paul Danola meletakkan kopernya di samping sofa dengan gerakan perlahan, matanya tidak lepas dari sosok Dimas yang berdiri tegak di hadapannya. Sebagai seorang pengusaha yang terbiasa membaca lawan bicara, Paul merasakan aura yang aneh dari pria di depannya bukan aura seorang dokter biasa yang sedang melakukan kunjungan pasien, melainkan sesuatu yang jauh lebih berwibawa namun tertekan.
"Paman Doktel! Paman Doktel!" Sean menarik-narik celana kain Paul, memecah keheningan yang kaku itu. "Paman Doktel tadi bantu Sean lari-lari!"
Kathryn berdiri dengan gugup, jemarinya meremas pinggiran gaunnya. "Kak Paul, ini Dokter Dimas. Beliau tadi yang mengantarkan Sean pulang karena Sean sempat keluar pagar sendirian. Dan... Dokter Dimas juga ingin meminta maaf soal kejadian di rumah sakit tempo hari."
Paul menaikkan sebelah alisnya, lalu beralih menatap adiknya. "Begitu? Onty Kath sepertinya sangat senang menerima tamu sore ini."
"Bukan begitu, Kak. Tadi hanya..." Kathryn tidak melanjutkan kalimatnya, wajahnya sudah merona merah karena godaan kakaknya.
Paul kemudian menatap Dimas kembali, kali ini dengan tatapan yang lebih ramah namun tetap tegas. "Duduklah, Dokter Dimas. Jangan berdiri terus seperti sedang diinterogasi. Kathryn, tolong ambilkan es krim lagi untuk Sean, sepertinya rahasia es krim yang tadi dia bicarakan sudah ketahuan lewat noda cokelat di pipinya itu."
Kathryn tersentak, lalu melihat pipi Sean. Benar saja, ada bekas cokelat yang mengering. Ia segera menggendong Sean dengan gemas. "Ayo, Sean! Kita cuci muka dulu. Paman Doktel mau bicara dengan Papa Paul."
"Onty Kath! Es klimnya satu lagi, ya?" celoteh Sean saat mereka berjalan menuju dapur.
Setelah Kathryn dan Sean menghilang di balik pintu dapur, Paul menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia melonggarkan dasinya, lalu menatap Dimas dengan saksama. "Terima kasih sudah menjaga Sean dan mengantarnya pulang, Dokter. Saya tahu Sean itu anak yang aktif, terkadang Kathryn memang kewalahan menghadapinya sendirian."
"Sama-sama, Pak Paul. Sean anak yang cerdas. Saya hanya kebetulan lewat daerah sini," jawab Dimas dengan sopan.
Paul terkekeh kecil. "Kebetulan? Dharmawangsa bukan daerah yang dilewati orang secara kebetulan kalau tujuannya bukan ke sini, Dokter. Tapi saya mengerti. Kathryn menceritakan sedikit tentang apa yang terjadi di lobi rumah sakit kemarin. Tentang istri Anda."
Dimas terdiam sejenak, ia merasa harga dirinya sedikit terusik namun ia tahu Paul tidak bermaksud menghina. "Saya benar-benar menyesal atas perilaku istri saya. Dia memang... sedang dalam tekanan bisnis yang besar, sehingga emosinya tidak stabil."
"Anda pria yang sangat sabar, Dokter Dimas," ujar Paul, suaranya merendah. "Atau mungkin terlalu sabar. Saya melihat cara Anda menatap adik saya tadi sebelum saya masuk. Ada rasa syukur di mata Anda, seolah-olah mengobrol dengan Kathryn adalah satu-satunya hal waras yang Anda lakukan hari ini."
Dimas tertegun. Ia tidak menyangka Paul akan sefrontal itu. "Saya hanya merasa nyaman mengobrol dengan Kathryn. Dia memiliki ketulusan yang jarang saya temukan di lingkungan saya."
Paul terdiam cukup lama, ia menatap ke arah foto keluarga yang tergantung di dinding. "Kathryn itu adalah segalanya bagi keluarga ini. Dia bukan hanya adik bagi saya, tapi dia adalah nyawa di rumah ini sejak ibu kami meninggal. Itulah alasan dia begitu dekat dengan Sean. Dia memiliki naluri keibuan yang sangat kuat meskipun usianya masih muda. Dia... dia pernah mengalami kekecewaan yang besar di masa lalu, Dokter."
Dimas menyimak dengan saksama. "Kekecewaan?"
"Dulu, dia pernah hampir bertunangan dengan seorang pria yang hanya mengincar nama besar keluarga Danola. Saat bisnis Papa saya sempat goyang beberapa tahun lalu, pria itu pergi begitu saja. Sejak saat itu, Kathryn sangat tertutup pada pria. Dia lebih memilih menghabiskan waktunya dengan buku dan Sean," cerita Paul. Ia lalu menatap Dimas tajam. "Jadi, jika Anda hanya mencari pelarian dari masalah rumah tangga Anda, saya mohon... jangan jadikan Kathryn sasarannya. Dia terlalu berharga untuk menjadi sekadar tempat curhat bagi suami orang."
Kalimat Paul terasa seperti tamparan bagi Dimas. Ia tersadar bahwa posisinya saat ini memang sangat ambigu. Ia adalah suami sah Reina, namun ia justru mencari kedamaian di rumah gadis lain.
"Saya menghormati Kathryn lebih dari yang Anda bayangkan, Pak Paul. Saya tidak memiliki niat buruk apa pun," tegas Dimas.
Di dapur, Kathryn sedang mencuci wajah Sean sembari sesekali mencuri dengar pembicaraan di ruang tamu. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ada rasa hangat yang aneh menyelimuti hatinya setiap kali ia mengingat bagaimana Dokter Dimas menatapnya tadi. Bagi Kathryn, Dokter Dimas adalah sosok yang begitu sempurna namun tampak begitu kesepian. Ia ingin sekali menghibur pria itu, namun ia tahu ada batas tak terlihat yang bernama pernikahan yang menghalangi mereka.
"Onty Kath, kenapa melamun? Airnya tumpah-tumpah!" teriak Sean, membuyarkan lamunan Kathryn.
"Eh, maaf, Sayang," Kathryn buru-buru mematikan keran.
Tak lama kemudian, ia membawa nampan berisi camilan tambahan ke ruang tamu. Ia melihat Paul dan Dimas sedang bersalaman, seolah-olah mereka baru saja mencapai sebuah kesepakatan rahasia antar pria.
"Saya rasa saya harus pamit sekarang. Terima kasih atas jamuannya, Pak Paul, Kathryn," ujar Dimas.
"Dokter Dimas mau pulang?" tanya Kathryn, ada nada kecewa yang terselip dalam suaranya yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Dimas menatap Kathryn, lalu tersenyum tipis. "Iya, sudah hampir malam. Jaga kesehatan, Kathryn. Dan Sean, jangan makan es krim diam-diam lagi ya?"
Sean hanya tertawa sambil bersembunyi di balik kaki Kathryn. "Siap, Paman Doktel!"
Perjalanan pulang menuju rumah terasa sangat lama bagi Dimas. Pikirannya bercabang antara peringatan Paul dan kenyataan pahit yang menunggunya di rumah. Begitu ia memarkirkan mobilnya, ia melihat lampu ruang tengah menyala terang. Pintu depan terbuka bahkan sebelum ia sempat menyentuh gagang pintunya.
Reina berdiri di sana dengan gaun tidurnya yang tipis, namun wajahnya tidak menunjukkan keinginan untuk beristirahat. Ia memegang ponsel Dimas yang tertinggal di atas meja makan tadi pagi.
"Dari mana kamu, Dimas?" tanya Reina dengan nada dingin yang menusuk.
"Aku sudah bilang, aku ada urusan medis," jawab Dimas lelah.
"Urusan medis sampai jam sembilan malam? Dan kenapa ada notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal yang bertanya 'Apakah Sean sudah sampai di rumah dengan selamat?'" Reina menunjukkan layar ponsel itu ke depan wajah Dimas.
Dimas tertegun. Itu pasti pesan dari perawat bangsal yang juga dekat dengan Sean, atau mungkin staf administrasi. Namun bagi Reina, itu adalah barang bukti kejahatan.
"Itu dari staf rumah sakit, Reina. Jangan berlebihan," Dimas mencoba melewati istrinya, namun Reina menahan lengannya dengan kuat.
"Berlebihan? Kamu pikir aku bodoh? Kamu pasti menemui gadis kampung itu lagi, kan? Siapa namanya? Kathryn?" Reina meludah dengan jijik. "Hebat ya, sekarang kamu sudah berani main di belakangku. Padahal kamu itu cuma sampah yang aku pungut untuk jadi suamiku!"
Dimas melepaskan tangan Reina dengan sekali sentakan kuat. "Cukup, Reina! Aku diam bukan berarti aku takut padamu. Aku diam karena aku masih menghargai status kita. Tapi jika kamu terus menghina orang-orang yang tidak bersalah, aku tidak akan tinggal diam."
"Oh, kamu mau apa? Mau menceraikanku? Silakan! Kamu mau makan apa setelah keluar dari rumah ini? Kamu mau tinggal di kolong jembatan dengan gaji dokter rendahanmu itu?" tantang Reina dengan tawa mengejek.
Dimas menarik napas panjang, mencoba menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. "Mungkin itu yang terbaik, Reina. Mungkin kamu memang perlu tahu bagaimana rasanya kehilangan segala sesuatu yang kamu banggakan."
Reina terpaku sejenak melihat kilat di mata Dimas yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Namun, kesombongannya kembali mengambil alih. "Jangan menggertakku, Dimas! Kamu tidak akan berani!"
Dimas tidak menjawab. Ia masuk ke dalam kamar, mengambil sebuah tas kecil, dan memasukkan beberapa pakaiannya. Malam itu juga, ia memutuskan untuk keluar dari rumah tersebut. Ia tidak tahan lagi.
Saat ia melangkah keluar dari pintu rumah, ia melihat Reina yang masih berdiri dengan wajah angkuh, tidak menyadari bahwa di dalam saku jas Dimas, terdapat dokumen pengambilalihan aset cafe miliknya yang tinggal menunggu tanda tangan terakhir untuk dieksekusi.
Dimas memacu mobilnya menjauh. Ia tidak menuju rumah sakit, melainkan berhenti di sebuah taman yang sepi. Ia menatap layar ponselnya, jemarinya ragu sejenak, sebelum akhirnya ia mencari nomor telepon yang baru saja ia simpan dari kartu nama yang diberikan Paul tadi.
Di bawah sinar bulan yang temaram, Dimas merasa ia baru saja melepaskan rantai yang selama ini membelit lehernya. Namun ia tahu, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan entah kenapa, wajah Kathryn yang tersenyum saat menggendong Sean menjadi satu-satunya motivasi baginya untuk benar-benar menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰