Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Permata yang patah.
Malam itu, perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya. Aska tidak lagi mengejek, ia hanya menyetir dengan satu tangan sementara tangan lainnya menopang dagu, sesekali melirik Nana yang tampak kosong menatap aspal.
"Besok jangan ke sana lagi kalau hanya untuk jadi keset kaki," ucap Aska datar saat mobil berhenti di depan apartemen Nana.
Nana tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, turun dari mobil, dan melambaikan tangan tanpa tenaga. Ia tidak tahu bahwa Aska tetap diam di sana, memperhatikan punggungnya sampai ia benar-benar masuk ke lobi.
Nana melemparkan tasnya ke kasur. Apa yang harus ia lakukan dengan kedekatan Tris dan Elli? Status tunangan sudah berlangsung lebih dari satu tahun, namun Tris selalu marah ketika Nana bertanya kapan mereka bisa menikah.
“Elli, kenapa kau datang kembali setelah pergi?”
Benci, tidak mungkin Nana tidak membenci gadis tidak tahu malu menempel pada tunangan orang lain seperti parasit. Keberadaannya menginjak-injak Nana melebihi kotoran anjing.
Notifikasi bank masuk ke ponsel Nana, sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya.
Suami Penyihir: [Nana, uang bulan ini sudah Papa kirim. Berhematlah, Ibu tirimu marah karena kau sangat boros. Cobalah kau mencari kerja.]
Nana mengeluarkan ekspresi jijik setelah membaca pesan itu.
Nana: [Perhatian Papa pada Nana cuman berupa kiriman uang tidak seberapa. Kalau aku kerja, maka Papa akan melupakan aku selamanya. Aku tidak ingin Penyihir Cerewet itu menikmati semua uang papaku! Aku tunggu kiriman bulan depan, atau aku akan datang ke rumah kalian.]
Walaupun sudah berusia 23 tahun, Nana tidak mau berkerja. Sebelum papanya menikah, Nana dengan senang hati menjadi kasir minimarket. Tapi setelah Penyihir Cerewet datang, keberadaan Nana seperti dilupakan. Penyihir Cerewet sengaja menciptakan jarak antara ayah dan anak. Maka Nana memutuskan berhenti berkerja, dengan begitu ia bisa memangkas uang belanja Penyihir Cerewet.
"Elli dan Penyihir Cerewet memiliki kesamaan. Jangan-jangan mereka adalah ibu dan anak yang terpisah."
Nana meringis, memikirkan kedua wanita itu secara bersamaan membuat kepalanya semakin berdenyut keras.
Keesokan harinya, Nana sedang merapikan kotak perhiasannya. Ia menggunakan celemek dan bandana seperti milik para pelayan kerajaan di komik. Jangan salah, harga celemek dan bandana itu cukup mahal, karena biasanya digunakan untuk cosplay di event-event tertentu.
Saat ponsel bergetar, Nana melepaskan kemoceng dari tangannya begitu nama Tris My Heart tertera di layar. Cepat ia membukanya, jangan sampai telat merespons atau cinta Tris akan berkurang.
Tris My Heart: [Na, nanti malam aku ke apartemenmu. Ada yang mau diomongin.]
Nana tersenyum kecil. Dia mau menemuiku. Mungkin dia ingin minta maaf soal semalam.
Nana memungut kembali kemocengnya. Dari cuman ingin membersihkan meja rias, menjadi membersihkan seluruh ruangan sampai ke titik-titik kecil.
"Nanti malam!" Nana kegirangan memikirkan kata-kata itu. Di dalam otaknya, sudah tergambar makan malam romantis dengan lilin di tengah-tengah meja.
"Tris ingin memberikan aku kejutan, aku akan pura-pura tidak tahu."
Setelah bersih-bersih, Nana membuka lemari, membutuhkan waktu lama baginya untuk memilih pakaian. Akhirnya ia memilih dua opsi. Setelah Tris datang nanti, Nana akan memintanya memilih salah satu untuk dipakai.
Sesuai janji, Tris datang. Namun, senyum Nana memudar saat melihat Elli berdiri di samping Tris dengan gaun pesta marun yang sangat elegan. Mereka tampak seperti pasangan sempurna yang siap menghadiri gala besar.
"Nana," panggil Elli dengan suara manis yang selalu terdengar palsu di telinga Nana. "Maaf ya ganggu waktumu. Begini, malam ini ada pesta ulang tahun sahabatku, temanya Royal Red. Tapi aku tidak punya aksesori yang pas."
Nana mengernyit. "Lalu?"
Tris berdehem, melangkah maju. "Aku ingat kau punya kalung ruby peninggalan ibumu, Na. Elli lihat kalung itu dari media sosialmu. Dia bilang kalungmu akan sangat pas dengan gaunnya."
Mata Nana terbelalak, ia tidak siap mendengarkan kata-kata selanjutnya yang mudah sekali di tebak.
"Bisa kau pinjamkan padanya? Hanya semalam saja," lanjut Tris.
Darah Nana terasa berhenti mengalir. "Apa? Pinjamkan kalung Ibu? Tris, kau tahu itu satu-satunya barang yang tersisa dari Ibuku. Aku bahkan jarang memakainya karena takut rusak."
"Cuma semalam, Nana! Jangan pelit begitu," potong Tris kasar. "Elli akan menjaganya. Lagipula, kau kan tidak pergi ke mana-mana malam ini. Daripada tersimpan di kotak, lebih baik dipakai untuk hal yang berguna."
"Ini bukan soal berguna atau tidak, Tris. Ini soal kenangan!" suara Nana mulai meninggi.
Elli memasang wajah sedih, menyentuh lengan Tris pelan. "Sudahlah Tris, kalau Nana tidak mau, jangan dipaksa. Aku pakai kalung imitasi saja tidak apa-apa, meskipun mungkin aku akan sedikit malu di depan teman-temanku..."
Melihat "kesedihan" Elli, emosi Tris tersulut. Ia menerobos masuk ke kamar Nana meskipun Nana mencoba menghalanginya.
"Tris! Jangan!"
Tris menggeledah meja rias Nana dengan kalap. Ia menemukan kotak beludru merah itu. Saat Nana mencoba merebutnya, terjadi aksi tarik-menarik. Tris yang emosi kehilangan kendali, ia menyentak tangan Nana dengan kuat hingga Nana terjerembap ke lantai.
Krak!
Kotak itu terlempar, menghantam sudut lemari jati yang keras. Kalung dengan liontin ruby merah itu terpental keluar. Liontinnya retak menjadi dua bagian, dan rantai emas tipisnya putus tak beraturan.
Hening.
Nana mematung di lantai, menatap pecahan batu merah yang kini tak bernyawa di atas karpet. Itu adalah kalung yang dipasangkan ibunya sebelum meninggal, janji bahwa Nana akan selalu dicintai.
"Ops..." Elli menutup mulut dengan tangan, pura-pura terkejut.
Tris terdiam sesaat, ada sedikit rasa bersalah di matanya, tapi egonya jauh lebih besar. "Lihat? Itu karena kau menariknya terlalu keras. Kalau kau pinjamkan baik-baik sejak tadi, ini tidak akan terjadi."
Nana mendongak. Tidak ada air mata. Hanya ada tatapan kosong yang membuat Tris merasa merinding.
"Keluar," bisik Nana.
"Na, aku bisa ganti batunya—"
"KELUAR!" teriak Nana dengan seluruh tenaga yang ia punya.
Tris mendengus, menarik tangan Elli. "Ayo El, dia sedang gila. Kita beli yang baru saja untukmu. Barang lama memang sudah seharusnya dibuang."
Pintu apartemen tertutup dengan dentuman keras. Nana merangkak, mengumpulkan serpihan ruby yang hancur itu ke dalam telapak tangannya. Dadanya sesak, seolah ada sesuatu yang ikut patah di dalam sana.
Anehnya ia tidak bisa menangis padahal benda berharganya hancur. Cuman ada kehampaan di dadanya. Telinga berdengung membentuk goresan-goresan kebencian pada Tris. Ia sangat kesakitan sampai penglihatannya menggelap.
Nana mencengkram kuat pecahan batu Ruby, batu itu menjadi lebih merah oleh darah Nana.
"Ibu... sekarang kenangan darimu tinggal ingatan di otakku."
Bersambung....