Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Luna terpaku di tempatnya, jemarinya meremas kertas catatan yang kini terasa panas di genggamannya. Kalimat Zayn barusan bukan sekadar sindiran; itu adalah peluru yang tepat sasaran. Di belakangnya, tawa tertahan dari Arlo dan teman-teman Zayn lainnya terdengar seperti riuh rendah pengadilan yang menyudutkannya.
Luna ingin membalas. Ia ingin berteriak bahwa ia dikurung, bahwa ia menangis sampai tertidur setiap malam karena tidak bisa menemuinya saat pemakaman itu. Namun, harga dirinya sebagai seorang Storm—dan rasa takut akan dua pengawal yang mungkin mengawasinya dari kejauhan—menahan lidahnya.
"Ayo, Zayn! Cabut sekarang, keburu suhu aspalnya nggak enak buat ban baru lu!" teriak Ben sambil memakai helmnya.
Zayn tidak menoleh lagi. Ia menghidupkan mesin motornya. Suara raungan mesin custom itu memecah kesunyian lorong fakultas, seolah sengaja menenggelamkan isak tangis yang hampir pecah dari bibir Luna. Dalam satu tarikan gas, Zayn melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan aroma bensin yang menyesakkan dada.
Malam yang Panjang di Mansion Storm
Malam itu, Luna duduk di meja belajarnya. Buku anatomi terbuka lebar, namun pikirannya tertahan pada cara Zayn menatapnya tadi siang. Tidak ada sisa kasih sayang, hanya ada kekecewaan yang telah membeku menjadi kebencian.
Pintu kamarnya diketuk. Alexander Storm masuk tanpa menunggu izin. Ia menatap putrinya dengan pandangan menilai.
"Ayah dengar kau berpapasan dengan anak Graciano itu di kampus tadi siang," suara Alexander terdengar berat dan penuh wibawa.
Luna tidak bergeming dari kursinya. "Itu hanya kebetulan, Ayah. Kertas catatanku jatuh."
"Jangan ada kebetulan kedua, Luna," Alexander berjalan mendekat, meletakkan tangannya di bahu Luna—sebuah gestur yang lebih terasa seperti cengkeraman daripada pelukan. "Aku sudah mendengar kabar bahwa Zayn mulai terlibat dalam taruhan balap liar yang berbahaya sejak kematian ayahnya. Dia putus asa dan tidak punya masa depan. Jangan biarkan masa depanmu yang cerah ikut terbakar bersamanya."
"Dia berduka, Ayah. Apa Ayah tidak punya rasa empati sedikit pun?" suara Luna bergetar.
"Empati adalah kelemahan dalam bisnis. Dan kau adalah investasi terbaik keluarga ini," jawab Alexander dingin sebelum melangkah keluar dan kembali mengunci pintu dari luar. Klik.
Luna menghempaskan diktat anatominya ke atas meja kayu yang dipelitur sempurna. Ia tidak memiliki nyali seperti Hera. Saudaranya itu mungkin sudah melompati jendela atau menyogok pengawal, tapi Luna? Ia hanyalah produk gagal dari didikan tangan besi Alexander Storm. Ketakutannya pada sang ayah adalah jangkar yang menahannya untuk lari. Ia hanya bisa meringkuk di sudut ranjang, memeluk lututnya, dan membiarkan air mata jatuh tanpa suara, setiap tetesnya terasa seperti permohonan maaf yang tak tersampaikan pada Zayn.
Di sisi lain kota, di dalam gudang tua yang pengap di pesisir Malibu, keheningan justru terasa lebih menyakitkan daripada deru mesin. Bau oli, bensin, dan kepulan asap rokok menggantung pekat, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Arlo dan Ben sudah pergi sejak satu jam lalu, meninggalkan Zayn sendirian dalam kegelapan yang hanya ditembus cahaya lampu neon yang berkedip-kedip gelisah.
Zayn duduk di sofa usang, bertelanjang dada. Cahaya redup itu menyapu tubuh atletisnya, menonjolkan setiap lekuk otot dan bekas luka yang ia dapatkan dari aspal jalanan. Namun, pemandangan paling menyakitkan ada di dada kirinya, tepat di atas detak jantungnya yang tak beraturan.
Sebuah tato baru. Terukir nama "Luna" dengan jenis huruf yang sangat elegan, seolah disalin langsung dari surat cinta lama, namun dikelilingi oleh kawat berduri yang tajam dan kelam. Kawat itu seolah mencekik nama itu, sebagaimana kenyataan mencekik harapan mereka.
Zayn menyentuh permukaan kulit yang masih sedikit meradang itu dengan jemarinya yang kasar dan ternoda oli. Rasa perihnya terasa nyata, namun tak sebanding dengan lubang menganga di jiwanya. Ia menekan telapak tangannya kuat-kuat ke arah nama itu, seolah ingin memaksa nama Luna meresap lebih dalam ke tulang rusuknya—atau justru merobeknya keluar.
"Sialan," bisik Zayn, suaranya parau, pecah oleh beban rindu yang tertahan.
Ia teringat wajah Luna di kampus tadi. Wajah yang begitu ia puja, kini tampak begitu pucat dan terasing di balik barisan pengawal bersetelan gelap yang menjaganya layaknya barang berharga, bukan manusia. Bagi Zayn, ketakutan di mata Luna bukan hanya karena Alexander Storm, melainkan karena Luna tidak cukup berani untuk menggenggam tangannya. Ia merasa hanya menjadi pelarian sementara, sebuah petualangan liar bagi sang putri mahkota sebelum kembali ke pelukan takdirnya yang membosankan.
Zayn meneguk wiski dari botolnya, membiarkan cairan itu membakar kerongkongannya. Ia selalu berjanji pada hatinya bahwa mencintai wanita seperti Luna Storm adalah kesalahan paling fatal. Air dan minyak tidak akan pernah menyatu; mawar dan aspal tidak akan pernah bisa berdampingan tanpa salah satunya hancur.
"Mencintai itu... ternyata sakit sekali," gumamnya, matanya mulai memerah.
Seumur hidup, Zayn adalah pemberi. Ia memberikan nyawanya untuk teman-temannya, baktinya untuk mendiang ayahnya, dan seluruh napasnya untuk Luna. Namun, setelah pengkhianatan diam-diam Luna yang tidak muncul di saat dunianya runtuh dua tahun lalu, Zayn merasa habis.
Ia hanya ingin dicintai secara utuh. Bukan karena ia liar, bukan karena ia pewaris kekayaan yang hilang, tapi dicintai sebagai Zayn yang manusiawi. Ia ingin seseorang yang berani berdiri di samping motornya di depan gerbang mansion Storm, bukan seseorang yang membiarkan catatan kuliahnya jatuh dan dipungut layaknya sampah di depan banyak orang.
"Kau hanya ingin bagian indahnya saja, Luna," ucap Zayn pada bayangan gelap di sudut ruangan. "Kau ingin sensasi menjadi pacar seorang anak motor, tapi kau tidak pernah siap untuk ikut berdarah bersamaku saat mesin ini mati."
Zayn berdiri, berjalan menuju cermin retak yang merefleksikan kehancurannya. Tato nama Luna itu seolah mengejeknya—berkilau indah di tengah kegelapan, mengingatkannya pada setiap ciuman panas di bawah hujan dan janji-janji manis yang kini terasa seperti racun.
Amarah dan rindu berperang di dadanya. Zayn meraih pisau lipat di meja, menempelkan logam dingin itu di pinggiran tato namanya. Untuk sedetik, ia ingin menghapus jejak Luna dari tubuhnya agar ia bisa bebas. Namun, tangannya gemetar hebat. Bahkan dalam puncak kebenciannya, ia tidak sanggup melukai nama itu.
Ia jatuh berlutut, menyandarkan dahinya pada kaca cermin yang dingin. Air mata yang ia tahan sejak pemakaman ayahnya akhirnya tumpah, membasahi tato di dadanya.
"Aku butuh kau mencintaiku, Luna... tapi kau terlalu pengecut untuk melakukannya," bisiknya lirih, hancur berkeping-keping.
Malam itu, sang raja The Pit itu tumbang. Bukan karena balapan, tapi karena aroma vanila dari rambut seorang gadis yang kini hanya bisa ia temukan dalam mimpi buruknya. Selama nama itu masih terukir di atas jantungnya, Zayn tahu dia akan selalu menjadi pria yang menunggu—menunggu sesuatu yang mustahil untuk kembali.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰