Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DILAHIRKAN KEMBALI DI PAGI HARI
Malam itu, kesunyian rumah kembali pecah, namun bukan oleh keheningan yang menyesakkan seperti dulu. Sekitar pukul dua pagi, suara tangisan Arlo melengking, menembus dinding kamar tamu yang ditempati Rosa.
Arsen, yang tidurnya kini tidak lagi nyenyak karena naluri barunya, langsung terjaga. Ia menyambar kaosnya dan bergegas menuju kamar depan. Di sana, ia melihat Rosa sedang duduk di pinggir tempat tidur dengan mata setengah terpejam, mencoba menimang Arlo yang wajahnya sudah memerah karena menangis.
"Sini, Ros. Biar aku yang gantian," ucap Arsen lembut sambil melangkah masuk ke kamar.
Rosa mendongak, tampak kaget sekaligus lega. "Eh, kamu bangun, Sen? Padahal besok harus ke kantor pagi-pagi."
"Nggak apa-apa. Aku sudah biasa begadang dua tahun ini, bedanya sekarang ada tujuannya," jawab Arsen sambil mengulurkan tangan untuk mengambil Arlo dari dekapan Rosa.
Ajaibnya, begitu berpindah ke pelukan Arsen, tangis Arlo perlahan mereda menjadi isakan kecil. Arsen mulai berjalan mondar-mandir di dalam kamar, menepuk-nepuk lembut punggung bayi itu sambil membisikkan kata-kata penenang.
"Kamu istirahat saja dulu. Tadi kan kamu sudah mengurusnya seharian," tambah Arsen.
Rosa memperhatikan punggung Arsen yang kokoh. Ada pemandangan yang menyentuh hatinya—pria yang tadinya kehilangan harapan, kini sedang menggendong harapan barunya di bawah remang lampu kamar.
"Ternyata kamu berbakat jadi Ayah, Sen," bisik Rosa pelan sebelum ia kembali merebahkan kepalanya di bantal.
Arsen tersenyum kecil di kegelapan. Sambil menatap wajah Arlo yang mulai tenang, ia berbisik lirih, "Tidur yang nyenyak, Nak. Ayah ada di sini."
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi pemandangan paling damai yang pernah Rosa lihat dalam dua tahun terakhir. Saat ia membuka mata, ia mendapati Arsen tertidur pulas di atas karpet tebal di samping tempat tidurnya—sepertinya ia tak tega meninggalkan kamar setelah menenangkan Arlo semalam.
Yang membuat hati Rosa benar-benar meleleh adalah posisi Arlo. Bayi kecil itu tertidur sangat tenang di atas dada bidang Arsen. Napas mereka seirama, naik dan turun dengan teratur. Tangan mungil Arlo menggenggam erat jari telunjuk Arsen, seolah tak mau melepaskan jangkar keselamatannya.
Rosa tersenyum sangat lebar. Ia berjingkat pelan agar tidak menimbulkan suara, lalu menyelimuti kaki Arsen yang sedikit kedinginan sebelum keluar kamar.
Di dapur, Rosa memulai aktivitasnya dengan perasaan ringan. Ia menyalakan kompor, menyiapkan bahan-bahan sarapan sederhana yang dibeli Arsen kemarin. Suara desis penggorengan dan aroma kopi yang mulai menyeruak memenuhi ruangan, menciptakan suasana rumah yang sesungguhnya.
"Sepertinya rumah ini benar-benar sudah bangun dari tidurnya," gumam Rosa sambil memecahkan telur ke wajan.
Sambil menunggu masakan matang, Rosa sesekali melirik ke arah kamar, membayangkan dua "jagoannya" itu masih terlelap. Ada rasa syukur yang besar karena ia memutuskan untuk tetap tinggal. Ia tidak sabar melihat ekspresi Arsen saat terbangun nanti dan menyadari bahwa hidupnya bukan lagi tentang kesendirian.
Aroma bawang putih goreng dan kopi yang kuat perlahan merayap masuk ke dalam kamar, menggelitik indra penciuman Arsen. Ia mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih berceceran. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat yang menempel di dadanya—sebuah beban yang jauh lebih bermakna daripada rasa sesak yang menghimpitnya selama dua tahun terakhir.
Di atas dadanya, "kembaran kecilnya"—Arlo—juga mulai menggeliat. Bayi itu membuka matanya yang bulat, menatap langsung ke arah Arsen. Mereka saling berpandangan dalam keheningan pagi, seolah-olah sedang berkomunikasi lewat batin antara dua jiwa yang dipertemukan oleh takdir.
"Pagi, Jagoan," bisik Arsen dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Arlo hanya menjawab dengan celotehan kecil yang tak jelas, namun tangannya sibuk menggapai-gapai wajah Arsen, mencubit hidungnya dengan jemari mungil yang kuat. Arsen terkekeh, ia bangkit perlahan dengan sangat hati-hati, memastikan Arlo tetap aman dalam dekapannya.
Ia berjalan menuju dapur dengan langkah yang masih agak limbung. Di sana, ia melihat Rosa yang tampak segar dengan rambut yang dikuncir kuda, sedang sibuk memindahkan nasi goreng ke atas piring.
"Wah, dua jagoan ini sudah bangun ternyata," sambut Rosa dengan senyum cerah yang mengalahkan sinar matahari pagi. "Pantas saja baunya sampai ke kamar, ya? Arlo pasti lapar."
Arsen mendekat, membiarkan Arlo melihat apa yang dilakukan Rosa. "Iya, bau masakanmu itu alarm paling ampuh, Ros. Lebih mempan daripada jam weker mana pun."
"Sini, biar aku ambil Arlo. Kamu mandi dulu saja, kamu harus segera ke kantor kan?" Rosa mengulurkan tangannya, namun Arlo justru semakin erat mencengkeram kemeja Arsen.
Arsen tersenyum bangga. "Sepertinya dia masih mau sama ayahnya, Ros. Biar aku gendong dulu sebentar sambil kamu siapkan meja."
Rosa tertawa melihat tingkah "kembaran" itu. Memang benar, jika dilihat lebih dekat, meski tidak memiliki ikatan darah, ada kemiripan antara mereka—ketenangan di mata mereka dan cara mereka merespons satu sama lain.
"Dua tahun aku melihat rumah ini seperti kuburan, Sen," ucap Rosa sambil meletakkan piring-piring di meja makan. "Tapi pagi ini, melihat kalian berdua seperti ini... rasanya seperti melihat keajaiban. Kamu benar-benar sudah kembali."
Arsen terdiam, menatap Arlo yang kini asyik memainkan kancing kemejanya. "Aku bukan hanya kembali, Ros. Aku merasa baru saja dilahirkan kembali. Dan terima kasih sudah menyiapkan semua ini. Kamu membuat rumah ini benar-benar terasa seperti rumah."
Pagi itu, di meja makan yang sederhana, mereka bertiga menikmati sarapan pertama mereka sebagai "keluarga". Tidak ada lagi bayang-bayang kesedihan masa lalu, yang ada hanyalah rencana tentang popok yang harus dibeli, jadwal imunisasi Arlo, dan harapan-harapan baru yang mulai tumbuh subur di setiap sudut rumah yang kini telah kembali hangat.
Rosa menghentikan suapannya sejenak, menatap Arsen dengan ekspresi yang lebih serius di sela-sela obrolan sarapan mereka.
"Ngomong-ngomong, Sen, kamu ada teman pengacara kan? Coba tanya sama dia soal Arlo," ucap Rosa sambil menunjuk kecil ke arah bayi yang sedang duduk tenang di pangkuan Arsen.
Arsen menghentikan gerakan sendoknya, mendengarkan dengan seksama.
"Dia harus punya dokumen legal agar bisa sekolah kalau sudah besar nanti. Kita tidak bisa membiarkannya tanpa identitas selamanya," tambah Rosa lagi, menekankan pentingnya masa depan Arlo.
Arsen mengangguk pelan, menyadari bahwa tanggung jawabnya kini bukan hanya soal memberi makan dan tempat tinggal, tapi juga memastikan hak-hak Arlo sebagai warga negara terpenuhi. "Kamu benar, Ros. Aku hampir lupa soal itu karena terlalu fokus dengan urusan rumah. Aku ada teman kuliah dulu yang sekarang buka firma hukum. Namanya Rendy. Aku akan coba hubungi dia nanti siang dari kantor."
Aku sudah mencatat rencana ini agar kamu tidak lupa untuk menghubungi teman pengacaramu terkait dokumen legalitas Arlo.