NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bathera Diatas Awan

Kapal nelayan tua itu membelah ombak Samudera Hindia dengan suara mesin uap yang ritmis, sebuah detak jantung mekanis yang kasar di tengah kesunyian laut yang kini mencekam. Di atas dek yang berlumut dan licin oleh air garam, Adam Satria berdiri menatap ke arah utara. Angin laut yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun pikirannya berada jauh di tempat lain di puncak-puncak es Himalaya yang menyimpan rahasia tentang proyek Nephilim.

Dunia yang mereka tinggalkan di belakang kini sedang berada dalam fase kolaps yang aneh. Tanpa jaringan satelit Hage emon yang mengatur segalanya, navigasi kapal menjadi tantangan murni antara manusia dan alam. Tidak ada lagi GPS. Tidak ada lagi pembaruan cuaca real-time. Adam harus mengandalkan sexa tan tua dan peta bintang, sebuah ironi bagi seorang pria yang pernah mendesain algoritma prediksi masa depan di lantai 88.

"Kau memikirkan mikro dip itu lagi?" Liora muncul dari balik palka, membawa dua gelas plastik berisi kopi hitam yang aromanya sangat kuat—satu-satunya kemewahan yang tersisa di kapal ini.

Adam menerima gelas itu, membiarkan uap panasnya menghangatkan wajahnya yang kaku. "Nephilim, Liora. Jika riset Unit 731 di Manchuria adalah tentang melampaui batas rasa sakit fisik, maka Nephilim adalah tentang menghapuskan rasa sakit itu sama sekali dengan cara mematikan kemanusiaan di dalam selnya. Mereka bukan lagi manusia yang dimodifikasi. Mereka adalah entitas baru yang menggunakan tubuh manusia sebagai cangkang kosong."

Liora menyandarkan tubuhnya pada pagar besi kapal. "Aku pernah mendengar cerita dari kakekku, yang dulu bekerja di laboratorium bawah tanah di Harbin. Dia bilang, para ilmuwan di sana tidak hanya membedah tubuh. Mereka mencoba mencari 'titik nol' kesadaran. Mereka percaya bahwa jika mereka bisa mengisolasi ruh, mereka bisa menggantinya dengan frekuensi murni yang bisa diprogram. The Ark of Silence di Himalaya... itu bukan sekadar tempat persembunyian. Itu adalah pabrik pemrosesan terakhir."

Adam menatap cairan hitam di gelasnya. "Dan mereka ingin membawa hasil pabrik itu ke Bulan. Bayangkan, Liora. Sebuah koloni di luar angkasa yang isinya hanya makhluk-makhluk patuh tanpa keinginan bebas. Bumi akan dibiarkan hancur sebagai laboratorium yang gagal, sementara para elit itu memerintah dari atas sana sebagai tuhan baru."

Perjalanan menuju pesisir daratan Asia memakan waktu berminggu-minggu yang melelahkan. Setiap hari adalah pertarungan melawan badai dan upaya menghindari patroli sisa-sisa angkatan laut Hage emon yang kini bergerak liar tanpa komando pusat. Namun, bantuan dari para Penjaga Antartika ternyata lebih luas dari yang Adam duga. Di setiap pelabuhan kecil yang mereka singgahi secara sembunyi-sembunyi, selalu ada orang-orang "tak terlihat" mantan buruh, biarawan, hingga nelayan yang memberikan perbekalan dan informasi.

"Kalian tidak sendirian," bisik seorang pria tua di pesisir Chita gong saat mereka mendarat. "Dunia sedang bangun dari tidurnya. Tapi raksasa yang kau lawan di gunung itu... dia tidak tidur."

Dari Chita gong perjalanan berlanjut melalui jalur darat yang lebih berbahaya. Mereka melintasi hutan-hutan lebat dan lembah-lembah curam di perbatasan India dan Nepal. Adam dan Liora kini menyamar sebagai pendaki gunung lokal, membawa tas ransel berat yang berisi sisa-sisa teknologi yang mereka selamatkan dari Antartika.

Saat mereka mulai mendaki kaki pegunungan Himalaya, udara mulai menipis dan pemandangan berubah menjadi dinding-dinding batu dan es yang megah. Di sinilah, Adam mulai merasakan kembali getaran itu. Bukan getaran biru dari The Anchor, tapi frekuensi yang lebih halus, lebih tinggi, dan sangat dingin.

"Kau merasakannya?" tanya Adam saat mereka beristirahat di sebuah gua kecil di ketinggian 5000 meter.

Liora mengangguk, napasnya memburu. "Seperti ada suara ribuan orang yang berbisik secara serentak, tapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Ini... menakutkan."

Itulah frekuensi kesadaran kolektif Nephilim. Sebuah jaringan pikiran tanpa individu.

Mereka sampai di ambang pintu masuk rahasia The Ark of Silence setelah lima hari pendakian tanpa henti. Tempat itu tersembunyi di balik fasad sebuah biara kuno yang nampak terbengkalai. Namun, saat Adam menyentuh dinding batu biara itu, tangannya merasakan getaran elektrik yang sangat halus. Ada perisai kamuflase aktif yang menutupi pintu masuk logam di balik batu-batu tersebut.

Adam mengeluarkan mikro dip"Nephilim" dan memasukkannya ke dalam slot kecil yang tersembunyi di balik relief singa batu.

Zing...

Dinding batu itu bergeser tanpa suara, menyingkap sebuah lorong panjang yang diterangi oleh lampu-lampu LED putih yang sangat terang. Bau di dalamnya sangat spesifik: bau ozon, bahan kimia rumah sakit, dan sesuatu yang manis namun memuakkan bau pertumbuhan biologis yang dipaksakan.

Mereka masuk ke dalam dengan senjata yang sudah disiapkan. Namun, apa yang mereka temukan di dalam aula besar pertama membuat mereka terpaku.

Bukan pasukan robot. Bukan pula ilmuwan elit.

Di sana, di dalam ribuan tabung vertikal yang berisi cairan nutrisi berwarna bening, berdiri sosok-sosok manusia. Mereka nampak sangat sempurna. Kulit mereka pucat seperti porselen, tubuh mereka atletis, dan wajah mereka sangat rupawan namun benar-benar hampa dari ekspresi. Mata mereka tertutup, namun bibir mereka bergerak-gerak kecil, seolah sedang merapalkan mantra yang tidak terdengar.

"Inilah mereka," bisik Liora, wajahnya memucat. "Para Nephilim."

"Mereka sedang dalam fase sinkronisasi," Adam mendekati salah satu tabung. "Lihat di belakang leher mereka. Ada perangkat neural-link yang terhubung langsung ke server pusat. Mereka sedang diisi dengan pengetahuan, memori buatan, dan yang paling penting: kepatuhan absolut."

Tiba-tiba, lampu di aula itu meredup, dan sebuah proyeksi besar muncul di tengah ruangan. Kali ini bukan Silas. Ini adalah sosok wanita paruh baya dengan pakaian laboratorium yang sangat bersih. Wajahnya dingin, matanya nampak seperti lensa kamera.

"Selamat datang, Arsitek Adam," suara wanita itu terdengar sangat mekanis, jauh lebih robotik daripada Silas. "Aku adalah Dr. Maru, kepala riset Unit 731-SUKES SOR. Kami sudah lama memantau pergerakanmu. Kau menghancurkan Antartika, sebuah tindakan yang cukup... merepotkan. Namun, kau sebenarnya telah membantu kami menyempurnakan fase final."

"Bagaimana mungkin penghancuran disebut membantu?" Adam menantang, tongkat kayu barunya (yang ia bentuk dari dahan pohon kuno di Antartika) mulai bersinar redup.

"Antartika adalah tentang eliminasi manusia lama. Himalaya adalah tentang peluncuran manusia baru. Dengan hancurnya pusat kontrol di bawah es, sistem kami secara otomatis beralih ke mode 'Emergent Evolution'. Para Nephilim ini akan segera dibangunkan, dan mereka tidak butuh satelit untuk dikendalikan. Mereka adalah satelit itu sendiri. Setiap individu Nephilim adalah pemancar dan penerima. Mereka adalah satu pikiran dalam ribuan tubuh."

Dr. Maru tersenyum tipis sebuah senyum yang nampak dipaksakan oleh otot wajahnya. "Dan kau, Adam, kau adalah spesimen unik. Kau membawa frekuensi asli bumi di dalam selmu. Kami butuh frekuensi itu sebagai 'jangkar' terakhir agar para Nephilim ini tidak menjadi gila saat mereka lepas dari gravitasi bumi menuju stasiun bulan."

"Kalian tidak akan pernah menyentuhku," tegas Adam.

"Kami tidak perlu menyentuhmu, Adam. Kami hanya perlu Liora."

Dalam sekejap, lantai di bawah kaki Liora terbuka. Sebelum Adam sempat bereaksi, Liora jatuh ke dalam lubang gelap yang segera tertutup kembali oleh baja tebal.

"Liora!" Adam menghantamkan tongkatnya ke lantai, menciptakan gelombang energi yang meretakkan ubin laboratorium, namun pintu itu tidak bergeming.

"Pilihanmu sederhana, Arsitek," suara Dr. Maru menggema. "Masuklah ke ruang sinkronisasi secara sukarela, atau kami akan menggunakan Liora sebagai bahan baku untuk generasi Nephilim berikutnya. Kau tahu apa yang mereka lakukan di Unit 731 asli kepada tawanan yang tidak kooperatif? Kami telah menyempurnakan teknik itu seribu kali lipat."

Adam berdiri di tengah aula yang penuh dengan ribuan calon budak elit tersebut. Ia sendirian di atap dunia, dikelilingi oleh ciptaan yang tidak memiliki jiwa. Namun, saat ia melihat bayangan wajah ayahnya dan teringat pada doa-doa di dasar laut, Adam menyadari satu hal.

Para elit ini selalu berpikir tentang kontrol dan kekuasaan. Mereka lupa bahwa satu percikan api di tempat yang penuh dengan oksigen bisa menyebabkan ledakan yang tak terkendali.

"Kalian ingin frekuensiku?" Adam menatap kamera di dinding dengan tatapan yang membara. "Aku akan memberikannya. Tapi aku akan memberikan frekuensi yang tidak akan bisa ditampung oleh server kalian. Aku akan memberikan frekuensi 'Kiamat'."

Adam mulai memusatkan seluruh energinya bukan untuk melawan, melainkan untuk melepaskan segala batasan di dalam dirinya. Ia akan mengubah dirinya menjadi sebuah bom frekuensi hidup.

Di dalam tabung-tabung itu, para Nephilim mulai membuka mata mereka secara serentak. Mata yang tidak memiliki pupil. Mata yang hanya berisi cahaya putih yang mengerikan.

Pertempuran di Himalaya bukan lagi tentang peluru, melainkan tentang siapa yang memiliki frekuensi paling kuat untuk mendominasi kesadaran. Dan Adam Satria siap untuk mengorbankan segalanya demi satu detik kemerdekaan bagi manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!