NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Naga

Kembalinya Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Mawar Beracun di Tengah Kabut

Rombongan Wang Long akhirnya meninggalkan puncak Lawu, meninggalkan puing-puing arena yang menjadi saksi bisu lahirnya sebuah legenda baru.

Kabut tipis menyelimuti jalur turun gunung, seolah alam sedang berusaha menyembunyikan jejak mereka dari mata-mata dunia persilatan.

Pepohonan raksasa berdiri seperti penjaga bisu, sementara suara langkah kaki para pendekar menggema pelan di atas jalan berbatu yang lembap.

Wang Long berjalan paling depan bersama Yue Lan. Di belakang mereka, Yue Liang Shu mengikuti dengan langkah yang kini lebih ringan namun tetap waspada.

Meski sebagian besar tenaga dalamnya telah lenyap, naluri tempur dan sorot matanya kini justru lebih tajam dari sebelumnya—seperti pedang tua yang baru saja diasah kembali.

Sin Yin berjalan paling belakang. Ia diam, lebih diam dari biasanya. Matanya yang jernih terus menyisir setiap bayangan di antara pepohonan. Sejak kaki mereka menjejak jalur turun, ia merasakan sesuatu yang janggal.

“Kau terlalu tegang, Sin Yin,” ujar Yue Lan lembut tanpa menoleh ke belakang.

Sin Yin tidak langsung menjawab. Ia berhenti sejenak, menghirup udara yang dingin. “Ada yang mengikuti kita,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

Yue Lan menoleh cepat, namun yang tertangkap matanya hanyalah gumpalan kabut dan dahan yang bergoyang tertiup angin.

Semuanya tampak normal, namun Sin Yin tahu, bahaya yang paling mematikan sering kali berwujud hal yang paling biasa.

Tak jauh di depan, di sebuah tikungan jalan setapak, seorang wanita berdiri di tepi jurang kecil.

Gaun putihnya yang sederhana berkibar lembut, rambut hitamnya yang terurai panjang hingga pinggang tampak kontras dengan kabut di sekelilingnya. Wajahnya begitu cantik dan teduh, membuat suasana hutan yang suram mendadak terasa cerah.

Wanita itu tampak seperti seorang gadis lemah yang tersesat di tengah rimba.

“Maaf… apakah kalian menuju ke kota di bawah sana?” tanyanya lembut. Suaranya halus, menenangkan seperti gemericik air sungai yang mengalir di musim semi.

Wang Long menghentikan langkahnya. Sebagai naga yang tumbuh dengan hati yang lurus, ia tidak melihat ada ancaman. “Kami memang menuju ke sana.”

Wanita itu tersenyum, menampakkan lesung pipit yang manis. “Bolehkah aku ikut rombongan kalian? Jalur ini sangat rawan, penduduk bilang sering muncul perampok yang kejam.”

Sin Yin menatap wanita itu tanpa ekspresi. Terlalu cantik untuk berada di hutan ini sendirian. Terlalu kebetulan untuk bertemu di jalur turun ini.

Yue Liang Shu di belakangnya juga menyipitkan mata, tangannya secara refleks mendekat ke hulu pedang.

Namun Wang Long mengangguk polos. “Tentu saja. Lebih aman jika kita berjalan bersama.”

Wanita itu membungkuk anggun, sebuah penghormatan yang sangat sopan. “Terima kasih. Namaku Lian Hua.”

Sin Yin mengulang nama itu dalam batinnya. Lian Hua. Bunga Teratai. Namun, indra penciumannya yang terlatih menangkap sesuatu yang tersembunyi di balik aroma parfum bunga yang dipakai wanita itu.

Ada aroma samar logam tipis yang beradu dengan bau anyir yang sangat tipis. Aroma darah yang disamarkan.

Menjelang malam, mereka berhenti di sebuah dataran kecil di dekat aliran sungai kecil. Api unggun dinyalakan, memecah kegelapan hutan yang kian pekat.

Wang Long duduk bersila, memejamkan mata untuk memulihkan sisa-sisa tenaga dalamnya. Yue Lan sibuk menyiapkan makanan ringan, sementara Yue Liang Shu memeriksa perimeter dengan naluri lamanya sebagai pembunuh bayaran tingkat atas.

Lian Hua duduk anggun di sisi lain api unggun. Sesekali ia melemparkan senyum manis ke arah Wang Long, mencoba mencari perhatian sang naga. Sin Yin memperhatikan setiap gerak-gerik itu dengan sorot mata yang kian mendingin.

Ketika malam makin larut dan suara napas yang lain mulai teratur, Sin Yin berdiri tanpa suara.

Langkah kakinya seringan bulu, hampir mustahil didengar manusia biasa. Ia menyelinap masuk ke dalam kerimbunan hutan di belakang perkemahan.

Benar saja. Sosok berbaju putih itu berdiri di antara bayang-bayang pohon. Ia tak lagi tampak seperti gadis lemah yang tersesat.

Gaun luar putihnya telah dilepas, memperlihatkan pakaian ketat berwarna hitam khas pembunuh elit. Di sela-sela jemarinya, berkilau jarum-jarum perak tipis yang ujungnya berwarna kebiruan.

“Kau sudah mencium baunya sejak tadi, bukan?” suara Lian Hua berubah, tak lagi lembut, melainkan dingin dan menusuk.

Sin Yin melangkah keluar dari kegelapan. “Partai Tengkorak Hitam tidak pernah mengirim utusan yang buruk dalam hal akting.”

Lian Hua tersenyum tipis, menatap Sin Yin dengan tatapan meremehkan. “Bidadari Maut memang tidak mudah dibodohi. Sayang sekali kau harus mati bersama idealisme barumu.”

“Kau terlalu banyak tersenyum pada orangku,” sahut Sin Yin pendek.

“Orangmu?” Lian Hua tertawa kecil, suara tawanya terdengar gila. “Menarik. Sang Bidadari Maut jatuh hati pada mangsanya sendiri.”

Sin Yin tidak menjawab dengan kata-kata. Pedang tipisnya—yang selama ini tersembunyi—sudah berada di genggamannya. “Aku akan membunuhmu sebelum kau sempat menyentuh sehelai pun rambutnya.”

“Kalau kau mampu!”

Angin malam mendadak berdesir tajam. Pertarungan pecah tanpa peringatan!

Cling!

Pedang Sin Yin menebas secepat kilat, membelah bayangan. Namun tubuh Lian Hua bergerak dengan fleksibilitas yang luar biasa, meliuk seperti ilusi. Jarum-jarum beracun melesat dari tangannya seperti hujan badai.

Sin Yin berputar di udara, menangkis sebagian besar jarum itu, namun satu jarum berhasil menggores lengan bajunya.

Desis tipis terdengar saat kain hitam itu mulai menghitam dan mengeluarkan asap kecil. “Racun Ular Salju,” bisik Sin Yin, merasakan sensasi dingin yang mulai menjalar di lengannya.

Lian Hua melompat mundur ke atas dahan pohon. “Sudah lama sekali tidak ada pendekar yang mengenali racun eksklusif kami.”

Gerakan Lian Hua berubah makin agresif dan cepat. Ia bukan pembunuh kelas teri; kemampuannya setingkat di atas Yue Liang Shu saat masih berada di puncak kejayaannya.

Sin Yin menyerang dengan Jurus Bayangan Maut, pedangnya menciptakan rangkaian serangan yang menyerupai kabut hitam menyambar dari berbagai sudut.

Namun Lian Hua memutar tubuhnya, jarum-jarum di tangannya membentuk lingkaran pelindung yang solid. Plak! Sebuah tendangan tak terduga menghantam bahu Sin Yin, membuatnya terhuyung. Racun ular salju itu mulai merayap halus di nadinya, membuat gerakannya sedikit melambat.

Lian Hua tersenyum puas. “Kau kuat, Sin Yin… tapi itu tidak cukup untuk menghentikan Partai Tengkorak Hitam.”

Ia melesat maju untuk serangan pamungkas, jarum panjang diarahkan tepat ke jantung Sin Yin yang sedang terdesak. Namun, di saat kritis itu—sebuah bayangan hitam muncul dari samping dengan kecepatan tinggi!

Trang!

Sebuah pedang hitam menepis jarum itu tepat beberapa inci dari dada Sin Yin. Yue Liang Shu berdiri kokoh di depan sang Bidadari Maut. “Nona, kau terlalu percaya diri jika menganggap aku tidak mengawasi setiap langkahmu,” ucapnya tenang.

Lian Hua menyipitkan mata, amarah meluap. “Kau… pengkhianat busuk! Kau seharusnya mati di Lawu!”

Yue Liang Shu tersenyum pahit, namun sorot matanya mantap. “Untuk pertama kalinya dalam hidupku yang kotor ini, aku memilih pihakku sendiri. Dan itu bukan kalian.”

Pertarungan kini berubah menjadi dua lawan satu. Meski Yue Liang Shu telah kehilangan sebagian besar tenaga batinnya, pengalaman bertempurnya sebagai eksekutor legendaris belum hilang. Ia mampu membaca setiap pola serangan Lian Hua.

“Dia menyimpan cadangan jarum racun di lipatan lengan kirinya!” seru Yue Liang Shu memberikan celah.

Sin Yin mengangguk mengerti. Meski racun di tubuhnya mulai merayap, ia memaksa tenaga dalamnya untuk mengunci penyebaran racun tersebut sementara waktu. Saat Lian Hua melompat untuk melakukan serangan kamikaze terakhir—

Yue Liang Shu memutar tubuhnya dengan sisa tenaga terakhir dan melempar pedangnya dengan teknik rahasia yang dulu membuatnya ditakuti. Pedang itu melesat tanpa suara di tengah kegelapan, menembus celah pertahanan terkecil milik Lian Hua.

Craak!

Bilah pedang menembus tepat di tengah dada wanita itu. Mata Lian Hua membelalak lebar, cahaya di matanya perlahan meredup. Darah merah pekat mengalir deras, membasahi gaun putihnya hingga berubah warna sepenuhnya. Ia terhuyung mundur, tangannya mencoba menggapai udara.

“Partai… tidak akan pernah berhenti mengejar naga itu…” gumamnya parau sebelum tubuhnya roboh tak bernyawa di antara tumpukan dedaunan kering.

Sunyi kembali menguasai hutan. Angin malam berdesir pelan, membawa aroma maut yang perlahan memudar. Yue Liang Shu melangkah mendekat, mencabut pedangnya dari jasad Lian Hua. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya terasa jauh lebih tenang.

“Aku baru saja menutup satu bab kelam dalam masa laluku,” bisiknya pada kegelapan.

Sin Yin memegangi lengannya yang terluka, menatap Yue Liang Shu dengan hormat. “Kau telah menebusnya malam ini.”

Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru terdengar. Wang Long muncul dari balik semak-semak dengan wajah dipenuhi kecemasan. “Apa yang terjadi? Aku mendengar suara benturan senjata!”

Sin Yin menatap Wang Long sejenak, lalu ia memaksakan sebuah senyum tipis yang mempesona. “Hanya bunga liar yang mencoba mendekatimu secara paksa, Wang Long. Kami sudah mengurusnya.”

Wang Long melihat tubuh Lian Hua yang sudah tak bernyawa. Wajahnya seketika mengeras, menyadari betapa seriusnya ancaman yang mengintai. “Partai Tengkorak Hitam benar-benar sudah bergerak…”

Yue Liang Shu mengangguk. “Ini baru permulaan. Mereka akan mengirim yang lebih kuat setelah ini.”

Wang Long kemudian menyadari wajah Sin Yin yang sedikit pucat. “Kau terluka?” tanyanya dengan nada khawatir yang tulus.

“Hanya goresan kecil dari jarum tadi,” jawab Sin Yin berusaha terlihat kuat.

Namun Wang Long tidak membiarkannya. Ia langsung memegang pergelangan tangan Sin Yin. Seketika, Tenaga Naga Langit yang hangat mengalir masuk ke pembuluh darah Sin Yin, membungkus dan menetralkan racun ular salju yang dingin dalam sekejap.

Sin Yin menatap wajah Wang Long dari jarak yang sangat dekat. Ia bisa melihat setiap detail kecemasan di mata pemuda itu. Jantungnya kembali berdetak dengan ritme yang aneh—ritme yang tidak pernah ia rasakan saat membantai ratusan musuh.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku sedalam ini,” bisik Sin Yin pelan, mencoba menyembunyikan getaran suaranya.

Wang Long menatapnya serius, tak melepaskan genggamannya. “Aku akan selalu khawatir. Karena kau adalah temanku… dan lebih dari itu.”

Sin Yin memalingkan wajahnya yang kini merah padam ke arah kabut tebal, tak mampu menahan serangan emosi yang jauh lebih kuat dari racun mana pun.

Di kejauhan, kabut turun semakin tebal, menyelimuti rahasia hutan. Satu pembunuh elit telah gugur, namun bayangan Partai Tengkorak Hitam justru semakin nyata di depan mata.

Perjalanan mereka turun gunung baru saja dimulai, dan darah pertama sudah menodai jalannya. Sang Naga harus segera bersiap, karena mawar beracun berikutnya mungkin tidak akan datang sendirian.

Bersambung...

1
rozali rozali
👍👍👍👍
Idwan Syahdani: makasih... tongkrongin terus ya... lanjutannya.. 🤭🤭
total 1 replies
Idwan Syahdani
siap, malam ini akan ada 2 - 3 bab ya...
rozali rozali
laaanjut lg thor.
Idwan Syahdani: tunggu ya malam ini kita tambah 2 - 3 bab..
total 1 replies
Nanik S
Kenapa tidak ada cincin ruang untuk menaruh pedangnya
Idwan Syahdani: ini bukan novel Kultuvator kakak.. ini novel silat klasik..
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Hadir...cukup menarik
Nanik S
Wang Long ..dimana Mei Lin adiknya
Idwan Syahdani: nanti mereka bertemu saat sama-sama sudah jadi pendekar..
total 1 replies
Idwan Syahdani
aman kak, semua novel akan tamat kok, sabar ya...
Dian Pravita Sari
dlogok cerita kok gak da yg tamat kl blm siap jgn modal. janji dankejar kontrak makan duit pulsa aja di otak yang gak da rasa tanggung jenmenueledaikan cerita
Idwan Syahdani: semua novel akan saya tamatin kok kak... stay cun aja ya...
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, pertama untuk dukung novel barunya.
Idwan Syahdani: makasih kak... pa kabar, nggak ikut di n.v.a kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!