NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 Langkah Tanpa Klausul

Pagi itu berbeda.

Tidak ada sentuhan berlebihan.

Tidak ada pengakuan cinta dramatis.

Namun sesuatu telah berubah.

Alya terbangun lebih dulu. Cahaya matahari masuk melalui tirai tipis kamar. Ia duduk di tepi ranjang, memproses apa yang terjadi semalam.

Mereka tidak mencium.

Tidak saling berjanji.

Tidak mengatakan “aku mencintaimu.”

Tapi mereka berhenti berpura-pura.

Dan itu lebih berbahaya daripada pengakuan apa pun.

Pintu kamar mandi terbuka.

Bima keluar dengan kemeja putih yang belum dikancing sempurna.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak canggung.

Tidak pula sepenuhnya tenang.

“Kita ada rapat dengan tim hukum jam sembilan,” ucap Bima seperti biasa.

Nada profesional. Stabil.

Namun ada lapisan lain di baliknya.

Alya berdiri.

“Saya sudah membaca laporan tambahan. Ada pergerakan saham yang tidak wajar.”

Bima mengangguk.

“Aku juga melihatnya.”

Ia berjalan mendekat. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa lebih padat.

“Arsen tidak berhenti di reputasi,” katanya.

“Saya tahu.”

Alya mengambil blazer dari kursi.

“Kalau dia punya sesuatu yang lebih besar, dia akan menahannya sampai kita lengah.”

Bima memperhatikan cara Alya berbicara.

Tenang.

Tajam.

Ia tidak lagi berdiri sebagai tamu di dunia ini.

Ia bagian dari permainan.

Dan entah kenapa, itu membuat Bima merasa… bangga.

Rapat pagi itu berlangsung tegang.

Tim hukum menemukan indikasi bahwa seseorang mencoba mengakses dokumen lama perusahaan melalui jalur tidak resmi.

Bukan peretasan biasa.

Lebih seperti seseorang yang tahu tepat di mana mencari.

“Dokumen apa?” tanya Bima.

Kepala tim hukum membuka map tipis.

“Kontrak kerja sama lama dengan Surya Capital. Tujuh tahun lalu.”

Alya langsung mengangkat wajahnya.

Surya Capital.

Perusahaan milik keluarga Arsen.

“Isinya?” tanya Alya.

“Tidak ada pelanggaran hukum,” jawab tim hukum. “Tapi ada klausul yang jika dipelintir bisa terlihat seperti konflik kepentingan.”

Ruangan hening.

Bima menatap dokumen itu beberapa detik.

“Dia mau memutarbalikkan sejarah.”

Alya mengangguk pelan.

“Kalau itu keluar ke publik tanpa konteks, narasinya bisa berbahaya.”

Bima menoleh padanya.

“Kita tidak akan menunggu dia bergerak.”

Alya memahami maksudnya.

Serangan pre-emptive.

“Kita buka semuanya sendiri,” katanya.

Beberapa direktur terlihat ragu.

“Membuka arsip lama bisa memperbesar isu, Pak,” salah satu dari mereka berkomentar.

Bima tidak mengalihkan pandangan dari Alya.

“Kamu siap?”

Pertanyaan itu bukan tentang bisnis saja.

Alya tahu itu.

“Ya.”

Keputusan dibuat.

Mereka akan mengadakan transparansi publik terhadap kerja sama lama sebelum Arsen sempat memelintirnya.

Langkah itu berisiko.

Tapi jauh lebih terhormat daripada menunggu diserang.

Sore harinya, Alya menerima pesan tak dikenal.

Satu foto.

Gambar dokumen lama.

Dan satu kalimat.

“Masih yakin ingin bermain sampai akhir?”

Nomor tidak dikenal.

Tapi ia tahu itu siapa.

Alya tidak membalas.

Ia hanya menyimpan foto itu dan meneruskannya pada Bima.

Tak sampai lima menit, pintu ruangannya terbuka.

“Dia menghubungimu langsung?” suara Bima lebih dingin dari biasanya.

“Tidak secara langsung.”

“Ini sudah melewati batas.”

Alya berdiri.

“Justru itu artinya dia mulai kehilangan kendali.”

Bima berjalan mendekat.

“Alya.”

Nada suaranya berubah.

Lebih pribadi.

“Kalau dia menyerangmu bukan sebagai bagian dari perusahaan… tapi sebagai bagian dari masa lalumu?”

Alya menatapnya lurus.

“Saya tidak punya rahasia yang bisa menghancurkan saya.”

“Semua orang punya.”

Hening.

Alya mendekat satu langkah.

“Kalau saya punya, saya akan mengatakannya pada Anda dulu.”

Kalimat itu membuat Bima terdiam.

Bukan karena ancaman.

Tapi karena kepercayaan.

Ia menyadari sesuatu—

Kepercayaan seperti ini tidak ada di dalam kontrak mana pun.

Malam itu, berita transparansi kerja sama lama resmi dirilis.

Dokumen lengkap dipublikasikan.

Penjelasan kronologi.

Tidak ada celah untuk manipulasi.

Reaksi publik beragam, tapi mayoritas netral.

Arsen kehilangan momentum.

Namun pukul sepuluh malam, panggilan tak terduga datang ke ponsel pribadi Alya.

Nama yang muncul membuat napasnya tertahan sepersekian detik.

Arsen.

Ia menatap layar itu.

Tidak langsung mengangkat.

Panggilan kedua masuk.

Bima yang sedang duduk di sofa menoleh.

“Dia?”

Alya mengangguk.

“Angkat,” kata Bima tenang.

Alya menerima panggilan.

“Selamat malam,” suara Arsen terdengar santai.

“Apa yang kamu mau?” Alya tidak berputar-putar.

“Ternyata kamu lebih berani dari yang kuingat.”

“Kalau hanya untuk memuji, kita bisa akhiri.”

Arsen tertawa kecil.

“Kamu pikir ini soal bisnis saja?”

Hening.

“Aku hanya ingin memastikan satu hal.”

“Apa?”

“Kalau semua ini runtuh… dia akan tetap memilihmu?”

Tatapan Alya beralih pada Bima yang memperhatikannya.

“Saya tidak butuh memastikan itu pada kamu.”

“Jangan terlalu yakin.”

Panggilan terputus.

Alya menurunkan ponsel perlahan.

Bima berdiri.

“Apa katanya?”

“Dia ingin membuat ini pribadi.”

Bima mendekat.

“Biarkan dia mencoba.”

Nada suaranya rendah. Tegas.

Alya menatap pria di depannya.

Semalam mereka berbicara tentang batas.

Hari ini mereka berdiri di sisi yang sama menghadapi ancaman nyata.

“Apa pun yang dia lakukan,” ucap Bima, “kita hadapi bersama.”

Bukan “aku lindungi kamu.”

Bukan “ini urusanku.”

Tapi bersama.

Alya merasakan dadanya menghangat.

Ia tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya mengangguk.

Dan untuk pertama kalinya sejak perang ini dimulai, ia tidak merasa sendirian menghadapi masa lalu.

Di apartemen mewahnya, Arsen berdiri di depan jendela tinggi.

Asistennya menyerahkan sebuah flashdisk kecil.

“Semua data sudah di sini, Pak.”

Arsen memutarnya di antara jari-jarinya.

“Dia memilih bertahan.”

Asistennya tidak berani bertanya lebih jauh.

Arsen tersenyum tipis.

“Kalau begitu kita lihat… apakah pilihannya cukup kuat.”

Ia memasukkan flashdisk itu ke dalam laci.

Belum waktunya.

Tapi waktunya akan datang.

Di mansion Wijaya, malam semakin larut.

Alya berdiri di depan cermin kamar.

Bima mendekat dari belakang.

“Takut?” tanyanya pelan.

Alya menggeleng.

“Tidak lagi.”

“Kenapa?”

Ia menoleh sedikit.

“Karena sekarang saya tahu saya tidak berdiri sendirian.”

Bima tidak menjawab.

Ia hanya berdiri di sana.

Dekat.

Tenang.

Stabil.

Dan malam itu, bukan kontrak yang mengikat mereka.

Bukan pula tekanan publik.

Melainkan keputusan yang sama-sama mereka ambil—

Untuk tetap melangkah maju, tanpa klausul perlindungan emosional.

Karena jika perang ini memang tidak bisa dihindari,

Mereka tidak akan menghadapinya sebagai dua pihak dalam kesepakatan.

Melainkan sebagai dua orang yang mulai memilih satu sama lain.

Bukan karena terpaksa.

Bukan karena tekanan keluarga.

Dan jelas bukan karena kontrak satu tahun yang memiliki tanggal kedaluwarsa.

Alya menyadari sesuatu yang jujur malam itu—

Ia tidak lagi bertahan demi harga diri.

Ia bertahan karena ia ingin.

Dan keinginan selalu lebih berbahaya daripada kewajiban.

Bima berdiri di depannya, jarak mereka kini tidak lagi kaku seperti minggu-minggu pertama pernikahan ini. Tidak ada lagi dinding tak kasat mata yang sengaja mereka bangun untuk menjaga jarak.

“Kita bisa berhenti kapan saja,” ucap Bima pelan.

Alya mengernyit tipis.

“Berhenti apa?”

“Berhenti berpura-pura bahwa ini hanya kesepakatan.”

Hening beberapa detik.

Kalimat itu tidak terdengar impulsif.

Ia terdengar seperti keputusan yang sudah dipikirkan matang.

Alya menatapnya lebih dalam.

“Dan kalau kita berhenti berpura-pura… apa yang berubah?”

“Banyak.”

“Apa yang tidak berubah?”

Bima terdiam.

Karena yang tidak berubah hanyalah fakta bahwa dunia di luar sana tetap keras.

Arsen tetap berbahaya.

Media tetap lapar sensasi.

Dan keluarga mereka tetap punya ekspektasi.

Tapi satu hal berubah—

Cara mereka berdiri.

“Yang tidak berubah,” jawab Bima akhirnya, “adalah aku tetap akan berdiri di sampingmu.”

Kalimat itu tidak terdengar romantis.

Ia terdengar pasti.

Alya merasakan sesuatu mengendap perlahan di dadanya.

Selama ini ia takut kehilangan kendali.

Takut menjadi terlalu terlibat.

Takut ketika kontrak berakhir, ia yang tersisa sendirian dengan perasaan yang tidak pernah disepakati.

Namun sekarang ketakutan itu mulai bergeser.

Yang lebih menakutkan justru adalah kemungkinan bahwa ia tidak mencoba sama sekali.

“Apa kamu sadar,” ucap Alya pelan, “kalau ini bukan lagi soal menang atau kalah dari Arsen?”

Bima menatapnya.

“Ini soal apa?”

“Ini soal apakah kita cukup berani untuk jujur pada diri sendiri.”

Hening.

Tidak ada suara selain hembusan pendingin ruangan yang pelan.

Bima melangkah lebih dekat.

Tidak terburu-buru.

Tidak memaksa.

Tangannya terangkat, menyentuh rambut Alya yang terurai lembut di bahunya. Gerakannya sederhana. Natural. Seolah itu hal yang sudah lama seharusnya dilakukan.

“Aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini,” katanya jujur.

“Apa?”

“Mempertimbangkan perasaan sebelum membuat keputusan.”

Alya tersenyum kecil.

“Bagus. Artinya Anda mulai belajar.”

“Kamu mengajariku?”

“Tidak sengaja.”

Tatapan mereka bertemu lebih lama dari biasanya.

Tak ada lagi alasan untuk menjaga jarak secara berlebihan.

Tak ada lagi kalimat formal yang menciptakan tembok.

Bima mengusap lembut pipi Alya dengan ibu jarinya.

“Kalau nanti semuanya selesai,” katanya pelan, “aku tidak ingin kamu tinggal karena rasa kasihan. Atau karena merasa sudah terlalu jauh untuk mundur.”

“Lalu?”

“Aku ingin kamu tinggal karena kamu memang memilih.”

Alya menahan napas sepersekian detik.

Itu bukan permintaan.

Itu bukan tekanan.

Itu harapan.

Dan harapan selalu lebih tulus dari kontrak apa pun.

“Saya sudah memilih,” jawabnya lembut.

Bima tidak langsung bereaksi.

Ia hanya menatap Alya, memastikan ia tidak salah dengar.

“Sejak kapan?” tanyanya.

Alya mengangkat bahu tipis.

“Mungkin sejak hari saya memutuskan berdiri di depan wartawan tanpa ragu.”

“Atau sejak kamu menggenggam lenganku di acara gala itu?”

Alya tersenyum samar.

“Mungkin.”

Hening kembali turun.

Namun kali ini bukan hening yang canggung.

Melainkan hening yang nyaman.

Bima akhirnya menarik Alya ke dalam pelukan yang tidak tergesa-gesa.

Tidak posesif.

Tidak berlebihan.

Hanya cukup untuk memberi rasa aman.

Dan Alya tidak menolak.

Ia membiarkan dirinya berada di sana, untuk pertama kalinya tanpa menghitung risiko.

Karena memilih satu sama lain bukan berarti menutup mata terhadap bahaya.

Itu berarti sadar ada bahaya… dan tetap melangkah bersama.

Di luar sana, Arsen mungkin sedang menyiapkan langkah berikutnya.

Media mungkin masih mencari celah.

Dewan direksi mungkin masih menyimpan keraguan.

Namun di dalam ruangan itu, untuk sesaat, tidak ada strategi.

Tidak ada skenario.

Tidak ada klausul.

Hanya dua orang dewasa yang akhirnya berhenti menyangkal bahwa perasaan mereka sudah melewati batas formalitas.

Dan malam itu, keputusan paling berani yang mereka buat bukanlah tentang perusahaan.

Melainkan tentang diri mereka sendiri—

Bahwa apa pun yang datang berikutnya,

mereka tidak lagi berjalan sebagai CEO dan istri kontrak.

Melainkan sebagai dua orang yang sadar bahwa memilih satu sama lain adalah risiko…

yang layak diambil.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!