Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Yang Tidak Tertulis di Kontrak
Kenzo meneleponku Selasa pagi.
Bukan hal yang luar biasa — dia sesekali menghubungi untuk konfirmasi jadwal atau detail acara yang perlu aku ketahui. Tapi kali ini pesannya datang lebih awal dari biasanya, pukul tujuh lewat empat puluh, tepat ketika aku baru selesai sarapan sendirian di dapur karena Revano sudah pergi sejak pukul setengah enam.
"Bu Ariana, maaf mengganggu pagi-pagi. Ada waktu sebentar?"
Nada suaranya berbeda dari biasanya — masih profesional, masih terkontrol, tapi ada sesuatu di bawahnya yang membuat aku meletakkan cangkir kopi dan memberikan perhatian penuh.
"Ada. Kenapa, Kenzo?"
"Saya ingin bicara tentang sesuatu." Jeda kecil. "Tidak dalam kapasitas resmi. Lebih sebagai — informasi yang mungkin berguna untuk Ibu."
"Oke. Bicara."
Jeda lagi. Lebih panjang dari yang pertama.
"Bisa kita ketemu? Bukan di kantor. Ada kafe kecil di lantai dasar gedung sebelah Aldrich Tower — saya biasa sarapan di sana kalau ada hal yang perlu dipikirkan di luar konteks kantor."
Kalimat terakhir itu — di luar konteks kantor — adalah cara Kenzo yang sangat Kenzo untuk mengatakan bahwa apa yang ingin dia sampaikan bukan sesuatu yang bisa disampaikan di tempat yang ada rekaman CCTV-nya atau telinga yang salah.
"Jam berapa?" tanyaku.
"Pukul sembilan? Kalau Ibu tidak keberatan."
"Tidak keberatan. Sampai nanti."
Kafenya kecil seperti yang dia bilang — delapan meja, suasana yang cukup ramai untuk percakapan tenggelam di antara suara lain tanpa perlu berbisik, tapi cukup tenang untuk bisa mendengar dengan jelas.
Kenzo sudah ada di meja pojok ketika aku tiba. Kemeja yang lebih kasual dari biasanya — bukan jas, hanya kemeja biru muda lengan panjang yang digulung sampai siku. Tanpa aksesoris jabatan yang biasanya ada padanya. Seperti seseorang yang sengaja melepas seragamnya sebelum datang ke sini.
Kami memesan kopi. Menunggu sampai pelayan pergi.
"Terima kasih mau ke sini, Bu Ariana."
"Kenzo," kataku, "kita sudah cukup sering bertemu untuk kamu tidak perlu formal seperti itu di tempat seperti ini."
Sesuatu di wajahnya sedikit mengendur. "Baik. Terima kasih, Ariana."
Lebih baik.
"Jadi," aku meletakkan tanganku di atas meja, "apa yang perlu aku tahu?"
Kenzo memulai dari yang paling jauh dulu — cara bercerita yang kupahami sebagai cara orang yang terbiasa menyajikan informasi secara kronologis supaya konteksnya tidak hilang.
Aldrich Group tiga tahun lalu, katanya, bukan perusahaan yang sama dengan sekarang.
Ketika ayah Revano — Pak Aldrich senior — memutuskan mundur karena masalah kesehatan, kondisi perusahaan sedang tidak dalam titik terbaiknya. Bukan krisis besar yang terlihat dari luar, tapi jenis masalah internal yang lebih berbahaya dari krisis besar — masalah yang tidak kelihatan sampai sudah terlalu dalam.
Revano mengambil alih di usia dua puluh enam. Dengan kondisi itu.
"Tiga tahun terakhir," kata Kenzo, memegang cangkirnya tapi tidak meminumnya, "hampir semua yang terlihat baik dari luar adalah hasil kerja Pak Revano dan tim intinya. Bukan warisan yang diterima. Dibangun ulang."
"Aku tahu ini dari artikel," kataku. "Yang aku belum tahu adalah bagian yang tidak ada di artikel."
Kenzo mengangguk. "Kakek — Pak Aldrich senior — memegang kepercayaan penuh kepada Pak Revano. Itu yang membuat posisinya aman secara formal." Dia meletakkan cangkirnya. "Tapi kepercayaan kakek bukan satu-satunya variabel."
"Draka."
"Draka." Kenzo mengkonfirmasi dengan cara yang tidak menambahkan apapun tapi tidak juga mengurangi apapun dari nama itu. "Dan bukan hanya Draka secara personal. Ada beberapa pemegang saham minoritas yang kepentingannya lebih selaras dengan Draka daripada dengan Pak Revano."
"Seberapa besar kepemilikan saham mereka?"
Kenzo menatapku sebentar — sepertinya tidak mengantisipasi pertanyaan yang spesifik itu.
"Secara individual tidak signifikan," jawabnya akhirnya. "Tapi kalau digabungkan dan bergerak bersama pada momen yang tepat — cukup untuk menciptakan masalah di rapat pemegang saham."
"Dan momen yang tepat itu kapan?"
"Rapat umum pemegang saham tahunan." Dia menatap mejanya sebentar. "Empat bulan lagi."
Empat bulan. Aku menghitung di kepala. Kontrak kami dua belas bulan — artinya rapat itu jatuh di bulan keempat, di tengah-tengah periode yang harusnya paling stabil sebelum berbagai hal mulai bergerak menjelang akhir.
"Apa yang bisa mereka lakukan di rapat itu?"
"Secara hukum — mengajukan mosi evaluasi kepemimpinan. Kalau Pak Aldrich senior mendukungnya, itu bisa menjadi dasar untuk restrukturisasi manajemen puncak."
"Dan kalau kakek tidak mendukung?"
"Maka mosi itu tidak punya kaki." Kenzo akhirnya minum kopinya. "Yang membuat posisi kakek menjadi krusial."
Aku duduk dengan informasi itu selama beberapa detik, membiarkan konturnya terbentuk di kepala.
"Jadi pernikahan ini bukan hanya untuk memenuhi syarat pengalihan otoritas formal," kataku pelan.
"Bukan hanya itu."
"Ini juga tentang memperkuat posisi di mata kakek — supaya kalau ada mosi di rapat nanti, kakek punya alasan yang lebih kuat untuk berdiri di pihak Revano."
Kenzo tidak menjawab langsung. Tapi cara dia tidak menjawab sudah merupakan jawaban.
"Revano tidak memberitahuku ini," kataku.
"Saya tahu."
"Kenapa?"
Kenzo mempertimbangkan jawabannya dengan hati-hati — aku bisa melihat prosesnya di wajahnya, cara matanya bergerak sedikit ke kiri sebelum kembali ke aku.
"Pak Revano," katanya akhirnya, "terbiasa menanggung konteks yang tidak perlu ditanggung orang lain. Itu bukan ketidakpercayaan — lebih ke kebiasaan yang sudah terbentuk lama." Jeda. "Dia pikir semakin sedikit yang kamu tahu tentang kompleksitasnya, semakin tidak terbebani kamu."
"Tapi kamu tidak setuju dengan itu."
"Saya pikir—" Kenzo memilih kata dengan sangat hati-hati, "—seseorang yang berjalan di medan yang tidak dia ketahui peta lengkapnya lebih berisiko tersandung di tempat yang tidak terduga. Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak punya informasi yang cukup."
Aku menatapnya. "Kamu memberitahuku ini tanpa izin Revano."
"Ya."
"Kalau dia tahu—"
"Saya yang akan menjelaskan." Kenzo menatapku langsung. "Ini keputusan saya, bukan instruksi siapapun. Dan saya siap bertanggungjawab atas keputusan itu."
Ada sesuatu di caranya mengatakan itu — sangat tenang, sangat yakin — yang membuat aku memahami mengapa Revano mempercayai orang ini selama tujuh tahun. Bukan karena Kenzo selalu melakukan apa yang diminta. Tapi karena Kenzo melakukan apa yang dia pikir benar, dan cukup berani untuk bertanggungjawab atas perbedaannya.
"Ada satu hal lagi," kata Kenzo setelah jeda yang cukup panjang.
Nadanya berubah — sedikit, tapi cukup untuk aku perhatikan.
"Draka kemarin," lanjutnya. "Kunjungannya bukan spontan."
"Aku tahu."
"Yang mungkin belum Ibu ketahui adalah bahwa dua hari sebelum kunjungan itu, ada pertemuan antara Draka dan salah satu pemegang saham yang saya sebut tadi." Kenzo meletakkan cangkirnya pelan. "Saya tidak tahu isi pertemuannya. Tapi timing-nya — tepat setelah gala dinner di mana Ibu Ariana cukup meninggalkan kesan baik pada beberapa kolega penting — bukan kebetulan."
"Draka melihat aku sebagai ancaman?"
"Draka melihat segala sesuatu yang memperkuat posisi Pak Revano sebagai ancaman." Kenzo memperbaiki posisi duduknya. "Termasuk pernikahan ini. Termasuk kamu."
Aku menyerap itu.
Bukan informasi yang membuat panik — tapi informasi yang mengubah cara aku memahami konteks dari semua yang sudah terjadi sejak dua minggu lalu. Gala dinner bukan hanya acara pertama. Kunjungan Draka bukan hanya kunjungan keluarga. Pertanyaan-pertanyaannya bukan sekadar basa-basi.
Semua itu potongan dari sesuatu yang lebih besar dan lebih rumit dari yang tertulis di empat puluh tujuh halaman kontrak manapun.
"Kenzo," kataku pelan, "menurutmu — seberapa besar risiko yang sebenarnya ada di sini?"
Dia tidak menjawab langsung. Memutar cangkirnya sedikit di atas meja.
"Pak Revano adalah orang yang paling kompeten yang pernah saya kenal," katanya akhirnya. "Dalam tiga tahun, dia membuktikan itu berkali-kali di situasi yang tidak mudah." Jeda. "Tapi kompeten tidak selalu cukup ketika yang bergerak bukan hanya kompetensi tapi juga kepentingan yang tidak bermain dengan aturan yang sama."
Jawaban yang tidak menjawab angkanya tapi menjawab kualitasnya.
"Dan aku," kataku hati-hati, "ada di tengah semua ini."
"Ibu ada di posisi yang bisa menjadi salah satu faktor penentu — ke arah yang baik atau yang sebaliknya, tergantung bagaimana situasi berkembang."
"Tergantung apakah aku cukup meyakinkan."
"Tergantung," koreksi Kenzo dengan hati-hati, "apakah yang orang-orang lihat dari kalian berdua terasa nyata. Meyakinkan dan nyata bukan selalu hal yang sama — dan orang seperti kakek bisa membedakan keduanya."
Kami keluar dari kafe itu pukul sepuluh kurang dua puluh.
Di trotoar, sebelum berpisah, Kenzo berhenti.
"Ariana." Pertama kalinya dia menyebut namaku tanpa embel-embel Bu — dan dari Kenzo, itu bukan ketidaksengajaan. "Saya memberitahu ini bukan supaya Ibu merasa terbebani. Tapi supaya kalau ada momen di mana Ibu perlu membuat keputusan yang tidak ada di skrip manapun — Ibu punya cukup konteks untuk membuatnya dengan tepat."
Aku menatapnya. "Kamu khawatir tentang Revano."
"Saya selalu khawatir tentang Pak Revano." Dikatakan dengan nada yang sangat datar tapi menyimpan sesuatu yang dalam di bawahnya. "Itu bagian dari pekerjaan saya. Dan kadang bagian dari yang lainnya juga."
Tujuh tahun. Aku mulai mengerti apa artinya tujuh tahun bekerja untuk seseorang seperti Revano — bukan hanya loyalitas profesional, tapi jenis keterikatan yang tumbuh dari bertahun-tahun menjadi satu-satunya orang yang melihat sisi yang tidak ditunjukkan ke kamera.
"Terima kasih, Kenzo," kataku sungguh-sungguh.
Dia mengangguk. "Hati-hati, Ariana."
Aku berjalan pulang ke penthouse dengan kepala yang lebih penuh dari ketika berangkat.
Di lift, aku berdiri menatap pantulanku di cermin dan memikirkan semua yang baru saja kudengar — bukan dengan panik, tapi dengan cara yang tenang dan mengukur, seperti ketika klien memberikan brief yang lebih kompleks dari perkiraan dan aku perlu memetakan ulang pendekatannya sebelum mulai bekerja.
Empat bulan sampai rapat pemegang saham.
Draka yang sudah bergerak bahkan sebelum aku sepenuhnya memahami papan caturnya.
Kakek yang matanya tajam dan keputusannya bisa menentukan segalanya.
Dan Revano — yang menanggung semua konteks ini sendiri karena sudah terlalu lama terbiasa menanggung segalanya sendiri, dan yang rupanya belum belajar bahwa ada kalanya menanggung sendiri bukan efisiensi tapi kelemahan yang menyamar.
Lift berhenti di lantai tiga puluh dua.
Aku masuk ke penthouse. Duduk di meja kerja, membuka laptop, tapi tidak langsung bekerja.
Mengetik pesan ke Revano — singkat, tidak dramatis, karena malam ini tidak perlu dramatis:
"Kalau pulang tidak terlalu malam, aku mau bicara sebentar."
Balasannya datang dua belas menit kemudian:
"Sekitar pukul delapan. Ada apa?"
Aku menatap pertanyaan itu. Mempertimbangkan berapa banyak yang perlu dikatakan di pesan dan berapa banyak yang lebih baik dikatakan langsung, dengan cara yang bisa aku lihat wajahnya ketika menerimanya.
"Nanti saja. Tidak urgent. Tapi penting."
Tiga kata terakhir itu — tapi penting — adalah cara terjujur yang bisa kutemukan untuk menyampaikan bahwa ada percakapan yang perlu terjadi malam ini. Bukan tentang jadwal atau acara atau apapun yang ada di pasal kontrak.
Tentang kepercayaan. Tentang informasi. Tentang kenyataan bahwa dua orang yang sudah menandatangani empat puluh tujuh halaman perjanjian mungkin perlu menambahkan satu hal yang tidak bisa ditulis di pasal manapun:
Bahwa berjalan di medan yang sama, menanggung konteks yang sama — tidak harus dilakukan sendirian.
Balasan Revano datang satu menit kemudian.
Hanya satu kata.
"Baik."
Tapi cukup.
— Selesai Bab 15 —