NovelToon NovelToon
Antara Tugas Negara Dan Cinta Yang Tumbuh

Antara Tugas Negara Dan Cinta Yang Tumbuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: K.Ayura Dane

Seorang taruna tingkat akhir Angkatan Laut diperkenalkan oleh ibunya kepada putri sahabat lamanya. Pertemuan yang awalnya sekadar bentuk silaturahmi itu perlahan berubah menjadi kisah yang tak pernah mereka duga—sebuah perjalanan dari perkenalan sederhana hingga tumbuhnya cinta yang tulus. Lareina Shafa Putri, yang akrab disapa Nana, adalah siswi kelas 12 SMA. Ia merupakan anak ketiga sekaligus putri satu-satunya dari tiga bersaudara. Tumbuh di tengah dua kakak laki-laki membuat Nana menjadi pribadi yang mandiri, hangat, dan penuh perhatian. Ia adalah buah hati dari pasangan Ibu Hapsari dan Bapak Widodo, yang selalu mendidiknya dengan kasih sayang dan nilai-nilai keluarga yang kuat. Sementara itu, Izzan Adreano Althaf, atau Izzan, adalah seorang taruna Angkatan Laut tingkat terakhir yang dikenal tegas, bertanggung jawab, dan berwibawa. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan seorang adik laki-laki bernama Kaivan Adreano Althaf. Izzan adalah putra dari Ibu Karin dan Bapak Sudirman, yang membesarkannya dengan disiplin dan prinsip hidup yang kokoh. Perbedaan usia empat tahun di antara Nana dan Izzan sempat terasa sebagai jarak yang membatasi. Namun, waktu membuktikan bahwa angka hanyalah hitungan. Kedewasaan Izzan dan keceriaan Nana justru saling melengkapi. Dari perkenalan yang sederhana, tumbuh rasa saling memahami, saling menjaga, hingga akhirnya bersemi cinta yang menguatkan satu sama lain. Bagi mereka, perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan jembatan untuk belajar menerima, mengerti, dan berjalan berdampingan menuju kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K.Ayura Dane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Perlahan Menjauh Tanpa Disadari

Semester tujuh datang tanpa aba-aba.

Bagi mahasiswa farmasi seperti Nana, semester tujuh bukan lagi soal sekadar hadir di kelas, mencatat materi, lalu pulang. Semester ini adalah awal dari tahap yang lebih serius—penelitian, proposal skripsi, bimbingan, revisi, praktikum lanjutan, hingga laporan yang tak ada habisnya.

Hidup Nana mendadak penuh jadwal.

Pagi kuliah.

Siang praktikum.

Sore diskusi kelompok.

Malam revisi laporan.

Dan di sela-sela itu, ia masih harus pulang ke rumah setiap akhir pekan, membantu Mama, menghabiskan waktu bersama keluarga.

Waktu terasa sempit.

Dan tanpa ia sadari, ada satu hal yang mulai terpinggirkan.

Chat dari Izzan.

Awalnya, Nana masih berusaha membalas cepat.

Izzan:

Sudah makan, Nan?

Nana:

Sudah, Mas. Lagi di lab.

Tapi lama-kelamaan, balasannya mulai tertunda.

Pesan masuk pukul 09.00 pagi.

Dibalas pukul 16.30 sore.

Kadang bahkan baru dibalas malam.

Atau keesokan harinya.

Nana sering membaca pesan itu di sela praktikum. Ia berniat membalas nanti setelah selesai. Tapi begitu selesai, ia sudah kelelahan. Lalu tertidur. Atau langsung mengerjakan revisi dari dosen pembimbing.

Ia tidak bermaksud mengabaikan.

Ia hanya benar-benar sibuk.

Namun bagi Izzan yang berada ratusan kilometer jauhnya, jarak itu terasa berbeda.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Awalnya Izzan tidak terlalu mempermasalahkan.

Ia tahu Nana memang serius dengan kuliahnya. Ia bahkan bangga melihat bagaimana Nana begitu ambisius dan disiplin.

Tapi tetap saja, sebagai laki-laki yang sedang berusaha mendekat, ia merasakan perubahan itu.

Dulu, ketika ia mengirim pesan pagi, Nana akan membalas dalam hitungan menit.

Sekarang, pesan itu sering dibiarkan centang dua biru tanpa balasan selama berjam-jam.

Dulu, Nana yang lebih dulu mengirim foto kopi atau langit sore dari kampusnya.

Sekarang, hampir semua percakapan dimulai oleh Izzan.

Suatu malam, ia menatap layar ponselnya cukup lama.

Izzan:

Nan, lagi sibuk banget ya?

Pesan itu terkirim pukul 20.15.

Balasan datang pukul 23.47.

Nana:

Iya, Mas. Maaf banget. Lagi revisi proposal. Dosen killer banget 😭

Izzan tersenyum kecil membaca emotikon itu.

Ia mencoba memahami.

“Dia cuma sibuk,” gumamnya pada diri sendiri.

Ia tidak ingin menjadi laki-laki yang menuntut perhatian di saat Nana sedang berjuang untuk masa depannya.

Namun ada satu malam di mana perasaan itu benar-benar terasa.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari itu Izzan pulang larut dari kantor. Lelah. Rapat seharian. Target pekerjaan belum selesai. Ia berharap setidaknya bisa berbagi cerita dengan Nana sebelum tidur.

Ia mengirim pesan.

Izzan:

Hari ini capek banget. Kamu lagi apa?

Centang dua.

Tidak biru.

Ia menunggu.

Satu jam.

Dua jam.

Tidak ada balasan.

Padahal biasanya, walau sibuk, Nana akan mengabari kalau sedang tidak bisa membalas.

Malam semakin larut.

Izzan akhirnya mematikan lampu kamar dan merebahkan tubuhnya.

Pukul 01.12 dini hari, ponselnya bergetar.

Nana:

Maaf Mas baru balas. Tadi di kampus sampai jam 12. Habis itu langsung ketiduran.

Izzan membaca pesan itu dengan mata setengah mengantuk.

Ia membalas singkat.

Izzan:

Nggak apa-apa. Istirahat ya.

Padahal sebenarnya, ada sedikit rasa sepi yang tidak bisa ia jelaskan.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari-hari berikutnya pola itu berulang.

Chat semakin jarang.

Obrolan semakin pendek.

Tawa yang dulu terasa hangat di layar kini lebih sering digantikan kalimat singkat dan formal.

“Lagi sibuk.”

“Nanti ya Mas.”

“Maaf belum sempat balas.”

Suatu sore, Izzan duduk di balkon apartemennya di Jakarta, memandangi langit yang mulai gelap. Ia membuka kembali percakapan lama mereka—malam saat ia mengajak Nana keliling Malang. Percakapan yang panjang. Ringan. Penuh tawa.

Ia membandingkannya dengan chat minggu ini.

Perbedaannya terasa jelas.

“Dia berubah… atau memang ini kenyataannya?” pikirnya.

Ada momen di mana hatinya bertanya-tanya, apakah Nana mulai menjauh? Apakah ia salah menafsirkan kedekatan itu? Apakah bagi Nana, semua itu hanya kebetulan yang menyenangkan sesaat?

Namun setiap kali pikiran itu muncul, Izzan langsung menepisnya.

Nana bukan tipe perempuan yang bermain-main.

Kalau memang ia tidak ingin melanjutkan, pasti ia akan menjauh sepenuhnya.

Dan faktanya, Nana masih membalas. Masih memanggilnya Mas. Masih sesekali mengirim foto meja belajarnya yang penuh buku.

Ia hanya… sibuk.

Izzan menghela napas panjang.

Sebagai seseorang yang sudah bekerja, ia tahu betul bagaimana rasanya berada di fase sibuk mengejar sesuatu.

Ia memilih untuk memaklumi.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di sisi lain, Nana sebenarnya juga merasakan jarak itu.

Setiap kali ia melihat pesan dari Izzan yang belum sempat ia balas, ada rasa bersalah yang muncul.

Tapi ia benar-benar kelelahan.

Semester tujuh bukan hanya tentang nilai. Ini tentang masa depan. Tentang skripsi. Tentang profesi. Tentang cita-cita yang sejak lama ia kejar.

Ia sering berpikir, “Kalau aku terlalu fokus ke perasaan, nanti kuliahku gimana?”

Ia tidak ingin gagal. Tidak ingin menunda kelulusan. Tidak ingin mengecewakan orang tua.

Dan mungkin tanpa sadar, ia mulai menempatkan perasaan di urutan kedua.

Suatu malam, setelah selesai revisi bimbingan, Nana membuka chat Izzan yang belum ia balas selama enam jam.

Izzan:

Jangan terlalu capek ya.

Kalimat sederhana itu membuat hatinya menghangat.

Ia tahu Izzan tidak pernah menuntut.

Tidak pernah marah.

Tidak pernah protes.

Justru itulah yang membuatnya merasa bersalah.

Ia membalas.

Nana:

Makasih ya Mas udah selalu ngerti.

Balasan datang cepat malam itu.

Izzan:

Mas cuma nggak mau ganggu kamu. Fokus aja dulu.

Nana menatap kalimat itu cukup lama.

Fokus aja dulu.

Apakah itu berarti Izzan mulai mengambil jarak juga?

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari demi hari berlalu.

Intensitas chat tidak lagi seperti awal.

Tidak ada lagi panggilan video spontan.

Tidak ada lagi obrolan panjang sampai lewat tengah malam.

Yang tersisa hanya pesan-pesan singkat penuh pengertian.

Namun di balik semua itu, perasaan belum benar-benar hilang.

Izzan masih mengecek apakah Nana sudah online.

Nana masih tersenyum kecil setiap melihat notifikasi namanya.

Mereka tidak benar-benar menjauh.

Tapi juga tidak lagi sedekat dulu.

Dan mungkin, di fase inilah hubungan diuji.

Bukan oleh orang ketiga.

Bukan oleh kesalahpahaman besar.

Melainkan oleh waktu.

Oleh kesibukan.

Oleh jarak yang perlahan terasa nyata.

Izzan akhirnya memahami satu hal:

Jika ia ingin Nana tetap ada, ia harus sabar.

Jika ia ingin hubungan ini bertahan, ia tidak boleh menuntut perhatian di saat Nana sedang berjuang untuk mimpinya.

Malam itu, sebelum tidur, ia mengirim pesan singkat.

Izzan:

Semangat ya, calon apoteker.

Beberapa menit kemudian, balasan datang.

Nana:

Terima kasih, Mas.

Singkat.

Tapi cukup untuk membuat Izzan tersenyum tipis dalam gelap kamarnya.

Karena meskipun terasa asing, meskipun jarak mulai terasa, setidaknya mereka belum benar-benar berhenti berbicara.

Dan selama masih ada percakapan, masih ada harapan.

1
Rusty Susanti
kak mau tanya sebenarnya nana pake hijab gk sih
kadang hijabnya kadang rambutnya trs yang bener hijab apa rambut jadi bingung kadang
Rusty Susanti
lanjut kak
Rusty Susanti
lanjut kak semangat
K. Ayura Dane
Jangan lupa like dan komen ya😍
Lisa
Aku mampir Kak
K. Ayura Dane
Jangan lupa untuk like ya, supaya author makin rajin bikin bab selanjutnya😍😍😍
K. Ayura Dane
Jangan lupa untuk like ya, supaya author makin rajin bikin bab selanjutnya😍😍😍😍
K. Ayura Dane
Jangan lupa untuk like ya, supaya author makin rajin bikin bab selanjutnya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!