Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Gedung Olahraga (GOR) mulai sepi setelah latihan basket resmi berakhir. Ayra, dengan jantung yang masih berdegup liar akibat perlakuan Alano tadi, memutuskan untuk mengambil tindakan drastis. Ia tidak mau pulang bersama Alano sore ini. Ia takut pertahanannya benar-benar hancur jika harus berpegangan lagi di atas motor cowok itu.
Dengan jari yang sedikit gemetar, Ayra membuka aplikasi transportasi online di ponselnya. Klik. Pesanan dikonfirmasi.
"Sin, aku pulang duluan ya. Taksi online-ku sudah di depan gerbang," ucap Ayra terburu-buru pada Sinta yang masih asyik mengobrol dengan Bima.
"Lho? Ay! Kan tadi Kak Alano bilang mau anter kamu?" Sinta berseru bingung, tapi Ayra sudah melesat keluar dari GOR seperti dikejar hantu.
Ayra berjalan cepat menyusuri trotoar sekolah menuju gerbang depan. Ia terus menunduk, berharap tidak berpapasan dengan motor sport hitam yang sangat ia kenali. Namun, saat ia sampai di dekat pos satpam, sebuah mobil sedan putih berhenti tepat di sampingnya.
Kaca mobil itu turun secara perlahan, menampakkan sosok Rendy yang tersenyum ramah.
"Ayra? Belum pulang?" tanya Rendy.
"Eh, Kak Rendy. Ini... lagi nunggu taksi, Kak," jawab Ayra canggung.
Rendy mematikan mesin mobilnya sejenak. "Udah sore banget, Ay. Taksinya belum sampai? Daripada nunggu lama, bareng aku aja. Searah juga kan? Lagian ada beberapa poin soal proposal Pensi yang tadi kelupaan mau aku omongin."
Ayra bimbang. Di satu sisi, ia ingin menghindari Alano. Di sisi lain, pulang bersama Rendy terasa seperti memicu perang dunia ketiga jika Alano sampai tahu. Namun, ponselnya tiba-tiba bergetar—tanda pesan dari driver taksi online-nya.
Maaf Mbak, ban saya pecah. Saya cancel ya Mbak. Mohon maaf.
Ayra menghela napas frustrasi. "Sempurna banget nasibku hari ini," gumamnya pelan.
"Gimana, Ay? Ayo, masuk aja. Nggak enak diliatin anak-anak yang lain kalau nunggu di sini sendirian," ajak Rendy lagi, kali ini ia membukakan pintu penumpang depan dari dalam.
Ayra melihat ke arah parkiran motor di kejauhan. Alano belum terlihat. Mungkin dia masih ganti baju, pikirnya. Akhirnya, dengan ragu, Ayra melangkah masuk ke mobil Rendy. "Makasih ya, Kak. Maaf jadi merepotkan."
"Sama sekali enggak merepotkan, Ay," balas Rendy sambil mulai menjalankan mobilnya perlahan.
Baru saja mobil Rendy bergerak keluar dari gerbang sekolah sekitar sepuluh meter, suara raungan mesin motor yang sangat keras terdengar dari arah belakang. Sebuah motor sport hitam melesat dengan kecepatan tinggi, lalu dengan manuver yang sangat berani—dan berbahaya—motor itu menyalip mobil Rendy dan berhenti tepat di depan moncong mobil, menghalangi jalan.
CIIIIIIITTTT!
Rendy menginjak rem mendadak. Ayra terdorong ke depan, untungnya ia sudah memakai sabuk pengaman.
"Apa-apaan sih itu motor!" seru Rendy kesal.
Ayra membelalak. Ia tahu persis siapa pemilik helm full-face hitam di depannya itu. Alano turun dari motornya dengan gerakan kasar. Ia tidak melepas helmnya, namun dari bahasa tubuhnya, siapa pun tahu dia sedang sangat marah.
Alano berjalan menghampiri pintu penumpang tempat Ayra duduk. Ia mengetuk kaca mobil dengan keras. Tok! Tok! Tok!
Ayra menurunkan kaca mobil dengan tangan gemetar. "Lano! Kamu gila ya?! Bahaya tau!"
"Turun," perintah Alano. Suaranya rendah, dingin, dan tidak menerima bantahan.
"Lano, aku udah bareng Kak Rendy. Kita mau bahas OSIS—"
"Gue bilang turun, Ayrania Johan," ulang Alano, kali ini ia menyebut nama lengkap Ayra—tanda bahwa dia sudah berada di puncak emosinya.
Rendy akhirnya ikut turun dari mobil. "Lan, lo bisa santai nggak? Gue cuma mau anter Ayra pulang karena taksinya tadi batal. Kita juga ada urusan OSIS."
Alano berbalik, menatap Rendy dari balik kaca helmnya yang gelap. Ia membuka visor helmnya, memperlihatkan mata yang berkilat tajam. "Urusan OSIS lo bisa tunggu besok pagi. Tapi urusan dia, itu urusan gue."
"Dia bukan milik lo, Lan," balas Rendy, mencoba tetap tenang meski suaranya sedikit meninggi.
Alano tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyeramkan. Ia mendekat ke arah Rendy. "Lo bener. Dia bukan milik gue. Tapi gue adalah orang yang bakal berdiri paling depan kalau ada cowok yang coba-coba ambil kesempatan di saat dia lagi capek. Sekarang, minggir."
Ayra yang takut kejadian ini akan menjadi tontonan orang banyak, akhirnya keluar dari mobil. "Kak Rendy, maaf... maaf banget. Aku... aku pulang sama Alano aja. Makasih banyak tawarannya."
Rendy menatap Ayra dengan kecewa, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. "Oke, Ay. Kalau itu mau kamu. Hati-hati."
Setelah mobil Rendy meluncur pergi, suasana mendadak hening. Alano masih berdiri mematung, menatap jalanan kosong.
"Kamu keterlaluan, Lano!" seru Ayra, matanya mulai berkaca-kaca karena kaget dan malu. "Kenapa kamu harus kayak gitu? Aku cuma mau pulang!"
Alano berbalik. Ia melepas helmnya dan membantingnya ke atas jok motor. "Pulang sama siapa? Sama cowok yang bahkan nggak tau kalau lo itu lagi pusing? Lo pikir gue buta? Gue liat tadi lo pesen taksi online, lo sengaja mau hindarin gue kan?"
Ayra terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa, Ay? Kenapa lo sebegitu pengennya jauh dari gue? Apa gue sehina itu di mata lo sampe lo lebih milih naik mobil cowok lain daripada sama gue?" suara Alano pecah. Ada luka yang sangat dalam di sana.
"Bukan gitu, Lan... aku cuma... aku cuma bingung sama perasaan aku sendiri," aku Ayra jujur, suaranya nyaris hilang.
Alano mendekat, ia memegang kedua bahu Ayra. "Bingung? Oke, gue kasih waktu lo buat bingung. Tapi jangan pernah lari ke orang lain, Ay. Jangan pernah."
Alano menarik napas panjang, mencoba meredam amarahnya. Ia mengambil helm cadangan dari tas motornya dan memakaikannya ke kepala Ayra dengan gerakan yang sangat lembut, kontras dengan emosinya tadi.
"Naik," ucapnya pelan.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada kata yang terucap. Ayra memeluk pinggang Alano lebih erat dari sebelumnya. Ia bisa merasakan degup jantung Alano yang masih cepat di punggungnya. Untuk pertama kalinya, Ayra sadar bahwa Alano bukan sedang bermain-main. Alano sedang berjuang, dan Ayra adalah satu-satunya tujuan yang ingin ia capai.
Sore itu, Ayra belajar satu hal: lari dari Alano hanya akan membuatnya semakin tersesat dalam perasaannya sendiri.