NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retaknya Ikatan

Air hujan yang turun semakin menderas, menciptakan tirai air yang memisahkan Lauren dari dunia di sekelilingnya. Di bawah halte bus yang sepi, deru mesin motor Banyu terdengar seperti geraman binatang buas yang tertahan. Banyu tidak mematikan mesinnya. Ia tetap duduk di atas jok, membiarkan air hujan mengalir di kaca helmnya yang gelap, menatap Lauren dengan tatapan yang sanggup membekukan darah.

"Aku tidak sedang bermain, Banyu. Aku mencoba menyelamatkan kita," ulang Lauren. Suaranya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena rasa sesak yang menghimpit dadanya.

Banyu turun dari motornya. Gerakannya kaku, hampir tidak alami. Ia melepaskan helm, membiarkan rambutnya langsung basah kuyup. Matanya yang biasanya teduh kini memancarkan kilatan merah redup yang konsisten. Ia melangkah mendekat, masuk ke bawah naungan halte, memaksa Lauren mundur hingga punggungnya menabrak tiang besi yang dingin.

"Menyelamatkanku?" Banyu tertawa sinis.

"Atau memastikan aku tetap berada di bawah kendalimu? Aku sudah tahu semuanya, Lauren. Tentang rahasia yang kau sembunyikan di balik wajah polosmu itu."

Lauren menggeleng cepat. Ini manipulasi Sangker Bumi, batinnya menjerit. "Apa yang kau bicarakan? Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu!"

"Bohong!" bentak Banyu. Suaranya menggelegar, bersaing dengan suara guntur di kejauhan.

"Keluargaku mati karena garis darahmu! Kau mendekatiku bukan karena peduli, tapi karena kau butuh tumbal untuk memperkuat medali sialanmu itu, kan? Kau butuh aku untuk tetap menjadi portal bagi kegelapan yang kau panggil sendiri!"

Lauren terpaku. Tuduhan itu begitu kejam dan spesifik. Ia tahu bahwa entitas jahat telah membisikkan kebohongan ke telinga Banyu, memutarbalikkan sejarah yang diceritakan Herza padanya.

"Itu tidak benar! Banyu, dengarkan aku. Ada kekuatan jahat yang sedang mempermainkan pikiranmu. Mereka ingin kita saling membenci agar ritual itu bisa selesai!"

"Mereka? Siapa mereka?" Banyu menatap ke arah samping Lauren, ke tempat kosong di mana Herza biasanya berdiri.

"Maksudmu hantu yang selalu kau ajak bicara itu? Kau pikir aku tidak melihatmu? Kau gila, Lauren! Kau bicara pada udara kosong dan menyebutnya pelindung!"

Lauren merasa dunianya runtuh. Ia ingin menunjuk Herza, ingin membuktikan bahwa mentornya itu nyata, namun ia tahu di mata Banyu, ia hanya terlihat seperti gadis yang kehilangan kewarasan.

"Dia nyata, Banyu. Namanya Herza. Dia melindungiku, dia melindungimu di taman malam itu!"

"Cukup!" Banyu mencengkeram bahu Lauren dengan kuat. Rasa dingin yang luar biasa menjalar dari tangan Banyu, membuat medali di dada Lauren bergetar hebat.

"Jangan pernah sebut kejadian di taman itu lagi. Kau menghancurkan tempat itu dengan kekuatanmu hanya untuk menunjukkan betapa berkuasanya kau atas hidupku. Kau ingin aku takut padamu, kan?"

Air mata Lauren mengalir deras, bercampur dengan percikan air hujan yang terbawa angin.

"Aku melakukannya untuk menyelamatkan nyawamu! Kau hampir mati tercekik oleh bayanganmu sendiri!"

"Atau mungkin kau hanya sedang membasmi kompetisi?" desis Banyu tepat di depan wajah Lauren.

"Aku merasakannya sekarang. Kekuatan di dalam diriku... ia tidak membenciku. Ia hanya ingin aku bebas darimu. Kau adalah penjara yang sebenarnya, Lauren."

Lauren mencoba meraih tangan Banyu, ingin menyalurkan sedikit saja energi indigo untuk menjernihkan pikiran pemuda itu. Namun, baru saja ujung jarinya bersentuhan dengan kulit Banyu, sebuah ledakan energi ungu gelap mementalkan tangannya. Lauren meringis kesakitan, merasakan batinnya seperti tersengat listrik tegangan tinggi.

"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu," kata Banyu dingin. Ia mundur selangkah, menatap Lauren dengan jijik.

"Mulai hari ini, jangan pernah muncul lagi di depanku. Jangan pernah bicara padaku. Jika kau mencoba mendekat lagi, aku tidak akan segan-segan menggunakan kegelapan ini untuk menghancurkanmu."

"Banyu, kumohon... jangan pergi seperti ini," isak Lauren. Ia jatuh terduduk di bangku halte, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Banyu tidak menoleh lagi. Ia memakai helmnya, menaiki motor, dan menarik gas sedalam-dalamnya. Suara raungan mesin itu perlahan menghilang di balik deru hujan, meninggalkan Lauren dalam kesendirian yang mematikan. Hati Lauren terasa seperti dicabik-cabik. Perisai emosional yang selama ini menjaganya agar tetap kuat kini telah hancur berkeping-keping.

Lauren merasa benar-benar kalah. Ia telah kehilangan Banyu, dan ia telah kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Rasa isolasi yang ia takuti sejak kecil kini menjadi kenyataan yang paling pahit. Ia merasa seperti monster yang benar-benar berbahaya bagi siapa pun yang ia cintai.

Mungkin mereka benar, pikir Lauren dalam keputusasaannya. Mungkin keberadaanku memang hanya membawa sial bagi orang lain.

Hujan mulai mereda, menyisakan hawa lembap yang menyesakkan. Herza muncul dari balik bayangan pohon di seberang halte. Arwah itu melangkah mendekat dengan pendar perak yang sangat redup, wajahnya menunjukkan keprihatinan yang mendalam namun juga ada semburat ketakutan di sana.

"Lauren..." panggil Herza lirih.

Lauren tidak mengangkat kepalanya. "Apa kau senang sekarang, Herza? Dia membenciku. Dia menganggapku gila."

"Aku tidak pernah menginginkan ini, Lauren," sahut Herza. Ia duduk di ujung bangku, meskipun ia tidak bisa memberikan kehangatan fisik yang Lauren butuhkan.

"Tapi kau harus melihat kenyataannya. Banyu bukan lagi Banyu yang kau kenal. Dia telah menyerahkan separuh jiwanya pada kebencian."

"Karena aku!" teriak Lauren, akhirnya mendongak dengan mata yang memerah. "Karena aku tidak bisa menjelaskan dunia ini padanya! Karena aku adalah 'Gadis Indigo' yang aneh ini!"

Herza terdiam sejenak, menatap jalanan yang basah. "Masalahnya lebih besar dari itu, Lauren. Apakah kau merasakannya? Saat Banyu pergi tadi?"

Lauren mengerutkan dahi, mencoba merasakan resonansi energinya. Ia tertegun. Biasanya, ada sebuah getaran konstan di sekelilingnya, sebuah perisai energi yang terbentuk dari ikatan batinnya dengan Herza dan Banyu sebagai penyeimbang. Namun sekarang, suasana di sekitarnya terasa kosong dan hampa.

"Kekosongan ini..." gumam Lauren.

"Perisai kita sudah runtuh, Lauren," kata Herza dengan nada yang sangat serius. "Pertengkaran kalian bukan sekadar emosi remaja. Itu adalah taktik Sang Arsitek untuk memutuskan ikatan resonansi yang melindungi kita. Selama ini, perasaanmu pada Banyu dan kesetiaanmu padaku membentuk segitiga energi yang sulit ditembus oleh Sangker Bumi."

Herza berdiri, menatap ke arah langit yang masih mendung kelabu.

"Sekarang, setelah ikatan itu retak, kita tidak lagi memiliki perlindungan. Rumahmu, sekolahmu, bahkan batinmu sendiri kini terbuka lebar bagi mereka. Kita tidak lagi berada dalam perang dingin, Lauren."

Lauren merasakan bulu kuduknya berdiri tegak. Ia menyadari bahwa perpisahan dengan Banyu bukan hanya akhir dari sebuah hubungan, melainkan awal dari kehancuran pertahanan gaibnya.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Lauren, suaranya kecil dan penuh ketakutan.

Herza menoleh, menatap Lauren dengan sorot mata yang paling tajam yang pernah Lauren lihat.

"Hanya ada satu cara. Kau harus berhenti bersembunyi. Kau harus berhenti berharap untuk menjadi normal. Jika kau tidak segera menguasai kekuatanmu sepenuhnya secara mandiri tanpa bergantung pada ikatan siapa pun, maka malam ini akan menjadi malam terakhir bagi semua yang kau sayangi."

Tiba-tiba, dari kejauhan, Lauren mendengar suara lolongan anjing yang sangat panjang, diikuti oleh suara tawa yang bergema di setiap tetesan air yang jatuh dari atap halte. Suara itu bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam batinnya sendiri.

Gerbangnya... sudah terbuka sedikit lagi, Gadis Indigo...

Lauren memeluk dirinya sendiri, merasakan getaran hebat pada medalinya. Ia menyadari bahwa ia baru saja mencapai titik terendahnya, dan di dalam kegelapan yang paling dalam ini, musuh-musuhnya sedang bersiap untuk melakukan serangan penghabisan.

1
[Asa]
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!