Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 – Mata yang Kembali Terbuka
Daniel menutup pintu ICU dengan hati-hati.
Langkahnya pelan, pikirannya masih tertinggal di dalam ruangan itu—di samping ranjang Valeria, di antara doa dan pengakuan yang baru saja ia lepaskan.
Begitu ia berbalik—
Alexander sudah berdiri di sana.
Masih dengan seragam pilotnya.
Garis emas di pundaknya tampak sedikit kusut, tanda ia belum sempat pulang sejak mendarat. Wajahnya lelah, tapi matanya… penuh sesuatu yang hanya muncul ketika ia berdiri di depan pintu itu.
Mata mereka bertemu.
Tak ada kata yang langsung terucap.
Hanya senyum kecil—tenang, saling mengerti.
“Kau baru keluar?” tanya Alexander pelan.
Daniel mengangguk. “Jam kerjaku selesai.”
Hening sesaat.
Alexander mengangkat alis tipis. “Dia masih keras kepala?”
Daniel tersenyum tipis. “Sangat.”
Alexander mengangguk pelan.
Daniel melangkah mendekat sedikit. “Masuklah. Dia… mungkin menunggumu.”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa dalam.
Alexander menatapnya sepersekian detik, lalu mengangguk.
Daniel berbalik untuk pergi, namun sebelum menjauh ia menoleh sekali lagi.
“Alexander.”
“Ya?”
“Kalau… terjadi apa-apa, panggil aku.”
Alexander menatapnya mantap. “Aku akan.”
Daniel berjalan menyusuri lorong, belum benar-benar pergi jauh dari sana.
Sementara itu—
Alexander menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu ICU.
Ruangan itu sunyi seperti biasa.
Aroma antiseptik. Suara monitor yang konstan. Cahaya putih yang lembut.
Dan Valeria.
Masih terbaring. Masih diam.
Alexander melangkah mendekat.
Dua hari di udara terasa seperti dua tahun. Ia memang terbiasa terbang jauh, terbiasa meninggalkan kota, tapi tidak pernah seperti ini.
Tidak pernah dengan perasaan bahwa seseorang yang ia cintai mungkin tidak akan menyambutnya lagi.
Ia berdiri di samping ranjang.
“Hey, gadisku,” bisiknya pelan.
Tangannya gemetar saat ia menyentuh ujung rambut Valeria yang tergerai di bantal.
“Aku belum pulang. Masih pakai seragam. Kau tahu aku biasanya paling tidak suka berlama-lama dengan ini.”
Ia tersenyum kecil.
“Dua hari terbang. Rute panjang. Cuaca di atas Atlantik buruk sekali.”
Ia menarik kursi, duduk di sampingnya.
“Brian hampir salah menghitung arah angin silang,” lanjutnya pelan, mencoba bergurau. “Dan kau tahu? Daniel cemburu.”
Ia tertawa kecil, suara beratnya bergetar.
“Dia pikir Brian rivalnya.”
Alexander menggeleng pelan.
“Padahal Brian itu kakaknya Camille. Sahabatku. Dunia ini kecil sekali, ya?”
Ia menggenggam tangan Valeria perlahan.
“Camille itu teman kuliahmu. Kau pasti tidak menyangka kan… bahwa semuanya terhubung seperti ini?”
Suara Alexander mulai melemah.
Ia menunduk.
“Aku lelah, Valeria…”
Keheningan menjawabnya.
“Aku lelah pura-pura kuat.”
Tangannya menggenggam lebih erat.
“Bangunlah.”
Nada suaranya pecah.
“Aku merindukan senyummu.”
Air matanya jatuh, menetes di punggung tangan Valeria.
“Aku merindukan matamu.”
Tubuhnya mulai bergetar.
“Kalau kau tidak bangun… aku bisa gila.”
Ia tertawa kecil di sela tangisnya.
“Kau tahu aku nekat, kan?”
Ia menunduk lebih dalam, bahunya bergetar.
“Kalau perlu… aku akan buat kecelakaan lagi. Apa perlu Aku jatuhkan pesawatku hanya untukmu supaya kau sadar.” "Tapi bagaimana dengan penumpang." terdiam.
"baiklah aku akan menabrakan mobilku nanti sepulang dari sini. janji ya kamu akan bangun dan menolongku." Isak nya.
Kalimat itu keluar setengah bercanda, setengah putus asa.
“Tuhan dengar aku,” bisiknya lirih. “Jangan buat aku kehilangan dia.”
Tangisnya kini sesenggukan.
Dan di tengah getaran itu—
Ia merasakan sesuatu.
Sangat kecil.
Sangat halus.
Jemari yang ia genggam… bergerak.
Alexander membeku.
Ia menahan napas.
“Mimpi…” gumamnya.
Namun—
Sekali lagi.
Jemari itu bergerak lebih jelas.
Alexander mengangkat wajahnya perlahan.
“Valeria?”
Kelopak mata itu… bergetar.
Detik terasa melambat.
Monitor masih stabil.
Namun bagi Alexander, dunia berhenti berputar.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Mata indah itu terbuka.
Kabur.
Bingung.
Kosong.
Tapi terbuka.
Tatapan itu menatapnya dalam diam.
Alexander terdiam, tak mampu berkata-kata.
“Valeria…” suaranya bergetar hebat.
Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
Mata itu berkedip sekali.
Seolah berusaha mengenali sosok di depannya.
Alexander tiba-tiba tersadar.
Ia menekan tombol darurat di samping ranjang.
Alarm kecil berbunyi.
“Dokter! Perawat!” suaranya nyaris pecah.
Di luar ruangan—
Daniel yang belum benar-benar jauh mendengar suara langkah cepat.
Ia menoleh.
Beberapa perawat berlari menuju ICU.
Jantungnya langsung jatuh.
Tidak.
Bukan lagi.
Bukan kritis lagi.
Ia berbalik dan berlari kembali ke arah ruangan itu.
Tangannya gemetar saat ia meraih ponselnya.
Ia menghubungi orang tuanya.
“Momy, daddy… ke rumah sakit sekarang.”
“Ada apa?” suara Isabella terdengar panik.
“Aku belum tahu. Tapi para medis berlari ke ruang Valeria.”
Suara napas ibunya memburu.
“Kami berangkat sekarang!”
"hubungi Miguel dan istrinya, kita akan segera tiba di sana".
Daniel mematikan panggilan dan hampir tak mampu berdiri saat melihat pintu ICU tertutup dan dokter masuk satu per satu.
Beberapa detik terasa seperti hukuman.
Lalu—
Pintu terbuka.
Alexander keluar.
Wajahnya kacau.
Mata merah.
Napas tak teratur.
Daniel melemah.
“Apa yang terjadi?” suaranya hampir tidak keluar.
Alexander menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua bulan—
Ia tersenyum di tengah tangisnya.
“Dia membuka mata.”
Daniel membeku.
“Apa?”
“Dia membuka mata, Daniel…” terikanya.
Suaranya pecah.
“Dia melihatku.”
Daniel merasakan lututnya hampir tak sanggup menopang tubuhnya.
“Dia… sadar?”
Alexander mengangguk, air matanya kembali jatuh.
“Dia sadar.”
Daniel menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tangisnya pecah di lorong itu.
Para perawat masih bergerak cepat di dalam, memeriksa refleks, tekanan darah, respons neurologis.
Namun satu hal sudah pasti.
Valeria kembali.
Dua bulan penantian.
Dua bulan doa.
Dua bulan air mata.
Dan malam itu—
Di bawah lampu putih rumah sakit—
Keajaiban benar-benar terjadi.