Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.
Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.
Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Api unggun kecil itu masih menyala lembut di tepi sungai, tapi kini udara di antara Lin Feng dan Ye Qingyu terasa jauh lebih panas. Pelukan mereka yang tadinya lembut perlahan berubah. Ye Qingyu menggeser tubuhnya lebih dekat, dada montoknya yang sempurna menempel erat di dada Lin Feng. Jubah hitamnya melorot sedikit dari bahu, memperlihatkan kulit putih mulus seperti sutra yang berkilau di bawah cahaya api keemasan.
Lin Feng menelan ludah. Tubuh Api Tak Hancurnya yang biasanya dingin dan terkendali kini berdenyut ganas. Tungku di dadanya seolah ikut terbakar oleh sentuhan gadis itu.
“Qingyu…” suaranya serak, hampir bergetar.
Ye Qingyu mengangkat wajahnya. Bibir merah mudanya hanya berjarak satu jengkal dari bibir Lin Feng. Matanya yang hitam pekat penuh kabut gairah.
“Jangan berhenti,” bisiknya. “Malam ini… aku ingin merasakan api mu yang sebenarnya.”
Tangan Lin Feng yang besar dan hangat meluncur pelan di punggung Ye Qingyu. Ia merasakan lekuk pinggangnya yang ramping sempurna, melengkung indah seperti busur bulan, lalu turun ke pinggulnya yang bulat montok dan kenyal. Jubah hitam itu ia tarik perlahan ke bawah, memperlihatkan bahu telanjang yang halus, tulang selangka yang elegan, dan payudara yang penuh, bulat sempurna dengan puncak merah muda yang sudah mengeras karena dingin malam dan panas tubuh Lin Feng.
“Ya Tuhan… kau sempurna,” gumam Lin Feng, suaranya parau. Telapak tangannya menangkup salah satu payudara itu, meremas lembut. Kulitnya begitu halus, kenyal, dan hangat seperti sutra yang baru dipanaskan. Putingnya mengeras di antara jari-jarinya, membuat Ye Qingyu mendesah pelan, tubuhnya melengkung ke depan meminta lebih.
“Sentuh aku lebih dalam…” pintanya, napasnya tersengal.
Lin Feng tidak bisa menahan diri lagi. Ia menunduk, bibirnya menyentuh leher jenjang Ye Qingyu yang harum seperti bunga malam. Lidahnya menjilat pelan, meninggalkan jejak panas yang membuat gadis itu menggelinjang. Tangan kirinya turun lebih rendah, menyusuri perut rata yang mulus, lalu ke paha dalamnya yang lembut dan panjang sempurna. Jari-jarinya menyelinap ke balik kain tipis yang masih menutupi bagian intimnya, merasakan kelembapan hangat yang sudah siap menyambutnya.
“Ahh… Lin Feng…” desah Ye Qingyu, suaranya manja dan penuh nafsu. Pinggulnya bergerak pelan mengikuti gerakan jari Lin Feng, menggesekkan tubuhnya yang sempurna ke tubuh pria itu. Ia merasakan kejantanan Lin Feng yang sudah mengeras di balik jubah, panas seperti bara api, menekan perutnya yang rata.
Ye Qingyu tidak tinggal diam. Tangan lentiknya menyusup ke dalam jubah Lin Feng, menyentuh dada bidang yang keras seperti batu, lalu turun ke perut six-pack yang terbentuk sempurna karena kultivasi api. Jari-jarinya membelai kejantanan Lin Feng yang besar dan panas, menggenggamnya pelan, menggerakkan naik-turun dengan ritme yang membuat Lin Feng mendengus keras.
“Kau… sangat besar,” bisik Ye Qingyu di telinga Lin Feng, suaranya menggoda. “Api mu ini… aku ingin merasakannya di dalamku.”
Lin Feng tidak bisa menunggu lagi. Ia mengangkat tubuh Ye Qingyu dengan mudah—tubuh gadis itu ringan dan lentur seperti bayangan—lalu membaringkannya di atas jubah hitam yang ia bentangkan di rumput lembut. Ia menindihnya, tubuh mereka saling menempel tanpa celah. Payudara Ye Qingyu yang montok tertekan di dada Lin Feng, puncaknya bergesekan dengan kulit pria itu, membuat keduanya mendesah bersamaan.
Lin Feng mencium bibirnya dengan ganas. Lidah mereka saling menari, panas dan basah. Tangan Lin Feng meremas kedua payudara itu bergantian, memilin putingnya hingga Ye Qingyu menggeliat dan menggigit bibir bawah Lin Feng.
“Masuk… sekarang…” pintanya di sela ciuman, pinggulnya terangkat memohon.
Lin Feng melepas sisa kain yang menutupi tubuh Ye Qingyu. Tubuh telanjangnya terpampang sempurna di bawah cahaya api unggun—kulit putih mulus, pinggang ramping yang bisa dipegang satu tangan, pinggul lebar yang menggoda, dan kaki panjang jenjang yang terbuka lebar menyambutnya. Bagian intimnya sudah basah berkilau, mengundang.
Dengan satu gerakan pelan tapi kuat, Lin Feng masuk ke dalamnya. Kehangatan sempit dan basah itu menyambutnya seperti tungku api yang sempurna. Ye Qingyu menjerit kecil, kuku-jarinya mencakar punggung Lin Feng, meninggalkan jejak merah yang langsung sembuh karena Tubuh Api Tak Hancur.
“Begitu… dalam… ahh!” desahnya, matanya berkaca-kaca karena kenikmatan.
Lin Feng mulai bergerak, pelan dulu, lalu semakin cepat. Setiap dorongan membuat payudara Ye Qingyu bergoyang indah, pinggulnya yang bulat terangkat menyambut setiap hantaman. Tubuh mereka basah oleh keringat, panas bercampur api kultivasi Lin Feng membuat udara di sekitar mereka berkelap-kelip seperti fatamorgana.
“Qingyu… kau milikku sekarang,” geram Lin Feng di telinganya sambil terus bergerak lebih dalam, lebih cepat.
“Ya… aku milikmu… selamanya…” jawab Ye Qingyu, suaranya pecah karena kenikmatan. Tubuhnya mengejang hebat, mencapai puncak pertama yang membuatnya bergetar hebat, cairan hangat membasahi kejantanan Lin Feng.
Lin Feng tidak berhenti. Ia membalik tubuh Ye Qingyu, membuatnya berlutut, lalu masuk dari belakang. Tangan kirinya meremas payudara yang bergoyang, tangan kanannya memegang pinggul sempurna itu sambil terus menghantam. Suara tubuh mereka yang bertemu bergema di malam hutan, bercampur desahan dan erangan yang semakin liar.
Mereka berganti posisi berkali-kali—Ye Qingyu di atas, menggoyang pinggulnya dengan ahli, payudara montoknya bergoyang di depan wajah Lin Feng yang ia hisap dan gigit lembut. Lalu kembali ke posisi misionaris, mata mereka saling tatap penuh gairah saat Lin Feng mencapai puncak di dalam tubuhnya, memenuhinya dengan panas api murni yang membuat Ye Qingyu orgasme lagi, tubuhnya kejang-kejang hebat.
Mereka berbaring saling peluk setelahnya, napas tersengal. Tubuh Ye Qingyu yang sempurna masih berkilau keringat, lekuk-lekuknya menempel erat di tubuh Lin Feng. Jari Lin Feng membelai pinggulnya pelan, seolah tak ingin melepaskan.
“Besok kita sampai di Kota Kekaisaran,” bisik Lin Feng, mencium keningnya. “Tapi malam ini… kau adalah api yang paling indah yang pernah kubakar.”
Ye Qingyu tersenyum manja, tangannya membelai dada Lin Feng. “Dan kau adalah satu-satunya yang bisa membuat bayanganku menyala.”
Mereka tertidur dalam pelukan, api unggun masih menyala pelan, menyaksikan dua jiwa yang kini tak terpisahkan.