Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peta Dibawa Es
Suara gemuruh dari runtuhnya stupa Borobudur masih terngiang di telinga Liora, namun sunyi yang menyusul kemudian jauh lebih menakutkan. Di pelataran candi yang kini hancur, Liora berdiri memegang batu bercahaya peninggalan terakhir Adam sambil menatap radar di pergelangan tangannya. Satu titik hijau kecil bergerak menjauh dari konflik, melesat menuju koordinat nol di kutub selatan.
"Hendrawan, kau melihatnya?" suara Liora bergetar karena kelelahan, namun matanya tetap tajam.
"Aku melihatnya, Liora," sahut Hendrawan dari balik layar yang berkedip. "Pesawat itu... itu bukan milik elit Bulan maupun faksi Nevada. Tanda panggilnya adalah 'Vl-7'. Itu adalah kode yang sudah mati sejak 1945. Pesawat itu membawa 'The Seed' benih genom asli yang dikumpulkan Unit 731 sebelum mereka pecah menjadi faksi-faksi sekarang."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, perang di Borobudur tadi adalah drama pembersihan. Para elit di Bulan dan faksi Nevada saling menghancurkan agar dunia tidak menyadari bahwa 'harta karun' yang sebenarnya sedang dilarikan ke bunker terdalam di Antartika. Mereka menyebutnya Station 211."
Liora mengepalkan tangannya. "Jadi, kemenangan kita di sini hanyalah bagian dari rencana mereka untuk menghapus jejak?"
"Tepat. Mereka membiarkan kita menghancurkan 'alibi' mereka agar mereka bisa hidup selamanya di bawah es tanpa gangguan. Dan Liora... titik itu bergerak menuju sebuah anomali gravitasi yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan manapun."
Tanpa ragu, Liora berlari menuju pesawat taktisnya yang masih berfungsi. Ia tidak punya waktu untuk berduka atas hilangnya Adam. Ia tahu, jika pesawat 'Vl-7' itu sampai di Antartika, semua pengorbanan Adam akan sia-sia.
Di tengah perjalanan lintas benua menuju selatan, batu bercahaya di tangan Liora mulai berdenyut. Tiba-tiba, proyeksi holografik Adam muncul di kokpit, namun kali ini nampak seperti rekaman yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Liora... jika kau melihat ini, berarti Borobudur telah menjalankan tugasnya sebagai pengalihan. Maafkan aku karena harus merahasiakan ini. Elit global tidak pernah berniat memenangkan perang di Indonesia. Mereka hanya ingin memicu 'Protokol Lazarus'. Di bawah es Antartika, terdapat sebuah teknologi yang mereka temukan dari masa sebelum banjir besar sebuah mesin yang mampu menulis ulang kode genetik seluruh planet melalui air laut yang membeku."
Liora menatap proyeksi itu dengan mata berkaca-kaca. "Kau sudah tahu ini akan terjadi, Adam?"
"Aku adalah Arsiteknya, Liora. Aku yang merancang jalur pelarian mereka... tapi aku juga yang menanam 'pintu belakang'. Di Antartika, kau tidak akan melawan tentara. Kau akan melawan Sejarah. Cari 'Danau voku'. Di kedalaman empat kilometer di bawah es, kau akan menemukan jantung dari Unit 731 yang sebenarnya."
Pesawat Liora memasuki wilayah udara Antartika. Pemandangan di bawahnya nampak seperti planet lain—padang es putih yang tak berujung dan badai salju yang mampu membekukan bahan bakar jet dalam hitungan detik. Namun, radarnya menunjukkan sesuatu yang mustahil: Sebuah lubang raksasa yang sempurna, melingkar dengan diameter satu kilometer, tepat di tengah daratan es.
"Hendrawan! Aku melihat lubangnya! Ini bukan fenomena alam!"
"Hati-hati, Liora! Deteksi magnetik di sana gila! Kau akan memasuki area 'The Silence' yang sebenarnya!"
Liora menukikkan pesawatnya masuk ke dalam lubang es tersebut. Suhu di luar mencapai minus 60 derajat, namun saat ia turun lebih dalam, suhu justru mulai naik secara drastis. Dinding es berubah menjadi dinding batu basalt yang halus, diukir dengan simbol-simbol yang menyerupai stupa Borobudur namun dalam skala yang jauh lebih masif.
Di dasar lubang itu, terdapat sebuah kota bawah tanah yang terjaga temperaturnya. Di sana, Liora melihat pesawat 'Vl-7' sudah mendarat di depan sebuah gerbang emas raksasa.
Liora mendarat dan keluar dari pesawat, senapan di tangan, napasnya membentuk uap putih. Di depannya berdiri seorang pria tua yang nampak sangat bugar, mengenakan jubah abu-abu sederhana. Pria itu menatap Liora dengan senyum yang sangat akrab.
"Selamat datang di Station 211, Liora. Kau adalah tamu yang paling kami tunggu," kata pria itu.
Liora membeku. Wajah pria itu... nampak persis seperti foto kakeknya yang hilang di Singapura puluhan tahun lalu.
"Kakek?" bisik Liora.
"Panggil aku The Librarian," jawab pria itu. "Di sini, tidak ada keluarga. Hanya ada data. Dan kau, Liora, adalah pembawa 'kunci' terakhir yang kami butuhkan untuk memulai ulang dunia dari titik nol. Terima kasih telah membawa memori Adam kepadaku."
Pembaca kini dihadapkan pada kenyataan yang lebih gila Musuh terakhir Liora mungkin adalah darah dagingnya sendiri. Dan Antartika bukan sekadar bunker, melainkan mesin waktu biologis yang siap menghapus peradaban modern.