Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Alvar duduk di kursi kayu tua di teras rumah, berhadapan dengan ibunya. Matahari pagi sudah naik, tapi hangatnya tak benar-benar ia rasakan. Di atas meja, beberapa catatan lusuh dan buku kecil berisi perhitungan tergeletak terbuka, angka-angka yang kini terasa menyesakkan.
“Ibu sudah hitung,” ucap ibunya pelan, suaranya hati-hati.
“Kerugiannya besar, Var.”
Alvar mengangguk tanpa menatap. Ia sudah tahu. Bahkan, sebelum ibunya bicara, dadanya sudah lebih dulu terasa berat.
“Bawang yang hangus itu…” ibunya berhenti sejenak, menelan ludah. “Itu modal terbesar kita.”
Alvar memejamkan mata. Di kepalanya, rencana-rencana yang selama ini ia simpan rapi mulai runtuh satu per satu. Keuntungan dari bawang itu, yang seharusnya ia gunakan untuk membuka praktik kecilnya sendiri. Dia menabung lama, menahan keinginan, menunda banyak hal. Dia ingin membeli rumah sederhana. Mobil kecil agar Kiara tak kepanasan naik motor saat di desa. Hidup yang pelan-pelan, tapi pasti.
Sekarang, semuanya sirna.
“Aku masih punya tabungan lain,” kata Alvar akhirnya, suaranya terdengar datar.
“Tapi itu harus ku pakai buat gaji karyawan bapak … dan bangun gudang baru.”
Ibunya menatapnya lama. “Itu tabungan kamu, Nak. Untuk masa depanmu.”
Alvar tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata.
“Kalau karyawan bapak nggak digaji, mereka makan apa, Bu? Gudang nggak dibangun, kita mau bertahan pakai apa?”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Alvar menunduk, jari-jarinya saling bertaut.
“Baru mulai hidup sama Kiara…” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri.
“Aku pengin jadi suami yang layak. Yang nggak bikin dia khawatir.”
Ibunya bergeser mendekat, meletakkan tangan di pundak Alvar.
“Kamu sudah jadi suami yang baik, Var. Cobaan ini bukan karena kamu kurang.”
Alvar menghela napas panjang. Ia bukan pria yang mudah mengeluh, tapi pagi itu beban terasa terlalu banyak datang sekaligus. Dia harus kuat, sebagai anak, sebagai pemilik usaha, dan kini sebagai suami.
Alvar berdiri perlahan, pandangannya mengarah ke halaman rumah, lalu jauh ke arah sawah dan gudang yang kini tinggal sisa.
Sore itu, langit desa berwarna jingga kusam. Angin berembus pelan membawa bau tanah dan sisa-sisa arang dari gudang yang terbakar. Alvar duduk di ruang tengah ketika suara motor tua terdengar mendekat. Beberapa detik kemudian, ayahnya, masuk dengan langkah lelah.
“Seperti yang kamu bilang, Var,” ucap Pak Yono sambil meletakkan topinya di meja. “Bapak sudah lapor ke polisi setempat. Mereka janji akan selidiki. Bapak juga yakin ini bukan kebetulan. Ada orang yang iseng … atau sengaja.”
Alvar mengangguk pelan, wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan banyak pikiran.
“Alvar juga ngerasa gitu, Pak. Gudang itu nggak mungkin kebakar sendiri. Apalagi malamnya angin nggak besar, di sini kan dingin cuacanya pak.”
Belum sempat percakapan berlanjut, suara motor kembali terdengar, kali ini hanya melintas. Alvar menoleh refleks ke arah jendela. Supradi lewat pelan di depan rumah, helmnya tak terpasang, wajahnya sengaja menoleh. Bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang singkat, tapi cukup jelas.
Tatapan Alvar mengeras. Ia tak membalas senyum itu, hanya menatap lurus, dingin, seolah mencatat sesuatu di benaknya.
Ibu Alvar yang sejak tadi diam akhirnya bicara, suaranya rendah namun penuh kegelisahan.
“Sejak hari kebakaran itu, Supradi sudah mondar-mandir dua kali di depan rumah kita.”
Alvar menarik napas dalam. Ada rasa tak enak yang mengendap di dadanya, perasaan yang sama seperti saat pertama kali ia menginjakkan kaki kembali di desa.
“Dua kali?” ulangnya pelan.
Ibu Alvar mengangguk. “Iya. Alasannya cuma lewat, tapi matanya … ibu nggak suka.”
Pak Yono menatap anaknya, seakan ingin memastikan. “Kamu curiga sama dia?”
Alvar tak langsung menjawab. Ia bangkit, melangkah mendekat ke jendela yang menghadap jalan desa. Motor Supradi sudah menghilang di tikungan, tapi senyum sinis itu masih terbayang jelas.
“Belum ada bukti, Pak,” ucap Alvar akhirnya, tenang tapi tegas.
“Tapi Alvar juga nggak bisa tutup mata. Orang yang nggak punya urusan, nggak akan mondar-mandir begini.”
Ia menoleh kembali pada kedua orang tuanya.
“Kita hati-hati aja dulu. Jangan nuduh, tapi juga jangan lengah.”
Malam itu, rumah Alvar terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu teras menyala redup ketika dua sosok datang dari arah jalan desa. Alvar yang sedang duduk di ruang tengah segera bangkit saat mengenali mereka.
Siti berdiri di samping seorang pria paruh baya, yaitu Herman, ayahnya. Salah satu karyawan lama Pak Yono. Wajah Siti terlihat rapi, tapi matanya menyimpan kecanggungan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Silakan masuk, Pak Herman,” ujar Alvar sopan.
Herman tersenyum kecil, sedikit sungkan. “Maaf malam-malam begini, Var. Saya sebenarnya nggak enak datang, tapi … ada keperluan.”
Alvar mengangguk, mempersilakan mereka duduk. “Nggak apa-apa, Pak. Ada apa?”
Herman menarik napas sebentar sebelum bicara.
“Saya mau minta upah, Var. Bukan maksud mendesak, tapi … Siti sebentar lagi mau dinikahkan. Kami lagi butuh biaya.”
Ucapan itu membuat Alvar tertegun sejenak, lalu wajahnya melunak. Ia menoleh ke arah Siti.
“Oh ya?” senyum tipis terukir di bibirnya. “Selamat, Ti.”
Siti tersenyum, sedikit kikuk. “Terima kasih, Mas Alvar.”
Tak ada iri di mata Siti, tak ada penyesalan. Hanya ketulusan, dia memang pernah menyukai Alvar, itu bukan rahasia, tapi ia tahu batas. Dan sejak Alvar menikah, perasaannya ia simpan rapi, tak pernah berniat merebut atau mengganggu.
“Mbak yu Kiara gimana, Mas?” tanya Siti pelan, nada suaranya tulus.
“Sehat?”
Alvar mengangguk. “Sehat, dia lagi di Jakarta. Ada kerjaan yang harus diselesaikan.”
Jawabannya singkat, seadanya, ada rindu yang tak ia ucapkan. Alvar lalu menoleh kembali ke Herman.
“Soal upah, Pak … saya bayar besok ya. Saya ambil uang dulu. Bukan nggak mau bayar sekarang, cuma—”
“Saya paham, Var,” potong Herman cepat. “Kami tahu kondisi kamu lagi berat.”
Dia terdiam sebentar, lalu menunduk sopan. “Saya turut berduka ya, Var. Gudang itu … saya ikut sedih dengarnya.”
Ucapan itu menampar pelan hati Alvar. Ia mengangguk, berusaha tetap tegar.
“Terima kasih, Pak.”
Siti ikut berdiri. “Semoga semua urusannya dimudahkan ya, Mas. Gudangnya, kerjaan, sama … rumah tangganya.”
Alvar tersenyum kecil, tulus.
“Aamiin. Makasih, Ti. Kamu juga semoga pernikahan kamu lancar ya,”
"Maksih, Mas."
Setelah keduanya berpamitan dan langkah mereka menjauh dari rumah, Alvar kembali duduk sendirian.
Langkah Alvar terhenti tepat di depan pintu kamar. Tangannya yang sudah hendak memutar kenop perlahan turun kembali ketika suara motor terdengar dari luar rumah, keras, kasar, dan disengaja.
Alvar mengernyit, suara itu bukan suara orang yang sekadar lewat. Ia melangkah ke jendela depan dan mengintip di balik tirai tipis. Di luar, di bawah cahaya lampu jalan yang pucat, Supradi berdiri dengan motor tuanya. Beberapa kali pria itu menarik gas, memekakkan telinga, seolah ingin memastikan Alvar tahu keberadaannya.
Dada Alvar menghangat oleh rasa tak suka. Ia menarik napas dalam, lalu membuka pintu depan dengan tegas.
“Supradi!” teriak Alvar.
“Ada masalah apa kamu ribut-ribut di depan rumah orang malam-malam begini?”
Supradi menghentikan motornya. Senyum miring terukir di bibirnya, senyum yang tak pernah membawa niat baik.
“Sudah jauh-jauh ke kota,” balasnya keras, “buat apa kau kembali ke desa, Var?”
Alvar melangkah satu langkah ke depan, sorot matanya tajam.
“Aku mau di kota atau di desa bukan urusan kamu.”
Senyum Supradi memudar, berganti tatapan dingin. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya direndahkan tapi justru terdengar lebih mengancam.
“Jauhi Hesti.”
Alvar menegang. “Apa maksudmu?”
“Kalau nggak,” lanjut Supradi, “kau akan menyesal.”
Detik itu juga, kepalan tangan Alvar mengeras. Namun, ia menahan diri. Ia tahu, satu langkah ceroboh malam ini bisa berujung panjang. Ia hanya menatap Supradi tanpa gentar.
“Aku nggak pernah mengganggu siapa pun,” ucap Alvar dingin.
“Dan aku nggak takut sama ancaman murahan.”
Supradi terkekeh pendek. Tanpa menjawab lagi, ia menyalakan motornya, lalu melaju pergi meninggalkan debu dan suara knalpot yang memecah sunyi.
"Apa yang sebenarnya Supradi inginkan. Dia tahu aku sudah menikah, untuk apa dia memperingati aku tentang Hesti," gumam Alvar.
Alvar menghela napas beratnya, lalu langkah kaki membawanya menuju ke kamat tidur. Kamar yang pernah di tempati oleh Kiara beberapa Minggu di desa.