NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 – Retakan dari Masa Lalu

Pagi itu datang terlalu cepat.

Belum genap dua puluh empat jam sejak konferensi pers, notifikasi kembali memenuhi layar ponsel Alya. Namun kali ini, bukan tentang laporan keuangan atau dokumen proyek.

Ini tentang dirinya.

Sebuah artikel panjang dirilis oleh akun anonim yang dikenal sering membocorkan “rahasia besar” para petinggi bisnis. Judulnya jauh lebih personal.

“Masa Lalu Alya: Karier Cemerlang atau Jejak Ambisi yang Menghancurkan?”

Alya membaca dalam diam.

Isinya bukan fitnah sepenuhnya. Justru itulah yang membuatnya berbahaya.

Artikel itu mengangkat kisah lama ketika ia masih bekerja di perusahaan sebelumnya—keputusan restrukturisasi besar yang ia pimpin, yang menyebabkan ratusan karyawan harus diberhentikan. Keputusan itu memang menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.

Namun narasi yang disusun di artikel itu berbeda.

“Alya dikenal sebagai eksekutor dingin.” “Ambisinya membuat banyak keluarga kehilangan pekerjaan.” “Apakah karakter seperti itu pantas memimpin Wijaya Group?”

Narasi.

Bukan kebohongan total.

Tapi dibingkai dengan sudut pandang yang kejam.

Bima masuk ke ruang kerja saat Alya menutup layar laptopnya perlahan.

“Sudah lihat?” tanyanya.

Alya mengangguk.

“Dia menggali masa laluku.”

Bima mendekat. “Itu keputusan profesional. Kamu menyelamatkan perusahaan.”

“Ya,” jawab Alya pelan. “Tapi publik tidak melihat angka neraca. Mereka melihat wajah-wajah orang yang kehilangan pekerjaan.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Untuk pertama kalinya sejak badai ini dimulai, ada sesuatu di mata Alya yang berbeda.

Bukan takut.

Tapi berat.

Di sisi lain kota, Arsen berdiri di depan jendela kantornya.

“Sentuh reputasinya sebagai manusia,” ucapnya santai. “Bukan sebagai direktur.”

Asistennya terlihat ragu. “Tuan, itu keputusan bisnis yang memang perlu dilakukan waktu itu. Banyak analis memujinya.”

Arsen tersenyum tipis.

“Publik tidak suka pemimpin yang terlalu sempurna. Mereka lebih suka menemukan retakan.”

Ia menyesap kopinya pelan.

“Dan kita baru saja menunjukkan retakan pertama.”

Siang itu, tekanan datang lebih personal.

Media mulai meminta wawancara khusus tentang masa lalu Alya. Beberapa mantan karyawan yang dulu diberhentikan muncul di layar televisi, menceritakan pengalaman mereka—dengan emosi yang masih terasa mentah.

“Dia bahkan tidak menatap kami waktu itu.” “Keputusannya menghancurkan hidup saya.”

Alya menonton potongan video itu tanpa suara.

Bima berdiri di belakangnya.

“Kita bisa hentikan ini secara hukum,” katanya tegas.

Alya menggeleng pelan.

“Tidak.”

Bima terdiam.

“Kalau kita bungkam mereka, Arsen akan memutarbalikkan lagi. Katanya kita menekan korban.”

Ia berdiri, memutar tubuh menghadap Bima.

“Aku memang mengambil keputusan itu. Aku tahu konsekuensinya.”

“Kamu tidak salah.”

“Benar atau salah bukan masalahnya sekarang,” jawab Alya tenang. “Masalahnya adalah apakah aku siap berdiri dan mengakui bahwa keputusan itu menyakitkan bagi sebagian orang.”

Bima menatapnya dalam.

Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Alya yang jarang ditunjukkan—bukan direktur tegas, bukan istri CEO yang elegan.

Tapi seorang wanita yang memikul tanggung jawab penuh atas pilihannya.

Sore hari, tanpa pemberitahuan besar, Alya mengadakan sesi wawancara terbuka.

Bukan konferensi pers formal.

Bukan pernyataan tertulis.

Ia duduk di sebuah ruangan sederhana, hanya dengan satu kamera.

“Saya tidak akan menyangkal keputusan yang saya buat di masa lalu,” ucapnya tenang di depan kamera. “Saya memimpin restrukturisasi yang menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan.”

Tidak ada pembelaan berlebihan.

Tidak ada nada defensif.

“Keputusan itu menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Tapi itu tidak menghapus fakta bahwa ada orang-orang yang terluka.”

Ia menatap lurus ke kamera.

“Jika ada yang merasa saya tidak menunjukkan empati waktu itu, saya menerima kritik tersebut. Dalam situasi krisis, saya fokus pada angka dan kelangsungan perusahaan. Mungkin saya bisa melakukan pendekatan yang lebih manusiawi.”

Bima menonton dari ruangan sebelah.

Ia tidak ikut campur.

Ini pertarungan Alya.

Dan ia berdiri dengan caranya sendiri.

Reaksi publik terbelah.

Sebagian tetap mengkritik.

Sebagian mulai menghargai keterusterangannya.

Namun satu hal jelas—narasi Arsen tidak lagi sepenuhnya mengendalikan opini.

Di kantornya, Arsen mematikan layar dengan ekspresi datar.

“Dia tidak menyangkal,” gumamnya.

Asistennya berkata pelan, “Justru itu membuatnya terlihat kuat, Tuan.”

Arsen menyipitkan mata.

“Kalau begitu, kita buat ini lebih personal.”

Malam kembali turun di mansion Wijaya.

Alya duduk di ruang keluarga, tampak lelah tapi tegak.

Bima mendekat, duduk di sampingnya tanpa bicara beberapa saat.

“Kamu tidak harus memikul semuanya sendiri,” katanya akhirnya.

Alya tersenyum tipis.

“Aku tahu.”

Ia menoleh, menatapnya lebih dalam.

“Tapi aku memilih untuk tidak lari dari masa laluku.”

Bima mengangguk perlahan.

“Aku bangga padamu.”

Kalimat sederhana itu membuat Alya terdiam sejenak.

Bukan karena pujian.

Tapi karena ketulusan di dalamnya.

Namun di balik ketenangan malam itu, pesan masuk ke ponsel Bima dari tim investigasi internal.

Temuan baru: Arsen menghubungi salah satu mantan eksekutif lama yang pernah berseteru langsung dengan Anda, Tuan.

Bima membaca pesan itu dalam diam.

Masa lalunya.

Kini mulai disentuh juga.

Ia menutup layar ponsel perlahan.

Alya memperhatikannya.

“Apa lagi?” tanyanya pelan.

Bima menghela napas tipis.

“Sekarang… sepertinya giliranku.”

Di luar sana, badai tidak lagi sekadar menyentuh reputasi Alya.

Ia mulai bergerak lebih dalam—menuju rahasia dan rivalitas lama yang bahkan Bima jarang bicarakan.

Dan ketika dua masa lalu yang berbeda mulai diseret bersamaan ke permukaan, badai pertama yang sesungguhnya akan berubah menjadi ujian yang jauh lebih berbahaya.

Karena kali ini, bukan hanya satu dari mereka yang menjadi target.

Melainkan fondasi hubungan yang baru saja mereka bangun bersama.

Fondasi yang belum lama ini mereka akui dengan jujur—bukan lagi karena kontrak, bukan karena strategi bisnis, bukan karena tekanan keluarga atau citra perusahaan—melainkan karena pilihan sadar untuk saling percaya.

Dan justru karena fondasi itu masih baru, ia belum sepenuhnya teruji.

Kepercayaan memang telah tumbuh, tetapi kepercayaan yang belum pernah dihantam badai besar tetaplah rapuh. Ia kuat dalam keyakinan, namun belum ditempa oleh pengkhianatan, oleh kesalahpahaman yang dipelintir pihak luar, atau oleh rahasia yang mungkin belum sepenuhnya dibagikan satu sama lain.

Arsen memahami satu hal yang sering dilupakan banyak orang: menghancurkan dua individu yang kuat bukanlah tugas mudah. Namun meretakkan hubungan di antara mereka—itu jauh lebih efektif.

Jika ia berhasil membuat Alya meragukan masa lalu Bima.

Jika ia berhasil membuat Bima mempertanyakan keputusan Alya.

Jika ia berhasil menanamkan sedikit saja benih kecurigaan, sedikit saja jarak di antara keduanya—

Maka retakan kecil itu bisa berkembang menjadi jurang yang dalam.

Fondasi hubungan bukan hanya dibangun dari cinta, tetapi dari transparansi, kejujuran, dan keberanian untuk membuka sisi paling gelap diri sendiri. Dan jika ada bagian dari masa lalu yang belum sepenuhnya terungkap, bagian itulah yang akan menjadi titik serang paling mematikan.

Alya dan Bima mungkin siap menghadapi dunia luar.

Mereka mungkin siap menghadapi media, investor, bahkan manipulasi data dan opini publik.

Namun pertanyaan yang jauh lebih berat kini mulai menggantung di udara malam itu:

Apakah mereka siap menghadapi kebenaran satu sama lain, jika kebenaran itu tidak seindah yang dibayangkan?

Karena badai yang sesungguhnya bukanlah tentang teriakan publik atau tajuk berita yang tajam.

Badai yang paling berbahaya adalah yang terjadi dalam diam—di dalam hati, di dalam pikiran, di antara dua orang yang saling mencintai namun diuji oleh bayangan masa lalu.

Dan jika fondasi itu goyah, bukan karena kurangnya cinta, tetapi karena kurangnya waktu untuk memperkuatnya, maka Arsen tidak perlu lagi menjatuhkan mereka dari luar.

Mereka akan runtuh perlahan dari dalam.

Itulah yang membuat ancaman kali ini jauh lebih mengerikan.

Bukan karena serangannya terlihat besar.

Melainkan karena ia menargetkan sesuatu yang tak terlihat—kepercayaan, keyakinan, dan fondasi hubungan yang baru saja mereka bangun bersama, yang kini akan diuji bukan hanya oleh dunia… tetapi oleh kebenaran yang tak bisa lagi disembunyikan.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!