"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi bayi Gede
Aluna kini menyadari bahwa melawan api dengan es saja tidak cukup. ia harus memberikan kehangatan yang sama besarnya agar obsesi Azeus tidak berubah menjadi monster yang merusak. Ia ingin Azeus paham bahwa cintanya sudah mutlak, tanpa perlu ada lagi kecurigaan yang membabi buta.
Aluna mengulurkan tangannya, meraih kedua pipi Azeus yang masih bersandar manja di lehernya. Ia memaksa pria itu untuk mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata jernihnya. Tanpa aba-aba, Aluna mengecup lembut bibir Azeus. sebuah ciuman manis yang singkat namun sarat akan ketulusan.
Azeus tertegun, matanya membelalak tak percaya. Ini pertama kalinya Aluna mengambil inisiatif seberani ini di depan matanya.
"Kak, dengerin aku," bisik Aluna dengan nada lembut namun tegas, persis seperti seorang ibu yang sedang menasihati anak kecilnya yang nakal.
"Jangan pernah ulangi kejadian di fakultas kemarin. Jangan sampai Kakak melukai orang lain lagi, apalagi sampai bikin keributan. Emosi itu harus dikontrol, Kak. Aku nggak mau punya suami yang hobinya main pukul."
Azeus terdiam, aura CEO muda-nya yang angkuh mendadak luntur di depan Aluna.
"Soal chat waktu itu... aku beneran cuma bercanda," lanjut Aluna sambil tersenyum tipis, tangannya mengusap rahang Azeus yang tegas.
"bahkan Aku ngetik itu sambil ketawa, Kak. Aku nggak nyangka reaksi kamu bakal seberlebihan itu."
Mendengar itu, rasa bersalah kembali menghantam dada Azeus. Ia teringat bagaimana kepalan tangannya sendiri yang membuat hidung bidadarinya berdarah. Tatapan Azeus meredup, penuh dengan penyesalan yang mendalam.
"Maafin aku, Na... Sumpah, aku benci diri aku sendiri waktu liat kamu luka gara-gara aku," suara Azeus serak.
Azeus langsung meraih tangan Aluna, menggenggamnya erat seolah itu adalah harta paling berharga di dunia. Ia menciumi tangan Aluna berkali-kali, mulai dari punggung tangan hingga ke ujung jemari, menyalurkan permohonan ampun yang tak terhingga.
"Aku janji, aku bakal belajar kontrol diri. Aku cuma takut kehilangan kamu, Na. Rasanya denger kata 'putus' itu lebih nakutin daripada bangkrut satu perusahaan," gumam Azeus posesif, namun kali ini nadanya lebih lembut dan penuh pemujaan.
Aluna hanya bisa tersenyum dan mengelus rambut Azeus, membiarkan pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya.. Di lantai 12 Apartemen Mewah itu, Aluna baru saja berhasil menjinakkan singa paling berbahaya di Jakarta hanya dengan sebuah kecupan dan nasihat tulus.
Suasana hangat itu mendadak berubah drastis saat Azeus mengangkat kepalanya dari leher Aluna. Tatapannya yang semula penuh penyesalan kini menggelap, digantikan oleh binar obsesi yang sangat familiar. Azeus si mesum nan narsis telah kembali sepenuhnya seiring dengan pulihnya tenaga sang CEO muda ini.
Azeus tidak membuang waktu. Ia kembali merangsek maju, menyembunyikan wajah maskulinnya lagi di ceruk leher Aluna lebih dalam. Ia menghirup aroma vanila yang memabukkan itu dalam-dalam, lalu mulai memberikan kecupan-kecupan kecil yang menggoda di sana.
"ih! Kak, geli! Berhenti!" Aluna bergidik geli sambil tertawa renyah. Tubuhnya meliuk mencoba menghindar, namun justru itu yang membuat Azeus semakin gemas.
Aluna berusaha sekuat tenaga mendorong bahu tegap Azeus sambil terus tertawa geli. Namun, Azeus yang sedang dalam mode predator manja sama sekali tidak mau menjauh. Ia justru semakin erat menahan pinggang Aluna, mengunci posisi gadis itu agar tetap dalam dekapannya di sofa empuk Apartemen Mewah tersebut.
Bibir nakal Azeus terus bergerilya, meninggalkan jejak panas di sepanjang leher Aluna. Suara tawanya yang bariton ikut pecah saat melihat Aluna tak berdaya di bawah kendalinya. Di sela-sela kegaduhan kecil itu, Azeus berhenti sejenak, menempelkan bibirnya tepat di telinga Aluna dan memberikan bisikan nakal yang sangat seksi.
"Nana... boleh ngulang yang waktu itu nggak?" tanya Azeus parau, suaranya sarat akan gairah yang tertahan.
"Maksud aku... 'itu-ituan' yang versi lebih lama"
Wajah Aluna seketika semerah tomat. Tawanya terhenti, digantikan oleh napas yang memburu. Ia bisa merasakan jantung Azeus yang berdegup gila di dadanya.
"Kak! Baru juga keluar rumah sakit! Inget kata dr. Gathan, jangan dulu!"
Azeus justru menyeringai narsis, ia menatap Aluna dengan tatapan lapar yang mematikan.
"Gathan kan cuma dokter, dia nggak tahu seberapa kuat 'mesin' aku kalau deket kamu, Sayang. Satu ronde aja, ya?"
Aluna hanya bisa memejamkan mata saat Azeus kembali melahap bibirnya dengan penuh pemujaan, menyadari bahwa singa miliknya ini memang tidak akan pernah bisa dijinakkan jika sudah menyangkut urusan hasrat dan kepemilikan..
Aluna melepaskan pagutan Azeus dengan lembut, napasnya sedikit terengah namun jemarinya tetap membelai rahang tegas pria itu. Ia tahu betul jika tidak segera dihentikan, sang CEO muda ini tidak akan mau berhenti sampai pagi.
"Kak, udah... 'itu-ituan' itu capek tahu. Kakak baru aja keluar dari Rumah Sakit," bujuk Aluna dengan nada bicara yang menenangkan, persis seperti sedang membujuk anak kecil yang merajuk. Aluna menangkup wajah Azeus, menatap matanya dalam-dalam.
"Tahan dulu ya? Dua minggu lagi kita udah halal. Nanti kalau udah sah, Kakak mau ngapain aja aku nggak akan larang."
Mendengar janji dua minggu lagi, Azeus perlahan menegakkan tubuhnya. Ia melepaskan pelukannya di pinggang Aluna dan menyandarkan punggungnya di sofa mewah itu. Azeus menghela napas berat, membuang pandangan ke sembarang arah dengan bibir yang sedikit mengerucut dan wajah sedih yang dibuat-buat. Sifat narsis dan manjanya benar-benar keluar saat keinginannya tidak dituruti.
Aluna yang melihat sisi manja Azeus hanya bisa menahan tawa agar pria itu tidak semakin tersinggung. Ia bangkit dari sofa, merapikan bajunya yang sedikit berantakan, lalu melangkah ringan menuju Dapur Minimalis Mewah-nya.
"Aku mau siapin makan siang dulu ya. Kiriman dari Papa tadi harus diangetin biar perut Kakak nggak sakit lagi," seru Aluna dari balik meja bar dapur.
Azeus tetap bergeming di sofa, menatap punggung Aluna dengan tatapan obsesif sekaligus memelas. "Na... suapin ya nanti? Tanganku masih lemes," rengek Azeus.
Aluna hanya bisa geleng-geleng kepala sambil membuka pintu Microwave. Ia tahu, merawat Azeus yang sedang masa pemulihan ini sama saja dengan mengurus bayi raksasa yang sangat posesif dan penuh tipu daya demi mendapatkan perhatiannya.
Azeus menyandarkan punggungnya di sofa mewah itu, matanya melirik ke arah dapur memastikan Aluna masih sibuk dengan microwave. Begitu merasa aman, ia merogoh ponselnya. Sinar layar memantul di wajahnya yang mendadak berubah dingin dan tajam. Sifat manja tadi menguap, digantikan oleh aura penguasa yang tak kenal ampun.
Ia membuka ruang obrolan dengan ayahnya. Jemarinya menari dengan cepat, mengetik rentetan kalimat yang akan menjadi surat kematian karier Erena di perusahaan.
Azeus: Pa, Zeus minta tolong urus pemecatan Erena sore ini juga lewat Irwan. Zeus nggak mau dia ada di sekitar kantor cabang lagi, apalagi di dekat ku.
Azeus: Asal Papa tahu, dia wanita palsu. Dulu waktu Zeus diusir Papa dan nggak punya apa-apa, dia pergi gitu aja tanpa kabar. Dia cuma deketin Zeus sekarang karena Zeus sudah pegang jabatan dan punya duit. Dia nggak tulus, Pa.
Azeus: Yang paling parah, kemarin di rumah sakit dia berani nampar Aluna sampai berdarah. Dia ancam kebahagiaan Zeus. Kalau Papa mau Zeus fokus kerja, keluarin dia sekarang sebelum dia bahayain Nana lebih jauh.
Azeus menekan tombol kirim dengan penuh penekanan. Ia menghela napas panjang, merasa satu beban berat di pundaknya terangkat. Ia tidak butuh drama suara atau perdebatan; ia hanya butuh hasil nyata dari Manajemen Strategis ayahnya untuk menyingkirkan pengganggu di sangkar emasnya.
Tak lama, muncul balasan singkat dari ayahnya: "Oke. Papa suruh Irwan urus sekarang. Fokuslah pada pemulihanmu."
Azeus tersenyum miring, sebuah seringai narsis yang penuh kemenangan. Tepat saat itu, suara ting dari microwave terdengar. Azeus langsung melempar ponselnya ke samping dan mengubah ekspresi wajahnya dalam sekejap menjadi bayi gede yang sangat manja.
"Sayang... kok lama banget sih? Perut aku udah nyanyi nih minta disuapin bidadarinya," rengek Azeus saat melihat Aluna muncul membawa nampan berisi makanan sehat kiriman rumah utama.
Aluna hanya bisa geleng-geleng kepala, tidak tahu bahwa dalam beberapa menit tadi, Azeus baru saja menghancurkan masa depan seseorang demi melindunginya.