Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan di Rumah Lama
Kediaman keluarga Waren masih semegah yang Luna ingat. Gerbang besi tinggi yang berukir rumit itu terbuka perlahan, menyambut mobil Isaac yang meluncur masuk melintasi jalanan berkerikil. Luna menggenggam erat tas tangannya, merasa seolah ia sedang memasuki wilayah peperangan yang penuh dengan ranjau kenangan.
Isaac memarkir mobilnya, namun ia tidak segera turun. Ia menoleh ke arah Luna, memerhatikan gaun sutra berwarna emerald yang akhirnya Luna putuskan untuk dipakai. Gaun itu memeluk tubuh Luna dengan sempurna, memberikan kesan elegan namun tetap bersahaja.
"Kau terlihat... tidak terlalu buruk," ujar Isaac dengan nada datar, meski matanya tidak bisa berbohong bahwa ia terpesona.
"Terima kasih atas pujian setengah hatimu itu, Isaac," balas Luna sinis sembari bersiap membuka pintu.
"Tunggu," tahan Isaac. Ia keluar lebih dulu, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Luna. Saat Luna keluar, Isaac segera melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu, menariknya mendekat.
Luna tersentak dan mencoba menghindar. "Apa yang kau lakukan?"
"Sandiwara, ingat? Ibuku kemungkinan besar sedang mengawasi dari balik jendela lantai dua," bisik Isaac tepat di telinga Luna, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Tersenyumlah, Luna. Jangan sampai mereka berpikir aku menikah dengan sebuah patung es."
Luna terpaksa menyunggingkan senyum palsu paling manis yang ia miliki. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah, di mana aroma masakan mewah dan wangi lilin aromaterapi memenuhi ruangan. Ibu Isaac, Nyonya Sofia Waren, menyambut mereka dengan pelukan hangat.
"Luna, sayang! Kau tampak sangat cantik. Isaac benar-benar beruntung bisa memilikimu kembali," ujar Nyonya Sofia dengan binar kebahagiaan di matanya.
Luna melirik Isaac yang kini menunjukkan ekspresi yang sangat berbeda—ia tampak lembut dan penuh perhatian, seolah-olah semua ejekan di apartemen tadi pagi hanyalah ilusi. "Tentu saja, Ibu. Aku tidak akan membiarkan dia lepas untuk kedua kalinya," sahut Isaac sembari mengecup pelipis Luna sekilas.
Sentuhan itu membuat jantung Luna berpacu tidak keruan. Ia tahu ini hanya akting, namun hangat bibir Isaac di kulitnya terasa begitu nyata.
"Mari, makan malam sudah siap. Ayahmu sudah menunggu di ruang makan," ajak Nyonya Sofia.
Saat mereka berjalan menuju ruang makan, Luna berbisik dengan nada mengancam, "Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan, Isaac."
"Aku hanya melakukan tugasku sebagai aktor yang berdedikasi, Luna. Nikmati saja perannya," jawab Isaac dengan senyum miring yang menyebalkan sekaligus mematikan.
Meja makan panjang itu dipenuhi dengan hidangan kelas atas, namun bagi Luna, setiap suapan terasa hambar karena tekanan di ruangan itu. Di sampingnya, Isaac terus memainkan perannya dengan sempurna. Ia memotongkan daging steak untuk Luna dan meletakkannya di piring wanita itu dengan gerakan yang sangat natural.
"Makanlah yang banyak, Luna. Kau tampak sedikit lebih kurus sejak terakhir kali kita bertemu," ujar Isaac dengan nada suara yang terdengar begitu penuh perhatian.
Ayah Isaac, Tuan Waren, mengangguk puas melihat pemandangan di depannya. "Senang melihat kalian akur kembali. Bisnis keluarga kita akan semakin kokoh dengan penyatuan ini. Tapi yang lebih penting, apakah kalian sudah menentukan tanggal pernikahan yang pasti?"
Luna tersedak air yang tengah diminumnya. Isaac dengan sigap mengusap punggung Luna, sebuah gestur yang terasa terlalu intim untuk sekadar akting.
"Kami sedang membicarakannya, Ayah. Kami ingin semuanya sempurna, bukan?" jawab Isaac tenang, matanya menatap Luna dengan kilatan yang sulit diartikan. "Lagipula, aku masih ingin menikmati masa-masa 'pendekatan' ini dengan Luna. Benar begitu, Sayang?"
Luna terpaksa mengangguk, meski tangannya di bawah meja meremas serbet dengan kuat. "Iya, Tuan Waren. Kami tidak ingin terburu-buru."
"Panggil aku Ayah, Luna. Kau sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga ini... lagi," sahut Tuan Waren dengan senyum lebar.
Kata "lagi" itu seolah menghantam ulu hati Luna. Setelah makan malam usai, Luna meminta izin untuk ke kamar mandi, namun ia justru melangkah menuju balkon belakang rumah yang menghadap ke taman bunga—tempat favoritnya dulu. Udara malam yang dingin menyentuh kulitnya, memberinya sedikit ruang untuk bernapas.
"Berhenti melarikan diri, Luna," suara Isaac terdengar dari arah pintu balkon.
Luna tidak menoleh. "Aku tidak melarikan diri. Aku hanya butuh udara segar. Sandiwara ini benar-benar menguras tenagaku."
Isaac berjalan mendekat, berdiri di samping Luna sembari menyandarkan kedua tangannya di pagar balkon. "Kau melakukannya dengan sangat baik. Jika kau tidak menjadi desainer interior, mungkin kau bisa menjadi aktris papan atas."
"Dan kau bisa menjadi sutradara yang paling manipulatif," balas Luna pedas. Ia akhirnya menoleh, menatap wajah Isaac yang diterpa cahaya bulan. "Sampai kapan kita harus melakukan ini, Isaac? Berpura-pura saling mencintai di depan orang tua kita, lalu saling menghina saat kita berdua saja?"
Isaac terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke arah taman yang gelap. "Sampai mereka percaya bahwa kita sudah melupakan masa lalu, Luna. Atau... sampai salah satu dari kita benar-benar menyerah pada perasaan yang sebenarnya."
"Apa maksudmu?" tanya Luna dengan suara lirih.
Isaac mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Luna bisa merasakan hembusan napas pria itu. "Kau tahu persis apa maksudku. Kau bisa membohongi dunia, tapi kau tidak bisa membohongi matamu sendiri saat kau melihatku."
Sebelum Luna sempat membalas, Isaac berbalik dan melangkah masuk kembali ke dalam rumah. "Ayo pulang. Sandiwara hari ini sudah cukup."
Luna berdiri terpaku di balkon. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena amarah, melainkan karena ketakutan bahwa apa yang dikatakan Isaac adalah kebenaran yang selama ini berusaha ia sangkal sekuat tenaga.