NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:99k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Kehadiran Mami Elsa yang tiba-tiba membuat suasana di sana berubah total. Wanita paruh baya itu memang jarang ada di rumah seperti Enzo. Kesehariannya dihabiskan di luar. Kini, wanita itu pulang lebih cepat dari biasanya.

Mami Elsa sudah berdiri di ruang keluarga, wajahnya merah padam. “Apa yang kamu lakukan?” suaranya tajam, bergetar oleh amarah yang ditahan.

Azalea berdiri perlahan. “Saya hanya bercerita tentang ibu mereka, Nyonya.”

“Kamu tidak berhak!” bentak Mami Elsa. “Kamu pikir kamu siapa membawa-bawa nama Jasmine di rumah ini?”

Erza refleks berdiri di depan Azalea. “Oma, Tante cuma cerita—”

“Diam, Erza!” potong Mami Elsa.

“Uaaaa ... Oma jahat!” Elora mulai menangis.

Azalea mencoba tetap tenang. “Anak-anak berhak mengenal ibunya.”

“Jangan ajari aku tentang hak!” Mami Elsa melangkah mendekat. “Kamu cuma pengasuh. Orang kampung. Pendidikan rendah. Jangan merasa paling tahu tentang keluarga kami!”

Setiap kata seperti cambuk. Azalea menunduk, tetapi suaranya tetap lembut. “Saya tidak merasa paling tahu. Saya hanya adiknya.”

“Adik?! Maksudnya kamu adiknya Jasmine?” Mami Elsa tersenyum sinis. “Kalau Jasmine memang sepintar dan sehebat yang kamu ceritakan, dia tidak akan—”

“Nyonya!” potong Azalea spontan, suaranya bergetar. “Jangan seperti itu. Kak Jasmine wanita baik.”

Mami Elsa menatapnya tajam. “Jangan pernah sebut-sebut lagi nama wanita itu! Kamu hanya membuka luka lama.”

“Luka itu tidak akan sembuh kalau terus ditutup,” balas Azalea lirih, air matanya mulai jatuh. “Anak-anak ini merindukan ibunya.”

Erza tiba-tiba memeluk Azalea dari samping. “Aku kangen Mommy.” Tangisan kecil itu membuat suasana semakin panas.

Mami Elsa terlihat goyah sesaat, tetapi gengsinya lebih besar. “Aku tidak mau cucu-cucu saya dididik oleh orang yang menanamkan pemikiran kampung di rumah ini!” tegasnya. “Mulai hari ini, kamu berhenti bekerja di sini.”

Kata-kata itu jatuh seperti palu. Azalea sampai diam mematung.

Elora menjerit, “Ngak mau! Tante jangan pergi!”

Erza memeluk Azalea lebih erat. “Oma jahat! Tante itu orang baik!”

“Erza!” bentak Mami Elsa.

Azalea berlutut, memeluk kedua anak itu dengan tubuh gemetar. Hatinya hancur bukan karena hinaan, tetapi karena nama kakaknya kembali direndahkan.

“Kalian dengar kan Tante, ya,” bisik Azalea di antara tangisnya, mengusap rambut mereka. “Mommy kalian wanita yang sangat baik. Jangan pernah lupa itu.”

Mami Elsa berbalik tajam. “Keluar dari rumah ini sebelum saya kehilangan kesabaran!”

Azalea tak sanggup berkata lagi. Ia masuk ke kamar kecilnya, memasukkan pakaian ke dalam tas dengan tangan gemetar.

Di luar, terdengar tangis. “Tante jangan pelgi!” suara Elora pecah.

“Tante! Aku belum hafal doa selamat dunia akhirat!” teriak Erza.

Azalea keluar dengan mata sembap. Erza dan Elora berlari memeluk kakinya.

“Jangan tinggalin aku lagi.” Erza menangis keras.

Kata lagi itu membuat dada Azalea terasa sesak. Ia berlutut memeluk mereka berdua. “Tante sayang kalian.”

Hujan di luar masih turun deras. Di tengah ruang keluarga megah itu, Azalea berdiri dengan hati yang terkoyak, bukan hanya sebagai pengasuh yang dipecat, tetapi sebagai adik yang baru saja melihat kenangan kakaknya diinjak-injak tanpa ampun.

Azalea menjinjing taskecilnya melewati pintu utama rumah megah itu. Tangannya gemetar bukan karena dingin, tetapi karena hatinya seperti baru saja dicabik-cabik.

Ucapan Mami Elsa masih terngiang jelas di kepalanya. Orang kampung. Pendidikan rendah. Tidak pantas menyebut nama Jasmine di depan anak-anaknya. Nama kakaknya yang selama ini ia jaga dengan penuh cinta.

Azalea menunduk, menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Ia berusaha melangkah tegar, walau setiap langkah terasa berat seperti diikat rantai.

“Tanteeeee!”

Jeritan itu membuat langkah Azalea terhenti. Erza dan Elora berlari keluar tanpa alas kaki, menembus gerimis. Wajah mereka basah entah oleh hujan atau air mata.

“Tante jangan pelgi!” Elora memeluk kaki Azalea erat-erat.

Erza berdiri di depan Azalea, kedua tangannya merentang menghalangi. “Kalau Tante pergi, aku ikut!”

Azalea berlutut, memeluk mereka berdua. Hujan membasahi punggungnya, tapi ia tak peduli.

“Sayang, dengarkan Tante,” ucap Azalea dengan suara bergetar. “Kadang kita harus berpisah supaya tidak menyakiti orang lain.”

“Aku enggak sakit!” Erza berteriak histeris. “Aku cuma sakit kalau Tante pergi!”

Tangisan mereka menggema di halaman luas itu. Dari dalam rumah, Bu Minah hanya berdiri terpaku. Mami Elsa mengawasi dari balik tirai, wajahnya keras, tetapi matanya tidak setenang yang ia tunjukkan.

Tiba-tiba suara mobil berhenti di depan pagar. Lampu mobil menyorot pemandangan memilukan itu.

Pintu mobil terbuka. Enzo turun dengan wajah lelah sepulang kerja, jas masih rapi, dasi sedikit longgar. Namun, langkahnya terhenti saat melihat kedua anaknya menangis sambil memeluk Azalea yang sudah membawa koper.

“Apa yang terjadi?” tanya Enzo suaranya berat.

Erza langsung berlari ke arahnya. “Daddy! Oma sudah usir Tante!”

Elora ikut memeluk kaki Enzo. “Daddy, suluh Tante jangan pelgi! Elola takut ....”

Alis Enzo bertaut tajam. Ia menatap Azalea yang berdiri dengan wajah sembab dan mata merah. “Kamu mau ke mana?” tanyanya pelan, tetapi tegas.

Azalea menunduk hormat. “Aku sudah tidak bekerja di sini, Mas Enzo. Nyonya Elsa meminta saya pergi.”

“Apa?” rahang Enzo mengeras.

Dari dalam rumah, Mami Elsa melangkah keluar. “Mami hanya melakukan yang terbaik untuk cucu Mama. Mereka tidak butuh pengaruh yang tidak jelas asal-usulnya.”

“Mami ...,” ucap Enzo yang ekspresi wajahnya berubah dingin. “Azalea bukan orang asing. Dia adiknya Jasmine.”

Nama itu membuat udara terasa semakin berat. Enzo menatap Azalea. Ada sesuatu di mata gelapnya itu, bukan sekadar rasa tanggung jawab,

ada kekacauan dan rasa bersalah.

Sejak Jasmine meninggal, hidupnya kehilangan hangatnya. Erza menjadi mudah marah. Elora sering menangis histeris tanpa sebab. Tak satu pun pengasuh bertahan lebih dari dua minggu.

Hanya Azalea. Dalam tiga bulan, anak-anaknya berubah. Mereka mulai mengaji. Mulai mengucap tolong dan maaf. Mulai menyebut nama Allah sebelum tidur. Dan sekarang, mereka menangis seperti kehilangan dunia.

“Daddy ....” Erza terisak. “Kalau Tante pergi, aku benci rumah ini.”

Kalimat itu seperti tamparan. Enzo menatap ibunya sebentar, lalu kembali ke Azalea. “Kamu mau pergi begitu saja?” tanyanya.

Azalea menelan perih. “Saya tidak punya hak untuk bertahan.”

Tiba-tiba Enzo melangkah mendekat. “Kalau kamu punya hak, apakah kamu akan tetap tinggal?”

Azalea tertegun. “Apa maksudnya?”

Enzo menarik napas panjang, seolah sedang mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. “Menikahlah denganku.”

Suara itu pelan, tetapi cukup untuk membuat dunia terasa berhenti.

Mami Elsa membelalak. “Enzo! Kamu sudah gila?”

Azalea mundur satu langkah, wajahnya pucat. “Mas Enzo, jangan bercanda dalam keadaan seperti ini.”

“Aku tidak bercanda.” Kali ini suara Enzo tegas. “Anak-anakku membutuhkanmu. Rumah ini membutuhkanmu.”

“Dan Mas Enzo sendiri?” Azalea menatapnya, mata berkaca-kaca. “Apakah Mas juga membutuhkan aku?”

Pertanyaan itu menggantung. Enzo terdiam sesaat. “Aku membutuhkan ibu untuk mereka.”

Jawaban itu jujur. Bukan karena cinta. Bukan pula kerinduan. Hanya kebutuhan semata.

Hati Azalea terasa diremas. “Jadi ini pernikahan karena kasihan?” Suaranya bergetar. “Atau karena Mas Enzo takut kehilangan pengasuh yang cocok untuk Erza dan Elora?”

Elora kembali memeluk Azalea sambil menangis. “Tante jangan malah cama Daddy. Aku cuma mau Tante di cini.”

Erza ikut menangis. “Tante jadi Mommy kita aja, aku mau, kok!”

Kata itu seperti petir di tengah hujan. Azalea menutup mata sesaat. Ia bisa pergi sekarang, menjaga harga dirinya. Atau tetap tinggal bersama dua jiwa kecil yang sudah ia anggap seperti darah dagingnya sendiri.

“Azalea.” Suara Enzo lebih lembut sekarang. “Aku tahu ini tidak adil untukmu. Aku tahu aku tidak menawarkan cinta.”

Pria itu menatapnya dalam. “Tapi aku berjanji akan menghormatimu. Tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu. Tidak akan memaksamu menggantikan Jasmine.”

Nama itu membuat dada Azalea sesak.

“Aku hanya ingin anak-anakku tumbuh dengan kasih sayang. Dan hanya kamu yang bisa membuat mereka seperti ini.”

Tak ada yang bicara. Hanya suara hujan dan tangis anak-anak.

Azalea berlutut, memegang wajah Erza dan Elora. “Kalau Tante tinggal, kalian harus jadi anak saleh. Harus jaga hati. Tidak boleh membenci siapa pun. Termasuk Oma. Bisa?”

Keduanya mengangguk cepat di antara isak.

Azalea berdiri perlahan. Lalu, dia menatap Enzo. “Saya tidak mencintai kamu, Mas Enzo.”

“Dan aku tidak memintanya,” jawab Enzo lirih.

Air mata jatuh di pipi Azalea. “Tapi saya mencintai mereka.”

Satu kalimat itu cukup menjadi jawaban. Enzo menunduk, seperti baru saja menerima keputusan besar.

Mami Elsa memalingkan wajah dengan napas berat.

Di bawah hujan yang belum berhenti, sebuah pernikahan tanpa cinta, lahir dari tangis, luka, dan kebutuhan, mulai mengambil perannya.

1
Tasmiyati Yati
semoga mendapat hidayah ya Enzo
Tasmiyati Yati
semoga mendapat hidayah ya Enzo
Naufal Affiq
mertua gak punya hati,gak semua wanita dari kampung itu kerjanya merusak rumah tangga orang,jadi jangan sama kan dengan ayah,kakek mu yang selingkuh sama pembantunya lho
ken darsihk
Dan kecelakaan itu mengharuskan mami Elsa mendapatkan transfusi darah , akhir nya Azalea maju untuk me donor kan darah nya
Lisa
Moga dgn kecelakaan itu Mami Elsa jadi sadar dr kesombongannya
Kar Genjreng
ga ngertia. Mak teroma dengan ayah' nya
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Esther
luka masa lalu Elsa membuat dia menganggap wanita kampung kelakuannya sama dgn gundik ayahnya.
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.

Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Nar Sih
semoga dgn kejadian kecelakaan ini mami elsa sdr klau punya menatu dri kampung itu blm tentu ngk baik ,
Eonnie Nurul
gak semua orang kampung kayak gundik bapakmu Elsa,bisa jadi bapak mu dulu kenak pelet 🤪
Dian Rahmawati
sweet nya Enzo
~Ni Inda~
Terbuat dari apa hatimu nek
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Yasmin Natasya
lanjut thor 😁🙏😍🤗
~Ni Inda~
Note !
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi
Fa Yun
😍😍
Oma Gavin
bikin saja elsa mati atau cacat permanen biar tau rasanya tidak sempurna dan yg mau ngurusin hanya azalea
Kar Genjreng: jangan dong mending Mak Elsa saja biar nyadar anak anak masa depan nya masih panjang
total 3 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Yulay Yuli
Setelah kecelakaan Mami Elsa sadar, betapa baiknya Azalea
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Meninggoy si mami Elsa..
Diana Dwiari
udah lebaran aja sih thor....jadi pengen segera lebaran nih..m😂😂
🌸Santi Suki🌸: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Gadis misterius
Nenek lmpir minta diseleding tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!