Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMAINAN CANTIK SANG BAYANGAN
Arsen mengembuskan napas panjang, bersandar di kursi kerjanya sambil memijat pangkal hidung. Suara Dana di seberang telepon terdengar sangat yakin, namun insting Arsen tetap merasa ada yang janggal.
"CCTV bersih kok, Sen. Sepertinya itu karena Arlo baru pertama sekolah, jadi dia masih merasa asing dan takut. Biasalah, imajinasi anak kecil apalagi setelah digoda temannya tadi," ucap Dana berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Arsen terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke arah foto keluarga di atas mejanya. "Bersih? Nggak ada orang yang berdiri terlalu lama atau mobil yang parkir mencurigakan di sekitar gerbang?"
"Nggak ada, Sen. Semua normal. Penjemputan juga tertib. Mungkin kamu juga terlalu tegang setelah kejadian bulan lalu. Coba rileks sedikit, demi Rosa juga," lanjut Dana.
"Oke, Mas. Makasih informasinya. Tolong tetap pantau saja lewat orang-orang kita di lapangan," balas Arsen sebelum menutup sambungan telepon.
Arsen keluar dari ruang kerja dan mendapati Rosa sedang duduk di karpet ruang tengah, menemani Arlo yang sedang asyik memasukkan buku-buku ke dalam tas robot merah barunya. Wajah Arlo tampak sangat bangga, seolah tas itu adalah perisai pelindung yang paling kuat di dunia.
"Lihat, Papa! Robotnya punya pedang! Hantunya pasti takut!" seru Arlo sambil memamerkan gambar robot di tasnya.
Arsen tersenyum, meski hatinya masih menyimpan sedikit curiga. Ia duduk di samping Rosa dan merangkul bahunya. "Wah, keren banget. Besok Arlo pasti jadi anak paling berani di kelas."
Rosa menoleh ke arah suaminya, menatap mata Arsen dengan dalam. Ia tahu Arsen baru saja bicara dengan Dana. "Mas, gimana? Mas Dana bilang apa?" bisik Rosa pelan agar tidak terdengar Arlo.
Arsen mengusap lengan Rosa dengan lembut, mencoba menyalurkan ketenangan. "Semua aman, Sayang. CCTV bersih. Mas Dana bilang mungkin Arlo cuma terlalu bersemangat dan sedikit gugup karena hari pertama. Jadi dia merasa diperhatikan."
Rosa menghela napas lega, bahunya yang tadi tegang kini tampak merosot rileks. "Syukurlah... aku sempat takut kalau ada orang jahat lagi. Tapi kalau kata Mas Dana aman, aku jadi tenang."
Arsen mengecup kening Rosa. "Iya, jangan dipikirkan lagi ya. Kita fokus temani jagoan kita ini saja."
Meskipun Arsen berkata demikian untuk menenangkan istrinya, di dalam hati ia tetap waspada. Jika benar CCTV bersih, berarti siapa pun yang mengawasi Arlo tadi sangat pintar bersembunyi di titik buta kamera. Arsen bersumpah, tas robot itu mungkin bisa menenangkan Arlo, tapi ia sendiri yang akan menjadi "robot" pelindung yang nyata bagi istri dan anaknya.
Keesokan harinya, Arlo melangkah masuk ke kelas dengan penuh percaya diri. Tas robot merah barunya seolah memberikan kekuatan tambahan, membuat langkah kaki kecilnya terdengar lebih mantap di atas lantai kelas. Begitu ia duduk di kursinya, Romeo langsung menghampiri dengan wajah yang tak kalah antusias.
"Arlo! Lihat, aku punya sesuatu buat kamu," ucap Romeo sambil menyodorkan sebuah robot mainan keren yang masih mengilap.
Arlo membelalakkan matanya, tangannya ragu-ragu untuk menerima. "Buat aku?" tanyanya memastikan.
"Iya, ambil saja! Kemarin teman mamaku kasih dua, katanya buat aku sama teman baruku. Jadi satu buat kamu," jawab Romeo dengan cengiran khas anak kecil yang tulus.
Arlo menerima robot itu dengan binar bahagia. "Wah, keren banget! Robotnya sama kayak di tas aku, Romeo! Terima kasih ya!"
Dari balik jendela kelas, Rosa yang masih memantau bersama Arsen sebelum pulang, tersenyum haru melihat interaksi itu. Ia menyenggol lengan suaminya dengan lembut.
"Lihat, Mas, Arlo sudah punya sahabat. Senang ya lihat dia sebahagia itu," bisik Rosa.
Arsen mengangguk, namun matanya yang tajam sempat melirik robot yang dipegang Arlo. Ada rasa waspada yang tak bisa ia hilangkan begitu saja. "Iya, Sayang. Syukurlah kalau dia punya teman baik seperti Romeo."
Meskipun terlihat tenang, di dalam pikiran Arsen, ia mencatat satu hal: Teman mamanya Romeo? Arsen segera merangkul pundak Rosa untuk mengajaknya berjalan menuju parkiran. "Sayang, kamu kenal mamanya Romeo? Tadi Romeo bilang robot itu pemberian teman mamanya."
Rosa tampak berpikir sejenak. "Oh, mamanya Romeo itu Mbak Shinta, Mas. Dia orangnya baik, tadi sempat kenalan sebentar pas antar Arlo. Teman mamanya? Mungkin rekan kerjanya atau kerabatnya. Kenapa, Mas? Kamu curiga lagi?"
Arsen mengembuskan napas, mencoba merilekskan rahangnya yang sempat mengeras. "Nggak, Sayang. Aku cuma mau memastikan Arlo berteman dengan lingkungan yang benar saja. Ayo kita pulang, nanti jam jemput kita ke sini lagi."
Arsen berusaha membuang pikiran negatifnya. Ia tidak ingin merusak momen bahagia Arlo. Namun, jauh di lubuk hatinya, Arsen berjanji akan mencari tahu siapa "teman mamanya Romeo" yang begitu baik memberikan mainan tepat di saat Arlo merasa sedang diawasi. Bagi Arsen, tidak ada yang namanya kebetulan jika itu menyangkut keselamatan anak dan istrinya.
Arsen menghentikan langkahnya di area parkir sekolah yang mulai sepi setelah bel masuk berbunyi. Ia melihat Shinta, ibu Romeo, yang baru saja hendak masuk ke mobilnya. Dengan langkah tegap namun tetap berusaha ramah, Arsen menghampirinya.
"Pagi, Mbak Shinta. Maaf mengganggu waktunya sebentar," sapa Arsen dengan nada suara yang berwibawa.
Shinta menoleh dan tersenyum ramah. "Oh, Papa Arlo! Pagi, Pak Arsen. Ada apa ya? Apa ada barang Arlo yang tertinggal?"
Arsen menggeleng pelan. "Bukan, Mbak. Saya hanya ingin berterima kasih. Tadi Arlo bilang Romeo kasih dia robot mainan. Katanya dari Mbak Shinta?"
Shinta tertawa kecil, menyandarkan tasnya di pintu mobil. "Iya, tadi teman saya kasih dua. Terus Romeo bilang mau kasih satu buat sahabat barunya, si Arlo. Katanya Arlo baik sekali, jadi dia mau berbagi. Saya pikir nggak apa-apa, supaya mereka makin akrab."
Arsen menyipitkan matanya sedikit, mencoba menangkap detail lebih dalam tanpa terlihat menginterogasi. "Wah, baik sekali teman Mbak Shinta itu. Boleh saya tahu siapa? Mungkin saya kenal, atau setidaknya saya bisa titip salam terima kasih karena Arlo senang sekali."
Shinta tampak mengingat-ingat sejenak. "Duh, namanya siapa ya? Dia teman lama saya pas masih kuliah dulu, baru ketemu lagi kemarin di kafe dekat sekolah ini. Namanya... kalau nggak salah Ara? Atau Lara? Saya agak lupa karena sudah lama sekali nggak kontak. Dia bilang dia suka sekali lihat anak kecil, makanya dia belikan robot itu pas lihat saya bawa Romeo."
Deg. Jantung Arsen seolah berhenti berdetak sesaat mendengar nama yang mirip itu. Lara? Laras? "Oh, begitu ya, Mbak. Teman lama ya?" Arsen berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar, meski tangannya di dalam saku celana sudah mengepal kuat. "Ya sudah, Mbak Shinta. Sekali lagi terima kasih ya. Saya duluan, ada janji di kantor."
"Sama-sama, Pak Arsen! Mari!" Shinta melambaikan tangan dan masuk ke mobilnya.
Begitu mobil Shinta menjauh, Arsen tidak langsung menuju mobilnya sendiri. Ia berdiri mematung di tengah parkiran, menatap gedung sekolah tempat Arlo berada. Pikirannya berkecamuk.
Ara? Lara? Arsen yakin itu bukan sekadar kebetulan. Laras pasti menggunakan Shinta sebagai perantara karena dia tahu dia tidak bisa mendekati Arlo secara langsung. Laras tahu dia diawasi, makanya dia bermain cantik.
Arsen segera merogoh ponselnya dan menghubungi Dana dengan nada bicara yang jauh lebih dingin dan mendesak.
"Dana, lupakan CCTV gerbang. Cari Shinta, mamanya Romeo. Lacak siapa 'teman lama' yang dia temui di kafe sekitar sekolah kemarin sore. Cari rekaman CCTV kafenya. Aku mau wajah wanita itu ada di mejaku sebelum jam makan siang!"
Arsen masuk ke mobilnya dan memukul kemudi dengan kesal. Ia tidak benci pada Arlo, tapi ia sangat benci bagaimana masa lalu itu terus mencoba merayap masuk lewat celah-celah kecil yang tak terduga. Ia harus bertindak sebelum Rosa tahu dan mulai merasa takut lagi.