Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 19 - KATA-KATA YANG MENGEJUTKAN
Pintu ruang BK terbuka.
Ara dan Via keluar dengan langkah yang lebih berat dari biasanya, bukan karena lelah fisik meski itu juga ada, tapi karena dua puluh menit di dalam ruangan itu bersama Pak Dani dan tiga cewek yang tadi dan penjelasan yang harus diulang dari awal dengan cara yang lebih terstruktur dan lebih tidak emosional dari yang sebenarnya Ara rasakan membuat semua terasa seperti lebih panjang dari yang seharusnya.
Hasilnya tidak terlalu buruk. Tidak ada surat untuk orang tua, karena Pak Dani mempertimbangkan konteksnya dan memutuskan bahwa peringatan tertulis sudah cukup untuk saat ini. Catatan di buku pembinaan, iya. Tapi tidak lebih dari itu.
Untuk sekarang.
Ara menghembuskan napas begitu pintu tertutup di belakang mereka.
Via berjalan di sebelahnya dengan bahu yang sudah kembali ke posisi normalnya, tegak dan tidak meminta maaf atas keberadaannya, tapi ada sesuatu di caranya melangkah yang sedikit lebih pelan dari biasanya.
"Kamu baik-baik aja?" Ara bertanya.
"Pipi kiri sedikit panas," Via menjawab datar. "Tapi tidak apa-apa."
Ara mengangguk. Pipi kirinya sendiri juga sedikit panas, dengan alasan yang sama.
Mereka berjalan menyusuri lorong lantai satu yang sudah lebih sepi dari tadi karena jam istirahat sudah lama selesai dan pelajaran terakhir sudah berlangsung di kelas masing-masing. Langkah mereka memantul di ubin dengan suara yang lebih nyaring dari biasanya karena lorong yang kosong tidak punya suara lain untuk mengisinya.
Ara melihatnya dari jarak sepuluh langkah.
Seseorang berdiri di kursi tunggu panjang di depan ruang BK, satu kaki dilipat ke atas kursi, satu tangan memegang ponsel, kepala sedikit menunduk ke layar.
Rambut hitam yang masih sedikit berantakan di sisi kirinya meski sudah melewati setengah hari sekolah.
Ara berhenti melangkah.
Via yang satu langkah lebih maju ikut berhenti, menoleh ke arah yang sama dengan Ara, dan tidak berkata apa-apa tapi ada sesuatu yang berubah di ekspresinya. Sesuatu yang menyerupai kepuasan yang sangat hati-hati disimpan di tempat yang tidak terlalu mencolok.
Gill mengangkat kepalanya dari ponselnya.
Matanya menemukan Ara duluan. Lalu bergeser ke Via. Lalu kembali ke Ara.
Ia berdiri dari kursi dengan gerakan yang tidak terburu-buru, meletakkan ponselnya ke saku, dan berjalan mendekat dengan langkah yang sama seperti selalu. Tidak cepat, tidak lambat, tidak memperlihatkan bahwa ia sudah duduk di kursi tunggu itu untuk waktu yang tidak sebentar.
Ia berhenti di depan Ara.
Matanya turun sebentar, memindai wajah Ara dengan cara yang singkat tapi cukup untuk mengambil semua informasi yang perlu diambil. Pipi yang sedikit merah. Seragam yang tidak sepenuhnya rapi lagi. Rambut yang sudah tidak sebersih tadi pagi meski sudah dirapikan seadanya sebelum keluar dari ruang BK.
Lalu ia berkata, "Menang atau kalah?"
Ara membuka mulutnya.
Menutupnya lagi.
Dari semua kalimat yang bisa diucapkan seseorang kepada orang yang baru keluar dari ruang BK setelah terlibat perkelahian, dari semua pertanyaan yang mungkin, itu yang keluar dari mulut Gill.
Ara menatapnya selama dua detik penuh.
Gill mengalihkan pandangannya ke Via, karena Via tampaknya akan memberikan jawaban yang lebih langsung dari Ara.
Via mengangkat satu tangan. Ibu jarinya berdiri ke atas.
Gill mengangguk satu kali, kecil, dengan cara yang menyampaikan bahwa informasi itu sudah ia terima dan sudah cukup memuaskan sebagai laporan singkat.
"UKS," ia berkata kemudian, pandangannya kembali ke Ara.
"Kami tidak perlu—"
"Pipi kamu merah." Gill tidak menunggu Ara selesai. "Via juga." Ia menoleh ke Via untuk konfirmasi.
Via tidak menyangkal. Hanya mengangkat bahu dengan cara yang berarti: tidak ada salahnya mampir.
Gill menggerakkan tangannya.
Tangannya mendarat di bahu Ara, bukan mencengkeram, hanya ada, dan mendorong pelan ke arah kiri lorong di mana UKS berada. Sentuhan yang singkat dan fungsional tapi membuat Ara sadar tiba-tiba bahwa ia baru merasakan sesuatu yang hangat di tempat telapak tangan itu berada.
"Ayo," Gill berkata.
Ara berjalan ke arah yang ditunjukkan tanpa melawan.
Via mengikuti di belakang mereka dengan ekspresi yang sudah memutuskan untuk tidak mengomentari apa yang baru saja ia saksikan, menyimpan semuanya untuk nanti, untuk momen yang lebih tepat yang Via pasti akan temukan.
---
UKS siang itu sepi.
Hanya ada satu petugas UKS, Bu Hani yang sudah mengabdikan dirinya untuk menangani segala macam kondisi fisik siswa dari yang sesimpel pusing karena belum sarapan sampai yang sekompleks hari ini.
Beliau tidak banyak bertanya ketika Gill membawa dua orang dengan pipi yang sedikit merah dan seragam yang tidak sepenuhnya dalam kondisi terbaik ke ruangannya. Hanya mengarahkan keduanya duduk, mengambil kapas dan obat antiseptik, dan mulai bekerja dengan efisiensi yang sudah sangat terlatih.
Ara duduk di tepi ranjang UKS, Via di kursi di sampingnya.
Gill berdiri di dekat pintu yang terbuka.
"Perih," Via berkata ketika kapas antiseptik menyentuh sudut bibirnya yang sedikit terluka.
"Ditahan," Bu Hani menjawab.
"Aku sudah menahan."
"Tahan lebih."
Via menutup mulutnya.
Ara menahan senyum kecil yang naik tanpa izin ke sudut bibirnya, lalu menahan juga ketika kapas yang sama mendarat di pipinya dan rasa perih kecil mengikuti.
Dari pintu, Gill memandangi proses itu tanpa berkata apa-apa. Ponselnya tidak ia keluarkan. Tangannya di saku. Posisi berdiri yang sudah sangat familiar bagi Ara, posisi seseorang yang hadir sepenuhnya di suatu tempat meski tidak bersuara.
Pintu UKS terbuka dari luar.
Mike masuk.
Rambutnya tidak serapi tadi pagi. Satu kancing paling atas seragamnya sudah dibuka, sesuatu yang jarang Ara lihat karena Mike adalah tipe yang selalu terlihat sempurna bahkan di akhir hari sekolah. Dan di wajahnya ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi terukur yang biasanya ia kenakan, sesuatu yang lebih terbuka, lebih tidak dijaga.
Matanya langsung ke Ara. Lalu ke Via. Lalu ke kondisi wajah keduanya.
"Ya ampun," ia berkata, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Kalian baik-baik aja?"
Ara membuka mulutnya untuk menjawab tapi Via sudah lebih cepat.
"Baik-baik aja," Via berkata. "Duduk."
Mike tidak langsung duduk. Ia berdiri di tengah ruangan sebentar, masih memandangi keduanya dengan ekspresi yang belum selesai memproses, sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk di sisi Via yang berlawanan dari Bu Hani yang masih bekerja.
Matanya ke Ara lagi. "Dari mana awalnya?"
Ara diam.
Bukan karena tidak mau menjawab, tapi karena tiba-tiba sulit untuk menyusun kata-kata tentang itu dengan cara yang tidak akan membuat semuanya jadi lebih rumit dari yang sudah ada.
Via menoleh ke Mike. "Toilet," ia berkata. "Tiga orang bergosip. Kami mendengarnya. Kami merespons."
"Merespons seperti apa?"
"Seperti yang kamu lihat."
Mike menatap Via beberapa detik. Ada banyak hal yang terbaca di tatapan itu, tapi yang paling jelas adalah bahwa ia tidak akan mendapat penjelasan lebih rinci dari Via sekarang dan ia cukup bijak untuk tidak memaksanya.
Ia menarik napas. Mengangguk pelan. "Oke."
Bu Hani selesai dengan Via, mengepak kembali perlengkapannya, dan menyarankan keduanya untuk tidak menyentuh area yang sudah diolesi obat dengan tangan kotor. Lalu beliau kembali ke mejanya dan membiarkan ruangan itu menjadi lebih privat dari sebelumnya.
Mike berdiri. Menatap Ara sekali lagi dengan sesuatu di matanya yang tidak ia ucapkan tapi sudah menyampaikan dirinya sendiri. Lalu ia menoleh ke arah pintu di mana Gill masih berdiri.
Sesuatu terbaca di wajah Mike ketika melihat Gill di sana.
Bukan permusuhan. Bukan juga keramahan yang dipaksakan. Sesuatu yang lebih jujur dari keduanya, sesuatu yang sedang mencari bentuknya.
"Aku tunggu di luar," Mike berkata ke ruangan secara umum, lalu berjalan ke pintu.
Gill menggeser posisinya memberi ruang di ambang pintu.
Mike berjalan keluar.
Dan Gill mengikutinya.
---
Lorong di depan UKS sepi.
Hanya mereka berdua dan suara pelajaran yang berlangsung di balik pintu-pintu kelas yang tertutup di sepanjang lorong itu.
Mike berdiri membelakangi dinding, tangan disilang di dada dengan cara yang sudah ia lepaskan sebelum sepenuhnya terbentuk, akhirnya hanya dimasukkan ke saku. Postur yang sudah tidak mempertahankan ketinggian formalnya dari tadi pagi.
Gill berdiri di sisi seberang lorong, bersandar di dinding yang berlawanan, menatap Mike dengan cara yang tidak menunggu tapi juga tidak mendesak.
Hening beberapa detik.
"Tadi pagi," Mike memulai, suaranya lebih pelan dari cara ia biasanya berbicara, cara yang tidak terdengar seperti sedang memilih kata untuk efek tapi sungguhan sedang memilih kata karena memang tidak mudah mengucapkannya. "Aku minta maaf."
Gill tidak bergerak. Mendengarkan.
"Aku kaget," Mike melanjutkan. "Waktu kamu masuk ke kelas dan bilang hal itu kemarin, aku benar-benar tidak siap." Ia berhenti sebentar, menatap titik di lantai di antara mereka. "Ara dan aku sudah berteman lama. Dan aku tidak tahu harus menempatkan diri di mana tiba-tiba. Jadi aku bilang hal yang..." ia menghela napas pendek, "yang tidak seharusnya aku ucapkan dengan cara itu."
Gill mendengarkan semua itu tanpa menyela.
Ketika Mike selesai, ada beberapa detik hening yang membiarkan kata-kata itu mengendap.
"Oke," Gill berkata akhirnya.
Mike mengangkat kepalanya. "Oke?"
"Aku dengar kamu." Gill menatap Mike langsung. "Dan aku tidak menyimpan itu."
Mike tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di wajahnya yang berproses, semacam ketegangan yang sudah ia bawa sejak tadi pagi dan sekarang sedang menemukan cara untuk mengendur.
"Tapi," Gill melanjutkan, dan kata itu diucapkan bukan dengan nada ancaman, tapi dengan nada seseorang yang menyampaikan sesuatu yang perlu disampaikan karena memang perlu, bukan karena ingin menang, "mulai sekarang, hormati keputusannya."
Mike menatap Gill.
"Dia bukan sesuatu yang dimiliki oleh siapa pun," Gill berkata, dan cara kalimat itu keluar, datar dan langsung tanpa ornamen berlebih, justru membuat beratnya lebih terasa dari kalau diucapkan dengan cara yang lebih emosional. "Bukan oleh kamu. Bukan oleh siapa pun. Termasuk aku." Jeda pendek. "Jadi kalau kamu peduli sama dia, tunjukkan dengan menghargai apa yang dia pilih. Bukan dengan mempertanyakannya di depan orang."
Hening.
Mike menatap Gill beberapa detik lagi.
Lalu sesuatu di wajahnya berubah dengan cara yang sangat kecil tapi cukup nyata. Bukan kalah, bukan menyerah, lebih seperti seseorang yang mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan untuk didengar tapi cukup jujur dengan dirinya sendiri untuk mengakui bahwa itu benar.
Ia mengangguk.
Satu kali. Pelan.
"Oke," ia berkata. "Aku mengerti."
Gill mengangguk balik.
Dan percakapan itu selesai dengan cara yang tidak dramatis, tidak ada jabat tangan yang dipaksakan, tidak ada pernyataan perdamaian yang berlebihan. Hanya dua orang yang sudah menyelesaikan sesuatu yang perlu diselesaikan dan sekarang bisa melanjutkan ke hal berikutnya.
Pintu UKS terbuka dari dalam.
Ara keluar duluan, Via di belakangnya.
Ara melihat Gill dan Mike berdiri di lorong itu berhadapan dan langkahnya sedikit melambat. Matanya berpindah dari Gill ke Mike dan kembali ke Gill dengan kecepatan yang menyampaikan bahwa ia sedang mengkalkulasi situasi dan belum yakin dengan hasilnya.
Mike menangkap tatapan itu.
Ia tersenyum. Kali ini senyum yang terasa lebih ringan dari tadi pagi, lebih dari dalam, meski sedikit lebih kecil dari ukuran normalnya. "Tenang. Semuanya baik-baik saja."
Ara menatapnya beberapa detik. Lalu ke Gill, yang hanya menanggapi dengan tatapan yang tidak menyangkal pernyataan Mike.
Via, yang sudah membaca seluruh situasi itu dalam waktu kurang dari lima detik, bergerak.
"Mike," ia berkata, berjalan ke arah Mike dengan langkah yang punya tujuan jelas. "Aku lapar dan kantin mungkin masih buka. Temenin aku."
Mike menatap Via sebentar. Satu kedipan singkat. Lalu sesuatu di sudut bibirnya bergerak ke atas dengan cara yang sangat tipis sebelum ia kendalikan kembali. "Iya. Ayo."
Mereka berdua berjalan ke arah kantin.
Sebelum membelok di ujung lorong, Via menoleh sebentar ke arah Ara. Satu tatapan kecil yang dalam bahasa mereka sudah sangat cukup sebagai: kamu tahu apa yang harus dilakukan, selesaikan.
Lalu ia menghilang di balik belokan dengan Mike di sampingnya.
Lorong di depan UKS kembali sepi.
Hanya Ara dan Gill.
---
Mereka berjalan keluar sekolah bersama.
Gerbang sudah terbuka lebar untuk siswa yang mulai pulang karena jam terakhir sudah selesai beberapa menit yang lalu. Arus siswa mengalir ke berbagai arah dan Ara serta Gill menyeberangi arus itu menuju arah yang kebetulan sama untuk beberapa blok pertama.
Tidak ada yang memulai percakapan dulu.
Angin sore menyambut mereka di luar gerbang, lebih hangat dari angin siang di atap, membawa serta bau aspal dan sedikit bau makanan dari penjual kaki lima yang sudah mulai berjejer di trotoar luar sekolah.
Ara berjalan di sisi kiri Gill, setengah langkah lebih lambat dari ritme jalannya sendiri yang biasanya karena ada sesuatu yang berputar di kepalanya dan membuat koordinasi langkah terasa sedikit lebih sulit dari normal.
Satu blok berlalu.
Dua blok.
"Maaf," Ara berkata akhirnya.
Gill tidak langsung merespons. Tapi langkahnya tidak berubah, pertanda bahwa ia mendengarkan.
"Untuk hari ini," Ara melanjutkan, menatap trotoar di depannya. "Semuanya. Ruang BK dan UKS dan semua yang harus kamu tunggu dan—"
"Kenapa minta maaf?"
Ara mengangkat kepala. "Karena ini semua menjadi repot karena—"
"Karena apa?"
Ara membuka mulutnya. Lalu menutupnya.
Gill menoleh ke arahnya sebentar sambil terus berjalan. "Katakan yang sebenarnya."
"Karena aku." Ara menjawab akhirnya, pelan. "Karna situasi ini bermula dari aku. Via terlibat karena aku. Mike dan kamu tadi pagi juga karena aku. Dan sekarang kamu harus repot menunggu di luar ruang BK karena—"
"Aku tidak repot."
"Gill—"
"Aku memilih untuk menunggu di sana." Gill berkata itu dengan nada yang tidak membantah tapi juga tidak membiarkan Ara melanjutkan ke arah yang tidak tepat. "Tidak ada yang memaksaku."
Ara menatap sisi wajahnya.
Gill menatap ke depan, tangan di saku, langkah yang sama dengan sebelumnya.
"Kamu menunggu cukup lama," Ara berkata.
"Iya."
"Tanpa tahu berapa lama lagi."
"Iya."
"Dan itu tidak membuatmu kesal?"
Gill diam sebentar. "Tidak."
Ara tidak tahu harus menjawab apa untuk itu.
Mereka berjalan lagi dalam hening yang berbeda dari hening-hening sebelumnya. Lebih berat tapi bukan dengan cara yang tidak nyaman. Lebih seperti hening yang menyimpan sesuatu yang belum siap dikeluarkan tapi sudah tidak bisa sepenuhnya disembunyikan juga.
Lalu Gill berkata sesuatu yang membuat langkah Ara melambat hampir sampai berhenti.
"Kalau hubungan ini memberatkanmu," ia berkata, masih menatap ke depan, nada suaranya sama seperti selalu tapi kata-katanya bukan, "mari kita akhiri saja."
Ara berhenti sepenuhnya.
Dua langkah sebelumnya Gill juga berhenti, menoleh ke Ara yang sudah tidak berjalan lagi, dan menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa Ara baca dengan cepat.
"Apa?" suara Ara keluar lebih kecil dari yang ia maksudkan.
"Aku serius." Gill menatapnya langsung. "Hari ini kamu masuk ke perkelahian. Via terluka karena ini. Mike dan aku tadi pagi membuat suasana kelas menjadi tidak nyaman. Dan semua itu berpusat pada sesuatu yang seharusnya membantu situasimu, bukan memperumitnya." Ia berhenti sebentar. "Kalau ternyata ini lebih banyak membuat masalah dari yang diselesaikan, tidak ada gunanya dilanjutkan."
Ara menatap Gill.
Matahari sore ada di belakang Gill dari sudut ini, membuat wajahnya sedikit lebih dalam dari biasanya, dan ekspresinya, yang selalu susah dibaca, kali ini terasa lebih susah dari biasanya.
Karena Ara tidak bisa membaca apakah Gill yang mengucapkan itu benar-benar hanya menawarkan jalan keluar yang ia pikir Ara butuhkan, atau ada sesuatu lain di balik kata-kata itu yang tidak tersampaikan dengan cara yang bisa Ara tangkap sekarang.
Kaki lima di trotoar di belakang mereka ramai dengan suara penjual dan pembeli. Siswa lain yang pulang berjalan melewati mereka berdua yang berdiri diam di tengah trotoar.
Ara menarik napas.
"Aku akan memikirkannya," ia berkata akhirnya.
Bukan jawaban yang selesai. Gill tahu itu, dan cara ia mengangguk menyampaikan bahwa ia menerima itu sebagai jawaban yang sah untuk sekarang.
Mereka mulai berjalan lagi.
Dan sampai di perempatan di mana jalan mereka berpisah, tidak ada yang mengucapkan sesuatu yang besar atau berat.
Hanya Gill yang berkata, singkat, "Hati-hati."
Dan Ara yang mengangguk.
Lalu berjalan ke arahnya masing-masing.
Dengan satu kalimat yang masih bergema di kepala Ara selama seluruh perjalanan pulang.
*Kalau hubungan ini memberatkanmu, mari kita akhiri saja.*
Dan pertanyaan yang lebih mengganggunya dari kalimat itu sendiri adalah satu hal kecil yang ia tidak mau jawab terlalu cepat karena jawabannya sudah terasa sebelum ia selesai memikirkannya dengan benar.
Bahwa ternyata tidak.
Tidak memberatkan.
Dan itu, justru, yang paling membingungkan.