Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Di Balik Monitor
Studio 4 kini hanya menyisakan deru pendingin ruangan yang bekerja ekstra keras. Jam di dinding menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Sebagian besar kru sudah pulang atau tidur meringkuk di sofa lounge, namun cahaya biru dari monitor editing masih menyinari wajah kaku Arlan.
Adelia masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur instan panas dan segelas air putih. Ia baru saja selesai merapikan inventaris alat untuk syuting besok pagi. Langkah kakinya sengaja diperelankan, takut merusak konsentrasi pria yang sedang memelototi rentetan frame di layar itu.
"Pak Arlan, Anda sudah tidak makan sejak siang," bisik Adelia, meletakkan nampan itu di meja samping Arlan.
Arlan tidak menoleh. Matanya merah, dan ada getaran halus di tangannya saat menggerakkan mouse. "Simpan saja di sana. Saya harus menyelesaikan color grading ini. Klien ingin melihat versi final jam delapan pagi."
"Tapi tangan Anda gemetar, Pak. Kalau mata Anda lelah, warna yang Anda lihat bisa bias. Itu akan merusak hasil akhirnya," ujar Adelia berani.
Arlan menghentikan gerakannya. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerja ergonomisnya, lalu memijat pelipisnya dengan kasar. "Kamu ini... kenapa selalu punya argumen untuk setiap hal yang saya lakukan?"
"Karena saya asisten Anda, bukan bayangan Anda," jawab Adelia tenang sembari menyodorkan sendok. "Makanlah. Lima menit tidak akan membuat industri film runtuh."
Arlan menatap bubur itu dengan pandangan menghina, namun perutnya yang keroncongan mengkhianati harga dirinya. Ia meraih sendok itu dan mulai makan dalam diam. Adelia berdiri di dekatnya, memperhatikan profil samping wajah Arlan.
Tanpa ekspresi marah atau perintah kasar, Arlan terlihat... lelah. Sangat lelah.
Tiba-tiba, Arlan terbatuk hebat. Wajahnya yang pucat mendadak memerah. Ia mencoba meraih gelas air, tapi tangannya justru menyenggol tumpukan kertas hingga berhamburan.
"Pak Arlan!" Adelia sigap memegangi bahu pria itu dan membantunya minum.
Saat tangannya menyentuh leher Arlan untuk menstabilkan posisinya, Adelia tersentak. Kulit Arlan terasa panas menyengat. "Astaga, Pak! Anda demam tinggi!"
Arlan mencoba menepis tangan Adelia dengan lemah. "Saya hanya... kurang tidur. Jangan berlebihan."
"Kurang tidur tidak membuat suhu tubuh Anda seperti oven! Anda sakit," tegas Adelia. Ia meletakkan punggung tangannya di dahi Arlan, mengabaikan tatapan tajam pria itu. "Ini pasti karena Anda memaksakan diri di bawah guyuran mesin hujan buatan kemarin sore."
Arlan mencoba berdiri, bermaksud menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, namun dunianya seolah berputar. Ia terhuyung, dan jika Adelia tidak segera menahan pinggangnya, pria jangkung itu pasti sudah mencium lantai studio.
Untuk sesaat, posisi mereka sangat dekat. Arlan bisa mencium aroma sabun melati dari rambut Adelia, sementara Adelia bisa merasakan napas panas Arlan di ceruk lehernya. Arlan tertegun, amarahnya menguap digantikan oleh rasa rapuh yang jarang ia izinkan muncul di depan orang lain.
"Duduklah, Pak. Saya akan panggilkan taksi," ujar Adelia, suaranya melembut.
"Tidak. Pekerjaan ini—"
"Pekerjaan ini akan saya jaga," potong Adelia.
"Saya akan pastikan Bayu dan tim editor menyelesaikan sisa rendering-nya sesuai catatan yang sudah Anda buat di skrip. Saya akan mengirimkan hasilnya ke email Anda untuk pengecekan terakhir subuh nanti.
Sekarang, Anda harus pulang atau saya akan menelepon ambulans dan membuat heboh seluruh gedung ini."
Arlan menatap Adelia dengan sisa-sisa otoritasnya yang memudar. "Kamu mengancam saya lagi?"
"Anggap saja ini negosiasi, Pak."
Arlan mendengus, sebuah tawa kecil yang terdengar seperti rintihan keluar dari bibirnya. "Kamu benar-benar asisten paling menyebalkan yang pernah saya punya, Adelia."
Adelia membantu Arlan berjalan menuju mobil jemputan. Sebelum masuk ke mobil, Arlan memegang pergelangan tangan Adelia. Cengkeramannya tidak kuat, tapi terasa panas.
"Adelia," gumamnya, suaranya kini terdengar parau dan jauh dari kesan 'Naga'. "Kenapa kamu masih bertahan? Saya sudah memaki kamu habis-habisan hari ini."
Adelia terdiam sejenak, menatap mata Arlan yang sayu di bawah lampu jalan yang temaram. "Karena saya melihat apa yang tidak dilihat orang lain, Pak. Di balik layar monitor itu, Anda bukan orang jahat. Anda hanya orang yang terlalu mencintai karya Anda sampai lupa caranya mencintai diri sendiri."
Arlan tertegun mendengarnya. Ia melepaskan tangan Adelia, lalu masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata pun. Namun, sepanjang perjalanan pulang, kalimat Adelia terus bergaung di kepalanya, menghantam dinding pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun.
Di studio, Adelia kembali ke meja Arlan. Ia melihat tablet yang terbuka. Di sana, terselip sebuah foto kecil yang sudah agak kusam di balik casing-nya. Foto seorang wanita paruh baya dengan senyum manis yang sangat mirip dengan Arlan, namun ada coretan silang kecil di sudutnya.
Adelia mengerutkan kening. Siapa wanita ini? Dan mengapa pria sekuat Arlan tampak begitu membencinya, sekaligus menyimpannya begitu dekat di tempat kerja?
Adelia menghela napas, ia menutup tablet itu dan mulai mengetik instruksi untuk tim editor. Malam masih panjang, dan ia punya janji untuk menjaga mahakarya si tukang marah yang kini sedang terkapar sakit.