Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Ia sengaja berdiri di sisi lorong, menunggu Guo Xiaolu naik. Suara langkah sepatu hak tinggi bergema, dan Guo Xiaolu segera muncul di hadapannya. Raut wajahnya cerah; jelas ia sedang dalam suasana hati yang baik. Karena dia? dada Zhang Yuze terasa sesak.
“Kak Xiaolu, apakah pria itu pacarmu?” tanyanya dengan senyum tipis, berusaha terdengar santai. Padahal, di dalam hatinya, kegelisahan menggelegak.
“Tentu saja tidak,” jawab Guo Xiaolu cepat. “Namanya Lan Zhenglong. Dia kakak tingkatku di kampus. Sekarang aku bekerja di perusahaan keluarganya. Kadang-kadang dia mengantarku pulang.”
Penjelasan itu membuat hati Zhang Yuze dingin. Hubungan senior-junior—klise, namun efektif. Ia merasa pahit, namun juga sadar betapa sering pola itu berujung pada perasaan. Celaka, pikirnya. Hatiku sudah kehilangan sepertiga wilayahnya.
Jika pemuda itu terus mengantarnya pulang, dengan kedekatan semacam itu, bagaimana mungkin Guo Xiaolu yang polos tidak akan jatuh hati? Tidak. Ia tidak boleh membiarkan ini berlanjut. Tekad pun mengeras.
“Kak Xiaolu… bolehkah bunga mawar itu kau berikan padaku?” katanya tiba-tiba, matanya menatap buket itu. “Seumur hidup aku belum pernah benar-benar melihat mawar.”
Guo Xiaolu terkejut, namun setelah ragu sejenak, ia tersenyum dan menyerahkannya. “Kalau begitu, ambillah. Jangan kau gunakan untuk menipu gadis lain, ya.”
Zhang Yuze menerima bunga itu dengan lega. Ini berarti—setidaknya—perasaannya belum sampai ke titik yang tak bisa ditarik kembali.
“Terima kasih, Kak Xiaolu,” katanya ceria.
Namun begitu kembali ke kamar, Zhang Yuze tanpa ragu melempar buket mawar itu ke tempat sampah.
“Mau merebut gadisku?” gerutunya. “Tidak semudah itu.”
Di matanya, tekad menyala. Pertarungan baru saja dimulai.
Namun, apa pun yang terjadi, ia tidak boleh lagi membiarkan Xiaolu duduk di mobil anak itu.
Zhang Yuze mengepalkan tangannya tanpa sadar. Di dalam benaknya, bayangan Xiaolu yang hampir terbujuk tadi kembali terlintas, membuat dadanya terasa berat. Baginya, ini bukan sekadar kejadian sepele—ini adalah ancaman nyata. Ancaman besar yang bisa berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya jika ia lengah sedikit saja.
Beruntung, Xiaolu hanya sempat tergoda sesaat.
“Ancaman ini harus dipatahkan sejak awal,” gumamnya pelan, sorot matanya mengeras. Ia tahu, jika dibiarkan tumbuh, hal-hal kecil seperti ini bisa berubah menjadi sesuatu yang tak terkendali. Ia tidak akan memberi celah sedikit pun.
Saat pikirannya masih tenggelam dalam pertimbangan itu, sebuah suara tua namun jernih tiba-tiba bergema di kedalaman kesadarannya.
“Anak muda, Energi Iman milikmu telah bertambah lima ratus poin. Kini kau dapat mengaktifkan beberapa kemampuan tambahan.”
Suara itu milik Roh Kitab.
“Apa?” Zhang Yuze tersentak. “Aku mendapatkan lima ratus Energi Iman lagi?”
Nada suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. Penambahan sebesar itu bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa, terlebih dalam waktu sesingkat ini.
“Pertandingan basket hari ini telah meningkatkan Point Afeksi sejumlah siswa yang sebelumnya memiliki kesan buruk terhadapmu,” jelas Roh Kitab dengan tenang. “Jika kau belum lebih dulu mengumpulkan Point Afeksi awal dari sebagian besar orang, hasilnya mungkin akan jauh lebih besar.”
Mendengar itu, Zhang Yuze akhirnya memahami sumber lonjakan tersebut.
Ia merenung sejenak. Jika dihitung-hitung, tampaknya hampir seluruh siswa di kelasnya—kecuali Sun Yuson—telah memberikan Point Afeksi kepadanya, baik secara sadar maupun tidak. Kesadaran itu memicu sebuah gagasan tiba-tiba di benaknya.
Bagaimana jika ia menjadi figur publik?
Jika namanya dikenal luas, jika ia berdiri di bawah sorotan banyak orang, maka Energi Iman yang bisa ia peroleh pasti akan melonjak drastis, bahkan mungkin meledak tanpa kendali.
Namun, ide itu hanya bertahan beberapa detik sebelum ia menolaknya mentah-mentah.
Menjadi figur publik berarti hidup di bawah pengawasan tanpa henti. Media, gosip, paparazi—semuanya akan menempel seperti bayangan. Hidup seperti itu akan sangat melelahkan. Lebih dari itu, kemampuan-kemampuan yang ia miliki berpotensi terbongkar jika ada pihak yang terlalu gigih menyelidikinya.
Ia tidak siap mengambil risiko tersebut.
“Tidak,” batinnya tegas. “Itu bukan jalan yang bisa kutempuh.”
Keputusan itu membuat pikirannya kembali tenang.
Ia kemudian menyadari hal lain: Pelepasan Elemen Tanah dan pengembangan daya otak secara bersamaan membutuhkan tepat lima ratus Energi Iman. Energi yang baru saja ia peroleh pas dengan kebutuhan itu, seolah-olah segalanya telah diatur dengan sangat presisi.
Dan kebetulan, kedua orang tuanya sedang tidak berada di rumah.
Kesempatan yang sempurna.
Zhang Yuze berdiri di tengah ruang tamu, menarik napas panjang. Dengan pengalaman sebelumnya, ia sudah cukup familiar dengan proses aktivasi kemampuan. Ia menenangkan pikirannya, menunggu dengan sabar.
Cermin Pusaka Dewa perlahan memancarkan cahaya redup. Dua aliran energi yang berbeda mulai mengalir keluar, lalu menuang masuk ke dalam tubuh Zhang Yuze.
Rasa tidak nyaman kembali menyerangnya.
Namun, dibandingkan sebelumnya, tubuhnya kini jauh lebih kuat. Rasa sakit itu masih ada, tetapi daya tahannya meningkat pesat. Jika sebelumnya ia hampir roboh, kali ini ia masih bisa bertahan dengan gigi terkatup rapat.
Meski demikian, ada sensasi lain yang membuatnya mengernyit.
Kepalanya terasa membengkak.
Seolah-olah otaknya dipompa dengan tekanan tinggi, dipenuhi energi hingga batas maksimal. Rasa nyeri tumpul menjalar, membuatnya merasa seakan-akan kepalanya akan meledak kapan saja.
“Tenang… tahan sedikit lagi,” bisiknya pada diri sendiri.
Untungnya, semua itu akhirnya berlalu.
Ketika Zhang Yuze membuka matanya, ia langsung menyadari perubahan yang mencolok. Dunia di sekelilingnya tampak jauh lebih jernih. Warna-warna lebih tegas, garis-garis lebih jelas, bahkan detail kecil yang sebelumnya luput kini tertangkap dengan mudah.
Ia tahu, ini adalah efek dari pengembangan daya otak.
Ia teringat perkataan guru fisika SMP-nya dulu—bahwa manusia rata-rata hanya menggunakan kurang dari tiga persen kapasitas otaknya. Bahkan ilmuwan besar seperti Einstein pun diperkirakan hanya mengembangkan kurang dari tiga belas persen.
Pertanyaannya sekarang… seberapa jauh ia melangkah?
“Kali ini, pengembangan otakmu mencapai dua puluh persen,” suara Roh Kitab kembali terdengar, seakan membaca pikirannya. “Itu sudah batas maksimal yang dapat ditanggung oleh tubuhmu saat ini. Jika lebih dari itu, tubuhmu pasti akan runtuh.”
Dua puluh persen.
Jantung Zhang Yuze berdegup kencang.
Angka itu berarti tujuh persen lebih tinggi daripada para ilmuwan paling jenius di dunia. Sebuah pencapaian yang hampir tak masuk akal.
Tanpa menunda waktu, ia segera mengambil beberapa rumus fisika yang rumit dan daftar kosakata bahasa Inggris yang selama ini sulit ia hafalkan. Ia membacanya sekali, perlahan namun fokus.
Lalu ia berhenti.
Matanya membesar.
Semua itu… tertanam dengan sempurna di dalam pikirannya. Setiap huruf, setiap simbol, setiap makna—tidak ada yang kabur. Rasanya seperti pengetahuan itu telah berakar kuat di benaknya, mustahil terlupakan.
“Luar biasa…” gumamnya penuh keterkejutan.
Dengan kemampuan seperti ini, kekhawatirannya terhadap ujian masuk perguruan tinggi seolah lenyap dalam sekejap. Meski selama ini ia selalu berkata bahwa ia tidak peduli, sesungguhnya ia sangat berharap bisa melanjutkan pendidikan ke universitas.
Itu juga harapan terbesar kedua orang tuanya.
Dan demi mereka, ia tidak akan menyerah.