Seorang taruna tingkat akhir Angkatan Laut diperkenalkan oleh ibunya kepada putri sahabat lamanya. Pertemuan yang awalnya sekadar bentuk silaturahmi itu perlahan berubah menjadi kisah yang tak pernah mereka duga—sebuah perjalanan dari perkenalan sederhana hingga tumbuhnya cinta yang tulus. Lareina Shafa Putri, yang akrab disapa Nana, adalah siswi kelas 12 SMA. Ia merupakan anak ketiga sekaligus putri satu-satunya dari tiga bersaudara. Tumbuh di tengah dua kakak laki-laki membuat Nana menjadi pribadi yang mandiri, hangat, dan penuh perhatian. Ia adalah buah hati dari pasangan Ibu Hapsari dan Bapak Widodo, yang selalu mendidiknya dengan kasih sayang dan nilai-nilai keluarga yang kuat. Sementara itu, Izzan Adreano Althaf, atau Izzan, adalah seorang taruna Angkatan Laut tingkat terakhir yang dikenal tegas, bertanggung jawab, dan berwibawa. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan seorang adik laki-laki bernama Kaivan Adreano Althaf. Izzan adalah putra dari Ibu Karin dan Bapak Sudirman, yang membesarkannya dengan disiplin dan prinsip hidup yang kokoh. Perbedaan usia empat tahun di antara Nana dan Izzan sempat terasa sebagai jarak yang membatasi. Namun, waktu membuktikan bahwa angka hanyalah hitungan. Kedewasaan Izzan dan keceriaan Nana justru saling melengkapi. Dari perkenalan yang sederhana, tumbuh rasa saling memahami, saling menjaga, hingga akhirnya bersemi cinta yang menguatkan satu sama lain. Bagi mereka, perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan jembatan untuk belajar menerima, mengerti, dan berjalan berdampingan menuju kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K.Ayura Dane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Yang Tidak Mudah
*(POV Izzan)*
Aku sedang merapikan berkas-berkas akademi di kamar ketika Mama mengetuk pintu. Malam itu suasana rumah terasa lebih tenang dari biasanya. Aku baru saja menyelesaikan sesi latihan terakhir sebelum masa persiapan pelantikan. Tubuh lelah, tapi pikiran justru sulit diam.
“Izzan, Mama boleh masuk?”
“Masuk saja, Ma.”
Mama duduk di kursi dekat meja belajarku. Tatapannya lembut, tapi ada keseriusan yang langsung bisa kutangkap.
“Kamu ingat Tante Hapsari?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk. “Teman lama Mama? Yang dulu sering aku main ke rumahnya waktu kecil?”
“Iya. Anaknya sekarang sudah kelas 12. Perempuan satu-satunya.”
Aku belum mengerti arah pembicaraan itu, sampai Mama melanjutkan kalimatnya.
“Mama ingin kamu kenal dengannya.”
Tanganku yang sedang memegang map berhenti di udara.
“Kenal… maksudnya gimana, Ma?”
“Kenal saja dulu. Silaturahmi. Kalau cocok, lanjut. Kalau tidak, tidak apa-apa.”
Dadaku terasa sesak tiba-tiba. Dalam benakku langsung terlintas satu nama.
Cintya.
Aku menarik napas pelan. “Ma… sebenarnya Izzan lagi dekat sama seseorang.”
Mama tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatapku, memberi ruang untuk melanjutkan.
“Siapa?” tanyanya akhirnya.
“Adik kelas waktu SMA dulu. Sekarang sudah kuliah.”
“Sudah sejauh mana?”
“Belum ada status resmi. Tapi kami sering komunikasi. Izzan serius.”
Mama terdiam beberapa saat. “Mama tidak melarang kamu punya perasaan. Tapi Mama ingin kamu berpikir lebih jauh.”
Aku menatap Mama, mencoba memahami maksudnya.
“Kamu sebentar lagi dilantik. Hidupmu akan berbeda. Penempatan bisa di mana saja. Waktumu tidak akan seperti dulu.” Mama berhenti sejenak. “Anak itu siap?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Siap?
Aku sendiri belum sepenuhnya siap dengan kehidupan yang akan datang.
“Cintya orangnya baik, Ma,” ucapku pelan.
Mama tersenyum tipis. “Mama tidak meragukan itu. Tapi Mama ingin kamu memilih bukan hanya karena rasa nyaman.”
Aku tahu Mama tidak sedang meremehkan pilihanku. Ia hanya ingin memastikan aku tidak mengambil keputusan karena perasaan sesaat.
“Anak Tante Hapsari itu, Nana, dibesarkan dengan baik. Keluarganya jelas. Mama cuma ingin kamu kenal dulu. Jangan menutup pintu sebelum melihat siapa yang ada di baliknya.”
Aku menunduk, memijat pelipis.
“Kalau Izzan tidak mau?” tanyaku pelan.
Mama menatapku lembut. “Mama tidak akan memaksa. Tapi Mama berharap kamu mau mempertimbangkannya.”
Kalimat itu lebih berat dari paksaan.
Sebagai anak sulung, aku selalu ingin membuat Mama bangga. Ia sudah banyak berkorban untukku, terutama selama aku menjalani pendidikan yang tidak mudah.
Tapi hatiku tidak kosong.
Ada seseorang yang sudah mengisinya, meski belum secara resmi.
Malam itu, ponselku berbunyi.
Pesan dari Cintya.
*“Kak, udah makan?”*
Aku tersenyum kecil tanpa sadar.
*“Udah. Kamu?”*
*“Belum. Lagi ngerjain tugas. Kak sibuk?”*
Aku menatap layar cukup lama sebelum menjawab.
*“Lagi banyak pikiran.”*
Balasannya cepat.
*“Kenapa?”*
Aku ragu. Haruskah kuceritakan?
*“Di rumah lagi ada pembicaraan. Mama mau ngenalin aku ke anak temannya.”*
Beberapa detik tak ada balasan.
Lalu muncul tiga titik penanda ia sedang mengetik.
*“Oh.”*
Hanya satu kata.
Dadaku terasa makin berat.
*“Cuma kenalan, bukan apa-apa,”* tambahku.
Beberapa saat kemudian, ponselku berdering. Ia menelepon.
“Jadi… Kakak mau?” suaranya terdengar berusaha tenang.
“Aku belum tahu.”
“Kakak kan lagi dekat sama aku.”
“Iya.”
“Terus?”
Aku terdiam.
Di satu sisi, aku ingin mengatakan bahwa aku akan menolak. Bahwa ia tidak perlu khawatir. Tapi aku tidak ingin berbohong pada diriku sendiri.
“Aku nggak mau ambil keputusan sebelum lihat semuanya,” kataku jujur.
Hening di ujung sana.
“Aku cuma takut, Kak,” ucapnya pelan. “Takut kalah sebelum mulai.”
“Kamu nggak kalah,” jawabku cepat
“Tapi kalau orang tua Kakak lebih setuju yang lain?”
Pertanyaan itu membuatku tak bisa langsung menjawab.
Mama memang tidak terang-terangan menolak Cintya. Tapi dari nada dan pertimbangannya, aku tahu ia belum yakin.
“Aku belum ketemu Nana,” kataku akhirnya. “Aku cuma diminta kenal.”
“Kalau ternyata Kakak cocok?”
Aku memejamkan mata sejenak.
“Aku nggak tahu.”
Kejujuran itu pahit.
Cintya terdiam lama. Lalu ia berkata, “Aku nggak mau jadi pilihan kedua.”
Kalimat itu menghantamku keras.
“Aku juga nggak mau kamu jadi pilihan kedua,” jawabku.
“Tapi sekarang aku ngerasa seperti itu.”
Aku menarik napas dalam-dalam. “Cintya… aku cuma lagi ada di posisi yang sulit.”
Ia tertawa kecil, tapi terdengar getir. “Berarti aku harus siap kehilangan ya?”
“Jangan bicara begitu.”
“Ya udah, Kak. Kita lihat saja nanti.”
Telepon itu berakhir tanpa kejelasan.
Aku meletakkan ponsel di meja dan menyandarkan tubuh ke kursi.
Untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa benar-benar bingung.
Aku menyukai Cintya. Itu fakta.
Tapi aku juga tidak bisa menutup mata pada kenyataan bahwa hidupku ke depan tidak ringan. Tanggung jawabku besar. Aku bukan lagi remaja SMA yang bisa pacaran tanpa memikirkan masa depan.
Mama benar dalam satu hal—aku harus memilih dengan kepala yang jernih, bukan hanya hati yang hangat.
Beberapa hari lagi aku akan bertemu Nana.
Seorang gadis yang bahkan wajahnya belum pernah kulihat secara jelas.
Aku sempat ingin menolak pertemuan itu. Ingin berkata pada Mama bahwa hatiku sudah ada yang mengisi.
Tapi apakah benar sudah terisi sepenuhnya?
Atau aku hanya takut menghadapi kemungkinan baru?
Di antara rasa dan tanggung jawab, aku berdiri sendirian malam itu.
Dan aku sadar, keputusan apa pun yang kuambil nanti… akan mengubah bukan hanya hidupku, tapi juga hidup orang lain.
kadang hijabnya kadang rambutnya trs yang bener hijab apa rambut jadi bingung kadang