NovelToon NovelToon
Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Anime / Harem / Action / Romantis / Fantasi
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Keesokan paginya

Pagi hari terasa cerah. Starla dan Diana keluar dari rumah, sementara Wakasa sudah menunggu di ujung jalan utama kota.

“Pagi,” sapa Wakasa.

“Pagi juga wakasa,” jawab Diana.

“Selamat pagi wakasa-kun.”Jawab starla sambil menunduk

Mereka berjalan berdampingan menuju kantor petualang. Langkah Starla mantap, namun perasaan hangat itu masih tersisa—cukup untuk memberinya kekuatan, bukan keraguan.

Hari baru pun dimulai, dan misi menanti di depan.

Kantor petualang sudah cukup ramai pagi itu. Beberapa petualang berdiri di depan papan pengumuman, sebagian duduk sambil ngobrol ringan. Begitu Wakasa, Starla, dan Diana masuk, suasana tidak berubah banyak—kecuali satu orang.

Di balik meja, Sakura langsung mengangkat wajahnya.

“Oh… pagi,” sapa Sakura sambil tersenyum. “Wakasa.”

“Pagi, Sakura,” jawab Wakasa seperti biasa.

“Pagi,” tambah Starla pelan.

“Pagi juga,” kata Diana santai.

Pandangan Sakura lalu turun ke kalung di leher Starla. Ia terdiam sebentar, lalu bertanya dengan nada ringan.

“Kalungnya bagus. Baru, ya?”

Starla refleks menyentuh liontin itu.

“Iya… baru.”

“Hadiah?” tanya Sakura lagi, matanya melirik Wakasa.

“Iya,” jawab Wakasa singkat.

Diana langsung ikut nimbrung, senyum tipis di wajahnya.

“Wakasa yang pilih sendiri, lho. Katanya cocok sama Starla.”

“Diana…” Starla menunduk, pipinya agak memerah.

Sakura tersenyum, tapi senyumnya tidak sepenuhnya sampai ke mata.

“Oh… begitu,” ucapnya pelan. “Kalian kelihatan dekat, ya.”

“Lumayan,” jawab Diana santai. “Kemarin juga bareng terus.”

Wakasa terbatuk kecil.

“Tidak juga…”

Sakura menunduk sebentar, tangannya bertumpu di meja.

“Iya… maksudku, itu bagus. Tim yang akur biasanya enak dilihat.”

Ia kembali mengangkat wajahnya, masih tersenyum, tapi ada sesuatu yang terlihat sedikit berbeda—seperti perasaan yang ditahan.

Starla menyadarinya. Ia melirik Sakura sekilas, lalu kembali menatap kalungnya.

Kenapa… ekspresi Sakura kelihatan begitu?

“Ngomong-ngomong,” kata Sakura sambil menatap Wakasa, suaranya lebih lembut, “kamu kelihatan sehat hari ini.”

“Ah, iya. Terima kasih,” jawab Wakasa.

Diana memperhatikan Sakura sejenak, lalu berkata dengan nada ringan tapi tepat sasaran.

“Sakura juga kelihatan cantik hari ini. Tapi… wajahmu agak pucat. Jangan kebanyakan kerja, ya.”

Sakura sedikit terkejut.

“E-eh? Ah… tidak apa-apa kok.”

Tapi jemarinya mengepal pelan di atas meja.

“Kalau capek, bilang saja,” lanjut Diana. “Kita kan kenal.”

Sakura mengangguk kecil.

“Iya… terima kasih.”

Sesaat suasana jadi hening. Bukan hening yang canggung, tapi penuh perasaan yang tidak diucapkan.

Sakura akhirnya tersenyum lagi, kali ini lebih lembut.

“Jadi… ada yang bisa ku bantu hari ini?”

Pandangan Sakura kembali ke Wakasa untuk sesaat—lebih lama dari yang ia sadari—sebelum akhirnya ia menunduk lagi.

Starla melihat itu, dadanya terasa sedikit berat, tapi ia tetap diam.

Perasaan yang berbeda-beda mulai bercampur di udara, tanpa satu pun dari mereka mengatakannya dengan jelas.

Diana melirik bergantian ke Starla lalu ke Sakura. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, seolah ia sudah paham betul suasana yang mengambang di antara mereka.

“Oh iya,” kata Diana santai sambil menyandarkan siku di meja. “Aku hampir lupa.”

Semua mata tertuju padanya.

“Starla,” lanjut Diana, nada suaranya dibuat ringan, “kalungnya jangan dilepas, ya. Wakasa lumayan niat waktu milihnya.”

Starla tersentak kecil.

“D-Diana…”

Wakasa langsung menoleh.

“Tidak perlu dibilang begitu juga…”

Sakura terdiam. Tangannya yang tadi santai kini menggenggam ujung meja sedikit lebih erat.

“Oh?” Sakura tersenyum tipis. “Kedengarannya… cukup spesial.”

“Iya,” jawab Diana tanpa ragu. “Soalnya Wakasa biasanya cuek. Tapi kemarin, dia malah mikir lama.”

Wakasa terbatuk kecil, jelas canggung.

“Diana…”

Starla menunduk, pipinya memerah.

“…Tapi aku memang suka,” ucapnya pelan, hampir tak terdengar.

Kalimat itu jatuh begitu saja—sederhana, tapi cukup membuat Sakura terdiam lebih lama dari sebelumnya.

“Oh… begitu,” kata Sakura pelan. Senyumnya masih ada, tapi sorot matanya tampak goyah sesaat.

Diana menatap Sakura sekilas, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, tidak sepenuhnya menggoda.

“Sakura, kamu kan sudah lama kenal Wakasa.”

Sakura mengangguk kecil.

“Iya.”

“Menurutmu,” lanjut Diana, “dia tipe orang yang gampang kasih hadiah ke sembarang orang?”

Sakura membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

“…Tidak.”

Wakasa menoleh cepat ke Diana.

“Kau ke mana arah pembicaraan ini…”

Diana tersenyum kecil.

“Tidak ke mana-mana. Cuma ngomong jujur.”

Starla menggenggam tali tasnya, jantungnya berdebar. Ia bisa merasakan suasana berubah—lebih tegang, tapi juga lebih jelas.

Sakura menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi.

“Kalau begitu… aku ikut senang untuk kalian.”

Kata-katanya terdengar tulus, tapi ada jeda kecil sebelum ia mengucapkannya.

Diana akhirnya berdiri tegak, ekspresinya kembali santai.

“Bagus. Aku cuma memastikan semua orang jujur sama perasaannya sendiri.”

Wakasa menghela napas kecil.

“Kau memang suka bikin suasana aneh.”

“Biar cepat jelas,” jawab Diana ringan.

Starla melirik Sakura pelan.

“…Sakura.”

Sakura tersenyum, kali ini lebih tenang meski matanya sedikit redup.

“Aku tidak apa-apa. Benar.”

Namun saat Wakasa mengalihkan pandangan, Sakura memejamkan mata sebentar—menyembunyikan perasaan yang belum sempat ia ucapkan.

Diana memperhatikan itu semua dalam diam.

Ya… ternyata benar.

Diana melihat suasana yang mulai terlalu sunyi. Ia menghela napas kecil, lalu tiba-tiba tersenyum lebar.

“Yah, kok jadi serius semua,” katanya santai. “Aku cuma bercanda kok, jangan pada tegang begitu.”

Ia menepuk tangan sekali, seolah mengganti suasana.

“Kalau dilihat-lihat, ekspresi kalian barusan itu kayak lagi di drama, bukan di kantor petualang.”

Starla tersentak kecil.

“D-Diana…”

Wakasa menghela napas lega.

“…Kau memang suka bikin kaget.”

Diana terkekeh.

“Biar nggak ngantuk. Lagian pagi-pagi gini enaknya ketawa, bukan mikir berat.”

Sakura ikut tersenyum kecil. Kali ini senyumnya terlihat lebih natural, meski masih ada sisa perasaan di matanya.

“Iya… benar juga.”

“Nah, gitu dong,” kata Diana. “Kantor ini jadi lebih hidup kalau isinya nggak pada murung.”

Starla melirik Sakura pelan.

“…Maaf ya, Sakura.”

Sakura menggeleng kecil.

“Tidak apa-apa.”

Ia lalu menatap Wakasa sebentar.

“Kalian memang selalu bikin suasana ramai.”

“Karena ada Diana,” jawab Wakasa tanpa sadar.

Diana langsung menunjuk Wakasa.

“Tuh kan! Akhirnya ada yang ngerti.”

Mereka semua tertawa kecil. Tidak keras, tidak lama—tapi cukup untuk mencairkan suasana.

Meski begitu, ada hal-hal yang tetap tersisa.

Perasaan yang tidak diucapkan, tapi dipahami masing-masing.

Diana melirik mereka satu per satu, lalu tersenyum puas.

Oke… segini dulu. Jangan sampai pecah sekarang.

Sakura mengangguk.

“Iya.”

Starla menarik napas pelan. Kalung di lehernya bergoyang kecil.

Wakasa berdiri seperti biasa, tenang—tanpa tahu sepenuhnya apa yang baru saja terjadi di sekitar hatinya.

Dan pagi itu pun berjalan lagi, dengan suasana yang tampak normal… meski tidak sepenuhnya sama.

Starla berdiri di sana sambil tersenyum kecil, ikut tertawa pelan bersama yang lain. Tapi di balik itu, pikirannya terus berputar.

Aku senang… benar-benar senang.

Kalung ini. Cara Wakasa-kun memberikannya. Perasaan hangat yang masih tertinggal sejak kemarin.

Namun saat melihat wajah Sakura tadi…

Hatinya terasa sedikit mengganjal.

Sakura juga baik… dan sepertinya sudah lama mengenal Wakasa-kun.

Wajar kalau dia punya perasaan.

Starla tanpa sadar menggenggam liontin di lehernya.

Aku tidak ingin menyakiti siapa pun.

Tapi… aku juga tidak bisa pura-pura tidak merasakan apa-apa.

Ia menarik napas pelan.

Kalau ini perasaanku… apa aku egois?

Atau ini hal yang wajar?

Tatapannya beralih ke Wakasa. Ia terlihat sama seperti biasa—tenang, tulus, tidak menyadari kerumitan perasaan yang muncul di sekitarnya.

Wakasa-kun itu… terlalu baik.

Mungkin karena itu… aku jadi semakin sulit mengendalikan perasaanku sendiri.

Starla menutup mata sebentar.

Aku harus lebih kuat.

Sebagai rekan satu tim… dan sebagai diriku sendiri.

Saat membuka mata, senyum kecil kembali terukir di wajahnya—kali ini lebih tenang.

Apa pun yang terjadi nanti…

Aku ingin jujur pada perasaanku, tanpa menyakiti siapa pun.

Kalung itu kembali bergoyang pelan, seolah mengingatkannya akan tekad kecil yang baru saja ia buat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!