NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak Bekal

"Nick sedang apa kau disini?" tanya Elia, sambil mengedarkan pandangan nya ke arah lain. Mencari keberadaan Dave. Karena setahunya Nick dan Dave seperti dua sejoli yang tidak pernah terpisah.

Nick memberi salam terlebih dahulu kepada Elia. Mengatur mimik wajahnya setenang mungkin.

 "Aku sedang janjian dengan teman ku untuk makan siang di food court mall ini. Tapi entah kenapa pesan ku sedari tadi belum dibalas". ucap Nick berpura-pura menunggu balasan, padahal diam-diam mengirim pesan kepada Dave.

"Oh begitu, ku kira kau kesini bersama Dave".

"Tuan Dave sedang menyelesaikan pekerjaan nya di kantor. Aku izin untuk keluar sebentar menemui teman ku". Ucap Nick. Elia mengangguk, ia tidak memiliki kecurigaan sama sekali.

"Oh baiklah kalau begitu.. Semoga teman mu itu cepat memberi kabar, agar kau tidak menunggu terlalu lama disini".

"Iya Nyonya".

Elia dan Lisa kembali melanjutkan langkah nya untuk menuju toilet. "Lisa titip sebentar ya , aku tidak tahan ingin buang air kecil".

"Siap Nyonya".

Seperti biasa, Lisa akan mengabadikan setiap momen apapun dengan berswafoto. Apalagi ini mall elit toilet nya terlihat megah dan estetik. Ia seperti seorang selebgram yang selalu memosting kegiatan nya di media sosial.

Sementara di bilik mandi sebrang, Dave menahan diri untuk tetap tenang. Ia ingin segera drama ini usai. Jika bukan karena mengingat kesehatan Sarah, Dave akan dengan terang-terangan menunjukkan Bianca kepada Elia.

Pintu terdengar dibuka, Elia keluar kemudian menghadap cermin dan membasuh kedua tangan nya. "Kau ini narsis sekali Lisa". ucap Elia sambil tertawa rendah.

Lisa hanya menyengir, "Nyonya, ayo kita foto berdua". ajak nya. Elia merapatkan tubuh nya dan berpose ria. Dari mulai foto menggunakan kamera belakang dan mirror selfie. Setelah merasa puas barulah keduanya keluar dari bilik mandi.

Begitu pintu toilet terbuka, Elia dan Lisa melangkah keluar sambil masih terkekeh kecil. Lisa sibuk memeriksa hasil foto di ponselnya, memilih mana yang paling layak diunggah.

“Yang ini bagus, Nyonya. Senyum Nyonya manis sekali,” ujar Lisa antusias.

Elia melirik sekilas layar ponsel itu, lalu tersenyum samar. “Kau benar-benar cocok jadi artis, Lis.”

Dari kejauhan Nick memantau pergerakan Elia dan Lisa. Kedua wanita itu menuruni eskalator untuk menuju lantai bawah. Dimana yang Nick lihat dari papan petunjuk arah, adalah sebuah supermarket.

Saat kedua wanita itu sudah tidak terlihat lagi. Nick kembali ke dalam toilet. Dave yang sedari tadi menunggu nya di dalam sudah sangat muak. Bahkan pengunjung yang datang pun memerhatikan nya dengan heran.

"Sudah aman Tuan, Nyonya Elia dan Lisa kini menuju lantai bawah ke arah supermarket".

Dave dapat menarik nafas lega. "Baiklah kalau begitu aku akan menemui Bianca. Setelah itu kita keluar dari sini".

"Baik Tuan".

Bianca baru saja selesai dengan kegiatan belanja nya. Padahal Elia datang lebih awal dibanding Bianca, tapi wanita itu malah baru berdiri di depan kasir untuk membayar.

"Bianca, kau sudah selesai berbelanja nya?"tanya Dave yang menghampirinya.

"Sudah, aku belanja banyak hari ini. Tidak apa kan?"

Dave mengangguk, "Tidak apa sayang, tapi sepertinya setelah ini kita segera pulang ya".

Bianca mendekatkan wajahnya ke telinga Dave. "Kau sudah tidak sabar ya?" goda nya. Dave hanya mengangguk sambil tersenyum.

Kasir telah selesai menghitung . "Total semuanya 100 juta Nona". Ucapnya. Lalu Bianca segera memberikan kartu hitam tadi ke kasir.

"Nick bawakan belanjaan ku" titah Bianca dengan angkuh.

"Baik Nona".

Nick menerima beberapa paper bag itu dengan kedua tangan. Bebannya terasa berat, entah karena jumlah belanjaan Bianca atau karena perasaan tidak nyaman yang menekan dadanya sejak tadi. Ia berdiri sedikit di belakang, menjaga jarak yang sopan, meski matanya tak lepas dari sekitar,berjaga jika sewaktu-waktu Elia kembali terlihat.

Kini ketiga nya telah sampai di parkiran mobil. Dave yang terlihat terburu segera menuntun Bianca untuk segera masuk. Sementara Nick merapikan terlebih dahulu barang belanjaan nya ke dalam bagasi.

Pintu bagasi di tutup, Nick melangkah cepat ke arah kemudi. Ia segera mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku celana dan menghidupkan mesin.

Bianca memerhatikan kedua pria di dalam mobil itu. Ia membaca pergerakan keduanya seperti sedang tidak baik-baik saja.

"Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua?" tanya nya yang melepas keheningan si dalam mobil.

Dave menyandarkan punggungnya pada jok, lalu menghela napas pelan. Tersenyum tipis dan membelai lembut rambut Bianca. "Tidak apa-apa, Sayang".

"Kau bohong. Sudah jelas-jelas sikap kalian terlihat aneh sejak di toko baju tadi". Ucap Bianca curiga. Bibir nya mengerucutkan dan kedua tangan nya di lipat ke depan.

Dave merangkul kekasihnya itu ke dalam pelukan. "Baiklah sayang, janji padaku kau tidak akan marah setelah mengetahui hal yang sebenarnya". Ucap nya.

Bianca mendongak, menatap wajah Dave yang terlalu tenang untuk ukuran seorang pria yang baru saja ketahuan menyembunyikan sesuatu. Ia tidak langsung menjawab, hanya menghela napas pelan sebelum mengangguk kecil.

“Aku janji,” ucapnya akhirnya, meski sorot matanya menyimpan kewaspadaan. “Katakan.”

"Tadi itu Nick memberi tahu jika istriku ada disini bersama pelayan dirumah". Terang nya.

Bianca menegakkan tubuh nya, wajahnya mendadak serius. "Kau serius?".

Dave mengangguk pelan, "Ia, bahkan dia berada di dalam butik baju yang sama dengan kau tadi".

Bianca terdiam beberapa detik, ia teringat saat seorang wanita juga menyentuh tas yang ia lihat secara bersamaan.

"Nick apakah itu benar?" tanya Bianca untuk memastikan.

"Benar Nona" ucap Nick sambil melirik ke kaca spion. Menarik perhatian Bianca itu lebih cerita lebih detail nya. Ia pun mencondongkan tubuhnya ke kursi bagian belakang sopir.

"Apakah dia mengenakan kaos oversize dan celana jeans dengan rambut yang di cepol berantakan?" tebak Bianca.

Mobil itu berhenti tepat di pertigaan jalan, karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. "Benar Nona" katanya singkat.

Sementara Dave mengerutkan kening, "Jadi kau sudah melihatnya tadi?"

Bianca mengangguk, "Ya, aku melihatnya. Penampilannya terlihat biasa saja. Rasanya tidak sebanding dengan dirimu Sayang". Ucap Bianca dengan menyisipkan tawa mengejek. Mendominasi Dave untuk tetap memilih nya.

"Kau benar, dia tidak ada apa-apanya dibanding dengan mu". Dave mengucapkan kalimat itu dengan nada datar, seolah meyakinkan Bianca atau mungkin meyakinkan dirinya sendiri.

Bianca tersenyum puas. Tangannya terangkat, jemarinya menyusup ke lengan Dave, mencengkeram penuh kepemilikan. “Aku tahu,” katanya ringan, namun sarat kemenangan. “Wanita seperti itu tidak pantas berdiri sejajar denganmu.”

Nick kembali menatap jalan. Lampu lalu lintas berubah hijau, mobil pun melaju. Ia memilih bungkam, biarkan saja itu menjadi urusan majikan nya.

Di dalam supermarket, dua troli sudah terisi penuh oleh berbagai bahan dapur dan makanan untuk persediaan. Elia memastikan semuanya lengkap, dari mulai sayuran segar, daging, buah-buahan hingga bahan-bahan yang biasa Dave konsumsi.

“Kira-kira untuk makan malam nanti aku buatkan apa ya untuk Dave…” gumamnya pelan, tanpa sadar terdengar oleh Lisa.

Lisa menoleh sekilas. Ia melihat jelas perhatian Elia pada suaminya, perhatian yang diberikan pada pria yang bahkan jarang bersikap ramah kepadanya. Hati Lisa kembali terenyuh.

"Nyonya memang berhati baik". Gumamnya dalam hati. "Meskipun Tuan Dave selalu mengabaikannya, ia tetap menjalani perannya dengan tulus sebagai seorang istri"

Belanja hari itu akhirnya dirasa cukup. Elia mendorong troli ke arah kasir dan mengeluarkan kartu miliknya sendiri untuk membayar, sama seperti saat ia membeli pakaian dalam Dave sebelumnya. Tak sekalipun ia ragu atau merasa terbebani.

Setelah struk diterima dan belanjaan dimasukkan ke dalam kantong, Elia menoleh pada Lisa sambil tersenyum tipis.

“Lis, kita makan siang dulu ya,” ujarnya lembut. “Perutku sudah sangat lapar.”

Lisa membalas senyum itu dengan anggukan kecil, diam-diam berharap ketulusan hati majikannya suatu hari nanti benar-benar dihargai.

Keduanya kini telah duduk di dalam restoran. Elia dan Lisa membolak balik setiap lembar pada buku menu. Memilih makanan yang cocok untuk siang ini. Setelah memutuskan menu masing-masing, pelayan yang mencatat pesanan tadi segera pergi.

Elia mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya. Ia kaget saat melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Sarah. Tanpa bertanya kenapa, ia segera menghubungi kembali mertua nya itu.

Panggilan tersambung, tak lama kemudian terangkat.

"Hallo Mom"

[Hallo sayang, kau darimana saja?]

"Maaf Mom. Ponsel ku dalam keadaan mode silent jadi aku tidak mendengar jika Mom menghubungi ku".

[Tidak apa-apa sayang, ngomong-ngomong kau sedang apa?]

"Aku baru saja selesai belanja untuk kebutuhan dapur bersama Lisa".

[Kenapa kau tidak meminta Dave saja untuk menemani mu berbelanja, Sayang?]

"Dave sedang sibuk dengan pekerjaan kantor nya Mom, aku tidak ingin menganggu".

[Perusahaan itu miliknya sendiri, jadi bebas untuk dia melakukan apa saja. Apalagi untuk menemani istrinya sendiri] ucap Sarah yang terdengar kesal di telepon.

"Justru karena Dave seorang pemimpin di perusahaan itu, dia harus membeli contoh yang baik kepada karyawan nya".

[Kau benar sayang. Tapi lain kali kau harus memaksa nya untuk menemani mu berbelanja. Jika dia menolak, bilang sama mom]

Elia tertawa kecil. "Siap Mom.

Keduanya kembali melanjutkan obrolan ringan hingga percakapan harus berakhir ketika pesanan makanan yang mereka tunggu akhirnya tiba.

Sementara itu, di apartemen Bianca, Dave tengah menyantap makan siangnya—makanan yang ia beli dari restoran tadi. Nick telah kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda.

“Sayang, bisakah malam ini kau menemaniku

seharian?” pinta Bianca dengan wajah memelas.

“Tentu, Sayang. Apa pun yang kau mau,” jawab Dave tanpa berpikir panjang.

Ia sama sekali tak memedulikan seorang wanita setia menunggunya pulang setiap hari.Istri yang selalu menyambut kepulangannya sepulang kerja. Dave juga memberi pesan kepada Bimbim untuk tidak menjemput nya. Ia bisa pulang dan istirahat dirumah.

"Akhirnya aku punya waktu luang yang panjang". Ucap nya sambil meregangkan tubuh yang terasa kaku. Karena setelah mengantar Dave tadi ia tidak langsung pulang, melainkan membawa mobil itu ke bengkel karena sudah masuk jadwal untuk service dan cuci.

Saat akan membuka pintu kemudi, mata nya tidak sengaja melihat tas bekal yang Elia berikan kepada Dave tadi pagi. "Ini kan kotak bekal Tuan". Gumam Bimbim. Lalu ia meraih benda tersebut dan membuka isinya. Di dalam box makanan terdapat beberapa gulungan salad sayur dan potongan daging, lengkap dengan saus celup nya.

Bimbim seketika menekan ludah, ia baru ingat jika dirinya belum makan siang. Ponsel nya bergetar tanda panggilan masuk, ia melihat nama Dave pada layar ponsel.

"Hallo Tuan"

["Hallo Bim, bagaimana sudah selesai service dan cuci mobilnya?"]

"Beres Tuan"

[Bagus, oh iya jika sudah rapi kau bisa pulang ke rumah. Tidak usah menjemput ku sore nanti, karena aku harus pergi ke luar kota]

“Baik, Tuan.” Bimbim sempat terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Oh iya, Tuan. Kotak bekal siang Anda tertinggal di dalam mobil.”

Dave terdiam, ia baru ingat jika Elia membekali nya makan siang.

[Buat mu saja]

"Baik Tuan, terimakasih".

Dave meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Pandangannya tertuju pada Bianca yang telah berdiri di hadapannya dengan pakaian minim, seolah sengaja memancing perhatian. Setelah rasa lapar terpuaskan, kini hasrat lain mulai mengambil alih pikirannya.

Bianca melangkah mendekat, lalu dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya ke dada bidang Dave. Pria itu menatapnya lekat, sorot matanya menggelap oleh keinginan yang tak lagi ia sembunyikan.

“Sayang, kau terlihat begitu menggoda,” ucap Dave dengan suara rendah, sarat hasrat.

Udara di antara mereka mendadak panas. Dipenuhi dengan ketertarikan yang kian sulit dikendalikan.

Tanpa perlu kode atau aba-aba, Bianca mendekat dan menautkan kecupan lembut di sepanjang tubuh Dave. Dada bidang dan otot-otot tegas itu membuat napasnya kian memburu, terlebih tato di pundaknya yang memberi kesan liar dan memikat.

“Apa kau menginginkanku, Sayang?” bisiknya penuh godaan.

“Tentu,” jawab Dave singkat, suaranya berat oleh hasrat.

Bianca terus menelusuri setiap lekuk tubuh pria itu hingga ke leher, membuat Dave menggeliat menikmati sensasi yang mengalir deras di nadinya. Sentuhan Bianca begitu berani, namun tetap perlahan, seakan ingin menikmati setiap reaksi yang ia ciptakan.

“Kau diam saja,Sayang,” bisik Bianca lembut namun penuh kendali. “Biarkan aku yang memulainya.”

Dave menurut. Tatapannya mengunci wajah Bianca yang kini menatapnya dengan sorot tajam, penuh keinginan yang tak disembunyikan. Sentuhan demi sentuhan membuat Dave mendesah, larut dalam permainan rasa yang Bianca ciptakan dengan penuh percaya diri.

"Ah!" Bianca berteriak nikmat setelah selesai mendominasi Dave. Kini giliran Dave yang menikmati setiap inci tubuh molek itu. Ia memulai dari tautan bibir, lalu berganti ke leher dan telinga. Hingga Bianca mengarahkan mulut Dave kedua benda kenyal miliknya yang berukuran sedang.

"Ah, Sayang". Bianca seperti cacing kepanasan saat Dave mencucup kedua benda itu seperti bayi. Ia mencengkram seprai, karena tak tahan menahan setiap sentuhan dari Dave.

Setelah berpuas-puas dengan kedua benda padat Bianca. Dave mengarah pada bagian bawah yang sedari tadi telah basah.

"Lakukan Sayang" pinta Bianca dengan penuh harapan.

Dave tidak menyahut, ia langsung melebarkan kedua kaki jenjang Bianca. Pemandangan lembah berwarna merah muda yang begitu mengguncang gairah. "Ah!" Bianca mendesah kencang. Saat indra perasa Dave menyapu bagian intinya. Begitu intens hingga membuat Bianca memohon ampun.

"Kau ingin yang lebih sayang?" tanya Dave dengan tatapan lapar.

"Aku sangat menginginkan sayang, lakukan sekarang".

Lagi-lagi Bianca mendesah nikmat. Diiringi dengan erangan nya yang memacu adrenalin Dave. Bertepatan dengan benda dibawah yang telah menegang itu memasuki sebuah lembah nya yang basah. Tanpa pengaman dan tanpa pil pencegah kehamilan Dave mengeluarkan cairan kental nya itu di dalam milik Bianca.

Usai tenggelam dalam aktivitas ranjang yang membakar gairah, keduanya sama-sama terlelap. Mata terpejam, tubuh saling berdekap, hingga tanpa terasa matahari perlahan merunduk ke peraduannya.

Sementara itu, di tempat lain, Elia baru saja menyelesaikan masakannya. Ia menolak bantuan Lisa dengan halus. Ada kepuasan tersendiri baginya. Ia ingin setiap hidangan yang nanti masuk ke mulut Dave benar-benar murni hasil tangannya sendiri. Lahir dari perhatian dan ketulusan yang tak pernah ia perhitungkan balasannya.

Elia terus memerhatikan jam dipergelangan tangan nya. Sudah pukul 7 malam, batang hidung Dave belum juga muncul. Ada rasa khawatir serta curiga.

"Ah, tidak. Aku tidak boleh melanggar perjanjian itu". Elia mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan. Menahan diri untuk tidak bertanya mengapa Dave belum juga pulang, meski hatinya semakin gelisah.

Beberapa saat kemudian, Elia mendengar suara mobil yang biasa ditumpangi Dave memasuki halaman. Harapannya sempat menguat, namun seketika memudar saat yang keluar dari balik pintu kemudi hanyalah Bimbim. Pria itu melangkah mendekat sambil membawa tas bekal yang pagi tadi Elia siapkan dengan penuh perhatian.

“Bimbim, kau sendirian? Di mana Dave?” tanyanya, sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman, seolah masih berharap sosok itu muncul dari balik pintu mobil.

“Tuan mengatakan jika malam ini beliau harus pergi ke luar kota, Nyonya,” jawab Bimbim dengan sopan.

Elia terdiam sesaat. Ada rasa kecewa yang perlahan menyelinap ke dadanya. Namun ingatannya segera tertuju pada setiap kata dalam surat perjanjian yang telah mereka tanda tangani. Perjanjian yang membatasi perannya sebagai seorang istri.

“Lalu, kenapa kotak bekal itu ada padamu?” tanyanya lagi, suaranya lebih pelan.

“Setelah mengantar Tuan ke kantor, saya langsung ke bengkel dan tempat pencucian mobil. Seusai dari sana, Tuan menghubungi saya dan mengatakan bahwa beliau harus ke luar kota malam ini,” ucap Bimbim jujur. "Dan beliau juga menyuruh ku untuk memakan bekal yang Nyonya berikan untuk Tuan".

Elia menarik napas panjang. Rasa sesak di dadanya kian menguat. Perjanjian sialan itu kembali menjelma menjadi tembok tinggi. Menghalanginya, bahkan untuk sekadar menanyakan kabar pria yang berstatus sebagai suaminya sendiri.

Belum cukup sampai di situ. Kotak bekal yang ia siapkan dengan sepenuh hati ternyata tak tersentuh sama sekali. Dave bahkan memilih menyuruh orang lain untuk memakannya, seolah perhatian dan ketulusan itu tak pernah berarti apa-apa.

Bimbim segera berlalu dari hadapan Elia. Ia melangkah menuju dapur dan meletakkan kotak bekal yang kini hanya tinggal wadah kosong di atas meja. Tepat saat itu, Lisa sedang mencuci piring.

“Wah, kotak bekalnya sampai bersih tanpa sisa,” ujar Lisa sambil melumuri wadah itu dengan busa sabun. “Pasti Tuan menikmati masakan Nyonya.”

Bimbim menyeringai kecil. “Siapa bilang? Tuan sama sekali tidak menyentuhnya. Beliau malah menyuruhku menghabiskannya,” terang Bimbim tanpa beban.

Kedua mata Lisa langsung membulat. Ia buru-buru membilas tangannya, lalu mengelapnya asal ke bajunya.

“Lalu tadi kau bertemu Nyonya di depan?” tanyanya cepat.

Bimbim mengangguk.

“Dan Nyonya melihat kau membawa kotak bekal itu?"

Anggukan lagi.

“Lalu kau bilang kalau bekalnya kau yang makan?”

Anggukan untuk kesekian kalinya membuat leher Bimbim terasa pegal.

“Ouch!” erangnya saat Lisa menyentil dahinya. “Kenapa sih?”

“Kau ini bodoh atau terlalu polos?” omel Lisa pelan namun tajam. “Kenapa bisa seterang-terangan itu?”

“Jadi maksudmu aku harus berbohong?” tanya Bimbim bingung.

Lisa menghela napas panjang. Berbicara dengan Bimbim memang butuh kesabaran ekstra.

“Dengar, Nyonya itu membuatkan bekal untuk Tuan dengan sepenuh hati. Lalu makanannya dimakan orang lain. Apalagi suaminya sendiri tidak menyentuhnya. Menurutmu dia tidak sakit hati? Tidak kecewa? Kau seharusnya peka!".

Bimbim menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Ia merasa bersalah dengan tindakan dan ucapan nya itu. Sementara Lisa masih menghujaninya dengan tatapan kesal.

Semula, Elia berniat menikmati makan malam bersama Dave. Namun setelah mengetahui bahwa pria itu harus pergi ke luar kota malam ini, ia akhirnya duduk sendiri di meja makan, menyantap hidangan yang telah ia siapkan dengan penuh harap.

Tanpa Elia sadari. Lisa dan Bimbim memperhatikannya secara diam-diam dari kejauhan. Sebagai sesama perempuan, Lisa dapat merasakan perih yang kini bersarang di hati Elia. Rasa kecewa yang tak terucap, namun begitu nyata.

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!