Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Wisuda Gama
Hari-hari berlalu begitu cepat, hingga akhirnya tiba hari di mana Gama akan wisuda.
Nadira kini berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya sendiri. Pakaian yang waktu itu dibelikan oleh Gama menempel rapi di tubuhnya, sementara wajahnya ia poles sendiri dengan hati-hati.
Kling.
Matanya berpindah ke ponsel yang bergetar di meja. Ia segera meraihnya.
“Mas Ardian?” suaranya terdengar lembut.
‘Nadira, hari ini wakilkan aku untuk datang ke wisudanya Gama,’ bunyi pesan Mas Ardian.
Nadira menarik napas, mengetik balasan singkat, ‘Ya.’ Ia kemudian meraih tas, memasukkan beberapa barang penting, lalu melangkah keluar kamar.
Tiba diruang tamu, langkahnya sempat terhenti saat ia melihat Tante Rini duduk disalah satu sofa.
“Tante,” panggil Nadira.
Tante Rini menoleh kearahnya, senyumannya langsung merekah bak bunga yang terbuka saat pagi.
“Ya ampun, Nadira. Kamu cantik sekali! Pantas saja Gama nggak bisa move on dari kamu, eh...” Tante Rini buru-buru menutup mulutnya, tersenyum malu-malu.
"Maksud Tante?" Nadira menoleh, alis sedikit terangkat.
Tante Rini tertawa ringan. “Tante cuma bercanda, lupakan saja. Ayo, jam setengah sepuluh acaranya sudah mulai.”
Nadira mengangguk, matanya tak lepas dari Tante Rini, senyum hangat muncul di wajahnya.
‘Bahkan Tante Rini, yang bukan mertuaku, begitu baik padaku. Berbeda dengan mertuaku, yang selalu mencari kesalahanku, memutar fakta, seakan dialah yang tersakiti. Siapapun wanita yang mantunya, pasti akan beruntung memiliki mertua seperti Tante Rini.’
Mobil meluncur meninggalkan halaman rumah mewah itu. Nadira menatap keluar jendela.
“Nadira.”
Suara lembut itu menarik Nadira kembali ke kesadarannya. Ia menoleh. “Iya, Tante.”
“Semalam Tante dapat kabar. Lokasi untuk usaha kita sudah ada,” ucap Tante Rini. “Tapi Tante harus lihat langsung. Kamu mau ikut?”
Nadira terdiam. Pikirannya bergerak pelan, menimbang. Ikut atau tidak.
“Kapan berangkatnya, Tante?” tanyanya akhirnya.
“Lusa. Tante ada waktu. Besok Tante mau jalan-jalan dulu sama teman-teman sosialita, Tante.” Senyum Tante Rini mengembang. “Kamu mau ikut juga?”
Nadira tersenyum, tipis dan kaku.
Berkumpul dengan para sosialita?
Bayangan suara Ibu mertuanya tiba-tiba menyelinap di kepalanya.
‘Ngapain ikut acara begituan? Tugasmu di rumah.’
Dada Nadira terasa sesak. Ia menghela napas pelan.
“Maaf, Tante,” ucapnya hati-hati. “Aku sepertinya gak cocok bergaul seperti itu.”
“Gak apa-apa,” sahut Tante Rini ringan. “Kalau jadi menantu keluarga terpandang, harus punya relasi.”
Relasi memang penting. Untuk usaha, untuk masa depan. Ia tahu itu. Tapi pikirannya kembali terhenti pada bayangan yang sama.
“Nadira?”
Ia tersentak kecil. “Eh… aku pikirkan dulu ya, Tante.”
Tante Rini mengangguk. “Ya sudah. Kalau berubah pikiran, bilang saja. Lumayan, bisa jadi peluang buat bisnismu. Sayang kalau dilewatkan.”
Nadira mengangguk pelan. “Iya, Tante.”
Namun di dalam hatinya, pertanyaan itu masih menggantung.
...
Tak lama kemudian, mobil melambat dan berhenti di pelataran kampus.
Begitu pintu terbuka, suasana riuh langsung menyergap. Mahasiswa bertebaran di segala arah, mengenakan toga dan jas almamater kebanggaan. Tawa pecah di sana-sini.
Pandangan Nadira tertahan. Matanya mengikuti langkah-langkah mereka.
Rasanya kuliah itu bagaimana, ya? Pasti melelahkan.
Seandainya aku merasakannya…
“Nadira?”
Ia tersentak, lalu menoleh. “Iya, Tante.”
“Kamu melamun. Lagi lihat apa?”
Nadira menggeleng pelan. “Enggak. Cuma… melihat mereka.”
“Ayo temui Gama. Pasti sudah nunggu.”
Nadira mengangguk, lalu melangkah turun dari mobil.
Begitu mereka berjalan menyusuri pelataran, Nadira merasakan tatapan-tatapan itu. Beberapa mahasiswa laki-laki melirik terang-terangan, disusul bisikan yang tak sepenuhnya ia dengar,
Hingga langkah Nadira terhenti begitu mereka tiba di depan aula. Pandangannya membeku pada satu sosok yang berdiri tak jauh dari pintu masuk.
Ibu mertuanya.
“Mbak Wani? Mbak di sini?” suara Tante Rini terdengar lebih dulu.
Bu Wani menoleh. Bibirnya terangkat tipis, dingin. “Keponakan saya wisuda. Masa tantenya gak boleh datang?” Tatapannya bergeser, tajam menusuk Nadira. “Kamu dari mana saja, Nadira? Saya ke rumah, gak ada orang. Mentang-mentang anak saya dinas, kamu malah keluyuran bebas.”
Nadira refleks menunduk. Jarinya mengerat di sisi tas.
“Mbak,” Tante Rini menyela, nadanya tegas, “Nadira menginap di rumahku. Apa masalahnya?”
“Menginap?” Bu Wani menyunggingkan senyum miring. “Rini, kamu tahu gak? Wanita ini pergi makan berdua sama Gama.”
Dada Nadira terasa sesak. Ujung jarinya dingin.
“Lalu kenapa?” balas Tante Rini. “Apa masalahnya?”
“Pikir dong,” sindir Bu Wani. “Bisa saja dia memanfaatkan kebaikan Gama demi sesuatu yang kotor.”
“Aku gak mempermasalahkannya kok, Tante Wani.”
Nadira menoleh cepat. Suara itu.
Gama berdiri di belakang mereka, tatapannya lurus. “Kalau Mbak Nadira memanfaatkan ku,” lanjutnya pelan, “aku terima.”
“Gama…” suara Nadira nyaris tak terdengar.
“Dengar, pasti wanita ini sudah—”
“Berhenti menuduh Mbak Nadira, Tante.” Suara Gama mengeras.
Wajah Bu Wani menegang. “K-kamu… dasar anak kurang ajar.”
“Mbak Wani, jangan bikin masalah,” potong Tante Rini dingin.
Bu Wani mendecih. Tatapannya kembali menusuk Nadira. “Senang? Keponakan dan ipar saya membelamu?”
Nadira menelan ludah. Bibirnya kaku, tak sanggup membalas.
“Mbak Nadira gak beruntung banget ya,” ucap Gama, datar tapi tajam, “punya mertua toxic kayak gini.”
Nadira terperanjat.
“Lihat anak kamu ini, Rini. Mulutnya gak bisa dijaga sekali.”
“Ayo, Mbak, Mah. Duduk di sana.” Tangannya menggenggam tangan Nadira dengan hangat dan pergi.
Wani terdiam. Rahangnya mengeras, jemarinya mengepal kuat. Ucapan Rini, adik iparnya barusan terasa seperti tamparan telak.
“Kalau bukan karena kamu adik Mas Marlan,” desis Wani, matanya menyala, “sudah aku hajar kamu, Rini.”
Wani mendengus kasar. Tumit sepatunya berdecit saat ia berbalik, lalu melangkah pergi meninggalkan aula dengan langkah cepat, .
Acara pun dimulai.
Nadira duduk tegak di kursinya. Tatapannya mengarah ke depan, ke panggung besar yang dihiasi spanduk wisuda. MC membuka acara dengan suara lantang, disusul doa dan lagu kebangsaan. Aula terasa penuh.
Pidato demi pidato mengalir.
Hingga prosesi utama dimulai.
Satu per satu nama dipanggil. Mahasiswa berjalan naik ke atas panggung dengan toga rapi, senyum tak lepas dari wajah mereka.
Nadira menggenggam tasnya pelan.
Saat nama Gama disebut, matanya mengikuti langkah laki-laki itu menuju panggung. Gama berdiri tegak, menerima penghargaan.
Setelahnya diumumkan wisudawan terbaik, lalu lulusan berprestasi. Aula kembali riuh, sorak bangga memenuhi ruang. Acara ditutup dengan doa.
Usai acara, mereka berpindah ke halaman kampus.
Nadira berdiri di antara keramaian, cahaya matahari menyentuh wajah-wajah yang penuh senyum. Toga hitam bertebaran, tawa bersahutan, kilatan kamera tak henti menyala.
“Mah, fotoin aku sama Mbak Nadira.”
Nadira menoleh. Gama sudah menyerahkan ponselnya pada Tante Rini. Ia melangkah mendekat, lalu tanpa aba-aba merangkul bahu Nadira. Tubuh Nadira menegang sepersekian detik, jantungnya berdetak lebih cepat.
“Gama—” bibirnya hampir bersuara, tapi urung.
“Deket sedikit, Mbak,” bisik Gama santai.
Nadira menurut. Bahunya kaku, tapi ia memaksa senyum saat kamera diarahkan ke mereka.
Klik.
“Mbak,” suara Gama terdengar rendah di telinganya, “jangan lupa, masakin aku sebelum aku berangkat ke luar negeri.”
Deg.
Nadira menoleh setengah, matanya bergetar tipis. “I-iya,” jawabnya pelan.
Ia kembali menatap lensa, senyum tipis terukir di wajahnya.
...
“Mah, aku anter Mbak Nadira pulang, ya?”
“Iya. Hati-hati,” jawab Tante Rini.
Nadira berdiri di samping Gama, menunggu. Mobil Tante Rini melaju perlahan, meninggalkan halaman kampus yang mulai lengang.
Gama menatapnya. Tatapan itu membuat Nadira refleks menghindar.
“Mbak Nadira,” ucap Gama pelan, “kalau aku pergi nanti… Mbak bakal kangen gak sama aku?”
Nadira menoleh. “Enggak.” Jawabannya terlalu cepat.
“Kenapa? Aku pikir kalau Mbak jauh dariku Nadira, Mbak bakal kangen berat. Ternyata aku salah.”
Nadira menarik napas. “Bukan aku yang bakal kangen kamu, Gama.”
Gama menatapnya lagi. “Terus siapa?”
“Calon istrimu nanti,” jawab Nadira, suaranya tenang meski dadanya mengencang. “Sudah, ayo. Anterin aku pulang.”
Gama tak membalas. Ia hanya mengangguk, lalu menyalakan motor. Mesin meraung, membawa mereka menjauh dari pelantaran kampus.
…
Menjelang sore, motor melambat saat memasuki jalanan yang sudah akrab bagi Nadira.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Gama singkat. “Sudah datang ke wisudaku.”
“Sama-sama, Gama.”
Tak ada senyum, tak ada canda seperti biasanya. Gama langsung memutar motornya dan pergi. Nadira tetap berdiri, matanya mengikuti punggung Gama hingga lenyap di ujung jalan.
“Ada apa dengannya?” gumam Nadira.
Beberapa saat kemudian, Nadira berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.