NovelToon NovelToon
Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Status: tamat
Genre:Berondong / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:553k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kirana harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya meninggalkannya dua minggu sebelum pernikahan dan memilih menikah dengan adik tirinya.

Kalut dengan semua rencana pernikahan yang telah rampung, Kirana nekat menjadikan, Samudera, pembalap jalanan yang ternyata mahasiswanya sebagai suami pengganti.

Pernikahan dilakukan dengan syarat tak ada kontak fisik dan berpisah setelah enam bulan pernikahan. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya mereka memiliki perasaan, apakah akan tetap berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Enam

Begitu suara motor Samudera menghilang di ujung jalan, Kirana berdiri mematung beberapa detik di depan gerbang rumah. Kakinya terasa lemas. Pipi kirinya masih panas, bekas tamparan yang sengaja atau tidak sengaja menampar harga dirinya jauh lebih keras daripada kulitnya.

Ia menarik napas panjang, menggigit bibir, lalu perlahan melangkah masuk ke rumah. Pintu depan dibiarkan terbuka. Angin membawa udara lembap dan bau masakan dari dapur tetangga. Semua terasa biasa saja, rumah tempat ia tumbuh, tempat ia berlari saat kecil, tempat ia menangis ketika jatuh dari sepeda. Tapi hari ini, rumah terasa seperti kandang yang menyesakkan.

Begitu Kirana masuk, ia menemukan papanya sudah duduk di ruang keluarga bersama Mamanya. Mama menatapnya dengan tatapan dingin, tatapan yang sudah sangat akrab, bukan tatapan peduli, bukan tatapan seorang ibu. Lebih seperti tatapan orang yang sedang menilai barang cacat.

Papa langsung berdiri begitu melihat Kirana masuk. Gerakannya kasar, napasnya masih naik-turun karena marah yang belum padam.

“Aku nggak sudi kamu dekat dengan pria berandalan seperti itu!” seru Papa, suaranya bergetar menahan emosi. “Mau jadi apa kamu nanti?!”

Kirana menelan ludah. Tatapannya melebar, tapi bukan karena takut. Lebih karena kecewa yang sudah memuncak.

“Setidaknya,” katanya pelan tapi jelas, “dia jauh lebih baik dan gentle dari Irfan.”

Seketika ruangan itu hening. Dalam satu detik, atmosfernya berubah lebih tegang daripada tali biola.

Tissa, yang dari tadi berdiri bersandar di dinding sambil memeluk lengan, sontak menegakkan badan. “Siapa yang Kakak bilang nggak gentle?” suaranya meninggi, hidungnya kembang-kempis. “Irfan nggak kasih tahu Kakak soal pernikahan batal itu karena dia memikirkan perasaan Kakak! Dia itu nggak mau Kakak sakit hati!”

Kirana menoleh pelan ke arah adik tirinya itu. Tatapannya kosong, tapi tajam. “Bullshit,” katanya datar. “Pecundang tetap pecundang.”

Wajah Tissa langsung merah padam mendengar kata itu. “Kakak cemburu, ya? Kakak marah karena dia lebih milih aku? Irfan itu emang nggak pantas buat Kakak!” Tissa menunjuk Kirana dengan telunjuk gemetar. “Dan pria berandalan tadi itu memang yang lebih cocok bersanding sama Kakak!”

Kirana tertawa. Tawa pendek, kering, dan miris. “Berandalan mana dibanding Irfan, sih?” Ia mengangkat alis. “Adik pacarnya sendiri diembat. Dan parahnya, adiknya nggak tau malu, diterima aja. Sama-sama gatal.”

Tissa langsung berteriak. “KA-KAKAK!”

Amarah meledak begitu cepat, wajah Tissa memerah, dan ia melangkah agresif ke arah Kirana. Tangan kanannya terangkat tinggi, jari-jari terkepal setengah. Ia hendak menampar.

Tapi Kirana bukan Kirana yang sepuluh menit lalu. Bukan Kirana yang diam ketika ditampar oleh Papanya. Bukan Kirana yang selalu menerima perlakuan tidak adil bertahun-tahun.

Refleks, tangan Kirana menangkap pergelangan tangan Tissa sebelum tamparan itu mendarat. Cengkeramannya kuat, sangat kuat untuk seseorang yang sedang rapuh. “Jangan berani sentuh aku,” ujar Kirana, suara rendahnya seperti pisau tumpul yang tetap bisa melukai.

Dan tanpa memberi kesempatan Tissa bereaksi, Kirana mendorong tubuh adik tirinya itu ke belakang.

Bukan dorongan kuat, tapi cukup untuk membuat Tissa kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai. Tissa langsung menjerit, bukan karena sakit, tapi karena shock dan tentu saja untuk menarik perhatian.

“Aaaaaaah! Papa! Mama! Kak Kirana dorong Tissa!” Tissa menangis keras, sekeras-kerasnya, sambil memegang lengannya seolah-olah baru saja dipatahkan.

Mendengar suara itu, Mama dan Papa langsung bergegas menghampiri.

“Ada apa?!” seru Mama panik atau tepatnya berpura-pura panik. Ia langsung memeluk Tissa dan menepuk-nepuk rambutnya, seolah-olah itu tragedi besar.

Tissa menyemburkan air mata lebih deras. “Kak Kirana … hikss … Kak Kirana dorong Tissa sampai jatuh,” rengeknya dengan suara bergetar palsu.

Papa yang mendengar itu langsung menoleh tajam pada Kirana. “APA?!” Ia berjalan cepat menghampiri Kirana, wajahnya merah padam.

Tangannya Papa langsung terangkat. Tamparan itu datang begitu cepat. Begitu keras. Begitu tidak terpikirkan oleh Kirana.

Sisi wajah Kirana kembali tertampar. Tubuhnya terhuyung sedikit, tapi kali ini ia tidak jatuh. Tidak juga menangis.

Ia hanya menegakkan kepala pelan-pelan, menatap papanya dengan tatapan kosong namun penuh luka yang sudah mengeras jadi batu.

Papa masih mengangkat tangan, seolah siap menampar lagi. “Kurang ajar kamu! Mendorong adikmu sendiri?! Hah?! Kamu ini ...."

“Teri­ma kasih .…” Suara Kirana pelan, tapi jelas. Papa terdiam sejenak.

“Terima kasih,” ulang Kirana, lebih keras. Ia menelan ludah, matanya mulai berkaca, tapi bukan air mata depresi. Lebih seperti air mata yang keluar saat seseorang akhirnya menyerah pada sesuatu yang menyakitinya bertahun-tahun.

“Terima kasih atas tamparan ini,” lanjut Kirana, bibirnya bergetar. “Membuat aku yakin ... untuk pergi setelah menikah nanti.”

Mama membeku. Papa pun begitu. Tissa berhenti pura-pura menangis, menatap Kirana dengan mata membesar.

Kirana kembali berkata, “Aku sudah siap keluar dari rumah ini. Aku sudah siap hidup tanpa kalian. Karena selama ini … aku cuma jadi bahan hinaan, dibanding-bandingkan, disalahkan… dan kalian nggak lihat apa pun dari aku selain kekurangan.”

“A—apa maksudmu?!” Papa naik pitam. Tapi Kirana tidak peduli.

“Aku pergi,” jawabnya tegas. “Setelah aku menikah nanti, aku pergi dari rumah ini. Dan kalian … kalian nggak perlu pura-pura kehilangan aku. Kalian nggak pernah punya aku dari awal.”

Tanpa menunggu reaksi mereka, Kirana berbalik. Langkahnya berat, tapi pasti. Setiap langkah rasanya seperti mematahkan rantai panjang yang sudah mengekang perasaannya selama ini. Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras.

Begitu pintu tertutup, tubuhnya langsung gemetar hebat. Semua amarah, sakit hati, dan trauma yang ia tahan sejak tadi pecah begitu saja.

Ia jatuh berlutut di dekat tempat tidur, tangannya menutup wajah, dan akhirnya tangisnya pecah.

Menangis keras. Menangis sampai suaranya pecah. Menangis karena marah, karena kecewa, karena hancur, karena merasa tidak punya siapa-siapa di rumahnya sendiri.

Sementara itu, dari luar pintu, suara Papa, Mama, dan Tissa masih terdengar samar. Ribut. Saling sahut. Semua menuduh Kirana. Semua menyalahkan Kirana.

Tapi Kirana sudah tidak dengar. Yang ia dengar hanya detak jantungnya yang berpacu. Dan gema suara Samudera di kepala:

“Kalau lo kenapa-napa, Mbak Kirana … jangan lupa hubungi aku!”

Ia memegang dadanya yang terasa sesak. Satu-satunya orang yang membelanya hari ini justru orang yang belum lama ia kenal.

1
Rahma Inayah
akhirnya yg bahagia
Rahma Inayah
semoga dilncrkn lahirannya aamiin
Rahma Inayah
tisa GK takut cerai dr km Krn SDH GK ada ank LG diantara kalian
Rahma Inayah
stlh ank meninggal br nyesel dan nangis GK guna
Rahma Inayah
krm mmg Irfan pantas mendptkn tamapran dr papa Kirana
Rahma Inayah
suami GK punya rasa tanggung jwb jgn2 Irfan punya wanita simpenan lgi ..
Rahma Inayah
ank yg km pilihnkasih ternyata JD dewa penolong mu ..papa.kirana baru sadr stlh usia yg hampir sepuh..atas apa yg dia lakukan PD Kiran di masa lalu
Rahma Inayah
gula lo Irfan satu juta 1 bulan ..GK mirk otak nya SDH konslet ckp apa uang segitu
Rahma Inayah
setlh. GK punya br sadr papa nya Kirana ank yg dia Anggo beban skrg membantu nya dlm kesusuhan
Rahma Inayah
orng yg km hina GK guna GK PNY kerjaan berandalan skrg JD dewa penolong BG ank mu .kira saya mama Kirana Mash hidup tau nya Mak trii nya .LP klu mama Kirana meninggal 🤭🤭.gengsi Irfan digedein tp nyata nya GK mampu byr biaya operasi ank nya lbh tepat nya syg uang nya dr pada nyawa ank nya
Rahma Inayah
kirain mama Kirana meninggal tau nya cerai hidup dr papa nya
Rahma Inayah
bnr Kirana utg Irfan GK JD nikah SM km dia nikah SM tisa yg mn utk ngidam aja GK BS penuhi perhitungan padhl dia katanya manager
Rahma Inayah
mami lbh syg SM mantu ketimbang ank sendri 🤭🤭yg
Rahma Inayah
nah Sam saat nya km nuriti ngidam bumil yg random SPT kata papi mu
Rahma Inayah
Sam akan JD ayah muda ..20 THN SDH jadi ayah 🤭🤭👍👍
Rahma Inayah
bahagia Krn akan punya cucu sam .semua Krn mu yg buat Kirana sakit
Rahma Inayah
spt keinginan mami mau punya cucu segera terlaksana ya
Rahma Inayah
untung Sam menang ..walau dia hrs terbalik motor Krn kurg fikus
Rahma Inayah
sok sok an Kirana bilg sam pst menang .nyata nya apa dan km JD taruhan
Rahma Inayah
pintar sekali tisa bersandiwara memutar BLK kn fakta km blm tau siapa Kel sam .nnt ada bukti cctv klu ucapan mu TDK sesuai dgn kenyataan bilg aja km iri dgn hidup Kirana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!